Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Setelah libur panjang


__ADS_3

Sudah dua minggu sejak sekolah libur lebaran, Sari akhirnya berangkat sekolah seperti biasa. Hari pertama hanya di isi dengan kegiatan upacara hari Senin dan di lanjut dengan halal bihalal, Sari yang tangannya masih di balut dengan gips memilih untuk menepi dari barisan para siswa dan siswi yang saling bersalaman membentuk lingkaran di sepanjang tepian lapangan sepak bola di sekolah.


Hampir semua warga sekolah saling bersalaman, dari siswa pada guru, dan di lanjut sesama siswa saling bersalaman.


" Kenapa nggak gabung ke barisan El?".


Sari duduk dipinggiran lapang berteduh di bawah pohon ketapang , ada kursi panjang yang berada dibawah pohon itu.


Eli yang mengikuti Sari saat Sari milih untuk memisahkan diri dari barisan melingkar yang begitu panjang entah dimana ujungnya dan entah akan selesai sampai jam berapa acara salam-salaman itu.


" Kamu sendiri nggak gabung ke barisan?", tanya Eli balik, sebenarnya Eli tadinya sudah berencana untuk ikut ke barisan, tapi karena melihat Sari memisahkan diri, Eli merasa tidak enak pada Sari, masih merasa dirinya penyebab Sari terluka dan di gips, kalau Sari nggak ikut ya Eli juga mau nemenin nggak ikut.


" Ngapain ikutan baris, lagian aku juga nggak bisa menyalami mereka, masih nunggu dua Minggu lagi sampai gips nya di buka", terang Sari.


" Aku temenin ya, kamu harus kabarin kalau mau lepas gips itu", pinta Eli.


" Boleh, tapi kamu jadi harus bolos sekolah kalau mau nemenin ke rumah sakit, soalnya jadwal dilepasnya hari Senin". Sari mengibas-ngibas kan tangan kirinya ke wajahnya yang terasa kepanasan. Cuaca siang itu memang sangat panas, meski sudah memakai topi, masih terasa menyengat di wajah, apalagi mereka berada di lapangan sepak bola, jadi meski Sari dan Eli sudah di pinggir lapangan dan berteduh, masih tetap kepanasan.


Beberapa guru dan murid lain menatap ke arah Sari dan Eli yang sedang berteduh.


Sari juga sadar akan hal itu, karena itu Sari menyuruh Eli untuk tetap mengikuti barisan dan bersalaman dengan yang lain.


" Kalau aku kan bisa beralasan lagi sakit, nggak bisa salaman karena masih di gips, kalau kamu mau kasih alasan apa...?, nemenin aku?, mending kamu ke sana ikut salaman El, dari pada nanti di kira murid bandel yang nggak mau bermaaf-maafan". Sari mendorong tubuh Eli agar bergabung ke dalam barisan.


Akhirnya Eli bergabung dengan kelas lain dan ikut bersalaman dengan semua warga sekolahan.


Kini Sari duduk sendirian di bawah pohon ketapang.


" Awww....", Sari kaget karena Rizal menempeli keningnya dengan botol minuman isotonik yang baru diambilnya dari freezer. Dingin...


" Kaget ya, sory sory, buat kamu..., dari tadi aku perhatikan kamu terus mngipas-ngipas wajah kamu, pasti lagi kepanasan, kenapa nggak balik ke kelas saja?", tanya Rizal.

__ADS_1


" Nggak enak lah, yang lain lagi pada baris di lapangan, kamu sendiri kenapa nggak ikut baris dan salaman bareng mereka?", Sari balik bertanya.


" Kan aku sudah minta maaf sama seluruh warga se sekolahan waktu maju kedepan mewakili seluruh siswa mengucapkan minal 'aidzin tadi, jadi sudah tuntas, hehehe", Rizal terkekeh.


" Enak banget, kalau begitu aku juga mau tadi mewakili siswa siswi meminta maaf di depan", gumam Sari.


" Ya nggak bisa sembarang anak, kan aku ketua OSIS nya".


" Sombong.... jadi ketua OSIS saja gayannya selangit", Sari mendorong lengan Rizal lirih.


Keakraban Sari dan Rizal langsung dihujami tatapan sinis dari banyak siswi di sekolah itu.


Sari juga menyadari hal itu.


" Kamu jauh-jauh gih... jangan deket-deket aku, bikin cewek-cewek yang ngefans sama kamu langsung menatapku dengan tatapan seperti ingin membunuh, hahaha", tawa Sari sumbang .


" Mana ada yang seperti itu, siswi disini itu baik-baik, jangan kebanyakan nonton sinetron yang main buli-bulian di sekolah, selama aku yang jadi ketua OSIS, di sini nggak berlaku yang seperti itu".


" Bilang dong kalau mau di bukain", Rizal mengambil botol dari tangan Sari dan membukakan seal nya. Kemudian menyerahkan kembali botol yang sudah dibuka itu pada Sari.


" Makasih ya", Sari melepas topi OSIS yang dipakainya, dan langsung menenggak minuman isotonik dingin itu langsung dari botolnya.


Rizal menatap Sari dengan begitu kagum, seorang gadis dengan bercucuran peluh di dahi, meminum minuman dingin dengan di tenggak langsung dari botolnya, persis dengan iklan minuman yang ada di televisi. Meski rambut tipis di bagian depan berantakan dan lengket terkena keringat, Sari tetap terlihat cantik dan mempesona, bahkan kucuran keringat di keningnya menambah kesan 'seksi '.


Sari hanya butuh dua kali tenggakan untuk menghabiskan sebotol minuman isotonik itu.


" Beneran haus ternyata, hehehe", Rizal terkekeh melihat minuman yang diberikan pada Sari langsung habis.


" Iya, hehe, kamu pengertian banget ngasih aku minuman dingin pas lagi haus-hausnya". puji Sari, Rizal yang di puji tersenyum lebar.


" Iya dong, sebagai teman yang baik harus bisa bermanfaat bagi teman yang sedang membutuhkan". Rizal menatap tangan Sari,

__ADS_1


" kamu berapa Minggu lagi baru bisa lepas gips?".


" Dua minggu lagi, kenapa?", Sari menjawab sambil menatap barisan teman-temannya yang hampir selesai bersalaman.


" Maaf ya, aku nggak ikut jenguk waktu kamu lagi di rawat di rumah sakit, sebenarnya waktu pesantren kilat aku sudah dengar kalau kamu keserempet mobil dan di rawat di rumah sakit. Tapi maaf, aku malah nggak ikut jenguk", ucap Rizal penuh penyesalan.


" Nggak papa, lagian juga nggak parah, santai saja, ini dokternya saja berlebihan, pakai di pasang gips kaya gini", ujar Sari.


" Tapi bukankah jari tengahnya retak?", tanya Rizal.


Sari menganggukkan kepalanya. " Tapi nggak sakit kok, justru yang cuma lecet-lecet di lutut dan siku yang waktu itu terasa perih", terang Sari.


" Sar... sebenernya aku mau jujur sama kamu, tapi kamu jangan marah ya...", ucap Rizal.


" Jujur?, memangnya mau ngomong apa Zal?".


" Kamu janji dulu tetep jadi temanku setelah aku memberi tahukannya sama kamu".


" Iya, aku janji nggak akan marah, kenapa memangnya?, bikin penasaran saja kamu Zal".


" Sebenarnya yang nyerempet kamu waktu itu adalah supir yang bekerja di tempatku, waktu itu aku menyuruhnya mengantar beberapa barangku yang ketinggalan, tapi pak Harun malah lama banget nggak sampai-sampai sekolahan, sampai dia telepon dan mengabari sedang mengurus seorang siswi sekolah ini yang di serempet nya, dan ternyata adalah kamu, maaf kan aku ya Sar", ucapan Rizal begitu tulus.


Sari tersenyum mendengarkan penjelasan Rizal, " bahkan kamu juga meminta maaf untuk kesalahan yang orang lain lakukan, lagian itu juga ketidak sengaja an, semua karena aku lagi apes saja", ucap Sari sambil meringis.


" Mulai sekarang kalau kamu butuh apa-apa saat di sekolahan, kamu bilang saja padaku, kalau kamu kesulitan dalam mencatat pelajaran, aku bisa mencatatkan untuk kamu, meski kelas kita berbeda, tapi guru kita sama, pasti penjelasannya akan sama. Aku bisa membuat dua catatan untuk semua pelajaran", ujar Rizal.


" Nggak usah nggak papa Zal, lagian kasihan kamu kalau nyatetnya dobel-dobel kaya gitu, manfaatkan teknologi saja, kamu foto catatan kamu dan kirim fotonya sama aku, kan aku tinggal baca di HP", Sari memang selalu jenius dan santai menghadapi segala urusan.


" Benar juga, kenapa aku nggak kepikiran ke sana, kalau begitu biar ku catat, berapa nomor ponselmu". Rizal mengambil pulpen dari sakunya, dan mencatat nomor yang Sari sebutkan di telapak tangannya.


Rizal memang meninggalkan ponselnya di tas yang ada di kelasnya, karena peratura sekolah melarang menyalakan HP saat upacara dan pelajaran.

__ADS_1


__ADS_2