
Mohon para readers untuk lebih bijak dalam membaca, ada part dengan adegan 21+, jadi untuk yang masih dibawah umur, di skip saja ya 😁🙏
***
Hari senin pagi, usai sholat subuh, Sari sudah sibuk dengan kegiatan memompa ASI hingga mendapatkan dua botol penuh, cukup untuk cadangan selama Sari dirumah sakit.
Ini adalah hari pertama Sari mulai masuk bekerja kembali dirumah sakit, mulai melanjutkan perjuangan menjadi seorang dokter. Untung saja di rumah sakit tempat Sari bekerja ada kebijakan untuk ibu hamil dan menyusui jam pulang adalah jam 2 siang.
Jadi pagi ini sudah cukup memompa ASI sebanyak 2 botol, nanti sorenya Rasyid bisa mimi ASI secara langsung.
Rasyid juga ikut terbangun lebih awal, mungkin karena Sari merasa khawatir untuk meninggalkan putranya, membuat Rasyid bisa merasakan kekhawatiran yang sedang bundanya rasakan.
Seperti itulah hubungan ibu dan anak, seperti ada benang yang menghubungkan, sebuah ikatan batin yang sangat kuat. Karena itulah ibu hamil dan menyusui dianjurkan sebisa mungkin untuk tidak stres dan bersedih, karena akan dapat di rasakan oleh anak bayinya.
Musa pun berinisiatif mengajak Rasyid untuk bermain di ruang tengah, membiarkan Sari menyelesaikan acara memompa ASI
Hari ini hari ketiga Rasyid bisa tengkurap, gerakannya semakin luwes dan cepat, awalnya baru bisa tengkurap dan jika kelelahan akan dibalikkan oleh ayah atau bundanya, tapi hari ini Rasyid sudah mulai bisa membalikkan kembali badannya dari posisi tengkurap ke posisi terlentang.
Musa dan Sari semakin bersyukur atas perkembangan buah hatinya yang begitu pesat.
Bi Nunung baru saja masuk dari kebun samping rumah, sambil menggosok-gosok lengan tangannya sendiri.
" Di Luar dingin ya bi?", Sari yang baru saja keluar dari kamarnya, langsung menanyai bi Nunung yang nampak kedinginan.
Sari berjalan menuju ke dapur sambil membawa dua botol ASI, untuk disimpan di kulkas.
" Iya mba Sari diluar dingin banget".
Bi Nunung menuju wastafel untuk mencuci daun bawang yang baru dipetik di kebun samping.
Bi Nunung memang sengaja menanam akar daun bawang yang sudah dipotong agar bisa tumbuh daun bawang lagi yang baru. Kebiasaan lama saat masih rewang di rumah kakek Atmo.
Sari menengok keluar lewat jendela kaca yang berada di dapur, benar sekali diluar embun masih sangat tebal, pantas saja bi Nunung kedinginan keluar hanya memakai daster.
" Mau bikin apa bi?".
" Bikin mendoan Mba Sari. Cuaca lagi dingin, jadi makan mendoan anget sama cabe ijo yang baru metik di pekarangan samping pasti mantap".
Sari langsung mengacungkan dua jempol tangan nya. " Bibi memang is the best !".
"Sari ke Rasyid dulu ya bi".
Bi Nunung mengiyakan dengan mengacungkan jempol tangan ke atas.
Sari mengajak Rasyid masuk ke dalam kamar untum diberi ASI secara langsung. Musa pun mengikuti mereka.
Di dalam kamar hanya butuh waktu 15 menit meny*su di dalam pelukan bundanya, Rasyid langsung tidur lagi dengan begitu lelapnya.
Musa mengambil Rasyid dari pelukan Sari untuk di rebahkan di box bayi.
" Kenapa di tatap terus, kan sudah terlelap, apa kamu khawatir Rasyid akan rewel karena kamu tinggal?". Musa memilih duduk di samping Sari sambil menggenggam tangan Sari, usai dirinya merebahkan tubuh Rasyid.
__ADS_1
Sari mengangguk, " iya Mas, Sari takut Rasyid akan mencari-cari keberadaan ku nanti".
Kini Musa memeluk Sari sambil menepuk punggungnya, mencoba membuat Sari agar lebih tenang.
" Pikiran dan hatimu harus tenang, agar Rasyid juga tenang saat nanti kamu tinggal dia ke rumah sakit", Sari hanya bisa mengangguk pelan, ekspresinya belum banyak berubah, mungkin karena ini hari pertama, jadi belum terbiasa, dan rasanya berat meninggalkan Rasyid di rumah dengan bi Nunung.
" Ayo mandi dulu, mumpung Rasyid tertidur, atau mau sarapan dulu?", tanya Musa.
Sari mengernyitkan dahinya, " sarapan apa?, belum mateng, bi Nunung baru mulai masak".
Sarapan ini, " cup".
Sari langsung membulatkan matanya saat Musa tiba-tiba mengecup bibirnya.
" Bagaimana, sarapan mendoan yang ini dulu, baru nanti dilanjut makan mendoan yang sedang dibuat bi Nunung", kilah Musa sambil melirik ke arah bagian kewanitaan Sari.
" Mendoan...?", Sari tidak habis pikir jika miliknya disamakan dengan mendoan.
Sari ingin menolak, tapi takut dosa, mending di iyakan saja, lumayan olahraga pagi, ngilangin hawa dingin biar tubuh mengeluarkan keringat.
***
Cuaca dingin yang membuat hampir semua orang memilih untuk tetap bersembunyi di bawah selimut tebal, sambil meringkuk diatas kasur masing-masing, tidak berlaku di kamar Linda dan Dimas,
Percobaan untuk menjebol gawang pertahanan Linda belum berhasil semalam. Sehingga pagi ini Dimas membujuk Linda untuk melanjutkan perjuangannya yang belum berhasil semalam.
Meski ragu, karena rasa nyeri dan perih masih jelas terasa di bagian sensitif kewanitaan Linda, tapi mau bagaimana lagi, Dimas terus berusaha merayunya. Linda akhirnya pasrah juga.
Dimas dan Linda mendapatkan hadiah pernikahan dari Musa yaitu voucher menginap di hotel miliknya di Baturaden selama satu minggu.
Kamar presiden suite, yang berada di lantai 4, sedangkan di atasnya adalah kolam renang untuk umum. Hotel Musa memang berlantai 4 dan bagian atap gedung dijadikan pemandian dengan dua kolam renang untuk para pengunjung hotel.
Hari minggu, jam 5 sore Linda melakukan mandi keramas karena masa haidnya sudah selesai. Dimas yang sudah dua malam ini terus bertanya-tanya pada Linda, kapan masa haidnya selesai, karena sudah tidak tahan lagi harus terus menahan hasrat seksual nya.
Sore ini saat Dimas masuk ke kamar dan melihat Linda keluar dari kamar mandin dengan rambut masih basah usai keramas, langsung tersenyum sumringah, dan mengunci pintu kamarnya.
Dimas langsung memeluk Linda yang saat itu masih menggunakan handuk kimono usai mandi. Linda yang tiba-tiba dipeluk dari belakang langsung menjerit kaget.
" Ah...!".
" Kakak apa-apaan sih, lepasin dong, aku mau pakai baju dulu". Linda berusaha melepaskan diri dari pelukan Dimas yang begitu erat.
Bukannya menuruti keinginan Linda untuk melepas pelukannya, justru Dimas semakin menjadi, kini kedua tangannya mulai beraksi.
" Kamu santai saja, nikmati saja permainanku", bisik Dimas di telinga Linda.
Tangan kanan Dimas menyibak rambut Linda yang masih basah dan mencium tengkuk Linda, membuat bulu kuduk Linda langsung merinding.
Kini kedua tangan Dimas mulai menelusuri setiap lekuk tubuh Linda, sentuhan lembut dengan sedikit penekanan yang Dimas lakukan membuat Linda langsung lemas, ibarat rontok semua tulang-tulang dalam badan, tidak punya daya lagi untuk berdiri. Seketika kaki Linda terasa begitu lemas, tangan Dimas sudah mendarat di kedua gundukan yang berada di dadanya.
" Emph......", entah bagaimana suara lenguhan keluar begitu saja dari mulut Linda. Linda yang sudah berusaha menahan agar tidak mengeluarkan suara apapun merasa sangat malu.
__ADS_1
" Bagaimana bisa aku tetap mengeluarkan suara seperti itu, padahal sudah aku tahan, pasti sekarang Kak Dimas tahu kalau aku sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa akibat dari permainannya", batin Linda sambil menahan tangan Dimas yang kini semakin liar mempermainkan p*ting p*y*d*ra nya.
Linda bisa melihat senyuman Dimas dari pantulan cermin di pintu lemari pakaian yang ada di hadapannya.
" Stop !", akhirnya Linda bisa menghentikan gerakan Dimas.
" Serius mau udahan?".
" Sepertinya kamu juga menikmatinya", Dimas sengaja menggoda Linda, karena sudah terlihat jelas jika Linda juga sudah mulai terangsang.
" Sudah hampir maghrib Kak..., nanggung, nanti ya, habis Isa, kita lanjutkan, Linda janji deh, nanti kakak bebas mau ngelakuin apa saja, tapi di tahan sebentar lagi ya, cuma dua jam lagi".
Dimas yang sudah mulai turn on, akhirnya menyetujui untuk menyudahi permainannya, Dimas bukannya menyerah, tapi Dimas mundur untuk menang. Kalimat Linda yang mengatakan ' kakak bebas mau ngelakuin apa saja' langsung direkam di otak Dimas.
" Tentu saja, tidak masalah hanya menunggu beberapa jam lagi, tapi pegang ucapan kamu sayang... nanti malam kakak bebas melakukan apa saja sekehendak hati Kakak", Dimas tersenyum penuh arti, dan memilih untuk masuk kamar mandi, menuntaskan hasratnya di dalam kamar mandi dibawah guyuran air dingin dari shower.
Jam 7 malam, usai berpamitan pada kedua orang tua Linda, Dimas langsung mengajak Linda menuju hotel milik Musa di Baturaden.
Malam itu bagi Dimas jarum jam terasa bergerak dengan begitu lambat, menunggu waktu dua jam seperti menunggu berbulan-bulan.
Jam 8 malam, usai makan malam di kafe yang berada di lantai 2 hotel , Linda langsung ditarik Dimas menuju ke kamar mereka.
" Kamu sengaja ya, makannya dibuat lama, biar aku semakin lama nunggunya".
Linda hanya tersenyum simpul mendengar tebakan suaminya itu, karena memang tepat sekali tebakannya.
Mau bagaimana lagi, Linda sedikit takut, karena dari browsing yang dia lakukan di internet, jika malam pertama itu sangat menyakitkan. Jadi Linda sengaja mengulur waktu.
Namun semua sia-sia saat akhirnya Dimas berhasil membawanya ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu kamarnya.
" Kenapa masih berdiri di situ?, apa kamu takut?".
Linda langsung mengangguk cepat.
Dimas yang sudah berjalan mendahului Linda menuju ranjang akhirnya balik menghampiri Linda dan menggendong Linda yang masih berdiri mematung di samping pintu,
" jangan takut, nggak akan terasa sakit, kita coba dulu, Kakak jamin kamu bakalan ketagihan, bahkan nanti bakalan minta lagi dan lagi".
Linda hanya menelan salivanya tanpa berkomentar apa-apa.
Memang benar sekali permainan ranjang yang Dimas lakukan membuat Linda langsung melupakan rasa takut dan khawatir akan rasa sakit yang akan dirasakannya.
Namun setelah melalui pemanasan panjang yang membuat Linda bagaikan terbang melayang sampai langit ke tujuh, tiba-tiba rasa pedih dan sakit mulai terasa saat Dimas berusaha melakukan penyatuan.
Bahkan Linda sampai menangis saking pedihnya, membuat Dimas mengurungkan kembali penyatuan dirinya dengan sang istri tercinta, Dimas kembali menuntaskan sendiri di luar, dan berniat akan melanjutkannya kembali esok hari.
flashback off
\=\=\=\=\=\=\=
Adegannya nggak bikin jadi merasa gimana-gimana kan guys...,
__ADS_1
mohon maaf ya jika tidak sesuai ekspektasi 😅