
Tentang dunia dan akhirat. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik!” Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan kepadamu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. Al-Baqarah ayat 220)
***
Mungkin karena sedang weekend, sehingga pengunjung di lokawisata Baturraden cukup membludak. Hampir di setiap sudut, sejauh mata memandang ada yang menempati.
Untung panitia family gathering dari kampus sudah lebih dulu mengabari pengurus lokawisata bahwa mereka akan berkunjung dan mengadakan acara family gathering di sana, sehingga pengurus sudah mengosongkan balai yang berada di samping air terjun, untuk digunakan sebagai tempat beristirahat rombongan dari kampus.
Bukan hanya dosen dan dekan IAIN saja yang melaksanakan acara family gathering di sana, ternyata ada rombongan lain yang beranggotakan pemuda-pemudi sedang mengadakan acara sosial. Rombongan itu mengadakan kegiatan di depan balai, ada tempat yang cukup lapang disana, jika menengok ke kanan bisa langsung melihat air terjun. Spot yang sangat menarik dan indah.
Sebenarnya awalnya Sari penasaran dengan kegiatan para pemuda-pemudi itu, karena mereka juga mengajak anak-anak kecil usia SD-SMP bersama mereka, dan mengadakan games serta kuis untuk para anak kecil itu.
Namun ternyata ada salah satu dari rombongan itu yang mengenal Musa, seorang gadis manis berperawakan tinggi, langsing, berkulit sawo matang, dia mengenakan celana baggy hitam, kerudung abu dan jaket seragam warna dongker, berlogo burung garuda dan bendera merah putih di lengannya. Sedangkan di punggung jaket bertuliskan Karang Taruna 'Taruna Karya', dengan tulisan bordiran berwarna kuning.
Gadis itu langsung mendekati Musa dan menyapanya.
" Selamat pagi pak Musa !", gadis itu menyapa dengan begitu semangat dan senyum yang merekah.
" Selamat pagi", Musa menengok ke arah suara sambil berpikir.
" Saya Kina Pak, mahasiswi IAIN dari fakultas syariah ", gadis itu memperkenalkan diri, karena Musa terlihat masih berfikir.
" Wah maaf ya, begitu banyak anak didik, jadi nggak hafal satu persatu", sebenarnya jika dengan anak didik yang laki-laki mungkin Musa akan paham, karena Musa sering berinteraksi, namun karena yang menyapanya seorang mahasiswi, Musa tidak terlalu paham, karena jarang berinteraksi.
" Iya pak, sudah dimaafkan".
" Lagi ada acara dari kampus ya Pak?, wah semua dosen dan dekan kumpul jadi satu disini". Kina menunduk sambil tersenyum dan memberi hormat pada para dosennya.
Perhatian Kina teralihkan saat melihat bayi kecil, gembul, yang sangat menggemaskan.
" Wah adik bayi tampan sekali, mirip dengan pak Musa, apa ini putra bapak?", Kina kembali bertanya saat Sari mendekat ke Musa sambil membopong Rasyid.
" Benar, ini putra saya, dan ini istri saya", Musa memperkenalkan Sari dan Rasyid pada Kina.
" Maaf saya harus ke depan dulu, karena acara sudah mau dimulai", Musa tidak begitu mengenal Kina, dan tidak memperhatikan apa yang sedang di lakukan oleh rombongan pemuda-pemudi itu, karena dia harus ke depan dan menjadi koordinator acara.
" Mas kedepan dulu ya, kamu disini saja sama Bi Nunung, nggak papa kan?, disini lumayan lapang, nggak terlalu sesak seperti di depan sana, biar Rasyid tenang dan nggak rewel". Musa berjalan maju ke depan, sedangkan Sari memilih untuk tetap berada di pinggiran balai, masih memperhatikan anak-anak kecil yang sedang berebut menjawab pertanyaan dari salah seorang pemuda yang mengenakan jaket sama dengan Kina.
" Maaf Mba, kalau boleh tahu, rombongan dari mana?", Sari bertanya pada Kina yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya.
" Kami rombongan dari Purbalingga Bu", lagi-lagi gadis itu menjawab dengan senyum sumringah.
Sari melihat baner yang terpasang tidak jauh dari posisi anak-anak itu. Jelas tertulis dengan huruf besar, ' Acara Outbound dan Santunan anak Yatim-piatu, bersama Karang Taruna 'TARUNA KARYA' Desa xxxxxxxxxx ".
Sari kembali bertanya setelah membaca baner itu.
" Jadi apa anak-anak yang ada disana itu, anak yatim/piatu?", tanya Sari dengan ekspresi prihatin.
__ADS_1
" Betul Bu, mereka anak-anak kecil yang orang tuanya sudah tiada. Ada yang ditinggal mati bapaknya, ada yang ditinggal mati ibunya, bahkan yang anak laki-laki pakai baju biru itu, bapak ibunya sudah meninggal semua", ujar Kina menjelaskan.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu, selamat pagi bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik semua...!".
Terdengar suara salam dari pengeras suara yang dibawa oleh rombongan kampus. Tanda acara di balai sudah dimulai.
Pikiran Sari masih fokus pada rombongan yang berada di depan balai, tak jauh dari posisi Sari saat ini. Sari begitu prihatin mendengar cerita dari Kina, " ternyata masih ada pemuda-pemudi yang peduli dengan anak-anak kurang beruntung itu", batin Sari.
Kina masih berada di dekat Sari, sesekali mengajak Rasyid yang berada di pangkuan Sari untuk bermain ciluk ba...
" Saya salut sama mba Kina dan teman-temannya, hati kalian begitu baik memikirkan anak-anak kecil yang kurang beruntung itu".
" Kalau boleh tahu, acara ini apa ada yang membiayai?", tanya Sari penasaran.
Kina menggelengkan kepalanya, " Kami hanya menghubungi tetangga dan kenalan kami untuk menjadi donatur acara ini, ini sudah yang ke empat kali kami mengadakan acara seperti ini, karena rencana kami, acara santunan ini akan diadakan secara rutin, setiap 3 bulan sekali", terang Kina.
" Kalau begitu saya permisi dulu Bu, mau bergabung dengan yang lain", Kina berpamitan, dan kembali bersama rombongannya karena sudah terlalu lama memisahkan diri.
Sari mengangguk, tak lama kemudian Sari memberikan Rasyid pada bi Nunung. Lalu Sari membuka tasnya, mengambil dompet dan memeriksa isinya.
" Kenapa aku nggak bawa uang cash yang banyak", batin Sari, kemudian Sari bertanya pada bi Nunung.
" Bi, bawa uang nggak?", tanya Sari sambil berbisik.
" Bawa Mba, tapi nggak banyak, mau buat apa?".
" Sari pinjam dulu ya, nanti pas pulang, langsung Sari balikin, kita mampir ATM".
Sari langsung menerima dan menggabungkan dengan uang yang diambil dari dompetnya, hanya terkumpul 900 ribu.
Suara dari pembawa acara family gathering semakin heboh terdengar di telinga.
" Untuk acara pagi menjelang siang ini, kita akan mengadakan lomba, yaitu lomba menyanyi, pilihan lagunya bebas, boleh menyanyikan lagu apa saja, dan pemenangnya akan mendapatkan voucher gratis menginap di hotel selama dua hari...", semua peserta bertepuk tangan riuh...
Namun Sari tidak terlalu memperhatikan, dia lebih tertarik dengan kegiatan anak-anak di depan balai, Sari pun berjalan mendekati gadis hitam manis yang tadi memperkenalkan dirinya bernama Kina. Kemudian meraih tangannya dan berbisik lirih.
" Mba Kina, ini buat tambah-tambah beli jajan anak-anak itu, tapi maaf cuma sedikit, mohon diterima". Sari menggenggam kan uang itu pada Kina.
" Wah, terimakasih banyak Bu Musa, ini akan sangat bermanfaat untuk mereka semua, semoga Bu Musa akan mendapatkan pahala dan rejeki yang berlimpah", Kina berterimakasih, kemudian menghambur bersama teman-teman panitia, menyampaikan amanat dari Sari, beberapa pemuda yang berada di sana seketika menatap ke arah Sari dan mengangguk sambil tersenyum tulus.
Bi Nunung yang menyaksikan apa yang sedang dilakukan Sari begitu bersyukur, mempunyai seorang majikan yang begitu baik hati dan suka berbagi.
Sari kembali bergabung dengan rombongannya di balai.
" Dari mana ?", ternyata Musa sudah berada bersama Bi Nunung dan Rasyid.
" Eh, Mas sudah disini, itu tadi ke sana. Mas bawa uang cash nggak?", Sari bertanya dengan ekspresi penuh harap.
__ADS_1
" Bawa, kenapa?".
" Sari minta".
Musa langsung mengambil dompet dari saku celananya. Tidak bertanya terlebih dahulu untuk apa, namun langsung menyerahkan dompet itu pada Sari.
" Sari ambil satu juta ya", Musa hanya mengangguk.
" Ambil saja, memangnya mau beli apa?, mas temenin ya". Musa langsung berdiri hendak menemani Sari.
Sari mengajaknya menghampiri Kina lagi, dan sambil berjalan menceritakan tentang kegiatan sosial para pemuda-pemudi yang ada di depan balai.
Musa menyetop langkah Sari. " Kenapa kamu cuma ambil satu juta, kita balik ke rombongan dulu, Mas ada ide bagus". Musa menarik tangan Sari dan kembali ke rombongan.
" Kamu duduk disini dulu, Mas kedepan sebentar".
Musa menghampiri pembawa acara dan membicarakan sesuatu. Kemudian si pembawa acara melakukan skorsing setelah seorang peserta selesai membawakan satu buah lagu persembahan.
Si pembawa acara kemudian menyampaikan pesan dari Musa, tentang kegiatan pemuda-pemudi di depan balai yang sedang mereka tempati.
" Kita disini sedang liburan dan bersenang-senang, namun di depan kita ada sekelompok anak yang kurang beruntung karena telah ditinggalkan oleh orang tua mereka menghadap Yang Maha Kuasa".
" Sekiranya yang datang kemari membawa uang saku lebih, boleh sedikit di sisihkan untuk saling berbagi, membantu anak-anak kecil yang kurang beruntung itu, dan membantu para pemuda-pemudi itu untuk menghibur dan membuat bahagia para anak yatim/piatu itu.... ".
" Semoga untuk semua yang sudah menyisihkan sebagian uang sakunya, akan menjadi mendapatkan pahala berlipat ganda, diberikan kesehatan, keselamatan dan umur panjang yang bermanfaat".
" Aamiin.....", semua mengamini doa dari pembawa acara.
10 menit berlalu, Sari dan beberapa dosen perempuan sudah selesai menghitung uang yang terkumpul di kantong plastik yang tadi di estafet oleh para peserta gathering.
" Alhamdulillah terkumpul Rp. 18.350.000 ".
Sari sampai terharu dengan banyaknya uang yang terkumpul.
" Dokter Sari bisa langsung menyerahkan pada panitia santunan, sepertinya mereka sudah mau pergi", salah satu dosen yang sudah mengenal Sari langsung menyarankan agar Sari menyampaikan amanat itu secepatnya.
Sari mengangguk dan membawa kantong plastik berisi uang donasi dari para dosen, dekan, dan keluarga mereka, menemui Kina dan teman-teman panitia, kemudian menyerahkan amanat dari peserta rombongan gathering.
" Alhamdulillah hirobbil'alamin, terimakasih banyak Bu Musa, semoga kebaikan kalian akan di balas Allah dengan berkali lipat", ujar Kina.
Seorang pemuda yang menjadi ketua panitia langsung membungkukkan badannya berterimakasih pada Sari dan rombongan, begitu juga dengan pemuda-pemudi lainnya, ekspresi wajah mereka kini terlihat semakin bahagia.
" Semoga bermanfaat untuk adik-adik kecil ini".
Sari kembali bergabung bersama rombongan dengan hati yang begitu tenang dan damai, setelah apa yang dilakukan.
Musa merangkul pundak Sari dan mengecup kepalanya. Merasa begitu bangga pada istri tercinta atas kepeduliannya terhadap anak-anak kecil yang kurang beruntung itu.
__ADS_1
" Terimakasih untuk bantuannya Mas", Sari menatap Musa dengan tatapan penuh cinta.
" Bagaimana bisa aku tidak semakin jatuh cinta padamu setiap harinya, kau seperti malaikat tak bersayap yang di kirim Sang Pencipta padaku", ucap Sari dalam hati.