
Waktu terus berjalan, semua kembali ke rutinitas masing-masing, Sari langsung di sibukkan dengan pekerjaan dan perannya sebagai ibu rumah tangga.
Sejak tinggal beberapa minggu di rumah kakek. Rasyid mulai bisa duduk dan merangkak, Sari kini menjadi lebih berhati-hati dalam mengurusnya, semua benda-benda yang menurut Sari bisa membahayakan keselamatan Rasyid, seperti guci, hiasan yang bisa pecah, dan semua benda yang bisa membahayakan keselamatan Rasyid, langsung Sari amankan dan simpan ke dalam gudang.
Sari juga berpesan pada bi Nunung agar tidak pernah membuka pintu yang menuju dapur atau belakang rumah, karena ada kolam ikan disana, Sari takut Rasyid akan merangkak dan penasaran melihat ikan di dalam kolam.
Kolam ikan milik kakek memang tidak ada pagar kelilingnya, jadi akan sangat berbahaya jika bayi sekecil Rasyid bermain-main di sana.
Sari biasa menghabiskan waktu bersama Rasyid hanya jika weekend tiba, Sari pasti akan memanfaatkan waktu bersama Rasyid dengan sebaik mungkin. Itu pun jika tidak tiba-tiba ada tetangga yang sakit, datang meminta untuk di periksa, atau tiba-tiba ada panggilan telepon yang meminta Sari untuk datang ke rumah tetangga, mengobati mereka yang sakit.
Sari sudah berdiskusi dengan Musa, dan membahas tentang rencana nya yang akan memanfaatkan rumah Musa, untuk membuka praktek sendiri, bekerja sama dengan beberapa teman seprofesi, yang sudah menjadi dokter spesialis.
Beberapa hari yang lalu Sari sempat mengobrol dengan dokter Kurni, dokter Setiawan, dan beberapa dokter lain yang masih ada kemungkinan untuk diajak bekerja sama, membangun klinik pengobatan. Dan beberapa dari mereka setuju dan mendukung keinginan Sari.
" Kesempatan kamu menjadi seorang dokter yang bisa membantu banyak orang akan semakin besar, karena selain di rumah sakit, kamu juga bisa membantu mereka di rumah kita, yang akan kita sulap menjadi klinik pribadi", ucap Musa, sebagai wujud dukungan terhadap rencana Sari.
Bahkan Musa sudah mempunyai keniatan dalam hatinya, jika suatu hari nanti klinik yang di dirikan istrinya semakin besar dan banyak pasien, Musa ingin membangunkan rumah sakit untuk Sari dan rekan-rekannya agar bisa menjalankan praktek.
Malam ini terasa begitu damai, Rasyid yang tidur dengan pulasnya setelah kelelahan bermain seharian bersama bundanya. Memberi kesempatan kepada ayah dan bundanya untuk membicarakan hal penting untuk masa depan mereka.
Semilir angin malam minggu terasa sejuk menerpa wajah mereka yang tengah duduk-duduk di teras rumah.
Ting.....ting....ting....ting.....
Bunyi dentingan mangkok dari tukang bakso keliling yang sudah sangat familiar di telinga Sari, kini bisa di dengarnya lagi.
" Mas, mau makan baso?",
Musa mengangguk, seperti dejavu, Sari berdiri dan memanggil Abang tukang baso yang tiap hari lewat depan rumah itu.
" Pesen tiga mangkok ya bang ".
__ADS_1
" Sudah begitu lama Abang tukang baso ini jualan baso keliling, padahal rasanya lumayan enak, kenapa tidak mangkal saja?", pikir Sari
" Abang masih tetep jualan baso keliling?", Sari bertanya karena penasaran.
Abang tukang baso mengangguk sambil tangannya meracik mie dan sayur ke dalam mangkok.
" Memang ini pekerjaan Abang, Bu dokter".
" Buat kasih makan anak dan istri di rumah, buat bayar biaya sekolah anak-anak dan juga biaya hidup", ujar Abang tukang bakso.
" Nggak ada keniatan buat mangkal bang?, apa nggak capek malam-malam dorong gerobag muter?", tanya Sari.
Namun justru Abang tukang bakso tertawa sendiri. " Sekalian buat olahraga Bu dokter, yang mangkal di rumah istri, saya bagian keliling", terang Abang tukang bakso.
" Owh, jadi di rumah jualan baso juga, istrinya".
" Panggil saya mbak saja seperti dulu Bang, masih inget sama saya kan?, Sari... cucunya kakek Atmo", jelas Sari.
" Tentu masih ingat, tapi itu kan dulu manggil 'mba', waktu masih kecil, masih sekolah".
" Mari saya antar ke dalam baso nya Bu, tapi kalau boleh tau, yang satu buat siapa?, kan kakek sudah nggak ada?, kok masih tetep pesen 3 mangkok?", Abang tukang baso meletakkan tiga mangkok di meja kayu yang berada di teras rumah, sambil menganggukkan kepala menyapa Musa yang duduk di bangku sebelah meja itu.
Sari langsung menuang banyak sambel dan kecap sesuai seleranya yang pecinta pedas. Sedangkan Musa hanya memberi kecap dan sedikit saos.
" Terimakasih bang", ujar Musa.
" Sama-sama Pak Musa".
Ternyata Musa cepat dikenal oleh masyarakat sekitar, apa lagi semenjak tinggal di rumah kakek Atmo, Musa sangat rajin sholat berjamaah di masjid, dan mengikuti perkumpulan atau kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat.
Pembawaan Musa yang santun dan tidak membangga-banggakan jabatan atau kekayaan, menyatu dengan semua kalangan, membuat Musa seperti menuruni sifat kakek Atmo, menjadikannya seseorang yang sangat disegani oleh orang lain.
__ADS_1
" Ini yang satu buat bi Nunung bang, sekarang beliau menemani kami, tinggal disini", ujar Sari menjelaskan.
Abang tukang bakso mengangguk tanda mengerti, dan undur diri, karena harus keliling jualan lagi.
" Dari dulu sampai sekarang, istiqomah jualan bakso keliling, semangat mencari nafkah untuk keluarga, perjuangannya perlu diacungi jempol", gumam Sari.
" Jangan banyak bicara kalau lagi makan, apalagi kamu itu kasih sambelnya banyak, kali ini Mas maklumi, tapi besok-besok nggak lagi, kasihan Rasyid yang lagi menyu su kamu, kalau diare gimana? ", Musa langsung mengingatkan Sari.
Sejak tadi Musa tetap diam karena masih ada Abang tukang baso di sana, Musa tidak mau menegur Sari di depan Abang tukang bakso, karena hal itu bisa mempermalukan istrinya di mata orang lain.
" Tenang Mas, sudah Sari antisipasi, nanti habis makan baso, Sari langsung makan daun jambu biji muda yang baru metik di kebun belakang. Dijamin sambel baso nggak akan ngefek apa-apa sama Rasyid".
Baru selesai Sari bicara, bi Nunung keluar sambil membawa nampan berisi tiga gelas air putih dan tiga lembar daun jambu biji muda yang sudah di cuci terlebih dahulu dan diberi sedikit garam. "Obat diare alami, ilmu turun temurun dari almarhum nenek dulu".
Musa dan Sari langsung berterimakasih pada bi Nunung. Merekapun bersama-sama menikmati baso di teras rumah.
Teras rumah yang penuh dengan kenangan. Bagaimana dulu Musa sengaja menengok tiap kali lewat depan rumah kakek, berharap agar bisa melihat Sari yang sedang bersantai di teras rumah.
Sungguh saat kembali ke rumah bersejarah, rumah penuh kenangan ini membuat setiap moment di masa lalu kembali teringat. Begitu banyak kenangan yang terukir di rumah ini. Begitu juga dengan kenangan indah yang akan kembali diukir oleh Musa, bersama Sari dan anak-anak mereka, kelak.
...The End...
...Tamat...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Para readers tersayang, alhamdulillah, akhirnya bisa menyelesaikan kisah Ustadz Idolaku sampai tamat.
Mohon maaf jika selama ini masih banyak typo, dan kekurangan lain yang membuat readers merasa kurang nyaman.
Semoga cerita Musa dan Sari ini menambah sedikit pengetahuan dan wawasan para reader semua.
__ADS_1
Big hug untuk semua reader yang sudah setia dan sampai selesai membaca cerita ini. Author ucapkan terimakasih banyak, maturnuwun sanget 🙏🙏
Sedikit bocoran, akan ada bonus part ya🤫, biar dapet ending yang bagus dan nggak ngegantung banget ceritanya 🤭😁