
Esoknya sepulang sekolah Sari bersama Eli pergi ke rumah sakit Orthopedi, tempat dimana Sari dirawat beberapa waktu lalu, Sari langsung membuat janji temu dengan dokter spesialis bedah.
Hari ini Sari sengaja meminta Mas Soleh untuk tidak menjemputnya, dengan alasan masih ada kegiatan sampai sore. Dan akan pulang sendiri.
Setelah menunggu beberapa jam, giliran Sari di panggil untuk masuk ke ruang dokter.
" Siang Mba Sari, apa kabarnya?", sapa Dokter Solihin dengan ramah.
" Alhamdulillah baik Dok. Saya kesini mau konsultasi dok", ucap Sari
" Baik Mba Sari, dengan senang hati kami akan mendengarkan" .
" Sebenarnya saya sudah merasa risih dengan gips yang ada di tangan kanan saya ini Dok, apa boleh di buka meski belum 30 hari?", tanya Sari sungguh-sungguh.
" Saya sudah merasa baik-baik saja, tidak sakit sama sekali, justru karena gips ini jadi membatasi ruang gerak saya Dok", imbuh Sari menjelaskan.
" Baiklah kalau begitu, jadi mba Sari mau gips ini cepet-cepet dilepaskan", Dokter Solihin memperjelas .
" Iya Dok, apalagi sekarang sudah mulai berangkat sekolah, rasanya susah juga kalau nggak bisa nulis catatan pelajaran di buku", ucap Sari beralasan.
" Kita periksa dulu ya, nanti ini gips di lepas, terus di rontgen ulang, kalau tulang yang retak sudah menyatu, maka bisa di lepas seterusnya, tapi kalau belum dengan terpaksa di gips ulang, nggak papa?".
Sari mengangguk setuju.
Benar saja sari masuk ke dalam ruangan yang berbeda, disana ada alat semacam grindra potong,untuk membelah gips yang melekat di tangan Sari.
Setelah berhasil di buka dan di bersihkan, terlihat luka bekas jahitan di jari tengah Sari sudah mengering.
Sari berpindah ruang lagi untuk di rontgen. Sambil menunggu hasil Rontgen keluar, Sari mengajak Eli untuk makan siang di kantin rumah sakit terlebih dahulu.
__ADS_1
" Kita makan dulu yuk, dari pada bengong nungguin hasil rontgen keluar", ajak Sari.
Eli mengikuti langkah Sari menuju kantin rumah sakit, membeli dua porsi mie ayam, karena mereka sedang malas untuk makan nasi.
" Akhirnya bisa makan pakai tangan sendiri", Sari tersenyum bahagia sambil memegang sumpit di tangan kanannya.
Eli pun turut bahagia, karena melihat Sari tersenyum begitu lebar.
" Sar, aku penasaran deh, waktu kamu opname di sini, semalaman di jaga oleh pak Musa, apa dia juga yang suapin kamu makan?", tanya Eli penasaran.
Sari hanya mengangguk karena dia tengah menyeruput mie dengan ekstra siraman sambal, jadi nggak bisa ngomong, atau akan tersedak dan dijamin rasa perih akibatnya akan sangat parah.
" Tapi kenapa justru kamu kayak yang cuek begitu sama pak Musa, saat pelajaran agama tadi kamu terus di perhatikan sama dia, dia berulang kali menatap ke arahmu, tapi kamu nggak melihat ke arahnya sama sekali, malah menatap buku kosong yang ada dimeja terus, padahal kan dia sudah banyak bantu kamu pas di rawat".
Sari masih tetap diam dan menikmati mie ayam hingga habis.
Setelah meminum sebotol air mineral, dan mengelap mulutnya dengan tisu, Sari baru mulai bersuara.
" Kamu itu nggak bisa akting, jadi nggak usah sok baik-baik saja, kamu nggak tahu ya, waktu kemarin kamu opname, aku kesini usai sholat Maghrib, rencananya mau buka puasa bareng kamu, takutnya kamu nggak ada yang jagain. Eh pas aku mau masuk, aku liat dari kaca kecil yang ada di pintu, pak Musa lagi nyuapin kamu langsung pakai tangannya, kalian makan bareng, tatapan mata Pak Musa juga begitu teduh dan adem, oh so sweat banget, anehnya saat itu aku justru berharap menggantikan posisimu, nggak papa lah retak di jari, tapi disuapi sama Pak Musa dan di jagain sama guru ganteng itu, aku ikhlas lahir batin", Eli yang biasanya jaim, kali ini sudah bicara all-out, bersama dengan Sari.
" Dasar kamu El, seandainya bisa tuker posisi, aku juga mau dengan senang hati baik-baik saja, nggak enak banget nggak bisa ngapa-ngapain sendiri, nggak enak banget hidup bergantung pada orang lain", ucap Sari.
***
" Bye bye, El... see you tomorrow", Sari melambaikan tangan pada Eli saat taksi online yang mereka tumpangi mengantar Eli sampai di depan rumahnya. Ternyata Eli juga bukan anak orang biasa, Rumahnya hanya lantai dua yang kelihatan dari luar tembok keliling. Besar dan juga tertutup. Seandainya masih siang mungkin Sari akan mampir sesuai ajakan Eli, tapi sayangnya hari sudah sore, jadi Sari memilih untuk langsung pulang.
Sepanjang jalan Sari begitu bahagia karena hasil rontgen di rumah sakit tadi menyatakan Sari sudah sembuh, kata dokter kemungkinan karena masih masa pertumbuhan, jadi tulang yang retak cepat menyatu kembali.
Yang jelas saat ini Sari tengah merasa seperti terbebas dari beban pada tangan dan keterbatasan gerak dirinya beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
" Assalamualaikum", suara Sari begitu keras terdengar dari dalam rumah. Seperti biasa bi Nunung berlari hendak menyambut cucu majikannya itu.
" Masya Allah....!, itu gips sudah dilepas, apa mba Sari sudah sembuh?", tanya Bibi Nunung saat melihat tangan putih Sari tanpa dibalut gips.
Sari mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum bahagia, " alhamdulillaah sudah sembuh bibi, Sari bisa makan sendiri, nggak ngerepotin bibi terus, makasih ya Bi, selama ini sudah merawat Sari dengan sabar dan telaten", Sari memeluk bi Nunung dengan erat.
" Aduh mba Sari, sudah jadi tugas bibi menjaga dan merawat mba Sari, nggak ngerepotin sama sekali, justru bibi senang bisa merawat anak perempuan, soalnya bibi anaknya laki-laki semua", ucap Bu Nunung.
" Ya sudah Sari mau mandi dulu, keramas dan bersihin badan, rasanya lengket banget", Sari melepaskan pelukannya pada bi Nunung dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
Dan malam Hari kakek Atmo baru melihat Sari yang tangannya sudah tidak di balut gips, langsung bersyukur karena cucunya sudah benar-benar pulih dari cideranya.
***
Esok harinya saat istirahat, Sari mentraktir semua teman sekelasnya di kantin, sebagai syukuran kecil-kecilan atas kesembuhan dirinya, apalagi semua teman sekelasnya dulu datang rombongan menjenguknya malam-malam sepulang pesantren kilat. Sari begitu bersyukur karena di kelilingi oleh orang baik.
Sari juga memesan makan siang dari rumah makan Padang untuk Bu Berta, pak Musa dan pak Irsyad sebagai ucapan terima kasih.
" Jadi sudah benar-benar sembuh ya, alhamdulilah kalau begitu, kemarin ibu sudah berdiskusi dengan pihak radio untuk di wawancara hari Sabtu besok, berarti bisa ya Sar?", tanya Bu Berta.
" Bisa Bu, mau besok juga bisa, hehehehe", Sari terkekeh dengan candaannya sendiri.
" Kamu ini memang benar-benar bersemangat, ibu suka tipe anak seperti kamu, yang percaya diri, cerdas dan bersemangat".
" Terimakasih Bu, atas pujiannya, Sari permisi kembali ke kelas".
Sari menitipkan jatah makan pak Irsyad dan Musa pada Bu Berta, karena enggan bertemu dengan Musa secara langsung.
Kemarin pagi saja saat pelajaran agama, Sari sengaja tidak menatap ke arah Musa yang duduk dihadapannya. Meski Sari tahu, jika Musa beberapa kali memperhatikannya.
__ADS_1
Whatever.....