
Saat dapat jatah istirahat, Rizal buru-buru lari ke kamar mandi. Nafasnya naik turun dan memburu. Terlihat sekali seperti orang yang sedang emosi jiwa.
" Brengsek....!!, dasar guru baj*ng*n !!, Pantas dulu aku minta padanya buat deketin aku sama Sari langsung di tolak, ternyata dia juga tertarik sama Sari, cih...",
" Bug...!"
Rizal langsung menghantam tembok kamar mandi, ekspresi wajahnya terlihat sangat marah. Rizal mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya di kamar mandi rumah sakit.
" Bagaimana bisa selama ini aku tidak tahu apa-apa tentang pernikahan Sari, sudah 3 tahun lamanya, apa saja yang sudah aku lakukan selama ini".
" Aku begitu percaya diri kalau Sari adalah gadis yang paling tepat untuk menjadi pendamping hidupku. Tapi kenyataannya aku kalah cepat, langkahku terlalu santai dan terlalu nyaman karena Sari selalu menolak semua laki-laki yang mendekatinya, begitu percaya diri kalau Sari itu menolak mereka semua karena mencintaiku, sungguh menyedihkan hidupku ini". Rizal membasuh mukanya berkali-kali di atas wastafel.
Dan kenyataannya, Sari menolak mereka semua karena sudah mempunyai suami, yaitu Musa, alasan dia menolak mereka semua karena Musa, bukan karena Rizal.
Rizal langsung teringat pada Eli , sahabatnya Sari yang akhir-akhir ini sering pulang dan mengerjakan tugas bersamanya, Eli yang menjadi koas di rumah sakit yang sama dengan Rizal dan juga Sari, namun di tempatkan di bagian yang berbeda, menjadi sering pulang bareng Rizal karena rumah mereka yang searah. Mereka berdua juga sering mengerjakan tugas bersama karena rumah mereka berdua satu komplek.
" El, kamu dimana?, aku perlu ngomong sama kamu", Suara Rizal terdengar dari dalam ponsel Eli.
" Aku lagi jaga di IGD, kenapa Zal?", Eli tampak bingung karena Suara Rizal terdengar bergetar dari dalam ponselnya.
" Aku langsung ketempat kamu sekarang".
Rizal menutup teleponnya dan berjalan menghampiri Eli ke ruang IGD.
Eli yang melihat ekspresi wajah Rizal Saat memasuki ruang IGD dengan berjalan cepat langsung menghampiri Rizal dan mengajaknya keluar menuju bangku panjang yang berada di bawah pohon besar, di taman depan ruang IGD.
" Kamu kenapa?", Eli khawatir melihat keadaan Rizal yang datang dengan wajah merah dan emosi.
__ADS_1
" El, Apa kamu juga tidak tahu kalau Sari sudah menikah dengan Pak Musa 3 tahun yang lalu, atau sebenarnya kamu tahu tentang pernikahan mereka?. Jika kamu tahu kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku El?, kamu tahu persis kan bagaimana perasaanku sama Sari, setiap kali aku mengantarmu pulang, setiap kali aku ngobrol bersama kamu, hanya sari... sari... dan Sari... yang selalu aku bicarakan bersamamu?", ucapan Rizal cukup keras membuat beberapa orang yang berada di taman menatap ke arah mereka berdua.
" Please, pelankan suara kamu Zal, kita lagi berada di tempat umum, Oke ?", pinta Eli, yang merasa tidak enak karena diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya.
"Jujur Zal.... aku juga baru tahu beberapa hari ini kalau Sari itu sudah menikah sama Pak Musa, bahkan pernikahan mereka sudah 3 tahun yang lalu aku juga baru tahu, aku tahu dari Yanto, saat Sari opname kemarin. Yanto menjenguk ke sini bersama ayah dan ibunya".
Yanto memang sama-sama sedang koas, namun Yanto di tempatkan di rumah sakit yang berbeda. Dan kedatangan Yanto bersama kedua orangtuanya ke rumah sakit itu untuk menjenguk Sari, karena mereka memang saling mengenal, bahkan sudah seperti keluarga.
" Mungkin bukan maksud Sari merahasiakan pernikahannya pada kita, karena memang dia belum menikah secara resmi di KUA. KTPnya tertulis kalau dia masih lajang, dan kita tidak pernah bertanya tentang kehidupannya selama ini.Karena aku, kamu, Sari, itu sama-sama sibuk, waktu kita seharian, selama 24 jam itu rasanya masih kurang, karena begitu banyak dan padatnya kegiatan kita setiap hari, bahkan hari libur kita gunakan untuk evaluasi tugas, sampai kita sama-sama tidak punya waktu untuk memikirkan ke hal lain, apalagi tentang pernikahan Sari, aku tidak pernah berpikir sampai ke sana".
" Aku harap kamu bisa merelakan Sari menjadi milik orang lain Zal, carilah gadis lain yang masih sendiri. Kamu itu Rizal... seorang calon dokter muda yang tampan dan memiliki latar belakang keluarga yang terpandang, pasti akan sangat mudah untuk memperoleh gadis mana saja yang kamu suka".
" Termasuk aku ", batin Eli.
Eli yang dulu nya tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Rizal, bahkan sudah tahu jika Rizal menyukai Sari sejak mereka masih SMA, namun beberapa bulan yang lalu saat mereka berdua mulai sering pulang bersama sepulang koas di rumah sakit, dan mengerjakan tugas bersama di rumah Rizal atau Eli secara bergantian di akhir pekan. Mulai tumbuhlah rasa nyaman bersama Rizal, dan kadang merasa sakit hati saat Rizal membahas tentang Sari. Namun Eli belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan dan menyatakan perasaannya pada Rizal.
Entah pernikahan Sari itu bisa disebut sebagai keberuntungan, atau kesialan bagi Eli, karena di satu sisi Eli merasa bahagia mendengar Sari menikah, itu berarti Eli punya kesempatan untuk mendekati Rizal, namun di sisi lain, saat melihat Rizal menemuinya dengan begitu emosi dan marah mengetahui Sari telah menikah, justru Eli jadi ragu untuk mengatakan perasaannya. Eli takut membuat Rizal semakin emosi. Mungkin suatu hari nanti, yang jelas saat ini bukan waktu yang tepat.
" Aku balik ke IGD ya Zal, lagi banyak pasien, kasihan dokter Niken jaga sendirian di sana, kamu coba berpikir lebih tenang, bukan cuma kamu yang kaget, aku juga sama", Eli mengusap-usap lengan Rizal dan meninggalkannya masih terpaku di taman sendirian.
" Aku harap kamu bisa cepat move on Zal, dan bisa melihat keberadaan ku yang selalu ada di sisimu, aku yang selalu siap kapanpun dan di manapun kau membutuhkanku", batin Sari sambil masuk kembali ke dalam ruang IGD.
***
" Alhamdulillah sudah bisa pulang kerumah, semoga sebentar lagi bisa pulih dan kembali bisa beraktivitas seperti biasa", gumam Sari saat Musa menuntunnya menuju kamar mandi.
" Sari bisa jalan sendiri Mas, lagian kan sudah sembuh, nggak pusing dan lemes lagi, tapi mas terlalu berlebihan membuat Sari merasa tidak enak", gumam Sari.
__ADS_1
Namun Musa tetap menuntunnya,
" Nggak Papa, Mas cuma pengin kamu benar-benar sehat, untuk seterusnya. Dokter berpesan kalau kamu harus jaga pola makan kamu dan cukup istirahat, juga jangan terlalu banyak pikiran, kamu jadi tidak teratur makan sejak koas, makanya asam lambung kamu naik, membuat kepala pusing, lemes dan mual, Mas pengin kamu jaga kesehatan kamu, bagaiman kamu bisa mengobati pasien, kalau kamunya nggak bisa jaga diri kamu sendiri". Musa kembali memapah Sari hingga tempat tidur.
Awalnya Musa sangat berharap jika Sari pusing dan lemas karena hamil, tapi ternyata kata dokter itu semua disebabkan karena asam lambungnya yang naik, pikiran yang stres, kurang istirahat dan pola makan tidak teratur menjadi penyebab asam lambung naik.
Mungkin memang tidak seharusnya Musa berharap lebih, karena harapan yang tidak menjadi nyata hanya akan membuat kecewa.
Sari merebahkan diri di atas kasur. Musa berpamitan ingin ke ruang kerja, mengecek laporan keuangan karena sudah akhir bulan.
Memang sudah menjadi kebiasaan Musa membutuhkan ruang yang sepi dan tenang untuk memeriksa laporan-laporan, oleh sebab itu dia sengaja membuat satu kamar di rumahnya sebagai ruang kerjanya.
Sepeninggal Musa, Sari yang belum merasa mengantuk memilih mengecek ponselnya yang belum dilihatnya seharian ini. Dan begitu banyak chat yang masuk. Kebanyakan dari chat grup.
165 chat grup Koas RSUD....
283 chat grup alumnus 12 IPA 1 ...
86 chat grup FK Unsoed....
4 chat from Eli...
dan masih banyak lagi chat masuk yang belum dibacanya.
Sari sedikit penasaran kenapa chat grup alumnus begitu ramai, Sari membukanya, ternyata dia lah yang tengah menjadi topik pembicaraan teman-temannya. Tentu saja tentang kabar pernikahannya dengan Musa yang sedang ramai di perbincangkan. Menjadi berita utama yang dibahas di grup alumnus.
Dan satu demi satu Sari membaca chat di grup alumnus, ada yang mengucapkan selamat, ada yang masih belum percaya karena tidak merasa menerima undangan pernikahan dari Sari. Ada juga yang bergaya sok prihatin pada Rizal.
__ADS_1
Ya... tentu saja, semua yang melihat kedekatan Sari dan Rizal sejak SMA, dan melihat bagaimana sikap Rizal terhadap Sari pasti akan menganggap mereka adalah pasangan kekasih. Banyak yang mengira Sari mencampakkan Rizal, padahal diantara mereka berdua tidak pernah terjalin hubungan spesial.
Belum selesai Sari membaca semua chat, matanya mulai panas menatap layar ponselnya. Akhirnya Sari mematikan ponselnya dan memejamkan mata, berusaha untuk mengistirahatkan matanya yang terasa panas, dan berharap bisa tidur.