Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Butuh bantuan


__ADS_3

" Permisi.... Sari sudah selesai makannya mau cuci tangan terlebih dahulu", Sari beranjak dari duduknya dan berjalan dengan sedikit tergesa ke arah dapur, mencuci tangan di wastafel cukup lama, sambil pikirannya melanglang entah kemana.


Sari sampai kaget saat Musa tiba-tiba berdehem di belakangnya. Sari kembali menyusut air matanya, dan membalikkan badan menatap ke arah Musa.


" Pak guru mau cuci tangan juga?", tanya Sari sambil menundukkan kepalanya dan berjalan menjauhi Musa.


" Bisa kamu cerita kenapa kamu menangis?", Musa bertanya dengan suara lirih.


Sari menengok kembali ke arah Musa yang sedang mencuci tangannya. " Apa pak guru berjanji mau membantuku jika aku menceritakannya?", Musa mengangguk menyetujui untuk membantu Sari, meski Musa belum tahu ada masalah apa yang membuat Sari menjadi lebih sensitif.


" Besok Sari ceritakan saat di luar rumah, mungkin disini kurang tepat", ucap Sari sambil berjalan menuju ke gazebo kembali bergabung bersama kakeknya.


***


Sepulang sekolah Sari dan Musa sepakat untuk bertemu di salah satu kafe yang berada tidak jauh dari sekolahan, Sari sengaja mengirim pesan pada Musa agar menemuinya di kafe itu.


Musa mencari-cari keberadaan Sari saat masuk ke dalam kafe, sengaja menggunakan Hoodie agar tidak terlihat aneh, seorang guru bertemu dengan muridnya di kafe.


Sari juga menggunakan sweater untuk menutup seragam OSIS nya, dan memilih duduk di bangku yang berada di pojokan kafe, tempat paling terlihat nyaman dan terlindung/ tertutup.


Musa baru menemukan Sari setelah Sari melambaikan tangan ke arah Musa saat melihat Musa tengah mengedarkan pandangannya di kafe itu.


Setelah bisa menemukan Sari, Musa langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Sari. Sudah ada dua cangkir espreso yang tersaji di meja, dan beberapa potong kue cake dan brownies.


" Silahkan diminum Pak", Sari mempersilahkan, namun Musa hanya mengangguk tanpa menyentuh cangkir itu.


" Kenapa harus ngomong diluar seperti ini?", tanya Musa.


Bukannya menjawab, Sari menyalakan ponselnya dan membuka pesan yang beberapa hari lalu di kirimkan oleh Fera padanya.

__ADS_1


" Baca ini Pak", Sari menyerahkan ponselnya pada Musa. Dan Musa langsung membaca teks percakapan Sari dengan Fera.


" Jadi kakek Atmo sakit?, tapi tidak mau di operasi?", Sari menganggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapan Musa.


Musa menyerahkan kembali ponsel itu pada Sari. " Sudah seberapa besar batunya?".


Sari menggelengkan kepalanya, " Nggak tahu Pak, Sari juga bingung sebaiknya Sari bertanya, atau tidak, Sari sebenarnya penasaran dan ingin tahu, tapi kakek berusaha merahasiakannya dari Sari. Justru beberapa hari yang lalu kakek mengatakan pada Sari, jika Sari tidak nyaman tinggal disini, Sari di suruh untuk kembali ke Malang. Sari takut kalau Sari tanya-tanya tentang sakit kakek, malah Sari disuruh pulang ke Malang", Sari menceritakan membuat hatinya gundah.


" Berarti kamu tahu dengan dokter yang memeriksa kakek kan?, beliau rumahnya dekat?, coba di tanyakan dulu sama dokternya, kalau batu di dalam belum terlalu besar, memang masih bisa dipecah dengan konsumsi makanan tertentu. Tanpa kamu mengatakan pada Kakek, tapi kamu bisa berusaha mengobati kakek secara diam-diam", ucap Musa menjelaskan.


" Tapi jika batu yang di dalam sudah besar, maka kakek harus di bujuk agar mau melakukan operasi, dari pada akan terus kesakitan", imbuh Musa.


***


Sari pamit pada kakeknya untuk bermain ke rumah temannya yang tinggal se komplek, kakek mengijinkan Sari dan tidak menaruh curiga pada Sari. Ternyata Sari datang ke rumah Fera, setelah berkirim pesan dengan Fera, jam berapa ayahnya di rumah.


" Assalamualaikum".


" Wa'alaikum salam, masuk Sar", ucap Fera setelah menjawab salam Sari.


Sari langsung masuk ke dalam rumah Fera dan duduk di ruang tamu setelah Fera mempersilahkan.


" Ayah baru saja pulang beberapa menit yang lalu, sekarang sedang mandi dan sholat asar dulu, mumpung masih keburu. Kamu mau minum apa Sar?", Fera duduk di samping Sari yang wajahnya tampak tegang saat itu.


Fera sadar mungkin Sari sedang mengkhawatirkan kondisi kakeknya.


" Air putih saja Kak ", jawab Sari sambil tersenyum sopan.


" Waduh, maaf sudah bibi buatkan teh hijau, ini kesukaan mba Fera, jadi sekalian tek buatin", pembantu di rumah Fera keluar dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hijau dan cemilan sehat.

__ADS_1


" Nggak papa, sebenarnya apa saja masuk Bi, terimakasih", ucap Sari.


" Di minum Sar, tehnya sudah di buat dari tadi, pasti sekarang sedang anget-anget kuku, pas untuk di nikmati", ujar Fera. Sari hanya mengangguk dan menyesap sedikit teh yang masih mengepulkan asap itu.


Tak lama kemudian ayahnya Fera, dokter Setiawan menemui Sari yang sudah menunggunya sejak tadi.


" Jadi ini cucu kakek Atmo yang sekarang tinggal disini?", dokter Setiawan menghampiri Sari, Sari pun berdiri dan bersalaman dengan beliau.


" Maaf ya, putri bapak sudah membuat khawatir, dia ini sudah besar, tapi masih hobi menguping pembicaraan orang", Dokter Setiawan mengelus rambut Fera dengan penuh kasih sayang.


" Nggak papa Dok, justru Sari berterimakasih karena Kak Fera sudah mengabari Sari tentang kondisi Kakek, soalnya kakek itu nggak bakalan cerita sama Sari tentang keadaannya", ucap Sari sambil meringis.


" Kadang memang orang tua itu punya pemikiran sendiri, mungkin beliau tidak mau membuat anak dan cucunya khawatir", terang Dokter Setiawan.


" Dok, kalau boleh tau, batu yang ada di dalam sudah seberapa besarnya?", tanya Sari langsung pada intinya.


" Sudah lumayan besar, karena dari dulu saya menyarankan untuk di laser, kakek tidak setuju, katanya mau ke alternatif. Dan beberapa hari yang lalu datang ke rumah sakit melakukan medical check up, ternyata batunya masih, bahkan sudah lebih besar dari sebelumnya", jawab dokter Setiawan.


" Lalu apa harus di operasi Dok?", tanya Sari.


" Kakek sudah membuat keputusan untuk tidak melakukan operasi, meski sudah saya bujuk berulang kali. Coba kalau Sari yang bujuk kakeknya, siapa tahu kakek berubah pikiran".


Sari berpamitan pada Fera dan Dokter Setiawan stelah mendengar penjelasan beliau, Sari pun mengucapkan terima kasih dan keluar dari rumah Fera dengan wajah lesu.


Sari berjalan pulang dengan langkah gontai, saat matahari mulai memasuki batas cakrawala, terang yang tadi ada kini berubah menjadi semakin redup dan gelap. Sama seperti perasaan Sari yang tengah gundah gulana tertutup kegelapan malam yang menghampirinya.


Sari mengambil ponselnya saat sampai di kamar dan mengirim pesan pada Musa.


~ Sari mohon, bantu Sari buat bujuk Kakek agar mau melakukan operasi ~

__ADS_1


__ADS_2