
Sari masih harus banyak beristirahat dan terus di rumah karena kondisi tangannya yang masih di gips, kata dokter jika tidak ada keluhan apapun, sebulan lagi Sari harus datang lagi ke rumah sakit untuk melepas gips di tangannya. Padahal baru empat hari Sari di gips saja rasanya sudah tidak nyaman, mau ini susah, mau itu juga susah.
Setiap hari Sari makan di suapi oleh Bi Nunung, bahkan keramas juga bi Nunung yang cuci kan rambutnya, mandi ala kadarnya, karena satu tangan harus menggantung ke atas dan yang bisa memegang sabun adalah tangan kiri yang akses geraknya tidak seaktif tangan kanan.
Sari ingin sekali berendam, tapi di rumah kakeknya tidak ada bathub seperti di rumahnya. Meski kamar mandi luas, tapi tidak menyediakan bathub, kadang Sari membayangkan betapa segarnya jika bisa berendam beberapa jam di bathub dengan diberi tetesan wewangian beraroma terapi.
" Kek, kemarin kata ustadz Musa karena tangan Sari sedang terluka dan tidak bisa untuk berwudhu, kalau Sari mau sholat harus melakukan tayamum. Kemarin ustadz Musa mau mengajari Sari untuk tayamum, tapi ke buru Sari datang bulan, jadi nggak jadi latihan tayamum karena Sari sholatnya juga libur. Sekarang Sari sudah selesai datang bulannya, tapi mau keramas pun bagian tangan Sari belum boleh kena air, sebenarnya begitu banyak yang ingin Sari tanyakan sama ustadz Musa tentang hal ini, tapi ustadz Musa sudah beberapa hari tidak datang kesini, pasti dia kira Sari masih datang bulan", ujar Sari.
Kakek Atmo hanya tersenyum mendengar perkataan cucunya. " Kakek yang menyuruhnya untuk tidak datang dulu ke mari, karena kan cucu kakek yang cantik ini harus banyak istirahat. Lagian sebentar lagi kan mau lebaran, nanggung juga nanti libur lagi ngajinya, mending libur dulu sampai kamu benar-benar sembuh dan lepas gips".
Kakek Atmo beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamarnya.
" Libur sampai aku lepas gips...., itu berarti nggak ketemu sampai sebulan", Sari menunduk lemas.
" Kenapa dengan diriku ini, kenapa justru saat tidak bertemu dengannya aku merasa ada yang hampa, kenapa aku merindukan suaranya, rindu saat dia menceramahi ku, rindu saat dia memberi tahu hal-hal tentang agama yang belum ku ketahui...., apa ini yang dimaksud dengan 'rindu itu berat?', oh my God, kenapa harus rindu sama ustad Musa, dia kan hanya seorang ustadz, sudah terlalu tua untuk dijadikan gebetan, meski jujur wajahnya nggak kelihatan tua sama sekali, seperti seumuran denganku".
Lalu dengan otak cerdasnya Sari mencari alasan agar bisa bertemu atau sekedar bertelepon dengan Musa.
Cukup lama Sari berfikir, mencari alasan paling masuk akal agar tidak terlihat seperti modus. Karena hanya ingin sekedar mengobrol. Dan akhirnya Sari menemukan ide paling tepat.
Diambilnya ponsel yang ada di bawah bantal tidur, Sari duduk di tepian kasur dan men-dial nomer dengan nama kontak 'Ustad idolaku'.
Tuuuut.... tuuuut.....
__ADS_1
" Nomernya nyambung, semoga ustadz Musa sedang tidak sibuk", Sari harap-harap cemas.
" Assalamualaikum...", terdengar suara yang sangat Sari rindukan, betapa bahagianya hati Sari hanya dengan mendengar ucapan salamnya.
" Wa'alaikum salam Ustadz, ini Sari".
"What ?, tentu saja Ustadz Musa bisa tahu kalau itu aku, secara nomerku sudah tersimpan di daftar kontak ponselnya, untuk apa menjelaskan kalau yang telepon adalah aku", batin Sari memprotes ucapannya sendiri.
" Iya Sari, ada apa telepon?".
" Karena Sari merindukan ustadz", ingin sekali Sari mengatakan hal itu, tapi tentu saja itu hanya keinginan saja, karena Sari tidak seberani itu untuk mengungkapkannya.
" Oh, iya Sari mau tanya sesuatu sama ustadz, perihal mandi wajib dan tayamum, kan Sari sudah selesai datang.......".
" Stop !, sebentar...".
" Aku ada telepon sebentar ya", ucap Musa sambil menjauhkan ponselnya, dan berjalan mencari tempat yang sepi.
" Iya silahkan dilanjut kalimatnya", ucap Musa saat dirinya sudah berdiri di luar ruangan.
" Sari mau tanya masalah mensucikan diri setelah selesai datang bulan, karena Sari masih di gips otomatis saat keramas kan nggak basah nih tangannya, jadi gimana Tadz?, apa mandi wajibnya di terima?"
Musa membacakan penggalan ayat suci Alquran surat Al-Maidah ayat 6
__ADS_1
" Allah berfirman, dalam penggalan ayat tersebut, yang artinya, ' hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka wudhulah: basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan usaplah kepalamu dan basuh kakimu sampai kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan wanita, lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang suci; usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.. (QS. Al-Maidah: 6)'. Dari penggalan ayat itu bisa diambil kesimpulan karena kamu dalam keadaan sakit, jadi diperbolehkan untuk mensucikan diri dengan bertayamum ".
Sari mengangguk-angguk tanda mengerti,
" terimakasih ustadz, maaf kalau sudah mengganggu waktu ustadz, sepertinya ustadz sedang sibuk, tapi tadi Sari benar-benar bingung harus bertanya pada siapa, tiba-tiba langsung terfikir untuk bertanya sama ustadz Musa, ya sudah silahkan dilanjutkan kegiatannya, assalamualaikum...".
" Wa'alaikum salam".
Musa menyimpan ponsel di dalam saku celana dan kembali masuk ke dalam ruangan.
" Siapa Mus?", tanya Ardi kenalan Musa yang beberapa bulan lalu menawarkan kerjasama untuk bisnis membuka konter HP bersama Musa, dan saat ini mereka sedang membahas untuk melakukan promosi produk dikalangan pelajar SMA dan mahasiswa.
" Anak didik ku", jawab Musa singkat.
Di sebelah Ardi juga ada Hendrik, teman SMA Musa yang berasal dari daerah Solo, Hendrik membuka bengkel mobil di Purwokerto dengan modal dari Musa, sedangkan semua operasional di percayakan pada Hendrik.
Musa memang terlihat hanya seorang guru agama di SMA negeri, tapi memiliki banyak bisnis kecil-kecilan yang di lakukannya, bersama para rekannya tentunya. Bisnis yang terbaru adalah membuka Toko baju, yang menjual berbagai pakaian dari anak-anak hingga dewasa. Toko yang terletak di kompleks pasar Wage. Ardi juga yang menghandle toko pakaian itu, tapi hanya seminggu tiga kali berkunjung, sekedar mengecek laporan keuangan yang di handle oleh orang kepercayaannya di toko.
Hendrik yang yang merasa aneh dengan jawaban Musa jadi bertanya, " woow..., aku baru tahu, kalau sekarang kamu sudah tuker-tukeran nomor ponsel juga sama murid-murid kamu?", goda Hendrik.
" Ish...apa sih, nggak semua, cuma ada satu kontak murid yang ku punya", jawab Musa.
" Cie...cie...murid special nih ceritanya....", kali ini ganti Ardi yang menggoda Musa.
__ADS_1
" Terserah kalian lah". Musa memilih pergi meninggalkan kedua temannya yang semakin kepo.
Secara.... Ardi dan Hendrik tahu, sejak dulu Musa tidak pernah akrab dan dekat dengan perempuan manapun, jika ada murid dengan suara lembut menelponnya di saat liburan sekolah, bukankah itu spesial?