
Sesuai janjinya pada Eli beberapa hari yang lalu, Sari meminta pada Musa, weekend besok untuk menginap di rumah kakek Atmo lagi.
Rencananya Sari akan ngobrol dengan Dimas secara langsung berdua. Karena itu Sari mengirim pesan pada Dimas agar Sabtu besok Sari mau ngobrol penting.
Dimas membalas pesan sari hanya dengan kata " Iya".
Sari belum memberi tahu Musa tentang cerita Dimas dan Linda, bukan karena Sari tidak percaya pada Musa dan takut akan mengumbar aib kakaknya, justru Sari merasa sangat malu jika sampai Musa tahu tentang sikap kakaknya itu. Sebisa mungkin untuk sementara, Sari memendam masalah kak Dimas ini dari suaminya.
Jelas sekali Musa dan Dimas itu mempunyai kepribadian yang jauh berbeda, lingkungan , gaya hidup dan cara bergaul mereka juga sangat berbeda.
Menurut Sari, Musa pasti akan sangat malu jika tahu kelakuan kakak iparnya begitu buruk.
Karena itu, Sari ingin menyelesaikan masalah Dimas tanpa sepengetahuan Musa. Sari yakin Sari masih mampu menghandle sendiri.
" Besok pagi kita kerumah Kakek ya Mas?", Sari mulai membuka pembicaraan usai membereskan piring kotor bekas makan malam.
" Kamu kepikiran kalau Dimas nggak pulang lagi?".
Sari menganggukkan kepalanya, meski bukan itu alasan utamanya. Tapi Sari mengiyakan tebakan Musa. Demi menutupi tujuan yang sebenarnya.
" Tapi besok Mas ada undangan mengisi ceramah di pengajian Sabtu manis di Masjid At-Taqwa, jam 10".
" Kita kerumah Kakek habis pengajian, atau kamu mau Mas antar ke rumah kakek dulu sebelum Mas ke acara pengajian?".
" Antar Sari dulu sebelum Mas ke acara pengajian".
Sari berpikir sejenak. " Tapi kan Masjid At-Taqwa dan rumah kakek beda arah, apa Sari bawa mobil sendiri, biar Mas nggak muter-muter".
" Letak Masjid At-Taqwa dan rumah kakek itu berlawanan arah. Kalau Mas Musa mengantarku dulu, itu berarti dia harus muter-muter, tidak efisien waktu dan tenaga", pikir Sari.
" Nggak papa sayang... kita ke rumah kakek besok berangkat jam 8, biar Mas bisa ngobrol dulu sama Kakek. Baru jam setengah 10 mas berangkat ke masjid".
Sari langsung tersenyum sumringah, " Oke !".
" Suamiku memang paling bijaksana", batin Sari.
\=\=
Pagi pun tiba, usai sholat subuh berjamaah di rumah, Sari dan Musa melakukan kegiatan panas di atas kasur.
__ADS_1
Memang seperti sudah menjadi rutinitas, mereka berdua selalu melakukan 'hal itu' setiap weekend tiba, mungkin karena Sari dan Musa libur dengan rutinitas kerja masing-masing, sehingga memanfaatkan waktu libur yang cukup panjang untuk mendapat pahala lebih, memperoleh hak dan melakukan kewajiban sebagai pasangan suami-istri.
Meski usia pernikahan mereka di bilang sudah cukup lama, dan melakukan hubungan suami-istri seperti itu sudah berkali-kali, tapi keduanya masih tetap merasa gerogi dan deg-degan setiap kali harus kembali melakukannya.
Tetap selalu seperti pengalaman pertama, dan itu membuat keduanya merasakan jatuh cinta pada orang yang sama, lagi dan lagi.
Musa memeluk Sari yang terkulai lemas setelah aktifitas panas yang mereka lakukan, kemudian berbisik di telinga Sari sambil tersenyum.
" Sudah capek, nggak usah jalan-jalan keliling komplek, kan sudah berolahraga tadi, bahkan lebih dari setengah jam melakukan senam di atas kasur, hehehehe", Musa semakin mengeratkan pelukannya.
" Sudah kehabisan tenaga, Sari capek, tentu saja jalan-jalan paginya libur dulu Mas".
Musa kembali berbisik, " capek banget ya?, Mas mau lagi boleh nggak?, hehehehe".
Sari langsung melirik ke arah Musa, " masih kuat?, emang masih bisa?".
" Tentu saja masih kuat, jadi boleh nambah?", Musa menempelkan bagian bawah tubuhnya yang kembali mengeras.
" Nanti Sari jadi nggak bisa masak kalau nambah, capek...". ujar Sari.
" Nggak papa, sarapannya nanti Mas yang siapin, jadi boleh ya nambah?", Musa masih memeluk Sari sambil merayu.
Melihat anggukan Sari, Musa langsung meloncat dari ranjang, mengambil air wudhu di kamar mandi di ikuti Sari yang juga mengambil air wudhu.
Musa memang terbiasa melakukan hal itu, didasarkan pada hadis riwayat Abi Said.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda,
" Barang siapa telah mempergauli istrinya, kemudian bermaksud mengulanginya lagi (untuk kedua kali) maka hendaklah dia berwudhu."
Sedangkan Sari yang tahu dari Musa juga melakukan hal yang sama, berwudhu terlebih dahulu sebelum kembali berjima'.
Sari dan Musa baru kemudian kembali ke tempat tidur dan mengulang kembali kegiatan panas di atas ranjang.
Jam menunjukkan pukul 6.15 pagi ketika Sari terlihat begitu kepayahan mengimbangi permainan Musa yang semakin lama semakin dahsyat.
Entah mendapatkan pengetahuan dari mana, mungkin juga dibahas dalam kitab, tapi yang Sari tahu, Musa benar-benar seorang suami yang bisa membahagiakan istrinya lahir dan batin.
Musa membuat Sari merasa menjadi wanita yang paling di cintai dan seolah menjadi wanita yang sangat di inginkan nya. Tentu saja perilaku Musa yang demikian membuat Sari menjadi wanita yang paling bahagia.
__ADS_1
Saat mereka berdua sama-sama terkulai lemas di atas kasur. Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.
" Tok...tok...tok..."
Musa langsung beranjak dari tempat tidur, mengenakan pakaian yang tadi sempat tercecer di lantai, berwudhu, lalu mengambil dompet dari laci meja dan kemudian keluar dari kamar, menutup pintu kamarnya kembali, seolah menyembunyikan Sari yang masih terkulai lemas di atas kasur.
" Assalamualaikum Tadz... tadi mengirim pesan sama anak saya, pesan nasi uduk 3 bungkus, sama sate ayam tiga porsi ya?", tanya bapak-bapak yang tengah berdiri di depan pintu rumah Musa.
Musa memang tadi mengirim pesan pada salah satu mahasiswa yang rumahnya tidak jauh dari rumah Musa. Dan orang tuanya jualan nasi uduk dan sate ayam setiap pagi di depan rumah.
" Wa'alaikum salam, iya betul, ini bapaknya Ali?", Musa balik bertanya.
" Iya betul Tadz, ini pesanan nasi uduk sama sate ayamnya", seraya menyerahkan kantong plastik besar pada Musa.
" Jadi berapa semuanya?".
" Semuanya jadi 45 ribu Tadz".
Musa memberikan uang 50 ribuan, " Ambil saja kembaliannya, terimakasih Pak sudah diantarkan ke rumah".
Si bapak berterimakasih dan langsung pamit.
Musa kembali masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumah. Saat berjalan menuju ruang makan, ternyata Sari sudah duduk di kursi makan sambil membuat dua gelas teh manis.
" Siapa Mas?".
" Nih, bapaknya Ali, nganterin nasi uduk, kita sarapan ya, sudah wudhu belum?".
Sari menganggukkan kepalanya, kemudian ke dapur mengambil piring dan sendok untuk mereka berdua.
" Kok pesen nya tiga Mas?", Sari menghitung bungkusan sate dan nasi uduk, semuanya masing-masing 3 porsi.
" Iya, kan buat Mas satu, kamu satu, terus buat Dede bayi juga satu, dia juga pasti lapar dan capek, diajak olahraga pagi sama ayah bundanya, hehehe", Musa kembali terkekeh, semenjak tahu jika nafsu makan Sari meningkat, Musa selalu memberikan porsi makanan lebih untuk Sari.
Juga pesan dokter Agus beberapa waktu lalu.
" Ibu hamil memang membutuhkan asupan nutrisi yang lebih besar, dan harus makan makanan yang bergizi dan kalau bisa lebih di perbanyak porsinya", begitu pesan dokter Agus saat kemarin ngobrol dengan Musa.
Musa dan Sari pun menikmati nasi uduk dan sate ayam dengan lahap. Sari benar-benar bisa menghabiskan dua porsi nasi uduk dan dua porsi sate ayam dengan cepat. Musa hanya tersenyum melihat selera makan Sari yang semakin meningkat.
__ADS_1
Usai makan, Sari dan Musa langsung mandi, membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah kakek Atmo.