Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Sebuah Jawaban


__ADS_3

" Kenapa kakak terus terdiam?".


" Apa sebenarnya kakak mempunyai perasaan yang sama?, kak Dimas juga mencintai Linda?".


Dimas masih tetap menutup mulutnya rapat. Seperti ingin menjawab, tapi masih ragu.


Namun ekspresi wajah ragu yang Dimas tunjukkan pada Sari, membuat Sari menyimpulkan sendiri jawabannya.


" Kakak pernah mencintainya, tapi kakak mengelak karena merasa tidak pantas untuknya".


Sari beranjak dari duduknya, membawa cobek batu, dan piring plastik bekas tempat irisan buah ke dapur untuk di cuci. Meninggalkan Dimas yang masih termangu sendiri di gazebo.


" Mba Sari, ustadz Musa nya sudah menunggu di tempat makan", mendengar itu, Sari langsung menatap Bi Nunung.


" Mas Musa sudah pulang?, sejak kapan?".


" 10 menit yang lalu mungkin, saat bibi sedang menyiapkan hidangan ke meja makan".


Sari langsung mendekat pada bi Nunung dan berkata lirih, " apa Mas Musa mendengar pembicaraan ku dengan kak Dimas?".


Bi Nunung menggelengkan kepalanya, " Beliau langsung menuju ke ruang makan saat melihat mba Sari dan mas Dimas sedang ngobrol".


Sari langsung mencuci tangannya, mengambil air wudhu, melaksanakan sholat Dzuhur yang sedikit telat karena tadi ngobrol dengan Dimas dulu.


Tentu saja Sari tidak mau saat Musa menanyakan dia sudah sholat atau belum, dan dijawab belum olehnya.


Sari sholat Dzuhur dengan begitu cepat, sengaja memilih membaca suratan yang pendek-pendek, agar segera selesai, tanpa berdzikir dan berdoa usai sholat. Kemudian langsung berjalan ke ruang makan.


Sudah ada kakek, Musa dan juga kak Dimas yang duduk menunggunya.


" Maaf, nunggu lama ya..."


Sari mengambilkan nasi untuk Musa dan kakek Atmo, baru kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.


" Mari makan", ucap Sari masih salah tingkah.


Mereka berempat makan bersama, semua diam menikmati masakan bi Nunung.


Musa hanya sesekali menatap Sari, tatapan penuh tanya, tapi enggan untuk di utarakan. Musa memang selama ini tidak pernah menuntut Sari untuk menjelaskan apapun perihal yang tidak ingin Sari ceritakan.


Sama seperti siang ini, Sari berpikir untuk tetap tidak menceritakan tentang Dimas pada Musa, dan Musa juga tidak berniat untuk menanyakannya terlebih dahulu. Musa selalu membiarkan Sari mempunyai privasi, karena jika sudah saatnya, Musa tahu pasti Sari akan menceritakannya sendiri tanpa diminta.


\=\=


Suasana malam hari begitu gelap, awan mendung dan angin berhembus dengan cukup kencang.


Sari yang sedang duduk di teras rumah kakek Atmo, kepikiran masalah Linda dengan kakaknya , Sari menunggu kakek dan Musa kembali dari masjid usai sholat Isa berjama'ah, karena angin malam terasa semakin dingin, Sari memilih memakai jaket tebal agar tidak kedinginan.


Dimas yang dari tadi berada di kamarnya memutuskan untuk keluar dan duduk di samping Sari.

__ADS_1


" Aku bukan laki-laki yang baik..."


Kalimat Dimas membuat Sari menoleh, menghadap ke arahnya.


"... dan tidak pantas untuk gadis baik seperti Linda temanmu".


" Dia pantas bersama laki-laki lain yang lebih baik dariku".


" Jujur... aku pernah merasa nyaman jalan dan ngobrol bersamanya".


Sari tidak berniat untuk berbicara apapun pada kakaknya saat ini. Dia hanya diam dan melingkarkan tangannya di depan dada untuk menghilangkan rasa dingin yang kian merasuk tubuh.


Hingga nampak Musa dan kakek Atmo masuk ke melewati pintu gerbang. Dan Sari langsung diajak masuk ke dalam rumah karena hembusan angin semakin terasa kencang.


***


Minggu siang, Sari dan Musa pamit untuk pulang ke rumah, di jalan besar, Sari meminta pada Musa untuk mampir ke salah satu kafe yang mereka lewati.


Sudah ada Linda yang menunggu disana.


Linda yang biasanya begitu ceria, saat itu wajahnya terlihat mendung.


Linda menyapa Musa dan mengajak Sari masuk ke kafe.


" Mas pulang saja dulu, nanti Sari pulang sama Linda ".


Musa mengangguk mengerti, memberi ruang pada istrinya untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya.


Eli menganggukkan kepalanya menyapa Musa, dan masuk ke dalam kafe bergabung dengan Sari dan Linda.


Sedangkan Musa memilih melajukan mobilnya dan kembali ke rumah.


" Maaf telat, kalian sudah ngobrol lama?", tanya Eli yang baru duduk di samping Linda dan Sari.


" Kami juga baru sampai", Sari melambaikan tangannya ke arah pramusaji dan memesan menu yang ringan, kentang goreng dan milkshake.


Eli dan Linda memesan menu yang sama, hanya berbeda varian rasa.


" Jadi apa kamu sudah ngobrol sama kak Dimas?", Eli yang berinisiatif lebih dulu bertanya, tentu Eli tahu jika Linda akan merasa canggung pada Sari.


" Kemarin aku ngobrol sama Kak Dimas, dan dia bilang kalau dia masih sama Ayu, mungkin mau ke tahap yang lebih serius", Sari menatap Linda dengan tatapan merasa bersalah.


" Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau kamu pernah dekat sama kak Dimas?", Sari menatap Linda yang matanya mulai berkaca-kaca.


" Maaf kalau ucapanku menyakiti kamu, kak Dimas bilang dia tidak pernah melakukan hal-hal diluar batas bersama kamu".


" Dia juga mengakui pernah bermalam di hotel berdua bersama kamu, untuk curhat dan ngobrol saja", ucapan Sari semakin lirih.


Sedangkan Eli mendesah mendengar ucapan Sari, " tapi kalau kamu di posisi Linda, semalam nginep di hotel berdua dengan cowok yang bukan saudara".

__ADS_1


" Habis itu sering diajak ketemuan dan jalan bareng".


" Apa kamu nggak baper kalau ada cowok memperlakukan kamu seperti itu Sar?".


" Benar juga ucapan Eli, mana ada cewek yang nggak baper bermalam di hotel bersama seorang cowok, meski cuma ngobrol dan nggak ngapa-ngapain, pasti akan menumbuhkan perasaan yang lebih dari sekedar teman", batin Sari.


" Tapi emang kamu orangnya nggak peka an sama cowok sih Sar..., mungkin kalau kamu yang di posisi Linda juga nggak bakalan naksir sama tuh cowok".


" Yang jelas-jelas ngasih kode keras saja kamu nggak peka", sindir Eli.


Sari hanya nyengir menanggapi ucapan Eli yang jujur, tapi sedikit pedas.


Tapi Sari tidak mau memperpanjang pembahasan kalimat sindiran Eli. Karena apa yang dikatakan Eli memang benar adanya.


Sari hanya ingin meng-clear-kan masalah Linda dan Dimas, agar tidak ada lagi kesalah pahaman dan rasa canggung jika bertemu nanti.


Sari mengambil ponselnya dan mengotak-atik sebentar, kemudian meletakkan diatas meja.


" Kamu itu gadis yang cantik dan baik hati Lin, kak Dimas nggak pantes dapat gadis sebaik kamu, dia itu nyebelin, jadi kamu nggak boleh nangisin cowok kaya kak Dimas", ucap Sari meyakinkan.


Linda akhirnya mulai angkat bicara.


" Mungkin aku yang terlalu baperan dengan sikap kakak kamu selama ini"


" Kalau memang dia kembali bersama Ayu, dan dia bahagia, aku pun turut bahagia atas kebahagiaannya, itu berarti aku harus bisa segera melupakannya".


" Karena ternyata dia itu tidak mencintaiku, pantas saja dengan begitu mudahnya dia melupakan semua momen kebersamaan kami".


" Mungkin momen bersama yang bagiku begitu berkesan, namun bagi Kak Dimas, tidak ada artinya sama sekali".


" Aku minta tolong sama kalian, tujuannya untuk memperjelas sebenarnya bagaimana perasaannya padaku, dan hubungan macam apa yang kami jalani".


" Sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya, terimakasih atas bantuan kalian berdua".


Sari dan Eli saling menatap dan meringis mendengar kalimat Linda. Wajah murungnya berusaha ditutup-tutupi dengan senyuman yang dipaksakan. Membuat wajahnya terlihat seperti Joker.


" Gimana kalau kamu aku kenalin sama temen Mas Musa?, biar cepet move on dari Kak Dimas?".


" Kak Dimas itu nggak pantes kamu cintai", gumam Sari.


" Aku mau istirahat dulu, nggak pengen berhubungan sama laki-laki lain, pengin menghabiskan waktu dan memanjakan diri sendiri, sepertinya akan menyenangkan", nampak pancaran wajah penuh harap saat Linda mengucapkan hal itu.


" Karena kalian berdua datang kesini sesuai permintaanku, makanan kalian aku yang traktir", Linda tersenyum sambil menyeruput stroberi milik shake kesukaannya.


" Sekali lagi, terimakasih", ujar Linda.


Sari mengambil ponselnya dari atas meja, dan kembali mengutak-atik nya, lalu menyimpannya ke dalam tas.


Di dalam kamar, Dimas membuka pesan audio yang dikirimkan oleh Sari dan mendengarkannya.

__ADS_1


Terdengar percakapan Sari bersama Linda dari dalam ponsel. Dimas hanya bisa menunduk merutuki kebo-do-han-nya.


__ADS_2