
Musa POV
Selesai menandatangani semua dokumen tentang persalinan dan rawat inap, juga setelah menjawab semua pertanyaan Bu bidan. Aku pamit untuk kembali ke ruang bersalin.
Saat masuk kedalam bilik Sari, semua sedang berkemas.
" Mas, katanya sudah boleh masuk ruangan, jadi mau pindah sekarang juga, biar nggak ganggu ibu hamil lain yang masih dalam proses melahirkan", aku hanya mengangguk dan ku usap pipi Sari. Kembali ku cium keningnya.
Rasyid langsung di gendong oleh Umi, sedangkan Abi membawa koper Sari mengikuti ku dan seorang perawat yang mendorong ranjang Sari menuju kamar rawat inap.
Tadi aku sengaja memilih kamar VVIP untuk di tempati Sari, karena aku ingin Sari dan si kecil merasa nyaman.
Sampai di kamar yang cukup luas, dengan dua ranjang yang tersedia, satu untuk pasien dan satu lagi untuk istirahat keluarga pasien. Box bayi juga ada di samping ranjang pasien.
Ada sofa, meja, televisi, kulkas mini, kamar mandi di dalam, ada lemari dan juga AC yang membuat kamar terasa lebih sejuk.
Abi meletakan koper di depan lemari, dan ku masukkan pakaian Sari dan Rasyid kedalam lemari, kemudian menyimpan koper Sari di kolong meja yang berada di bawah TV yang menggantung di tembok kamar.
Tak lama setelah itu, terdengar suara salam dan ketukan pintu kamar. Abi langsung membuka pintu dan ternyata Kakek Atmo bersama Dimas yang datang.
Kakek langsung memelukku mengucapkan selamat atas kelahiran putraku.
" Selamat Musa cucuku, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah. Semoga bisa membimbing keturunan mu menjadi manusia yang berakhlak mulia dan berguna bagi sesama...".
Aku hanya bisa mengamini semua doa yang di ucapkan oleh kakek. Begitu juga dengan kak Dimas, dia memberiku dan Sari ucapan selamat. Dan mendoakan keluarga kecil kami.
Memang tadi sengaja ku kabari kak Dimas agar bisa segera datang kemari membawakan perlengkapan mandi dan baju bersih karena akan ku pakai untuk sholat.
Semalam aku belum sempat mandi junub, dan saat bangun tidur langsung panik dan ke rumah sakit. Karena itulah aku meminta Kak Dimas untuk membawakan baju ganti.
***
__ADS_1
Sari POV
Sungguh pengalaman yang tak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun, bagaimana awalnya perutku yang merasa kram, seperti saat datang bulan di hari pertama.
Lama kelamaan seperti ada sesuatu yang menekan dan berusaha keluar, membuatku merasa ingin mengejan, tapi saat itu dilarang oleh bidan Tatik, karena belum waktunya. Katanya harus menunggu hingga pembukaan penuh, baru boleh mengejan. Aku berusaha untuk menahan keinginan untuk mengejan yang muncul dengan sendirinya.
Aku merasa kesusahan untuk menarik nafas, sehingga kutarik nafas dalam-dalam agar oksigen bisa masuk kedalam paru-paru, perut terasa begitu kram dan pinggang seperti mau rontok, apa semua ibu yang mau melahirkan merasakan hal yang sama sepertiku ini?, jika iya, aku benar-benar kagum dan takjub dengan semua ibu-ibu yang telah berhasil melahirkan anak-anaknya ke dunia ini.
Namun rasa sakit yang ku alami sedikit terobati karena kehadiran suami dan ibu mertuaku, Umi terus melantunkan do'a-do'a yang membuatku sedikit lebih tenang, sedangkan Mas Musa terus berada di sampingku, menggenggam tanganku erat.
Dimana mama dan papa?, tentu saja masih di Malang, aku bahkan belum sempat mengabari mereka jika aku sedang dalam proses persalinan.
Sudah cukup dengan kehadiran Umi dan Mas Musa, membuatku merasa semangat untuk berjuang, karena ada yang mendampingiku di saat aku merasa kesakitan dan begitu lelah dengan proses persalinan ini.
Dan saat bidan Tatik mengatakan sudah pembukaan penuh dan memperbolehkan aku mengejan sekuat tenaga, aku berusaha mengeluarkan seluruh tenaga yang ku punya untuk mengeluarkan si kecil dari dalam perutku.
Awalnya belum langsung keluar, " sudah kelihatan rambutnya", kata bidan Tatik, beliau menyemangati ku dan menyuruhku kembali mengejan saat dorongan dari dalam perut kembali kurasakan.
Usaha yang kedua alhamdulillah aku berhasil. Tangisan bayi yang begitu nyaring terdengar di telingaku. Rasanya aku tidak percaya, jika aku sudah menjadi ibu yang sesungguhnya.
Setelah berjuang melahirkan putra pertama kami, mas Musa langsung mengecup dan menciumiku bertubi-tubi, aku merasa mas Musa sedang menyampaikan rasa terimakasihnya kepada ku karena sudah berhasil melewati perjuangan yang sulit itu. Setelah Mas Musa mengadzani putra kami, Bu Tatik memintaku untuk melakukan IMD.
Ku raih bayi montok dengan bobot 3,8 kg, dan mendekapnya di dadaku, ku buka kancing baju dan sengaja mengeluarkan p*ting pay*d*raku, bayi mon tok dengan pipi merah dan rambut hitam lebat, memang cukup besar untuk ukuran bayi yang baru lahir.
" Pantas sedikit sulit untuk di keluarkan, ternyata 4 kilo kurang 2 ons Dok, pasti dokter Sari suka makanan yang manis-manis saat hamil, jadi bayi dalam perutnya cepet gede", ku ingat ucapan Bu bidan saat menimbang putraku saat baru lahir tadi.
" Ditahan dulu ya Dok, karena harus di jahit dulu, jalan lahirnya sobek, mungkin saat mengejan tadi nggak terasa sobeknya", dan ternyata ada 5 jahitan di jalan lahir. Sudah ku bayangkan saat tadi mendengar berapa bobot Rasyid, hampir 4 kilo, melewati lobang sebesar itu, bagaimana mungkin tidak sobek?.
Setelah selesai melakukan perawatan padaku, Bu Tatik mengajak Mas Musa untuk mengurus berkas dan persyaratan persalinan ke ruangannya. Aku terus menatap wajah Rasyid putraku, matanya teduh, alis tebal dan hidung mancung, mirip sekali dengan mas Musa.
Umi yang duduk di tepian bed ikut menatap dan memperhatikan Rasyid dengan seksama.
__ADS_1
" Sayang... lihatlah, cucu Uti mirip sekali dengan ayahnya, yang mirip sama kamu apanya ya... mungkin bibirnya yang tipis", aku hanya tersenyum, memang benar, dia mirip sekali dengan mas Musa.
Setelah mencoba memberi ASI, meski belum keluar, Umi kembali meminta Rasyid untuk di gendongnya.
" Sayang.... kamu istirahat saja, pasti kan masih capek banget habis melahirkan. Biar Rasyid sama Uti dan Akung".
" Uti dan Akung?", aku menatap Umi dengan ekspresi penuh tanya.
" Iya, itu panggilan Rasyid untuk Umi dan Abi, Uti yang artinya Mbah Putri (nenek), dan Akung yang artinya Mbah Kakung (kakek). Bagus kan?", Umi tersenyum sambil menciumi pipi Rasyid berkali-kali.
Tak lama kemudian Abi masuk bersama seorang perawat, si perawat mengatakan jika aku sudah bisa masuk ke kamar rawat inap.
" Bi... lihatlah cucu kita, mirip sekali sama Musa pas masih bayi ". Abi terlihat mengangguk dan mengecup pipi Rasyid.
Saat perawat hendak mendorong ranjang tempatku berada, Mas Musa terlihat kembali dari ruang Bu bidan. Dia ikut mendorong ranjang tempat tidurku menuju ke kamar rawat.
Saat sampai dikamar dan selesai berkemas, Kakek Atmo dan kak Dimas datang dan memberi selamat pada ku dan mas Musa. Kakek begitu bahagia atas kelahiran buyut pertaman nya.
Kak Dimas membawa kantong plastik dan diberikan pada Mas Musa, ternyata Mas Musa mengabarinya dan meminta kak Dimas membawakan baju ganti dan peralatan mandi.
" Sayang, Mas mau sholat subuh dulu, matahari sudah hampir terbit", Mas Musa langsung masuk ke dalam kamar mandi. Aku tahu setelah berhubungan semalam dia belum sempat mandi junub.
Selang 19 menit kemudian Mas Musa keluar dari kamar mandi dan memilih untuk melaksanakan sholat subuh di balkon kamar, karena kamar yang ku tempati ada di lantai 2.
Mas Musa selesai subuh dan kembali bergabung bersama kami di kamar, semua orang masih fokus pada Rasyid, aku melambaikan tangan meminta pada Mas Musa untuk mengantarku ke kamar mandi, karena merasa ingin buang air kecil.
" Apa sudah boleh berdiri?", Mas Musa terlihat begitu khawatir saat aku bangkit dari posisi tiduran ku.
" Nggak papa Mas, justru harus berdiri, karena kalau habis lahiran, ada darah yang harus dikeluarkan dari lochea. Kalau kita telentang, tidur terus, jadi terkumpulkan (darahnya). Sementara kalau kita berdiri kan ada gravitasi yang menyebabkan darah keluar".
Akhirnya Mas Musa merangkul tubuhku memasuki kamar mandi, sambil membawa infusan di tangan kirinya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=
* Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dalam uterus. Lochea terbagi menjadi tiga jenis yaitu : Lochea rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, set-set desidua, verniks caseosa, lanugo, dan mekonium selama 2 hari pascapersalinan, Lochea sanguilenta berwarna merah kuning berisi darah dan lendir yang keluar pada hari ke-3.