Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Kita Baik-baik saja


__ADS_3

Musa membawa mobil sampai di pinggiran pantai teluk penyu. waktu menunjukkan pukul 13.15 WIB. Cuaca siang itu sedikit mendung, matahari seperti bersembunyi di balik mega. Jadi tidak terlalu panas jika bermain di pantai meski siang hari seperti ini.


" Kita cari mushola atau masjid terlebih dahulu, sudah hampir habis waktu Dzuhur", Musa mengajak Sari berjalan-jalan mencari tempat untuk sholat.


" Tadz, Sari ngga bisa pakai ini disini", Sari melepas sepatu berhak tinggi miliknya karena tidak bisa pakai high heels seperti itu di atas pasir pantai. Sari juga mengangkat tinggi rok batik dengan model duyung, agar bisa melangkah dengan leluasa.


" Nggak ada rencana mau ke pantai sih kemarin... jadi nggak bawa baju ganti, pasti semua mata bakalan menatap ke Sari gara-gara pakaian yang Sari kenakan ini", gumam Sari sambil manyun.


Musa tidak berpikir sampai ke sana. " Kamu masuk mobil dulu sebentar, aku carikan kamu baju, di pertokoan itu biasanya menjual baju".


Musa berjalan dengan cepat membeli dua setel baju untuk Sari dan satu setel baju untuk dirinya sendiri. Setelah membayar semua belanjaan Musa kembali menuju ke mobil dan menyerahkan kaos pantai untuk Sari.


" Ganti pakaian kamu di dalam mobil, aku tunggu di luar", ujar Musa sambil menutup pintu mobilnya.


Cukup lama Sari berganti pakaian di dalam mobil, karena kebaya yang di kenakannya menggunakan kancing baju yang cukup banyak di bagian depannya.


Sari turun dari mobil sudah menggunakan baju pantai. " Ustadz, sendalnya mana?", tanya Sari sambil melirik ke arah kakinya yang tidak menggunakan sandal.


" Aku nggak tahu ukuran kamu, nanti kita cari sama-sama", ujar Musa, kemudian bergantian masuk ke mobil dan berganti pakaian.


Musa hanya mengganti atasannya saja, karena selama ini Musa tidak terbiasa menggunakan celana pendek selutut, pasti selalu menggunakan celana panjang, jadi Musa memutuskan hanya mengganti atasannya saja.


" Widih...bajunya sama, jadi beli couple an nih, hehehe", Sari terkekeh melihat bajunya kembaran dengan Musa.


" Ternyata ustadz so sweet juga, nggak kaku kaku amat", batin Sari.


Setelah Musa keluar dari mobil, Sari mengambil Sling bag miliknya tempat menaruh HP dan dompet.


" Kita nyari sandal jepit dulu ya, mungkin ada di deretan pertokoan tadi", Musa berjalan menuju deretan pertokoan di ikuti Sari yang mengekor, dan menjumpai penjual sandal jepit rumahan.


" Pakai ini nggak papa ya, adanya sandal jepit biasa", ujar Musa sambil menunjuk sandal miliknya. " Kaki kamu nomer berapa?".


" Nomer 10", jawab Sari singkat.


Musa membayar kedua sandal tadi, baru mereka berdua kembali mencari tempat untuk sholat Dzuhur, waktunya sudah sangat akhir.

__ADS_1


Usai sholat, Musa dan Sari kembali berjalan menuju ke bibir pantai.


" Ustadz ini", Sari memberikan dua lembar uang seratus ribuan.


" Ini apa maksudnya?", tanya Musa heran dengan sikap Sari. Dan enggan menerima uang itu dari Sari.


" Sebenarnya Sari pernah dengar tentang mitos yang mengatakan kalau orang pacaran trus ngasih hadiah baju, itu bisa membuat hubungan mereka jadi putus, karena itu, Sari memberikan ini, buat ganti bayar baju yang Sari pakai ini", Musa yang baru pernah dengar ada mitos seperti itu jadi tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya.


" Tapi kan waktu lebaran kamu juga beli baju Koko untukku, apa aku juga harus memberikan uang pengganti untuk bayar baju Koko itu?", tanya Musa sambil terkekeh geli.


" Ooh...kalau itu nggak usah Tadz, kan waktu itu belum ada komitmen di antara kita berdua. Jadi nggak usah di ganti".


Musa menganggukkan kepalanya.


" Terus selain baju apa lagi yang nggak boleh saya belikan buat kamu?", tanya Musa.


Sebenarnya Musa tidak percaya dengan mitos semacam itu, karena itu Musa tetap menolak duit dari Sari, tapi Musa ingin menghormati Sari yang mempercayainya dengan mencoba bertanya.


" Setahuku cuma itu", jawab Sari.


Sari dan Musa terus mengobrol sambil berjalan sepanjang bibir pantai, sesekali langkah kakinya terkena terjangan ombak kecil yang menghilangkan bekas jejak kaki mereka berdua di atas pasir.


Sari berteriak begitu riang merasa dirinya berada di tengah lautan lepas, karena saat itu air laut sedikit pasang, jadi saat Sari selonjoran duduk di trekdam, Kakinya mencapai air laut.


Deburan ombak yang menabrak karang membuat suasana di pantai begitu tenang.


Musa duduk di sebelah Sari , tentu saja masih dengan phisycal distancing, alias jaga jarak.


Musa tidak mau menjadi lupa diri jika sudah melakukan kontak fisik, meski hanya bersinggungan.


" Kapan usiamu genap 17 tahun?" ,tanya Musa menatap Sari lekat.


" Kenapa?, apa Ustadz sungguh-sungguh akan menikahi ku?, Sari nggak mau nikah muda", jawab Sari jujur.


" Hanya untuk berjaga-jaga, jika sampai ada kehilafan, dan menghindari dosa. Sebenarnya dengan kita berdua seperti ini, juga sudah tidak baik, tapi saya juga tidak memungkiri saya menginginkan untuk berdua bersama kamu. Saat bersama denganmu, ada rasa nyaman dan bahagia di sini", Musa menunjuk ke hatinya.

__ADS_1


Sari langsung melting mendengar ucapan Musa. Tapi Sari masih bisa berpikir waras. Dan menolak ajakan Musa untuk menikah muda.


" Tapi Sari takut kalau menikah, berarti harus melakukan hak dan kewajiban sebagai seorang istri. Sari belum siap ustadz".


" Seperti yang ustadz katakan waktu itu, jika ustadz akan mendukung Sari sampai Sari bisa mencapai cita-cita Sari, Ustadz masih ingatkan dengan janji ustadz?", tanya Sari.


" Saya ingat, dan apa kamu ingat dengan janji kamu waktu itu?, saat Kakek pulang dari operasi".


Sari berusaha mengingat ingat.


' Sari janji akan membantu Ustadz jika suatu hari nanti ustadz membutuhkan bantuan Sari, selama Sari mampu, insyaallah dengan senang hati Sari akan membantu'


Sari teringat dengan janji yang dia ucapkan pada Musa waktu itu.


" Dulu Sari berjanji dengan embel-embel kata 'jika mampu' pada kalimat itu, dan sekarang Sari belum mampu untuk menjadi istri Ustadz, MAAF !", ucap Sari tegas.


" Kalau ustadz mau menunggu sampai Sari mencapai cita-cita Sari ya alhamdulillah, tapi kalau ustadz sudah kebelet nikah, SILAHKAN CARI CALON YANG LAIN !". Sari berdiri dan berjalan menuju ke mobil kembali dengan perasaan yang tidak menentu. Tentu Sari sangat menyesal dan merasa nyeri pada hatinya, saat mengucapkan ' silahkan cari calon yang lain'. Karena kata-kata itu keluar begitu saja tanpa dipikirannya terlebih dahulu.


Musa pun berdiri dan mengikuti langkah Sari.


" Sepertinya mitos dilarang membelikan baju memang benar adanya, baru beberapa menit pakai baju pemberiannya, sudah mau selesai saja ini kisah", batin Sari sambil merasa dongkol menuju mobil Musa.


Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Musa dan Sari masih terdiam, tak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan.


Namun tiba-tiba Musa bersuara.


" Sar... sebenarnya saya hanya ingin bisa menegur laki-laki yang mendekati kamu, seperti Rohmat tadi, tapi hubungan kita ini... saya sendiri masih bingung menyebut hubungan kita ini bagaimana".


" Saya tentu akan menunggu kamu, tapi maaf jika apa yang saya lakukan tidak se romantis laki-laki pada umumnya, karena selama kita belum mukhrim, saya punya keterbatasan dalam bersikap sama kamu", ucap Musa lirih, tapi Sari bisa mendengar dengan jelas.


" Sari tahu, ustadz orang yang tahu agama, karena alasan itu Sari menerima ustadz, karena ustadz berbeda dengan lelaki pada umumnya. Jadi ustadz tidak usah khawatir karena saya bukan tipe wanita yang suka dengan hubungan yang menggunakan kontak fisik", ucap Sari menjelaskan.


" Maafkan untuk ke egoisan saya tadi, kita baik-baik saja kan?", tanya Musa lembut.


Sari mengangguk sambil mengambil dua lembar uang seratus ribuan tadi. " Kita baik-baik saja, tapi terima ini, saya nggak mau kita selesai begitu saja", ucap Sari masih membahas tentang mitos itu.

__ADS_1


Terpaksa Musa menerima uang itu dan meletakkannya di dashboard mobilnya. Meski masih tidak habis pikir jika Sari anak jaman now, masih percaya mitos-mitos seperti itu.


Yang penting kesalahpahaman tadi bisa terselesaikan dengan cepat.


__ADS_2