AISYAH

AISYAH
KSPI 03


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa beri tanda like diceritaku ya.


Support juga.


--


Di pagi hari, Nadhira gadis itu sudah berpakaian rapih dengan gaun gamis panjang selantai tak lupa dengan hijab panjanganya disertai dengan khimar yang menutupi setengah wajahnya selain mata.


Ia mengenakan pakaian ini agar tidak diketahui keberadaannya oleh Sinta dan Aurel atau orang orang yang lain.


Baru ia keluar kamar, dan melangkah turun ia melihat tuan rumah aslinya duduk disofa ruang tamu.


"Ka khalid sudah pulang?"


"Hem, mau kemana kamu sudah rapih seperti itu?"


"Em, aku mau jual surat rumah. Biar aku bisa beli rumah lagi yang baru."


"Memangnya rumahmu kenapa?"


"Terlalu besar untukku sendiri, sedangkan kedua orang tuaku sudah tiada." Lirihnya yang langsung diangguki oleh Khalid.


"Biar ku bantu. Apa alasanmu yang sebenarnya?"


"Sebenarnya dirumah itu ada ibu tiri dan kakak tiri tapi mereka tidak pernah menganggapku ada dan hanya menganggap diriku pembantu dirumah sendiri. Maka dari itu aku ingin pergi jauh, jauh dari tempat mereka."


"Maka dari itu kamu menjual rumah orang tuamu?" Nadhira mengangguk, "iya, apa aku salah?"


"Tidak, kau tidak salah. Apa kau sudah sarapan?"


"Belum, tapi tadi sudah minum susu karena perutku akan sakit jika makan nasi dipagi hari."


"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang saja. Kita akan jual rumahmu melalui temanku."


"Terima kasih sudah membantu."


"Sama sama."


--


Disepanjang perjalanan, Nadhira hanya diam memandang jalanan luar dijendela. Dia sudah lama tidak naik kendaraan roda empat sejak meninggalnya sang ayah.


"Kita sampai."


Nadhira menatap sekeliling, tidak sadar jika mereka sekarang berada di perbatasan kota dan hutan. Rumah atau villa yang berada dihadapannya saat ini.


"Ini Villa? Atau Istana?"


"Markas. Jangan nyentuh apapun."


"Hem."


Khalid berjalan lebih dulu masuk kedalam pintu yang selalu dijaga oleh para penjaga badan besar dengan baju hitam seluruhnya.


"Selamat siang tuan Khalid! Tuan Azkar sudah menunggu anda di ruang kerjanya."


"Baik terima kasih, ah biarkan gadis itu ikut masuk dia yang ada urusan dengan tuanmu."


"Baik tuan, silahkan ikuti saya." Ujar salah satu penjaga. Nadhira melangkah cepat dan berjalan disamping Khalid karena jika dibelakang ia merasa seperti tawanan.


Sesampai di depan pintu ruang kerjaan yang dimiliki tuan Azkar namanya. "Silahkan masuk tuan dan nona."


"Terima kasih." Lirih Nadhira sedangkan Khalid langsung tersenyum saat ada suara menyapanya. "Wah ada apa dengan tuan muda Khalid Alexander kemari? Dan membawa seorang gadis jangan bilang,.. kau akan memberikan undangan kebahagiaan untukku?"


Bug!


"Ngarang! Ini Nadhira, dia ingin menjual rumah miliknya dijadikan uang dan ia akan membeli rumah minimalis untuknya sendiri."

__ADS_1


"Dan kau membantunya?"


"Tentu saja, ajaran ummi harus selalu didengar."


"Baiklah, ayo duduk. Kamu juga Nad, dan kenalkan saya Azkarnandi panggil saja Azkar saya sahabat sekaligus kakak sepupu Khalid dari Ayah Fariz."


"Sudah lanjut saja, kamu berikan surat rumahmu dan apa yang harus dilakukan oleh pria tua didepan kita ini."


"Hei aku belom tua ya! Masih muda umurku lebih muda setahun darimu!" Dengusnya.


"Ya tapi kau adalah kakak sepupuku mau muda tetap tua."


"Ck. Pria menyebalkan, Nadhira aku harap kau tidak jatuh hati kepadanya ya. Kau akan makan hati setiap saat."


"Hya!"


"Ehem baik, lanjutkan."


Nadhira mengeluarkan surat rumah asli dan surat kendaraan mobil sang ayahnya juga ia tidak ingin harta miliki ayah atau bundanya digunakan oleh orang lain seperti Sinta dan Aurel.


"Ini semua aku ingin jual. Agar mereka tidak bisa menggunakan harta peninggalan kedua orang tuaku."


"Siapa kedua orang itu?"


"Istri kedua ayahku dengan anak tirinya."


"Kau sangat membencinya?"


"Aku hanya kecewa dan kesal. Karena mereka sudah memperlakukanku dengan tidak baik. Seperti menjadi pembantu dalam rumah sendiri."


"Wow! Manusia tidak tahu diri. Baik aku akan membelinya dengan harga 3 M untuk rumah besarmu itu dan mobil bekas ayahmu yang 350 juta, bagaimana?"


"Baik, sangat cukup. Terima kasih, tolong kirim saja uangnya ke rekeningku."


"Dimana rekeningmu?"


"Ya, aku akan kirimkan sekarang juga. Ah jangan lupa tanda tangan disini." Ujar Azkar yang diangguki langsung oleh Nadhira sedangkan Khalid hanya berjalan jalan diseluruh ruangan kerja sepupunya.


"Hey, ka Az.. kau masih memiliki senjata?"


"Tentu saja itu adalah koleksiku. Selain motor antik dari perusahaanmu."


"Uncle Fariz tidak marah?"


"Tidaklah, jangan sampai mereka tahu aku memiliki senjata."


"Kau tidak jadi masuk kedalam sekolah kepolisian?"


"Tidak, lebih enak menjadi orang belakanh layar didunia gelap. Seperti sekarang."


"Dasar."


Khalid menatap Nadhira yang sedari tadi hanya menatap mereka berdua, "apa sudah selesai?"


"Ya."


"Baiklah kami pulang dulu ka Az. Sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu serta adik tampanmu itu."


"Ya salamkan balik kepada keluargamu. Dan aku mendengar Alesha sudah pulang ya?"


"Hem, dia semakin cantik. Jika saja dia bukan adikku sudah kulamar dia."


Tak!


Aw!


"Hempaskan pikiran anehmu itu."


"Ya ya bawel. Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Hati hati. Jangan ngebut kau membawa gadis."


Hem.


--


"Kau bisu?"


"Em apa? Tidak aku, aku hanya sedang berpikir."


Khalid diam. Entah kenapa ia hanya ingin mendengarkan suara gadis disampingnya ini. "Sebelum pulang apa kau ingin makan terlebih dahulu?"


"Em boleh, aku mau nasi padang dong, kangen makan gulai ayam." Ujarnya yang langsung diiyakan oleh Khalid, pria itu tersenyum tipis merasa senang.


Sudah sebulan Nadhira bekerja membantu bibi dirumah Khalid. Dan sudah sebulan juga ia tidak lagi melihat pria itu setelah malam mereka makan bersama.


"Non, udah atuh. Gak perlu bantuin bibi, non tangannya mungil masa maksain buat bawa barang berat kek gitu."


"Aku udah biasa bi."


"Udah taruh dilantai. Biar bibi yang ngerjain."


"Emang bibi kuat?"


"Tentu bibi kuat karena tangan bibi berisi gak kayak kamu kecil banget. Gampang ringkih."


Nadhira cemberut lalu ia menatap sekeliling di rumah ini sampai dikejutkan dengan suara yang lumayan ia rindukan.


"Kamu sedang apa?"


"Ka khalid?"


"Hem, sedang apa?"


"Habis bantuin bibi. Tapi bibi nyuruh aku berhenti."


"Kamu emang gak perlu bekerja, disini kamu tamu bukan pembantu."


"Loh, bukannya kakak dulu nawarin aku pekerjaan jadi asisten kakak?"


"Gak jadi. Kakak hanya mau menolongmu saja. Bukan nyari pekerjaan. Udah sana masuk kamar, ganti baju."


"Dia siapa kamu kha?" Tanya seorang wanita yang berdiri dibelakang Khalid. "Kau tidak perlu tau, sudah kubilang duduk saja bersama yang lain kenapa kau sangat tidak sopan masuk kerumah orang tanpa izin pemilik!" Sarkas Khalid membuat wanita itu terdiam malu.


"Maaf, hanya saja aku ingin.."


"Ingin apa? Haus? Kau kan sudah minum, mau apalagi? Kamar mandi? Bukankah sebelum kemari kau sudah ke kamar mandi kata Dean?"


"Iy-iyaudah aku balik keyang lain." Ujarnya yang takut menatap kedua mata tajam milik Khalid.


"Nyebelin banget, segitunya gak boleh masuk kedalam rumahnya, sedangkan gadis itu boleh? Memang siapa gadis itu. Ah bagaimana jika aku mengusirnya? Baiklah Devina tidak mungkin kalah dengan gadis tengik seperti dia."


"Kau kedalam dev? Lalu kau diusir? Kasihan sekali." Ledek Dean yang sudah tau perangai sahabatnya itu.


"Berisik! Eh yan. Kau mengenali gadis yang didalam rumah Khalid?"


"Gadis? Kenal sepertinya, kalau tidak salah dia Nadhira, dia gadis yang ditolong oleh Khalid. Gadis itu kaya namun entah kenapa lebih memilih tinggal dirumah Khalid. Mungkin Khalid melarangnya?"


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite!


Don't forget to like my story!


See you! Thank you! Bye!


Love Rora~

__ADS_1


__ADS_2