
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa beri tanda like dan support ke ceritaku ini ya.
--
Nadhira setelah keluar dari ruangan atasannya, ah tidak mantan atasannya langsung melangkah menuju loker untuk berganti pakaiannya menjadi lebih santai lagi dan ia mengambil tas selempangnya.
Matanya melirik kearah jam dinding yang sudah pukul 15.20 yang tandanya ibu dan kakak tirinya sedang berada diluar, ia akan mengambil kesempatan untuk mengambil tas gendongnya dan beberapa barang berharga dari kamar kedua orang tuanya yang selalu dikunci olehnya.
Karena sang ayah setelah menikah dengan Sinta lebih memilih tidur di kamar tamu. Dan tidak lagi masuk kedalam kamar utama tempat dimana Bunda meninggal sekaratul maut.
Gadis itu sesampai didepan rumah, ia melangkah masuk dengan santai dan tidak mendapati siapapun selain suara jam dengan segera ia berlari masuk kedalam kamarnya dan menggendong tas ranselnya. Setelah itu ia melangkah menuju kamar utama, mengambil riasan, uang tabungan dan rekening milik bunda dan ayahnya yang sengaja ditabung untuk ia kuliah katanya.
Ia mengambil semuanya dan terhenti saat mendengar suara mobil yang datang masuk kedalam rumahnya. Dengan cepat ia mengunci kamar utama dengan menggantungkan kuncinya agar tidak bisa dibuka dari luar.
“Uhh.. Ahhh.. Cepatlah..”
“Ayo kita kekamarmu..”
“Uhh.. kau membuatku…”
“Menjijikan..” gumam Nadhira setelah itu ia dengan cepat keluar dari kamar itu melalui pintu rahasia didalam kamar bundanya. Dia saja yang mengetahui pintu rahasia itu dan mendiang bundanya yang memberi tahu sedangkan sang ayah tidak mengetahuinya karena rumah ini memang bukan berasal darinya melainkan hadiah dari ayah mertuanya.
“Ingat nak, jika hidupmu penuh dengan kesulitan, ambillah semua barang bunda di tempat ini dan carilah kehidupan yang membuatmu bahagia. Dan ingat bunda sangat cinta dan sayang kepadamu. Jangan lupakan bunda dan ayah.”
Pesan terakhir bunda membuat Nadhira kembali kuat dan bertekat keluar dari rumah ini dengan semua warisan peninggalan bundanya ia simpan ditempat yang sangat rahasia dalam tasnya.
Berhasil mengambil semua warisannya, ia pergi meninggalkan rumah yang sebentar lagi akan ia jual. Baru ingat ternyata surat tanah yang dipegang oleh Sinta adalah palsu, yang aslinya berada di kamar utama ini.
“Kalian akan mendapatkan balasan dari apa yang kalian lakukan kepadaku.”
Nadhira gadis berhijab itu mengepalkan kedua tangannya lalu ia melangkah menjauhi rumah milik sang bunda dan ia lebih memilih duduk santai di taman yang jarang dikunjungi.
Sesampai disana ia lupa bahwa janjiannya jam 8 bukan jam sore. “Apa aku terlambat?”
“Huh,.. apa aku harus pergi?”
“Kau darimana saja?! Aku sudah menunggumu sejak pagi tadi namun kau tidak datang-datang.” omel Khalid.
“Maaf, aku bukannya sengaja karena saat aku datang untuk mengundurkan diri atasanku belum datang dan aku menunggunya.”
“Ayo kita pulang, sore ini aku akan menginap dirumah orang tuaku, jadi kau tinggal disana sendirian, kau beranikan?”
“Aku Tangguh kok, tidak penakut seperti gadis manja lainnya.”
__ADS_1
"Baiklah ayo ikut." Khalid berjalan lebih dulu, diikuti oleh Nadhira yang menuju mobil hitam didepan taman tersebut.
"Kalau boleh tau, nama kakak siapa?"
"Khalid. Kau?"
"Nadhira."
Suasana sepi membuat gadis itu merasa canggung sedangkan Khalid hanya biasa saja. Sesampai didepan rumahnya, Khalid membuka pagar rumahnya sendiri dan memasuki mobilnya di garasi setelah itu menutup kembali pagar rumahnya.
Sedangkan Nadhira sudah keluar dari mobil pria itu, dengan membawa barang barangnya.
"Ayo masuk." Khalid melangkah masuk menuju lantai dua dan membuka pintu kamar yang tepat berada didepan kamarnya. "Mulai sekarang ini kamarmu. Terserah kau ingin menghiasnya atau dibiarkan seperti ini."
"Ah dan satu lagi, taruh barang berhargamu didalam lemari ini, lihat disini ada laci dan kuncinya. Jangan lupa kuncinya dikalungkan agar tidak ada yang hilang. Aku pergi dulu. Kau istirahat saja, ah kulkas sudah kuisi bahan bahannya. Kau tinggal membuat makanan untukmu sendiri. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam. Terima kasih ka Alid."
"Hem."
--
Pukul 8 malam, dirumah Sinta dan Aurel penuh keributan, para wanita mencari satu orang yang menghilang dan tak datang kembali. Sedangkan satu pria hanya diam menatapnya dengan santai.
Brak! Brak!
"Aurel! Tanya kekasihmu Tio dimana Dhira sekarang?"
Aurel melakukan panggilan namun tidak diangkat, "mas Tio sibuk ma. Udahlah pulang pulang langsung dihajar aja dia nanti."
Huhh..
"Dasar gadis tidak tau diri. Sudah dirawat bukannya membayar malah kabur."
"Sudahlah sayang, tenanglah. Ini kan rumahnya pasti dia akan segera pulang, lebih baik kita istirahat saja bagaimana?"
"Tanpa melakukan itu, kau sudah membuat sekujur badanku remuk."
"Baiklah aku tidak akan menyentuhmu, Sinta. Aurel tidurlah jangan begadang."
"Iya omku."
"Ayo buruan Alex, aku ingin dipeluk olehmu."
Hem.
__ADS_1
Kedua orang itu masuk kedalam satu kamar begitu pula dengan Aurel. Ia mengumpat karena sang kekasih sulit sekali dihubungi dan itu membuatnya kesal. "Kemana sih ini pria?! Menyebalkan."
Sedangkan dirumah minimalis milik Khalid, diisi oleh Nadhira yang sudah rapih dan segar dengan pakaian tidurnya yang tak lain kaos putih panjang dengan lengan panjang, celana training panjang abu abu serta jilba langsung hitam.
Ia memasak makanan malam untuknya hari ini. Ia senang, akhirnya bisa memasak kembali dengan tenang. Dibandingkan masak dirumahnya yang penuh dengan dajjal.
"Sudah lama sekali tidak merasakan kedamaian dalam memasak. Oh iya, surat rumah. Aku harus segera menjualnya biar mereka tau rasa dan merasakan kesulitan dalam hidup didunia ini." Gumamnya lalu menyajikan masakannya diatas piring makan yang sudah terisi nasi putih.
"Selamat makan Nadhira. Semoga hidupmu semakin teratur."
--
"Abang menginapkan hari ini?"
"Iya ummi. Abang menginap untuk dua hari karena abang juga rindu dengan adik manis abang yang satu ini." Ujarnya dengan mengelus pucuk kepala Alesha yang sudah sampai rumah.
"Hehe rindu banget ya.." goda Lesha yang beda dua tahun dibawahnya ini. "Tentu saja manis. Ah iya apa sudah ada jodoh untukmu?"
"Belom, dan aku tidak akan menikah jika kedua abangku belum nikah."
"Oh tidak bisa, jika ada pria yang melamarmu lebih dulu abang lebih rela jika dilangkahi olehmu adik manis." Balas Kazeem.
"Ish abang, memangnya di rumah sakit tidak ada wanita ah tidak maksudku tidak ada seorang gadis yang mendekati bang Kazy gitu? Secarakan abang tampan, pintar, ramah, baik, dan perhatian kepada semua orang jangan lupakan dengan senyuman abang yang selalu diumbar dihadapan pasien membuat siapa saja meleleh."
"Berisik kakak. Makanlah yang banyak."
"Iya adikku yang keren," balas Lesha kepada sang adik Lian yang saat ini berumur 22 tahun, yang sudah masuk semester 4 di kuliahannya. Sedangkan Alesha sudah berumur 24 tahun dengan menjadi seorang designer muslimah dan mubalighot atau bisa dipanggil ustadzah.
"Jadi kapan abang akan mencari menantu untuk ummi dan baba? Khalid tau kan umur ummi sudah tidak muda lagi."
"Umur ummi kan masih 48 tahun dan itu masih muda ummi. Baba saja yang tua, namun tetap terlihat gagah dan tampan padahal umurnya sudah 51 tahun." Tutur Alesha menjelaskan usia kedua orang tuanya.
"Iya ummi masih muda. Jadi jangan terlalu terburu buru, tenang saja Khalid dan Kazeem pasti akan segera memiliki calon untuk ummi kok."
"Benar ya! Awas saja. Ummi tunggu."
"Hem ditunggu saja.."
--
Next...
Vote, Comment, Like, and Favorite!
Don't forget to like this story!
__ADS_1
See you! Thank you! Good Bye!
Love Rora~