AISYAH

AISYAH
KSPI 027


__ADS_3

Happy Reading!


Jangan lupa beri tanda like ya.


Support aku juga.


Tiga Bulan Kemudian.


Lari sana lari sini, pemilik rumah saat ini sedang sibuk sibuknya berlarian mencari barang namun tidak kunjung terlihat.


"Amii!!! Kamu naruh dimana celana Ray dan Rauf?" teriak sang suami. Yang langsung dijawab oleh istrinya dari ruang sebelah.


"Didekat kasur mereka abi! Masa gak ketahuan sih?"


Sang suami melangkah masuk kedalam kamarnya, "ketemu ini mi. Jatuh ternyata."


"Makasih abi tolong gendong Rauf sebentar atau abi yang masang celana Ray?"


"Abi aja, Rauf belum kenyang sepertinya."


"Aduh anak abi tampan sekali sih. Bibirnya Ray mirip sekali denganmu sayang. Tipis namun ranum. Sedangkan Rauf bibirnya tebal seperti ku."


"Kan mereka anak kita berdua abi."


"Iya ya. Haha, makasih sayang sudah mengandung dan melahirkan putra putra tampan untukku."


"Terima kasih juga untuk abi yang sudah menjadi suami siap siaga."


"I love you!" ujarnya serempak baru saja keduanya ingin berciuman. Suara pintu kamar ada yang mengetuknya. "Ck. ganggu siapa sih?"


"Hush jangan gitu siapa tau ummi. Gak sopan kalau abi seperti itu." omel Dhira yang langsung diangguki oleh Khalid, "iya maaf."


Klik.


Pintu kamar terbuka. Nampaklah sang adik perempuan Khalid yang tidak lain Alesha dengan senyuman manisnya. "Halo selamat pagi abang? Apa duo baby twinsku sudah bangun?" tanyanya membuat khalid mendengus.


"Mau dibawa kemana sih bayiku?"


"Jalan jalan doang."


Khalid menggelengkan kepala, "Jangan ada yang keluar bahaya. Mending didalam rumah atau ditaman belakang saja."


"Ck. Iya deh iya. Bang khalid takut banget sih lesya gak jagain kembar."


"Takutlah, orang situ pengen pacaran kan."


"Ish menyebalkan. Gak jadi deh bawa kembar." Lesha menghentakkan kedua kakinya lalu turun dari lantai dua menuju lantai satu.


Menghampiri sang kekasih yang sedang setia menunggunya. Prianya menatap Lesha dengan bingung. "Kenapa? Kok kesel gitu wajahnya. Gak dibolehin bawa kembar?"


"Iya gak boleh. Bang Khalid takut gak ke jaga."

__ADS_1


"Aku juga bakal posesif sama bayi ku kalau dibawa sama saudara maupun teman. Karena disini, dilingkungan kita banyak orang jahat yang mengincar para anak kecil untuk dijual maupun ancaman."


Lesha mengangguk mengerti, "lalu apa kamu akan menikahiku?"


Pria itu menatap gadis yang sudah memporak porakkan hati dan pandangannya. Fokus hidupnya saat ini hanya gadis ini, ia tersenyum, "tentu saja. Tunggu aku memberikan cincin dijari manismu ini. Sayang."


Lesha mengulum senyumannya tanda malu, "udah yuk kita pergi dari sini."


"Ayo."


Didalam rumah, setelah kepergian Lesha sang adik membuat Khalid menghembuskan nafasnya. "Ada apa abi?"


"Biasa Lesha ingin membawa si kembar. Abi tidak salahkan melarang dia membawa harta berharga kita berdua."


"Tentu saja tidak. Ini adalah hak kita, seharusnya Lesha berpikir lebih jauh jika dia membawa bayi kita keluar apa aman atau tidak."


"Itu yang ku katakan kepadanya. Tapi sepertinya dia hanya mendengarkan kekasihnya bukan abangnya."


"Tenang sayang, Lesha pasti paham kok. Dan tidak akan kesal kembali."


"Ku harap begitu."


Khalid mengendus pipi bulat putranya dengan gemas. "Ampun ini satu bulat sekali seperti bakpao." ujarnya sambil mengecup dan sedikit menggigit pipi Ray. Lalu ia beralih ke pipi Rauf dan sedikit menggigitnya. "Yang satu lagi bulat seperti donat."


"Abi! Jangan keseringan digigit kasian pipi abang sama dedek."


"Habisnya ngegemesin."


Tahun berganti tahun, Kehidupan keluarga Khalid dan Nadhira semakin berwarna saat melihat kedua putranya sudah remaja.


Saat ini si kembar sudah duduk dibangku SMA kelas 2. Keduanya sudah siap dengan seragam masing masing, Rayyan dan Rauf berbeda seragamnya karena keduanya memang ingin sekolah yang berbeda, satu di negeri dan satu di swasta.


Rayyan di sekolah negeri dan Rauf di sekolah swasta yang dimana keduanya berpisah sejak SD. Rayyan menjadi anak disiplin disekolah serta anak yang paling rajin karena suka menjadi pemenang di lomba olimpiade.


Sedangkan, Rauf menjadi anak baik namun karena terlalu baik dia selalu dimanfaatkan menjadi atm berjalan oleh teman temannya.


Maka dari itu terkadang Rayyan selalu ingin bertukar tempat menjadi Rauf selama seminggu.


"Tapi bang-."


"Gak ada tapi tapian dek, abang mau menjadi kamu selama seminggu. Dan abang akan merubahi dirimu menjadi lebih kuat dan tangguh."


"Maka dari itu kita harus tukar posisi, kamu jadi abang disekolah dan sebelum pulang sekolah kamu harus eskul karate, biar kamu kuat dan tidak diganggu atau dianggap remeh oleh mereka." ujar Rayyan yang sudah menggunakan seragam milik adiknya yang untungnya tubuh mereka sama sama tinggi dan beratnya pun sama.


Lebih untungnya, kedua orang tua mereka sedang tidak ada dirumah karena baru saja semalam, kedua orang tuanya pergi ah lebih tepatnya aminya menemani abi mereka ke negeri orang katanya sekalian honeymoon.


"Ayo kita sarapan." ajak Rayyan lalu merangkul adiknya. "Semangat dek. Oh iya nanti kamu langsung kekelas IPS 1, posisi kelasnya dilantai 3 habis dari naik tangga, kamu ke kanan jangan kekiri soalnya itu ke arah kamar mandi. Habis ke kanan kamu langsung cari aja kelasnya di bagian kiri kamu. Ada plangnya kok tenang aja." jelas Rayyan yang diturutin oleh Rauf.


Rauf terkenal kutu buku, jadi Rayyan mengenakan kacamata gaya bening sama dengan adiknya serta style rambutnya lemas menutupi keningnya.


Sedangkan gaya Rayyan yang biasa rambutnya klimis selalu mengenakan pomed dan stylenya keatas. Serta dia selalu membawa kacamata namun selalu digantung dikemeja kancing pertama.

__ADS_1


"Kamu tampan jika seperti ini, nanti jika sudah lulus SMA. Aku harap kamu mau kuliah bareng sama abang ya dek."


Rauf mengangguk, "jawab dek jangan ngangguk."


"iya abang, Insya Allah."


"Good, jika ada yang bertanya kamu jawab tapi singkat saja jangan terlalu panjang nanti mereka mengetahui rencana kita."


"Oke."


"Ayo berangkat. Kamu mau pakai motor atau mobil?"


"Mobil aja."


"Ah gak gak, kita harus tuker kendaraan kamu kan sudah bisa mengendarai motor. Jadi bawa motor abang. Sedangkan abang pakai mobilmu ya."


"Baiklah. Apa ponsel kudu ditukar?"


Rayyan berpikir sebentar lalu mengangguk, "casingnya saja. Siniin lepas casing ponsel kamu." Rauf nurut kemauan abangnya dan segera melepaskan casing hape dan langsung memakaikan casing hp abangnya berwarna biru Navy. Sedangkan miliknya berwarna Maroon.


"Ayo kita berangkat! Assalamualaikum. Hati hati dek!"


"Waalaikumsalam! Hati hati juga bang!"


Dan gerbang rumah mereka pun terbuka membuat sang satpam terbingung melihat tuan mudanya bertukar tempat. "Loh?"


"Kenapa bud?"


"Tadi den Ray sama den Rauf tuker posisi sepertinya."


"Maksudmu bagaimana? Perasaan sama saja seperti den rauf serta den ray biasa."


"Iya kali ya?" Satpam bernama Budi menggaruk kepalanya dan mengunci gerbang rumah Khalid dengan mengaktifkan sensor.


...TAMAT!!...


^^^SEKIAN DAN TERIMA KASIH!^^^


🤗



(Rayyan Nizam Khalaf) (Liu Te)


(Rauf Nuzulan Khair) (Jay Enhypen)


Aku merasa mereka mirip dari tatapan serta mulutnya.


Oh iya aku senang ceritaku masih dibaca oleh kalian, walaupun likenya hanya sedikit tapi tidak apa aku merasa jauh lebih baik dibandingkan tidak dilike sama sekali.


Terima kasih sudah membaca!

__ADS_1


__ADS_2