
Happy Reading All!
Aku harap kalian suka dengan ceritaku.
Jangan lupa untuk memberikan tanda suka untuk part ini dan part lainnya.
Terima kasih.
--
“Bagaimana? Apa katanya?”
“Lusanya agak siang bun, yah, katanya habis sholat baru datang kemudian dia juga ajak seluruh keluarganya. Jadi masak yang banyak ya bun, isyah bantu kok.”
“Oke, bantu masak ya awas kalau malah molor.”
“Iya bunda, lagian ka Bina dan ka Mara serta teteh Fitri juga bakal bantu masak kok. Ya kan?”
“Iya tan kita bakal bantu kok.”
“Kalau bina bantu doa ya tan, sekaligus yang nyicipin.”
“Enak aja. Ikut bantu tenagalah.” Sewot teh Fitri. Yang langsung dibalas delikkan malas oleh Bina. “Gak bisa tidur dong gue.”
“Molor mulu lo, udah gede juga masa lo kalah ama anak gue?”
“Ck, bawel.”
Hari yang ditunggu telah datang, dengan keluarga Abdullah serta keluarga besarnya telah bekerja sama merapihkan atau bisa dibilang merombak kembali struktur design barang-barang milik bunda dan ayah sedemikian rupa agar lebih luas dan terlihat lebar.
“Umi, sudah sini biar teteh dan suami yang rapihin, umi dan abi silahkan bebersih sebentar lagi adzan kita bakalan sholat berjama’ah kan.” Ujar teteh yang langsung dituruti oleh orang tuanya sedangkan gadis yang akan dilamar atau diajak bersilaturahmi bersama pria itu sedang sibuk merapihkan penampilannya dan memutar-mutar didepan cermin full bodynya.
“Sudah cantik, gak ada yang perlu dikurangi atau dilebihkan.” Ujar ka Mara sembari bermain dengan keponakan lucunya dek Nika. “Gak ada yang norak kan? Atau berlebihan?”
“Ngga ada ica sayang, udah sini tak dandani.” Ujar ka Bina yang langsung menarik lengan kiri gadis itu dengan pelan dan Aisyah duduk didepan Bina dengan memejamkan kedua matanya atas permintaan ka Bina.
“Natural aja ya ka, jangan terlalu menor.”
“Hem. Tenang, percayakan saja pada kaka.” Merias wajah cukup memakan waktu untung saja Aisyah sudah wudhu dan dia tidak perlu merasa repot untuk membasuh riasannya lagi. Selama sejam aisyah meram melek dan akhirnya selesai juga ka Bina merias gadis itu.
“Kamu cantik sekali. Tidak salah lagi kau memang putri bunda Maura Melody Nada dan ayah Syahputra Abdullah.”
__ADS_1
“Hehe jadi malu ica.”
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
“Ayo turun, kita sholat terlebih dahulu, baru kalian bisa kembali kekamar sembari menunggu tamu.” Ajak bunda yang membuat tiga gadis itu menuruti perkataan wanita paruh setengah baya itu. “Baik bunda, tan.”
“Cantik sekali putri bunda! Pangling deh lihatnya.”
Seluruh keluarga segera menunaikan ibadah sholatnya diruang tamu yang sudah digelari karpet tebal dan lebar, begitupun kaki mereka yang ikutan dialasi oleh sandal rumah. Jika tidak menggunakan sandal mereka akan tidak bisa melakukan sholat karena najis, rumah aisyah lantainya belum suci jadi masih tidak tau bersih atau tidaknya.
Selesai sholat, aisyah langsung kembali masuk kedalam kamarnya dan meraih ponselnya yang berada diatas meja belajarnya. Ia ingin tau apa ada pesan dari pria itu, dan ternyata memang ada beberapa pesan yang masuk kedalam ponselnya.
Lalu ia membuka pesan dari Tala, disana pria itu sudah berangkat dan menuju rumahnya mungkin setengah jam lagi. Ia langsung mengatakannya dari lantai atas dengan berteriak. “BUNDAAAA MEREKA SETENGAH JAM LAGI DATANG KEMARI!!”
“OKE!! KAMU DIKAMAR AJA JANGAN TURUN TAKUTNYA KERINGETAN LAGI!!”
“IYA BUNDAA!”
Kemudian ia kembali masuk kedalam kamarnya membiarkan yang lain hanya menggelengkan kepala tanda sudah biasa dua manusia yang berbeda umur itu berteriak sesuka hatinya.
Namun dengan tidak enaknya gadis itu menolak ajakan karena ada acara didalam rumahnya membuat pria itu menelan kecewa dengan emot menangisnya.
“Baiklah kalau begitu maaf jika aku menganggumu. (emot menangis)”
“Tidak, kamu tidak menggangguku. Hanya saja tawaran ajakanmu kurang tepat, lain kali ya.”
“Oke. Sampai ketemu kembali aisyah.”
Aisyah menghela nafas sampai ada suara beberapa mobil terdengar membuatnya keluar kamar dan menuju jendela atas mengintip melihat 3 mobil mewah berhenti didepan rumahnya, sampai ia memikir kembali apa dirinya harus beli rumah yang lebih luas? Tapi ia langsung mengenyahkan pikiran itu karena rumah mungil inilah yang sudah menemaninya selama ia hidup.
“Aisyah, nak? Kamu dikamar?” tanya bunda setelah mengetuk pintu kamar putrinya. Tiba tiba putrinya sudah berjalan kearahnya dari samping. “Tidak bun, isyah udah diluar kok. Mereka udah datang?”
“Hem, ayo turun, mereka sangat banyak bawa barang. Dan menurut bunda mereka akan langsung melamarmu sayang.” Bunda menggandeng lengan putrinya, “kan bener apa yang isyah rasakan.” Sembari menuruni anak tangga dengan langkah pelan, kedatangan mereka di tatap dengan kekaguman oleh para tamu bagaimana tidak? Bunda dan aisyah sama -sama menggunakan gaun panjang yang sangat indah dan cantik apalagi wajah keduanya hampir mirip bagaikan dua belah pinang.
Langkah aisyah berhenti saat melihat pria yang juga menatapnya dengan tatapan terpana, sedangkan bunda melangkah mendekati suaminya dan para tamu yang baru saja masuk kedalam rumahnya, “selamat datang kerumah sederhana kami, silahkan duduk.”
“Ah iya terima kasih atas sambutannya, maaf jika kami mendadak datang.” Ujar wanita paruh setengah baya itu tersenyum manis kearah bunda dan ayah. “Ah tidak terlalu mendadak kok, ayo duduk dimana saja, senyaman kalian.”
“Aisyah beri tamu kita minum dong.” Lembut bunda membuat aisyah mengangguk dan menuju kedalam dapur ternyata disana sudah ada ketiga kakak sepupunya. “Sudah pada datang para tamu?”
__ADS_1
“Sudah, dan lumayan banyak kemungkinan minuman yang kita buat sedikit kurang.”
“Tidak apa, biar teteh yang buatkan kamu bawa saja ini kedepan, nanti beberapa gelas lagi nyusul.” Aisyah mengangguk dan melangkah menuju kedepan lalu tersenyum kikuk karena ditatap dengan intens oleh beberapa saudara pria itu.
“Silahkan diminum, jika kurang, masih ada lagi dibelakang.”
“Ah jadi ini aisyah, gadis yang putra mom sukai?” aisyah hanya tersenyum malu, dan mom Tala merentangkan tangannya menyuruh gadis itu mendekat. “sini duduk disamping mom, mom ingin lihat secara dekat.”
Ehem.
“Baik, mohon maaf bapak ibu, saya disini sebagai daddy pria bernama Gentala Pratama Alexander ini ingin memperkenalkan diri, apa boleh?”
“Tentu, sillahkan.”
“Baik, selamat siang, perkenalkan nama saya Peter Abraham Alexander dan disamping saya istri saya yang bernama Aluna Daisy Pratama. Dan ini putra sulung kami bernama Gentala Pratama Alexander. Dan beberapa saudara saya dan istri saya serta para keponakan dan anak anak saya lainnya.
Kami datang kemari awal niatnya ingin bersilahturahmi namun ternyata putra saya sudah tidak bisa menunggu lama ia ingin kedatangan kami untuk melamar putri bungsu keluarga Abdullah dan mengikatnya dengan status yang ada.”
“Siang kembali, perkenalkan nama saya Syahputra Abdullah dan ini istri saya bernama Maura Melody Nada, ini kedua abangnya Rafariz Abdullah dan Raizak Abdullah. Putri kami bernama Aisyah Putri Nada beserta keluarga dan keponakan istri saya hanya bisa melihat bagaimana putra Gentala untuk mendapatkan izin dari kami sebagai orang tuanya dan beberapa saudara Aisyah yang sudah menjaganya selama ia berada dikandungan dan ia lahir ke dunia ini.”
“Dan saya sebagai abangnya, bukannya ingin memberatkan putra om bernama Gentala, saya ingin meminta syarat sebelum ia mengikat adik saya. Saya ingin anak om bernama Gentala membaca surat An-Nisa dan menghafal surat Ar-Rahman. Apa putra anda keberatan dengan syarat yang kami inginkan?” tanya bang Fariz yang sudah berdiskusi oleh yang lain awalnya izak ingin sekali menambah tapi di bantah oleh abangnya karena perminataan Izak terlalu memberatkan maka dari itu mereka mengambil ide dari teteh yang mengatakan untuk membaca surah didepan banyak orang sekaligus.
“Bismillahirahmanirahim, saya Gentala menerima persyaratan dari abang dan saudara. Saya akan membuktikan bahwa saya cukup layak untuk menjadi pendamping tuan putri kesayangan keluarga Abdullah. Dan saya akan membaca surah An-Nisa terlebih dahulu baru surah selanjutnya.”
“Silahkan kami ingin mendengarnya.” Gentala diberi al-qur’an oleh ayah gadis pujaannya lalu kemudian ia memulai membacanya. Ia tau kedua orang tuanya khawatir takut-takut dirinya tidak bisa, tapi ia enyahkan dengan bacaan lancarnya dengan suara berat dan merdunya itu.
Semua orang terkesima melihat Gentala Pratama Alexander membaca Al-qur’an dan seluruh bulu kuduk mereka terasa merinding. Aisyah berbasmalah dalam hati, ia terharu dengan ketegasan pria yang ingin meminangnya ini. Dan akhirnya Gentala berhasil melewati persyaratan satu dari keluarga gadis itu. Dan baru saja ia ingin memulai lagi dihentikan oleh Fariz.
“Maaf menghentikan, persyaratan kelanjutan menghafal surah Ar-Rahman, kami ingin kau membaca setelah kalian akad nikah. Kami memang sudah merestui walau kau belum melakukan persyaratan tuntas, mohon langsung meminang adik kami tanpa harus melewati acara tunangan atau sebagainya.”
“Terima kasih sudah merestui, saya Gentala akan menjaga, menghormati, dan melindunginya sebagai mana kalian merawat Aisyah Putri Nada.” Ujarnya senang membuat dirinya mengeluarkan sekotak merah beludru dihadapan mereka dan bunda dan Mommy mereka langsung meraih cincin, untuk dikenakan kepada tangan putra putrinya.
Bunda ketangan putrinya dan Mommy ketangan putranya. “Alhamdulillah, akhirnya abang Gen nikah juga. Nanti setelah abang Gen, bang Xan dan bang Pin harus nikah juga ya, Xena tunggu loh makan besarnya.” Celetuk Xena membuat yang lain tertawa sedangkan dua pria dewasa yang namanya disebut hanya bisa menggeleng kepala.
--
Next...
Vote, Comment, Like, and Favorite!
SEE U! BYE! THANKS!
__ADS_1