
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa berikan tanda untuk ceritaku ya!
--
“Jadi dia sudah menikah? Dengan siapa?”
“Dengan seorang artis tuan.”
“Hem, dasar pria tidak bertanggung jawab, setelah apa yang dia perbuat dulu kepada adikku lalu dia keluar dari dunianya? Tapi tidak apa sepertinya ini akan menjadi seru. Kita akan melakukan rencana itu sekarang disaat mereka sedang lengah saja bagaimana? Apa kalian siap?”
“Kami siap tuan. Dan apa rencana pertamanya tuan?”
“Culik istrinya. Sekap dia. Dan biarkan dia di sebuah gedung kita akan bertemu dengan sang suami tercintanya.”
“Apa kita akan membongkar masa lalu pria itu didepan istri tercintanya?”
“Bagus juga ide mu, mari kita lihat..”
--
“Jadi?”
“Baiklah, abang salah, abang minta maaf. Abang tau karena telat ngasih tau kamu tapi abang punya alasan kenapa buat perusahaan sebesar ini di negeri kita, karena abang tau kamu pengen jadi penyanyi atau artis atau sebagainya yang membutuhkan sosok penjaga dari duni hiburan.”
“Saat itu abang bertekad ingin membantu kamu untuk menjadi artis yang dicintai dan disayangi oleh semua orang dan ternyata tanpa bantuan abang kamu sudah dicintai dan disayangi oleh semua orang karena sifat dan sikapmu yang polos dan lembut ini.”
“Abang hanya ingin memiliki kekuatan agar bisa menjaga adik abang dari dunia kejam seperti diluar sana. Banyak sekali artis baru yang dibuli oleh beberapa orang dan membuatnya menjadi lemah mental dan fisik. Abang gak mau itu terjadi kepadamu.”
Aisyah mendengarkan perkataan abangnya secara pelan. Iya tidak tau, bahwa keinginannya menjadi terkenal membuat tekat abangnya kuat membuat perusahaan yang dulunya kecil menjadi sebesar ini dan itu semakin hari semakin kuat akibat banyaknya karyawan yang unggul didalamnya.
“Abang juga yang mengurus beberapa orang yang benci kamu dan yang memberi komentar buruk kepadamu. Abang juga yang sudah memenjarakan artis gak tau diri itu yang sudah membuat ayah kehilangan pekerjaan.”
“Tapi asal kamu tau, suamimu juga ikut termasuk namun abang sengaja untuk tidak memberitahu kepadamu, syah. Maafkan abang, abang hanya ingin melindungimu. Melindungi adik abang dari dunia hiburan yang rusak itu.”
Aisyah menggeleng kepala pelan, “abang gak salah, gak perlu minta maaf. Aisyah mengerti ini untuk keselamatan Aisyah juga jadi tidak perlu minta maaf. Lagi pula, isyah bahagia dan bangga punya abang seperti bang Izak yang menabung uangnya hanya untuk membangkitkan perusahaan ini demi melindungiku. Aisyah juga tau kalau dunia diluar sangat kejam, jika kita miskin kita akan kalah namun jika kita kaya kita akan menang. Tapi satu hal yang harus abang tau, miskin mau pun kaya itu setara tidak ada bedanya, jadi Aisyah harap jangan ada kata balas dendam ya? Aisyah ingin jika ada orang jahat ke kita langsung saja taruh mereka di kantor polisi dengan bukti yang cukup kuat.”
“Baiklah, abang akan melakukan hal itu.”
“Janji tidak ada balas dendam segala.”
__ADS_1
“Janji.”
Aisyah pun langsung memeluk tubuh abangnya dengan erat, ia tidak menyangka bahwa keinginannya membuat abangnya semakin kuat untuk maju dan sepertinya abangnya cukup banyak uang.
“Abang, kenapa tidak sejak dulu, abang membantu Aisyah membuat novel isyah menjadi buku?”
“Ah, tentang itu, apa ceritamu sudah banyak yang membacanya? Apa jika ceritamu dijadikan buku aka nada yang membelinya?” pertanyaan yang membuat jiwa penulis seperti Aisyah nge-down. “Abang mah! Kok ngomongnya gitu sih bikin jiwaku down tau.”
Disaat keduanya berpelukan disenyumi oleh Bima disampingnya ponsel Aisyah berdering.Tanda pesan masuk.
From hani.
Aisyah, bisakah jika kamu tidak sibuk temui aku di taman dekat gedung Partylife? Aku butuh bantuanmu.
To Hani.
Wah, kau tau saja aku sedang didekat sana. Aku akan kesana sekarang juga, dimana kamu berada detailnya?
From Hani.
Aku berada diseberang RAR Group.
To Hani.
From Hani.
Aku menunggumu.
Aisyah menyimpan ponselnya tanpa mematikan data internetnya. “Abang, aku harus pergi sebentar.”
“Mau kemana?”
“Hani, dia membutuhkanku, saat ini dia sedang berada di seberang gedung ini. Mungkin dia lupa lagi membawa uang untuk membayar sesuatu.” Ujarnya diangguki oleh Izak.
“Abang antar ayo. Abang tidak mau terjadi sesuatu kepadamu.”
“Baiklah ayo.”
Sesampai di lobby Aisyah bergandeng tangan dengan abangnya yang saat ini sangat erat menggenggamnya. “Oh sepertinya itu dia.”
“Abang temani atau tidak?”
__ADS_1
“Tidak perlu, aku menyebrang sendiri saja, abang tunggu disini saja oke?” bang Izak mengangguk dan melepaskan genggamannya. Tanpa mereka sadari ada sebuah mobil Van hitam didalamnya beberapa orang berbaju hitam dengan senyuman seramnya.
“Target dapat.”
Aisyah saat ini lupa menggunakan masker di wajahnya jadi banyak orang yang menatapnya dan tersenyum manis kearahnya. Aisyah sudah menyebrang dan berdiri dipinggir jalan dan meneriaki nama sahabatnya. “Hani!”
Tapi yang berbalik bukan sahabatnya melainkan orang lain. Sampai ia menyadari bahwa yang bertukar pesan dengannya bukanlah sahabatnya melainkan orang lain. Seketika ia langsung menggenggam ponselnya yang berada dijaket jinsnya dengan menekan tombol yang langsung aktif ke ponsel abang dan suaminya. Setelah itu ia membuang ponselnya yang terlihat sama dengan ponsel yang ia punya.
Mobil Van hitam mendekat kearahnya dan gadis yang ia panggil berlari kencang kearahnya kemudian membekapnya dengan handuk putih yang sudah dicampur obat membuatnya seketika pingsan.
Banyak yang melihat aksi penculikan langsung berupaya menolong Aisyah namun gagal. Sedangkan bang Izak yang sedang menunggu adiknya mengernyit heran mengapa mobil hitam itu berhenti tepat dimana sang adik berdiri. Itu sangat aneh.
Ia langsung berlari namun saat ia sudah sampai, mobil hitam itu juga sudah pergi lebih dulu. “Aisyah!!! Aisyah!!! Sial.” Kemudian ia melihat ponsel yang sempat dibuang oleh aisyah. “Pintar kamu, syah.”
“Maaf, aku sudah memotret plat nomer mobilnya. Apa aisyah akan baik baik saja?” tanya salah satu orang yang tak lain penggemar adiknya. “Doakan saja adik saya baik-baik saja.”
“Agus! Minta dia kirimkan plat nomer ke hapemu.”
“Baik tuan.”
Izak dengan kepala mengepul langsung menghubungi abang Fariz dan suami dari adiknya, Tala. Ia membutuhkan bantuan mereka. Siapa tau saja ada yang mengetahui siapa orang yang menculik adiknya itu.
“Halo bang! Izak minta tolong, Aisyah diculik didepanku dan didepan keramaian! Aku butuh bantuanmu. Segera datang ke kantorku.” Ujarnya lalu menutup panggilannya setelah itu menghubungi Tala. “Halo gen? Aisyah diculik, aku butuh bantuanmu, tolong bawa kakek Damian, kakekmu sepertinya tau sesuatu. Datang kekantorku sekarang juga.”
Tut.
Di dalam mobil Van hitam, salah satu orang telah menelpon tuannya. “Sudah tertangkap bos. Kami nekat menculiknya didepan keramaian dan didepan abangnya, seperti yang bos pinta. Lalu bagaimana gadis yang kami tangkap kemarin?”
“Oh baiklah, kami akan segera menemukan gadis itu dengan gadis ini. Sepertinya dia sudah tau kalau yang memberi pesan dengannya bukan sahabatnya bos. Maka dari itu ia membuang ponselnya.”
“Baik bos, kami akan segera datang.”
--
Next...
Vote, Comment, Like, and Favorite.
See you! Thank you! Bye!
LOVE Rora~
__ADS_1