AISYAH

AISYAH
KSPI 016


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa beri tanda like ya.


Support aku juga.


 


--


“Hari ini aku ingin mengajakmu kesuatu tempat, jadi maukah kamu ikut bersamaku?”


“Tentu saja, aku tidak akan bisa menolak. Tapi bagaimana dengan mobilku?”


“Biar pengawalku membawanya pulang kerumahmu. Kamu tinggal mengatakan alamatnya.” Nadhira mengangguk mengerti lalu memberikan kunci mobilnya kepada pengawal yang sudah melangkah mendekat karena panggilan dari pria disampingnya itu.


“Dimana alamat rumahmu, dear?”


Nadhira menyebutkannya lalu mengatakan hati hati kepada pengawal tersebut. Dan menoleh menatap kekasihnya yang juga menatapnya dengan tatapan mendamba. “Mengapa? Kakak menatapku seperti itu?”


“Tidak, hanya saja aku ingin menyimpan wajahmu dibenakku. Agar jika merindukanmu aku akan membayangkan wajahmu yang cantik dan indah jika sedang tersenyum.”


“Kakak bisa saja. Ayo katanya ingin pergi kesuatu tempat.”


“Ayo. Apa kakak boleh menggandeng tanganmu?” Nadhira mengangguk, “tentu, kakak saja sudah mengecup punggung tanganku.”


Hehehe. Pria itu tertawa lalu mengambil jemari tangan kanan gadis itu dan mengeratkannya setelah itu ia tertawa karena senang. Ia merasa ini seperti mimpi. “Aku tidak tau, impianku akhirnya tercapai. Menggenggam tanganmu, kita berjalan santai, lalu tertawa bersama. Seperti saat ini.”


Nadhira mengangguk, “sama seperti yang ku inginkan juga.”


“Sepertinya kita sehati. Ayo masuk.” Ujarnya membukakan pintu penumpang samping pengemudi lalu gadis itu masuk setelah dipersilahkan oleh Khalid. Tak lupa pria itu mengenakan seatbelt untuk Nadhira.


“Terima kasih.”


“Sama sama, dear.”


Khalid memutar balik badannya menuju pintu pengemudi lalu masuk tak lupa mengenakan seatbelt. Setelah itu ia menghidupkan mobilnya dan menggasnya.


“Ready, My Queen?”


“I’am ready, My King.”


Khalid mulai menjalankan mobilnya menuju tujuannya, ia akan membawakan gadisnya kesuatu tempat yang menurutnya adalah tempat rahasianya. Dan ia ingin acara pernikahannya diadakan disana namun hanya keluarga dan teman dekat saja tidak lebih tidak kurang.


“Kita akan kemana?”


“Sebenarnya, aku akan mengajakmu ketempat dimana acara pernikahan kita dilakukan. Kita akan mengadakan pesta antar keluarga dan teman dekat sedangkan pesta untuk para tamu undangan yang tak lain para karyawan atau para klien teman kerja itu di gedung biasa saja.”


“Oh jadi maksudnya kita akan mengadakan dua acara, satu acara go public dan satu lagi privasi?”


“Bingo! Kamu pintar, dear.”


“Tentu saja, aku kan pemilik perusahaan.”

__ADS_1


“Hahaha aku melupakan jati dirimu wahai gadisku.”


Nadhira diam menatap luar jendela ia mengernyit, “kita keluar jalur ka?”


“Hem, tempatnya memang keluar jalur, dan jalanan ini khusus kearah tempatnya. Kamu akan menyukainya.”


“Benarkah?”


“Tentu saja, dan diacara itu akan membuatnya indah dimatamu.”


Mereka sampai ditempat, Nadhira menatap pohon pohon indah yang sudah menarik dimatanya. “Ayo sini tanganmu, kita akan jalan dari sini untuk melihat dalamnya.”



“Ka, ini beneran milikmu?”


“Sebenarnya ini bukan milikku, tapi sudah diberikan kepadaku dari kakek tua yang memiliki tanah luas ini.”


“Memang dimana kakek tua itu?”


“Beliau sudah pindah karena tanah ini kenangan indahnya bersama istri beliau ah lebih tepatnya mendiang istrinya.”


Mereka berjalan dengan santai, Nadhira melihat sekitar karena langit sudah gelap jadi semakin indah karena banyak lampu yang menerangi tubuhan merambat tersebut.


“Ini digantung?”


“He’em, tumbuhannya memang menjuntai kebawah namun ternyata kakek tersebut membuatnya kuat diatas, lihat


ada kayu yang membuat tanaman ini kokoh berdiri.” Unjuknya keatas membuat gadis itu takjub. “Pintarnya. Ini sungguh indah.”


“Wow! Masya Allah! Subhanallah! Ini indah sekali ka. Ya ampun aku tidak menyangka akan ada tempat secantik ini.”



“Kita tinggal tambahkan cahaya lagi lalu meja dan kursi untuk meja makan, kamu lihat diujung sana?”


Nadhira menatap kearah yang Khalid tunjukkan, ada sebuah rumah tak terpakai. “Itu rumah yang ku beli dari kakek tua itu, disana sedang di renov jadi aku tidak bisa mengajakmu kesana. Tapi saat itu sudah jadi aku akan menunjukkannya.”


“Apa kakak sudah mengatakan kepada keluarga kakak jika akan menikah?”


“Tentu saja sudah, malah setelah kamu pergi, kakak mengatakan bahwa kakak memiliki gadis yang akan menjadi istri kakak kelak. Dan itu kamu sendiri, dear.”


“Maafkan aku yang meninggalkanmu ka.”


“Tidak ada yang perlu dimaafkan, ini memang sudah takdir kita seperti ini. Jadi tidak perlu minta maaf kepadaku.”


“Mari kita fokus saja dengan pernikahan kita mulai saat ini.”


“Baik. Aku cinta kakak.”


“Kakak cinta kamu sayang.”


Tring! Tring! Tring!

__ADS_1


Bunyi ponsel Khalid mengalihkan pandangan keduanya. Nadhira yang langsung memalingkan wajahnya karena ia malu. Apalagi saat tatapan pria itu membuatnya terpesona. Khalid mengangkat telponnya dan langsung mengarahkan ponselnya menjauh dari telinganya karena suara teriakan dari sebrang sana.


“HOYYYY!!!! KAU DIMANA HOYYY!!!”


“Berisik. Aku kira ummi ku yang menelpon padahal ini nomer memang punya ummi. Kenapa ada di dirimu?”


“Ummi sedang sibuk, lalu baba berkata, pulanglah kerumah ajak sekalian calon adik iparku kerumah. Oke? Jangan lama lama disana nanti kalian diganggu oleh setan. Oke bye!”


Tut!


Khalid menghela nafas, lalu menatap gadisnya yang masih menatap pohon cantik disana. “Dear. Ayo kita pulang, kita harus bertemu dengan kedua orang tuaku.”


“Loh, gak kemalaman?”


“Tidak, ummi ku juga sedang menyiapkan makan malam bersama. Saat ini juga masih jam setengah delapan malam. Jadi masih bisalah untuk berkunjung.”


“Baiklah, tidak baik menolak ajakan orang tuamu.”


“Orang tuamu juga, dear. Ayo kita ke mobil.” Nadhira mengangguk lalu melangkah mendekati pria itu dan menggenggam tangannya dengan hangat.


Setengah jam ada dari lokasi mereka kerumah ummi Aisyah. Keduanya sudah tiba di kediaman Ummi Aisyah dan Baba Gentala. Nadhira saat mengikuti Langkah prianya ia terhenti saat melihat bingkai foto keluarga yang berada tepat didepan pintu masuk. Ia bisa melihat sosok pria paruh baya yang pernah bertemu dengannya.


“Loh itukan?”


“Kamu mengenal babaku, dear. Baba dengan jahilnya bertemu denganmu dan mengatakan akan menikahimu dengan putranya. Aku tidak tau ap aitu kembaranku atau diriku sendiri. Yang pasti saat mendengarkan ucapannya aku marah dan kesal. Tapi berkat itu aku bersyukur saat baba hanya ingin bercanda denganku.”


“Memang baba memiliki tiga putra tapi semuanya sibuk dengan urusan masing masing, jadi nak Dhira, tolong kamu lebih baik piker kembali apa benar kamu ingin hidup dengan putra baba yang super sibuk ini atau bersama Azkar yang pengangguran tapi kaya.”


“Loh ba! Kenapa Azkar dibawa juga, sudah cukup saat baba mengatakan akan menikahkan Kazy dengan gadisku ba. Dia milikku sekarang.”


“Masih kekasih belum menjadi istri. Jadi masih bisalah baba menyuruh Kazy untuk mendekati Dhira lagi pula wajah kalian sama.”


Tak!


Aw!


“Sakit yang!”


“Habisnya sudah tua masih saja jahilnya minta ampun. Udah gih bantuin Lesya dan Lian membawa peralatan makanan. Jangan asik ngoceh tidak penting.”


“Nak Dhira maafkan baba ya, dia sedang kehabisan obat jadinya begitu. Kamu duduk manis saja terlebih dahulu, atau mau mandi dulu biar terasa lebih nyaman?”


“Ah tidak perlu ummi, aku seperti ini saja sudah cukup.”


“Gak perlu sungkan sama ummi ya, anggap ummi dan baba pengganti orang tua kamu.” Tutur ummi Aisyah dengan lembut membuat Nadhira merasa tersentuh. “Terima kasih ummi.”


“Loh, loh kok nangis. Maafin ummi. Ya ampun ummi jadi merasa bersalah Alid. Gimana ini? Menantu ummi menangis karena ummi.” Rengek ummi Aisyah membuat Khalid hanya bisa menghela nafas. “Tenanglah ummi, dia hanya terharu mendengar perkataan ummi. Karena dia tidak pernah mendapatkan orang tua yang memperlakukannya dengan terbuka seperti ummi.” Jelas Khalid membuat Aisyah melangkah mendekati Nadhira kemudian memeluknya.


“Tenang sayang, jangan menangis. Nanti cantiknya hilang loh. Tidak apa anggap ummi ibumu nak. Kamu kan sudah menjadi anggota keluarga kami, karena kamu sebentar lagi akan menjadi istri dari putra pertama kami.”


“Mohon jaga Khalid ya, jika ia memiliki kesalahan langsung diungkapkan jangan didiemi. Karena jika kamu bungkam dia tidak akan pernah peka dengan kesalahannya. Karena dia keturunan babanya yang tidak beda jauh darinya.”


“Ummi! Kenapa baba dibawa bawa? Baba kan sedang diam.” Rengek baba yang baru datang dari ruang makan.

__ADS_1


--


__ADS_2