AISYAH

AISYAH
(87) AISYAH


__ADS_3

Happy reading Semuanya!


Jangan lupa beri tanda suka kedalam ceritaku ini ya.


Support aku jug.


--


Dipertengahan malam, aisyah mengerjapkan kedua matanya dan kepalanya terasa pusing akibat biusan. Ia berkedip secara perlahan dan merasakan kedua tangannya kram. Akibat ditimpa oleh kepala suaminya dan kepala abang sulungnya.


Aisyah sedikit mengerang namun itu sudah membuat yang lain terbangun dan menghampirinya. “Sayang kamu udah bangun?” pertanyaan pertama meluncur dari bibir Tala. “Ada yang sakit syah?” dilanjuti oleh abang Fariz.


“Kamu mau apa? Mau air?” sambung bang Izak.


“Hei, tahan sedikit pertanyaan kalian, kau membuatnya semakin pusing itu.” Omel Damon kepada yang lain.


“Biar abang pijat kepalamu ya syah biar tidak terlalu pusing.” Ujar Fariz yang sangat khawatir kepada adiknya.


“Aisyah dimana bang? Mas?”


“Kamu dirumah sakit, ah iya, perut kamu lebam, pipi kirimu bengkak serta pergelangan kaki kananmu sedikit tergeser yang mengakibatkan kamu tidak bisa berjalan terlebih dahulu.” Jelas bang Izak membuat Aisyah menghela nafas.


“Kamu tau kan apa kesalahanmu?” tanya serius bang Fariz. Yang diangguki oleh Aisyah. “Apa?”


“Keluar rumah tanpa pengawal.”


“Lalu?”


“Tanpa meminta izin terlebih dahulu.”


“Bagus, jadi kamu tau kan apa yang akan abang lakukan kepadamu, walaupun kamu sudah menikah pun?”


Aisyah mengangguk lemas. “Tau, abang bakal beri pengawal sepuluh untukku jika ingin keluar rumah.”


“Bagus.”


“Jangan lupakan dengan pengawal dari mas, sayang. Mas akan memberikan lima orang saja.”


“Abang tidak akan memberikan pengawal untukmu syah, hanya saja abang akan menyuruh kamu untuk menggunakan barang yang sudah terdeteksi oleh gps. Seperti tas, ponsel, cinci, atau sepatu.”


Aisyah menghela nafas lemah, ia hanya bisa berpasrah diri karena overprotectif dari suami serta kedua abangnya ini belum lagi dari kakek Bisma, ayahnya, daddynya, lalu abang Bima. “Baiklah, isyah nurut saja.”


“Bagus, besok bunda, mom, serta yang lain akan datang menjengukmu. Dan kamu akan menginap disini selama seminggu sampai pergelangan kakimu kembali seperti semula.”


“What? Terus siapa yang ngurus Khalid dan Kazeem?”


“Mereka akan dibawa oleh mom dan bunda kok tenang saja.”


“seriously, oh my goodness!”

__ADS_1


Aisyah melongo dan merebahkan tubuhnya kembali, “aku lapar. Tapi sebelum itu aku haus.” Ujarnya dengan memelas, Tala pun langsung mengeluarkan susu strawberry untuk istrinya dan sebungkus roti, “makan ini dulu, nanti makan nasinya belakangan.”


“Iya, lagi pula ini sudah tengah malam pasti pada tutup semua.”


Aisyah mengangguk lalu menyuapkan rotinya kedalam mulutnya, “ini saja sudah mengenyangkan kok tapi besok pagi aku mau makan nasi uduk.”


“Baiklah.”


“Biar abang yang belikan karena abang akan pulang setelah subuh sekaligus menjemput ayah dan bunda.” Ujar bang Fariz yang langsung diangguki oleh yang lain. “Baiklah. Kalau begitu Isyah tidur lagi ya, pegel pegel semua tubuhku.”


“Eh tunggu, bagaimana dengan ketiga orang itu?”


“Mereka telah menjadi buronan, dan akan banyak orang yang sukarelawan untuk membantu kita mencari tiga orang tersebut. Kamu kan artis yang, walaupun kamu sedang hiatus masih akan banyak orang yang mencintaimu dan menyayangimu sampai mereka menghujatku karena tidak bisa melindungi istrinya sendiri dan itu melukai hatiku.” Ujar Tala dengan sendu saat membayangi apa yang ia baca tadi siang.


Aisyah mengelus rahang suaminya dan mengecupnya singkat didepan semuanya, “maafkan isyah ya mas. Isyah terlalu gegabah keluar sendirian tanpa tau bahwa mereka sudah mengincarku.”


“Dimaafkan, lain kali jangan seperti ini lagi, ingat kamu sudah memiliki anak dan suami apalagi kamu disayangi oleh semua keluarga di negara ini.”


“Iya mas, maafkan aku.”


“Ya sudah tidur lagi gih.”


Cup!


“Selamat tidur.” Gumam Tala setelah mengecup kening istrinya tanpa sadar banyak yang sedang menggigit jari. “Kalian sangat mesra. Aku iri.” Ujar Frisky.


“Berjuanglah.”


“Dengan siapa?”


“Banci dipertigaan lampu merah gih, bohai bohai kan mereka.” Ledek Samuel membuat Frisky bergidik ngeri sedangkan yang lain tertawa. “Gak usah ketawa, kau juga belum punya kekasih bukan?” ujar Frisky kepada Damon, “Wanita ribet, mending sendirian aja,”


“Sampai tua? Emang kau gak mau punya anak darah daging lo sendiri?”


“Liat kedepannya aja.”


“Udah tidur gih, dah jam 2 pagi ini.”


“Oh iya, kuy tidur.” Mereka semuapun terlelap tidur, menjaga Aisyah agar istri Gentala tidak lagi lengah atau diculik kembali. Apa lagi tiga buronan itu masih berkeliaran diluaran sana.


Gentala yang belum tertidur hanya bisa menatap istrinya dalam diam, sedangkan kedua abangnya dan ketiga sahabatnya sudah terlelap kebawah mimpi. Ia mengelus pipi Aisyah kemudian ia mengecup kening, hidung, serta bibi sang istrinya.


Hampir saja ia kehilangan sang istri. Kemudian ia melirik jam pukul 3 pagi, ia menyiapkan sajadah dan sarungnya. Ia berjalan kekamar mandi untuk mengambil wudhu. Kemudian ia menggantikan pakaiannya menjadi koko serta kopiahnya yang selalu ia bawa kapanpun dan dimanapun.


“Ushallii sunnatan tahajjudi rak'ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta'alla.”


Gentala pun langsung sholat sunnah tahajud 2 raka’at serta witirnya 3 raka’at. Selesai sholat ia meminta doa pengampunan serta perlindungan untuk sang istri serta kedua putranya dan anaknya kelak.


Kemudian ia melirik jam yang masih jam 3 lewat. Ia melipat sajadahnya dan membiarkan sarung yang masih tergantung dipinggangnya. Ia menggeser istrinya secara perlahan dan merebahkan tubuhnya memiring disamping Aisyah, kemudian ia peluk dan terlelap.

__ADS_1


“Cepat sembuh kesayanganku.” Bisiknya sebelum benar-benar tertidur.


“Gen? Bangun Gen! Hey! Mommy ada disini..”


Gentala pria itu yang sedang nyaman tertidur memeluk sang istri langsung terbangun, sedangkan sang istri, Aisyah sudah terbangun dan sedang makan sarapan disuapi oleh sang bunda. Tala duduk dan turun dari Kasur kemudian teduduk lagi ditepi Kasur.


“Kapan mom datang?”


“Baru saja kami datang, gih kekamar mandi dulu habis itu makan, bundamu membawa makanan kesukaanmu yang tak lain rendang daging dan daging sapi lada hitam, gih buruan nanti keburu dihabisin sama yang lain.”


“Hem,.. Gen ini enak sekali. Kau beruntung memiliki ibu mertua seperti bunda Maura.”


“Tentu, hey jangan dihabiskan! Ah kalian menyebalkan!” gerutu Tala kemudian ia masuk secepat mungkin kedalam kamar mandi, ia buru-buru membasuh muka dan menyikat gigi. Kemudian ia melangkah keluar dengan keadaan basah.


“Tenang Gen, bunda sudah menyisakan satu tempat untukmu, tidak perlu terburu-buru. Gantilah bajumu.” Tutur bunda membuat Tala menghela nafas. “Kenapa kalian menakutiku. Huh..” sedangkan Aisyah hanya bisa tertawa kecil melihat suaminya dijaili oleh teman-temannya.


“Baba Khalid dan Kazeem lucu sekali ya nak? Kalian jangan mau tertipu oleh angkle kalian ya nanti.” Ujar Aisyah yang sedang mengelus kedua bayinya diatas Kasur miliknya.


“Sayang! Kapan Khaka ada disana?” tanya Tala membuat semuanya mengernyit bingung, “Khaka? Siapa?”


“Khalid dan Kazeem mom, aku menyingkatinya agar tidak berbelit.”


“Sadar juga si baba.” Celetuk Frisky. Dibalas delikkan mata tajam oleh Gentala.


“Berisik.”


“Udah baba Tala sini, makan dulu. Bunda udah siapin dua tempat untuk baba, yang satu isi daging lada hitam yang satu lagi rendang. Baba kuat makan pedas -pedas dipagi hari?”


“Insya Allah kuat, oh iya ada susu putih gak?”


“Ada dikulkas, mau?” tanya Aisyah yang langsung diangguki oleh Tala. Aisyah ingin turun langsung ditahan oleh mom agar Galen saja yang mengambilnya, “udah kamu disini aja diam, jangan banyak gerak biar kakimu sembuh total. Galen sayang, tolong ambilkan satu kotak susu full cream untuk abangmu nak.” Pinta mom yang langsung dituruti oleh pemuda itu.


“Ini bang.”


“Makasih Len.”


“Makasih sayang, gih makan lagi.”


“Sama sama bang, mom.”


--


Next..


Vote, Comment, Like, adn Favorite.


See you! Thank you! Bye bye!


LOVE RORA~

__ADS_1


__ADS_2