AISYAH

AISYAH
KSPI 04


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa like ceritaku ini dan support juga ya.


--


Kebesokkan harinya, Nadhira yang masih tinggal dirumah Khalid, melangkah menuju dapur untuk membuat sarapan untuknya dan Khalid, apalagi hari ini bibi yang sering bekerja sedang izin karena ingin menemani anak semata wayangnya melahirkan cucunya yang kedua kali.


“Pagi!” sapa Khalid dengan menggunakan pakaian santainya yang membuat dimana ketampanannya naik beberapa persen menurut gadis itu.


“Pagi ka!” balas Nadhira dengan senyumannya.


“Kau memasak apa?” tanyanya, saat sudah duduk dikursi pantry yang berhadapan dengan wastafel serta meja dapur lainnya. Nadhira tersenyum, “aku sedang mencoba membuat sandwich dengan variasi baru. Apa kakak akan suka?”


“Tentu, itu baru pertama kali dibuat bukan?”


“Ya. Tunggu sebentar ya, sarapan akan segera datang.” Ujarnya dengan semangat dengan cepat ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan menyajikannya dengan cantik diatas piring datar tanpa cekungan.


“Silahkan dinikmati tuan, menu baru dari Nadhira yang bernama Double K Sandwich!”


“Double K Sandwich? Apa jangan bilang, singkatan nama kita berdua?” Nadhira mengangguk, “tentu hehe, kan hanya kita berdua yang makan sandwich ini jadi aku beri nama yang hamper sama dengan nama kaka. Khalid, Kanza. Sama sama depan K bukan?”


“Sangat tidak kreatif kau ini.”


“Terserah aku, kan aku yang buat. Anda yang makan langsung saja berkomentar tentang rasa roti lapis itu.”


Khalid tertawa melihat wajah lucu dari gadis didepannya ini. “Apa! Apa yang lucu? Aku kan gak lagi ngelawak!”


“Baiklah, baiklah.. aku makan ya..”


Em.. Khalid mengunyahnya dengan pelan karena rotinya sangat lembut, “rotinya kau bikin sendiri?” Nadhira mengangguk. “iya, apa empuk?”


“Ya, empuk sekali. Kamu pintar masak ternyata.”


“Kan sudah kukatakan aku memang jago masak apalagi dirumah, namun sayang seribu sayang aku dianggap sebagai pembantu disana oleh mereka.”


“Tenang, kau tidak akan bertemu dengan mereka lagi.”


“Begitukah?”


“Ya, jika kamu menjualnya kepada sepupuku secara tidak langsung isinya juga diambil olehnya.”


Deg!


“Maksudnya?”


“Ah tidak perlu berpikir berlebihan, maksudku adalah orang yang tinggal disana dijadikan pelayan oleh sepupuku, bukan yang kau pikirkan.”


“Ah begitu, syukurlah. Berarti aku tidak menjual manusia kan?”


“Tentu tidak, itu salah. Kita sebagai manusia dan beragama tidak mungkin menjual manusia yang dicitakan oleh Allah S.W.T.”


“Jadi bagaimana dengan mereka? Dimana mereka berada saat ini?”


“Entah, hanya sepupuku yang tau dimana mereka berada, apa dijadikan pelayan atau tidak aku tidak diberi tahu olehnya.”


“Sudahlah, jangan membahas mereka lagi, lebih baik kita membicarakan soal kamu.”


“Aku?” tanya Nadhira. Khalid mengangguk, “ya, kamu. Aku mau nanya apa kamu akan tinggal disini atau kamu akan pergi?”


“Em, mungkin sementara waktu aku akan tinggal, dan jika sudah mendapatkan rumah yang kuinginkan dengan kota yang ku inginkan aku akan pergi.”


“Kota mana yang kamu pilih?”

__ADS_1


“Entah, aku belum memikirkannya sampai sekarang.”


“Apa perlu bantuan?”


“Tidak perlu, aku ingin mengusahakan itu semua dengan kemampuanku.”


“Baiklah, mari kita makan.”


“Makan lagi?”


“Ya, aku lapar.”


“Benar-benar perut karet.”


“Hei kau!”


“Apa?”


“Ish,”


--


“Jadi dirumah khalid ada seorang gadis yang tinggal?”


“Ya, maka dari itu dia gak mau pulang kemari.”


“Apa yang gadis itu lakukan?”


“Dia bekerja menjadi pelayan seperti asisten rumah tangga.” Aisyah mengangguk paham, dia menyandar punggungnya didada bidang suaminya, “ap akita harus menyuruhnya tinggal disini saja.”


“Siapa?”


“Gadis itu.”


“Biarkan saja dia disana, agar putra kita merasa dirawat dan selalu sehat.”


“Tenanglah, dia sudah besar. Tau batasnya pasti.”


“Tapi aku takut dengan gadis itu.”


“Tidak ada yang perlu ditakutkan. Berdoa saja untuk seterusnya agar apa yang tidak kita inginkan tidak terjadi.”


“Semoga saja.”


“Tapi..”


“Sudah tidak ada tapi-tapi, lebih baik kita bicara tentang kita.”


“Untuk apa membicarakan kita?”


“Malam ini, aku ingin kamu.”


“Ini masih sore mas, uhhh..”


“Sore sampai malam, tanpa ada yang mengganggu, bukankah ini sangat indah?” tanya Tala membuat Aisyah tidak bisa berkata tidak. Karena ia juga ingin. Hal itu.


“Bagaimana? Apa cocok dengan keinginan anda, nona?” tanya agen rumah, hari ini, Nadhira sendiri keluar mencari rumah disebuah kota bogor yang lumayan dekat dan sejuk dekat perkotaan. “Aku suka, namun ada sedikit yang tidak sesuai dengan perkataanmu.”


“Apa itu?”


“Kran air didapur, kamu bilang baru diganti sebulan yang lalu bukan?”


“Ya?”

__ADS_1


“Tapi kenapa saat aku coba dan mematikannya kran itu seperti bocor karena airnya mengucur begitu saja.”


“Ah, jika begitu kami akan memperbaikinya. Apa anda ingin melihat rumah yang lainnya?”


“Tentu saja, jika itu tidak merepotkanmu.”


“Tentu tidak, asal kamu tetap membeli rumah dari saya saja.”


“Baik, jika anda jujur dan terpercaya aku pasti akan membelinya.” Balasnya dengan sedikit tekanan. Membuat Agen tersebut merasa merinding apalagi saat matanya bertabrakan dengan mata Nadhira yang sekejap berubah dingin itu.


“Kau bisa percaya kepadaku. Jika aku salah kau bisa menuntutku.”


“Bagus, aku suka dengan jawabanmu.”


“Terima kasih.”


Sampai keduanya sampai disebuah rumah minimalis yang terlihat unik dikedua mata Nadhira dan dia merasa klop dengan rumah minimalis ini. Dengan design yang melengkung, melengkung dengan aksen yang cukup menarik dimata semua orang.


“Rumah ini, berbeda dari yang lain ya.”


“Ya, karena yang membuat rumah ini berasal dari negara thailand. Dan beliau saat ini sudah tiada dan menjual semua gambar designnya kepada asitektur professional. Dan jadilah rumah unik ini\ salah satunya.”


“Aku boleh berkeliling?”


“Tentu, silahkan.”


Sampai beberapa menit ia berkeliling dari lantai satu dan lantai dua setelah itu halaman belakang. Ia langsung berkata, “aku beli yang ini. Coba hitung berapa rumah ini dengan seisinya.”


“Baik, kalau begitu tunggu sebentar.”


Nadhira tersenyum senang, akhirnya ia memiliki rumah idamannya, tanpa ada orang lain selain dirinya yang tinggal


disini. ‘aku akan tinggal disini untuk selamanya.’ Batinnya yang membuat dirinya bertekad setelah ini ia akan mencari rumah minimalis lagi untuk membuka kafe atau resto.


“Baik semua sudah saya kalkulasikan dengan asitektur yang membuat ini, kamu akan mengeluarkan uang sejumlah 138 juta. Apa anda keberatan?”


“Tentu tidak, aku hanya tidak menyangkah harganya segitu. Padahal istana peninggalan kedua orang tuaku dijual berserta isinya hanya mendapatkan 350 juta.”


“Mungkin karena anda adalah pelanggan pertama yang menyukai design ini. Karena kebanyakan dari pembeli lebih memilih rumah yang sama dengan design seperti yang lain.”


“Mungkin mereka tidak ingin rumah yang mereka beli menjadi menarik orang diluar sana bukan begitu?”


“Ya?”


“Rumah ini kemungkinan akan sangat bahaya bagi peninggal pemula. Tapi kalian akan menjaganya dengan pengawalan yang kalian miliki bukan?”


“Tentu, anda adalah pelanggan kami, kami akan menjaga anda setelah anda memiliki penjaga pribadi.”


“Baik, terima kasih. Aku akan membayarnya setelah surat surat rumah ini beralih namaku dan aku juga mendapatkannya, bagaimana?”


“Deal.”


“Deal.”


Keduanya berjabat tangan dan Agen tersebut langsung pergi meninggalkan Nadhira yang masih asik untuk menjelajah rumah barunya yang sangat indah dan mempesona dikedua matanya. Sesampai didalam kamar lantai dua, ia langsung tersenyum membayangkannya saja sangat menyenangkan.


“Aku harus membeli peralatan makan, sebelum pindah kemari.”


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite.

__ADS_1


See you! Thank you! Bye!


Love Rora~


__ADS_2