AISYAH

AISYAH
KSPI 023


__ADS_3

Happy Reading!


Jangan lupa beri tanda like ya.


Support aku juga.


Selesai acara pukul 13.45. Keluarga Ummi Aisyah, Baba Gentala datang meramaikan rumah baru milik Khalid serta Nadhira.


Awal niat keduanya mereka ingin tinggal dirumah milik Nadhira. Namun setelah diperbincangkan kembali akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal dirumah ini yang dibelakangnya ada taman serta rumah mini untuk waktu santai keduanya.



"Rumahnya nyaman sekali.. Khalid, bagaimana kau bisa menemui rumah dan taman seperti tadi?"


"Aku tidak sengaja bertemu dengan pemilik rumah ini teh, Oh iya dimana keponakan rusuhku?"


"Dia tidak mau ikut, karena akan menyesakkan. Huh sebenarnya sifat siapa itu."


"Bukankah teteh dulu seperti itu, setiap diajak acara keluarga selalu berteriak keras dan merasa tidak nyaman namun jika diajak ke mall akan selalu anteng dan kalem."


celetuk adik teteh yang sekarang usianya diatas setahun Khalid dan Kazeem. Sedangkan Azkar hanya diam sembari menyomoti beberapa cemilan yang sudah disiapkan oleh Khalid sebelum menikah.


"Sudahlah diam saja kamu. Biasanya kamu bungkam."


"Ck. Udah yuk pulang."


"Mau kemana? Masih sore juga bang." ujar Lian yang sibuk memainkan game diponselnya.


"Tau, kalian juga belum pada sholat kan? Kita berjamaah aja yuk. Biar Nadhira sama ka Khalid bebersih dulu kalian wudhu lah di teras belakang untuk pria. Kalau cewek dikamar mandi aja ya.." ujar Nadhira yang langsung menarik lengan suaminya untuk ke kamar mereka.



Kamar sepasang suami istri ini didominasikan dark namun terlihat nyaman dan dreamy.


"Mas atau kaka?" tanya Nadhira sembari menatap pria yang sudah menjadi suaminya. Khalid tersenyum manis dengan berjalan mendekati istri mungilnya.


"Mas boleh, Kakak boleh, dan panggilan Sayang boleh banget, dear."


Nadhira tersenyum gugup. "Oke aku panggil honey saja. Manis seperti madu-u."


Khalid semakin mendekat membuat gadis itu melangkah mundur sampai tidak tau bahwa dia sudah terjebak diantara tembok dan pria itu.


"Honey, boleh juga."


"Ho-ney, mau apa sih?"


"Mau ini.."

__ADS_1


Cup!


Nadhira terkesiap dengan aksi Khalid. Ia diam dan merasakan betapa lembut dan tebalnya bibir Khalid yang sudah melum-at dan menji-lati bibir tipisnya itu.


Nadhira mulai mencengkram kemeja khalid bagian dadanya tanda ia sudah lemas. "Nanti kita lanjutkan malam hari oke?" ujar Khalid sembari mengusap lembut bibir tipis istrinya.


"Honey! Kau ingin membunuhku ya??"


Hahhaha..


"Tentu saja tidak honey, tenanglah.. Ayo kita harus cepat. Mereka pasti sudah menunggu."


"Honey saja dulu, aku mau bersihkan make upnya."


"Baiklah. Risleting gaunnya mau dibuka sekalian?"


"Boleh deh."


Khalid pun membukanya dengan lancar, sampai ia menelan ludahnya. "Udah belom? Kalau udah buruan mandinya jangan lupa wudhu."


"I- iya udah kok. Aku mandi dulu ya." Nadhira mengangguk sambil berdehem. Khalid mandi, Nadhira mulai membuka jarum pentul yang masih menempel di kerudungnya.


Selesai melepaskan hijabnya ia memulai membersihkan wajahnya yang tebal dengan make up. "Huh akhirnya selesai juga."


"Tambah seger mandi gih, dear. Aku sudah siapkan air hangat dan aroma vanila serta strawberry di bath up." Ujar Khalid yang sudah selesai mandi dengan handuk menggantung dipinggangnya membuat Nadhira semakin terpesona. "Masya allah Tampannya suamiku." ujarnya membuat muka Khalid memerah karena pujiannya.


"Oke, pasti mereka juga sedang menunggu kita." Khalid mengangguk sambil menatap punggung istrinya yang sudah berlari masuk kedalam kamar mandi dengan dalaman ditubuhnya. Sedangkan gaun pengantinnya dibiarkan dilantai membuat Khalid menggelengkan kepala.


"Saking malunya. Sampai membiarkan bajunya dilantai."


Khalid selesai mengenakan baju santai langsung mengambil sarung serta sejadah jika kurang. Tak lama Nadhira keluar dari kamar mandi dengan bathrobe pinknya.


"Huh Segarnya.. Pakai baju gamis atau baju celana saja ya? Ah Abaya saja."



(Abaya satu ini bener bener inceran aku banget. Yang suka Abaya langsung cus ke ignya aja ya SundaraExclusive ini.)


"Huh memang tidak mengecewakan, selalu bagus dan worth it sekali."


Nadhira setelah selesai langsung keluar dari kamarnya menentengkan mukenanya. Ia bisa melihat bahwa semua anggota keluarganya sedang berbincang di mushola.


Ia tersenyum, dan "Maaf aku lama ya?"


"Oh tenang saja, kita juga lama kok."


"Lama ngantri. hahaha."

__ADS_1


"Baik ayo kita sholat saja, kalau gak muat gelar sejadahnya diluar. Banyak sejadah kok ini."


Nadhira mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. "Iya banyak sekali sejadah, aku sengaja membelinya agak banyakan."


"Good sekali."


Mereka semua khusyuk sholat. Ada beberapa wanita yang sedang halangan dan bertugas menjaga para bocil bocil yang sedang bermain dihalaman.


Selesai sholat ber jama'ah. Beberapa pria langsung keluar rumah menuju halaman. Sedangkan didalam hanya ada om Izak, Bima, suami dari tante bungsunya, dan babanya.


Sedangkan ummi Aisyah sedang menyiapkan bahan bahan untuk barbeque keluarga besar bersama teteh sepupunya, Ka Bina, Ka Mara, Xena dan Clara yang tak lain istri dari bang Bima.


"Ka Clara bagaimana kisah hidup kaka berduaan bersama bang Bima?"


Aisyah tau, Clara sepupu suaminya serta istri abang sepupunya ini tidak bisa memiliki anak, yang mereka urus hanya baby Nikamy saja.


"Alhamdulillah baik syah. Kami berdua sedang senang berkeliling luar negeri. Setelah Nikamy besar sampai sekarang."


"Hebat, iri aku tuh pengen jalan jalan juga tapi lagi sibuk sibuknya ngurusin buyut hehe." balas teteh yang memang putrinya sudah memiliki anak namun cucunya pun sudah memiliki anak pula."


"Cepet banget ya waktu. Teteh udah punya buyut aja."


"Umur berapa sih cucu teteh sekarang?"


"cucu teteh sekarang usianya mau ke 22. Jadi memang dia nikah muda habis lulus SMA dia langsung dilamar sama gurunya sendiri. Heran aku tuh sama jaman sekarang kok nikah muda banget."


"Lebih cepat lebih baik dari pada pacaran dosa mulu yang ada." balas Bina yang fokus membuat adonan pancake untuk cemilan sore.


Nadhira membantu membawa makanan yang sudah ditaruh piring dan mangkuk. Ia membawanya keluar halaman yang sudah siap dengan meja makan serta kursi kursinya yang tadi diangkut oleh para pria.


Para nenek dan para kakek sudah duduk ditempatnya masing masing seperti di sofa bagian luar yang empuk dan tidak keras.


Ka bina datang membawa masakan terakhir. Sedangkan Alesha membawa bahan bahan seperti daging, seafood, serta jagung dan kentang yang akan dibakar.


"Ini tolong kalian bakar ya. Nanti taruh di piring ini untuk daging dan lain lainnya. Diatur serapih mungkin oke?" ujarnya membuat Izak, Fariz, dan Bima mengangguk mengiyakan sedangkan suaminya ka Bina hanya mempersiapkan arang dan daun jeruk agar aroma dagingnya harum jeruk.


"Hemm enaknya eyy, kapan lagi yekan makan bersama keluarga besar kek begini. Saya sih ua sudah tidak bisa jalan kemana mana." ujar ka Mara yang merasa tidak enak meninggalkan papanya dirumah walaupun masih ada mamanya yang menjaganya.


"Tenang bunda, kakek akan aman kok bersama nenek lagi pula kakek nenek tidak sendiri, ada paman juki dan joko yang menjaganya." jawab putra ka Mara bernama Denis.


"Iya bunda tenang kok. Sedikit khawatir."


"Itu karena bunda dan ayah jarang keluar rumah tanpa membawa nenek dan kakek." celetuk Dani sembari memainkan game ocean crush yang mendapatkan cuan dana.


"Sudah hentikan main hpnya. Bantu bantu saudaramu gih.."


"Oke bunda, titip ponselnya bunda." ujar Dani memberikan hpnya lalu berjalan mengikuti abangnya yang sudah duduk santai di dekat abang Azkar.

__ADS_1


--


__ADS_2