AISYAH

AISYAH
(68) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa kasih tanda di ceritaku ya.


Oh satu lagi promosiin dong keteman kalian atau orang yang suka baca diaplikasi hehe.


terima kasih


--


Waktu sudah zhuhur, kedua pengantin itu sudah siap dengan pakaian yang baru, dan aisyah juga menggunakan baju panjang dan celana panjang tanpa jilbab maupun hijab karena dirumah ini hanya ada keluarga intinya saja tidak ada lagi keluarga yang lain.


“Ayo kita turun bi, pasti bunda dan ayah sudah menunggu.”


“Kamu gak pakai hijab?”


Aisyah menggelengkan kepala, “aku dan bunda kalau gak ada keluarga yang lain dan hanya keluarga inti yang sedarah itu gak pernah pake hijab karena mereka sedarah tapi kalau bang Bima itu tentu aku harus jaga jarak karena kita tidak sedarah maksudnya tidak satu susu ibu. Aku mahramnya sama ayah, kedua abang, uwa laki dan pamanku satu lagi yang bersaudara dengan bunda, karena mereka sedarah dan satu ibu susu. Semacam itu.” Jelasnya sembari keduanya menuruti anak tangga menuju ruang makan.


Tala mengangguk mengerti, “jadi jika satu ibu susu itu mahram tapi jika beda itu tidak mahram?”


“Iya betul, maka dari itu kakak atau adik tiri dari anak satu ibu itu muhrim tapi jika satu ayah itu tidak karena kita tidak terhubung sama sekali darah maupun air susu ibu.” (setauku begitu ya.. sepupu dan saudara tiri itu tidak muhrim karena tidak sedarah ataupun satu air susu ibu. Jika salah tolong dibetulkan.)


“Ah akhirnya kalian berdua turun juga, cepatlah melangkahnya perut kami sudah mulai kelaparan.” Ujar bang Izak sambil meledek adiknya. “Tumben pulang? Kukira abang lupa dengan rumah setelah menemukan rumah yang baru.”


“Uhuk! Uhuk!” Izak tersedak daging ayam yang sedang ia kunyah, ia juga kaget mendengar perkataan ceplos sang adik yang tidak berubah sama sekali, “kau tau?”


“Tentu, kan mata-mataku ada banyak, bang Bima, bang Faisal dan bang Azzam. Mereka yang menceritakanku bahwa abang sudah memiliki calon istri, kalau boleh tau siapa calon kakak iparku ini?”


“Adalah, kamu gak usah kepo. Udah ah, abang selesai bun, yah, pamit kekamar lebih dulu ya.” Ujarnya sekalian menghindari dari pertanyaan sang adik sedangkan bang Fariz belum juga pulang dari kerjaanya.


“Bunda tau siapa calon abang?”


Bunda menggeleng, “tidak, sudah lanjutkan sarapan kalian.” Ujarnya sambil mengunyah suapan roti bakar coklat keju, sedangkan dua pria lainnya hanya diam menghabiskan sarapannya.


“Kalian kapan bulan madunya?”


“Em kita sepertinya bulan madu di rumah kami sendiri bun, tapi sebelum itu kami berdua akan menginap satu minggu dirumah bunda dan mom secara bergantian dan seterusnya kami akan dirumah sendiri.”


“Jadi seminggu ini dirumah bunda seminggu lagi dirumah mom? Baiklah bunda titipkan putri mom ya, jaga dia, hargai dia, jika kamu bosan silahkan pulangkan dia kembali dengan cara baik.”

__ADS_1


“Baik bun, tala ngerti, dan tala juga tidak ada niatan untuk berpisah dengan Aisyah, karena bagi Tala, Aisyah adalah hidup Tala sampai akhirat.”


“Uhh sweet! Ayah iri.”


“Seharusnya itu perkataan bunda, yah!”


“heheh.”


Setelah sarapan, Aisyah ikut membantu bunda membersihkan piring kotor mereka semua. Bunda membuka pintu kulkas kemudian mengeluarkan sesuatu dan menuangkannya kedalam gelas bening setelah itu menyeduhnya dengan air hangat sedikit kasih gula di gelas itu. Kemudian menyodorkannya keputrinya.


“Nih minum jahenya dulu biar stamina kamu sedang bergulat dengan suami kembali kuat.” Ujar bunda membuat wajah putrinya memerah. “Bunda ngomongnya suka frontal ya. Tapi Aisyah suka hehe. Jazakillahu khorioh bun. Enak..”


“Tentu enak, udah dikasih gula oleh bunda tadi. Jika tidak dikasih gula, kamu gak mungkin kuat dengan pedasnya.”


“Uhh, nyelekit bun rasanya.”


“Tapi enak kan? Nanti bawa pulang kerumah mom setiap pagi setelah sarapan minum jahe ini biar kamu punya stamina.”


“Iya bunda saat pertama kali sakit banget gak?”


“Pasti sakitlah sampai memar punya bunda gara gara ayahmu itu, tapi dibantu oleh jamu yang nenekmu berikan selalu setiap paginya, bukan jahe ini benar benar jamu untuk merapatkan kembali **** * kita, dan kalau zaman sekarang mungkin sudah ada salap penyembuh untuk **** *, yakan?”


“Sedang ngomongin apa ini? Serius sekali.”


“ABANG!!! KANGENN!!”


“Ya ampun baru beberapa hari gak ketemu udah kangen aja biasanya juga gak pernah. Oh iya bun, didepan ada calon menantu bunda temuin gih, fariz mau ganti baju dulu didepan juga ada ayah dan Tala.”


“Baiklah, biar bunda siapkan minuman dulu dan beberapa cemilan.”


“Biar Aisyah bantu bunda.”


“Kira-kira siapa ya bun? Kok suaranya kayak gak asing.”


Aisyah dengan segera langsung mempercepat langkahnya


dan menatap tak percaya, “jangan bilang…”


“Ka Hanna? Jangan bilang calonnya bang Fariz?” tanyanya langsung dan dihadiahkan jitak cubitan pipi kirinya, “Argh! Sakit, abang Izak!”

__ADS_1


“Dia itu calon abang bukan calon bang Fariz.”


“Loh kok bisa sih, kapan kalian berhubungan? Dan terus siapa yang calon bang Fariz?” tanyanya beruntun seperti kereta sampai sang suami menarik lengannya untuk duduk disampingnya dan untuk diam saja tapi tidak bisa gadis yang menjadi istrinya itu tidak mau diam karena masih penasaran.


“Dia lagi izin keluar ngangkat telepon soal kerjaan katanya.” Ujar ayah. Lalu menatap Hanna, gadis itu masih menunduk malu, “diminum tehnya, jangan nunduk terus nanti mahkotanya jatuh.” Ujar ayah membuat gadis itu mengangguk dan tersenyum malu, “iya om.”


“Oh iya, jangan bilang bang izak dan ka Hanna jatuh cinta setelah tatapan mata di uks itu ya? Saat ka hanna jatuh dan terdorong oleh para wartawan lainnya? Iya gak sih? Kalau benar wah kalian benar-benar gak menganggap diriku lagi dong sebagai adik yang secara tidak langsung menyomblangi kalian.”


“Kamu kenapa sih dek, bawel banget. Jangan bilang udah hamil?”


“Belomlah! Orang baru nikah hitungan hari dan ngelakuinnya juga baru dua hari yang lalu masa iya udah jadi aja. Masih proses bang, dan aku bawel karena isyah gak terima masa iya isyah yang ngenalin abang tapi gak tau apa apa.” Sewotnya membuat izak menghela nafas.


“Loh dimana calonku?” tanya bang Fariz yang sudah terlihat fress, “aku disini. Maaf tadi ada pekerjaan mendadak.” Ujar perempuan itu dan menatap aisyah sampai gadis itu membulatkan mata. “Ka MELAAA!!” pekiknya lalu menghampiri gadis itu dan memeluknya, “kalian bersatu karena isyah ya?”


Bang Fariz sedikit melerai pelukan sang adik dengan calonnya, “bukan, abang ketemu sama Ela bukan karenamu, udah duduk dulu abang mau ngomong.”


“Iya sini sayang, kamu gak pegal apa berdiri terus sini deket mas.”


“Hem, iya.”


Kemudian Fariz pun menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan Mela yang saat itu gadis itu belum diterima dipekerjaannya sekarang, dulu mela adalah sosok gadis yang sangat menyebalkan sudah salah tidak mau disalahkan sampai ada kejadian yang lucu membuat keduanya menjadi saling terikat.


“Jadi sejak itu abang dan Mela memiliki hubungan yang tak lain sepasang kekasih, dan abang juga sudah meminta restu kepada keluarganya dan alhamdulillah seluruh keluarganya menerima abang jadi calon anggota keluarganya. Dan rencananya abang mau ajak sekeluarga kerumah Mela untuk melamar dan membicarakan rencana selanjutnya. Jadi bunda, ayah, izak, dan kamu Isyah, tolong beri waktu libur agar kalian bisa datang menghadiri


pertemuan dua keluarga ini.” Ujar abang Fariz sambil menggenggam jemari halus milik Mela.


“Kami akan usahakan bang. Tenang saja pasti kami semua ada waktu kok.”


“Lalu Izak mau ngomong apa? Katanya ada yang mau kalian bicarakan?”


--


Next..


Vote, Comment, Like, and Favorite.


See you! Thank you! Bye!


Love Rora~

__ADS_1


__ADS_2