
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa kasih tanda kedalam ceritaku ya.
Terima kasih!
Setelah percakapan mengejutkan oleh kedua abangnya, Aisyah hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berfikir, sepertinya takdir ada ditangannya. Bagaimana bisa dua kakak perempuan yang sudah ia kenal itu menjadi calon kakak iparnya seperti ka Mela bertemu dengan bang Fariz dijalanan dengan tabrakan yang tak sengaja, sedangkan bang Izak yang bertemu kedua kali lagi dengan ka Hanna disaat gadis itu sedang kesulitan disuatu tempat yang masih dirahasiakan oleh bang Izak.
Dan kini, aisyah berdiri bulak-balik didalam kamar membuat sang suami menatapnya dengan tatapan pusing, “apa yang sedang kamu pikirkan zawjatii?” tanya Tala yang tadi duduk di pinggir Kasur bangun dan melangkah mendekati istrinya dengan memeluk pinggang istrinya erat agar diam.
“Aku bingung, apa yang harus aku lakukan? Bunda tidak memperbolehkanku untuk turun selain makan bersama atau sholat berjama’ah.” Ujarnya dengan nada bosan lalu duduk diatas pangkuan sang suami dengan santai.
“Kamu bisa kok bermain dengan habibi diatas ranjang.”
“Itu mah mau mu bi. Aku lelah tidak mau bermain diranjang, aku maunya dipeluk erat saja olehmu? Bolehkan?”
“Tentu saja boleh, ayo kita naik.” Keduanya saling memeluk dan mencari kehangatan didalam selimut, cuaca sejak pagi sudah gelap yang tak lain hujan sudah turun semenjak subuh tadi. Dan mereka juga sedang tidak ada kerjaan lain selain dirumah.
“Habibi, isyah boleh tanya tidak?”
“Tanya apa?”
“Habibi ingin memiliki anak berapa?” tanya Isyah yang langsung menundukkan kepala karena merasa panas di kedua pipinya, Tala langsung mengulum senyum, “sedikasihnya saja, dikasih banyak alhamdulillah, dikasih dikit juga bersyukur, yang penting ibu dan anak -anak yang dikandungnya selalu sehat dan tidak kekurangan apapun. Itu yang habibi inginkan.”
Aisyah semakin mengeratkan tangannya di pinggang suaminya, “bismillah semoga kita segera diberikan anugerah ya bi, aku pengen deh gendong bayi sendiri. Aku juga udah pernah belajar gimana memandikan bayi dan merawatnya sampai dia tumbuh seperti ketiga keponakanku.”
“Habibi juga pernah mengurus bayi saat kecil, waktu galen masih bayi, habib yang mengurusnya disaat mom sedang sibuk dengan kembar.”
“Semoga kita sehat selalu sampai punya anak, cucu, dan cicit di masa depan.”
“Amin, ayo kita tidur.”
Kebesokkan di pagi hari, Aisyah langsung duduk dari tidurnya kemudian tersenyum melihat pria yang disampingnya masih terlelap tidur setelah subuhan pria itu mengajaknya kembali bergulat. Jam pukul 8 pagi ia langsung turun dari kasurnya menuju kamar mandi.
Selesai itu ia merapihkan pakaian yang bertaburan dilantai karena lemparan suaminya kemudian ia masukkan kedalam keranjang cuci dan membawanya kebawah untuk dicucikan. Di dapur ia melihat bundanya sedang mencuci piring. “Selamat pagi bunda, maaf isyah terlambat bangunnya.”
“Pagi juga nak, tidak apa, bunda mengerti masih pengantin hangat masih lengket-lengketnya, mau kemana?”
“Mau giling cucian dulu, habis itu mau buat sarapan telor ceplok untuk mas Tala.”
“Yaudah kalau gitu bunda ke kamar dulu ya, bantu ayah beresin kamar.”
__ADS_1
“Oke bunda.”
“Bibi!! Milo!! Kalian kok bebas sih? Apa pintunya terbuka?” tanyanya sendiri saat melihat kedua kucingnya sedang berlarian kesana kemari. “Hei, bibi!! Sini ada makanan nih.. tch tch tch tch… Milooo!! JANGAN MANJAT!!” teriak Aisyah mengejutkan abangnya yang baru saja bangun yang berniat ingin minum teh di taman belakang.
Aisyah dengan cepat menangkap kucing berbulu lebat warna oren putih itu yang nyaris akan kabur. “Huh.. untung masih bisa ditangkep.”
“Kenapa? Mau kabur lagi tuh kucing?” Aisyah mengangguk, “emang pernah mau kabur?” abang Izak mengangguk lalu duduk dikursi santai taman belakang menatap halaman. “Pernah kalau gak salah dua minggu yang lalu.”
“Milo, kamu dihukum gak boleh keluar selama dua hari, didalam kandang ya. Gantian sama sodaramu moka.”
Meongg~
“Ngga, kamu gak boleh lepas. Diem Miloo..” ujar Aisyah membahana dalam kamar kucing, saat Milo memberontak ingin dilepas karena merasa hidupnya akan dikekang.
Klik!
Klik!
Tek!
Pintu terbuka lalu tertutup kembali dan terkunci, Milo yang sudah masuk kedalam kandang langsung meraung-raung meminta tolong kepada saudaranya. Sedangkan Aisyah menulikan telinganya dan memberikan makan serta minumnya agar Milo tenang.
Setelah itu ia menuangkan makanan kedalam tempat makanan para anabulnya yang masih pada bermain dengan benda atau sodaranya. Tak lupa dengan airnya ia mengelus anabul yang mendekatinya. “Sehat sehat ya para anabul.”
Sedangkan Tala, pria itu baru bangun dari tidurnya langsung membulatkan matanya saat tak mendapati sang pujaan hatinya, “aisyah? Kamu di kamar mandi?”
Klek!
“Loh kosong, dia kemana? Atau udah kebawah?” gumamnya lalu mencuci mukanya tak lupa menyikat giginya, setelah itu ia berlalu keluar kamar dan menuruni anak tangga mencari sang istri.
Sampai ia melihat abang iparnya sedang duduk santai di taman belakang dengan teh yang sudah diatas meja. “pagi bang!”
“Pagi Gen. Nyenyak tidurnya?”
“Alhamdulillah nyenyak, isyah kemana bang?”
Bang izak menunjuka kearah pintu kaca, “lagi ngurus anak anaknya.” Belum tala menjawab, teriakan sang istri sudah membahana. “Abang tolong bawain bibi masuk dong!! Dia harus makan dulu.”
“Iya bentar!”
Bang izak melangkah mendekati kucing full oren di tubuhnya sedangkan di wajahnya sedikit berwarna putih, “sini kamu, waktunya makan habis makan beol habis itu minum dilanjutkan tidur deh.” Ujarnya sambil mengelus si bibi. “Bentar ya gen.”
__ADS_1
“Eh iya bang.”
Tak lama Aisyah keluar dari ruangan pintu berkaca itu dan melihat Tala yang sedang memandangi taman belakang dirumahnya. “Loh udah bangun? Mau sarapan bareng?”
“Kamu belum sarapan?”
“belum, tadi niat mau ngegiling cucian dulu eh terganggu karena si anabul satu mau kabur dari rumah.”
“Ya udah aku bantu, aku yang nyuci, kamu yang masak gimana?” Aisyah menggelengkan kepala, “ga usah ini sekalian lewat aja, aku udah isi airnya kok. Tinggal dikasih sabun sama ceburin cuciannya.”
Selesai mesin cuci menggiling baju keduanya langsung masuk kedalam dapur, Aisyah membuatkan sarapan untuk dirinya dan suaminya sedangkan Tala hanya bisa duduk di kursi mini bar tepat depan meja dapur dimana Aisyah memasak.
“Habibi mau nasi goreng telor ceplok kan?” Tala mengangguk, “boleh,”
“Abang juga buatin dong syah, tapi telornya dadar ya.”
“Iya bang-iya, gih mandi yang ganteng katanya mau jalan sama yayang hanna?” ledek isyah. Dibalas meletan oleh pria itu.
“Habibi mau minum apa?”
“Air putih aja.”
“Hangat atau dingin?”
“Hangat.”
Aisyah mengangguk setengah jam nasi goreng buatan Aisyah telah jadi dan ia menaruhnya keatas piring tidak lupa dengan telurnya, sampai bang Fariz datang dengan pakaian formalnya. “Abang mau nasi goreng?”
“Masih ada?”
“Ada.”
“Yaudah boleh.
--
Next...
Vote, comment, Like, and Favorite!
See you! Thank you! Bye!
__ADS_1
LOVE Rora~