AISYAH

AISYAH
KSPI 01


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa beri tanda like dan support untuk ceritaku ya..


NADHIRA KANZA AULIA. Usia 19 tahun yang setelah lulu langsung bekerja karena paksaan dari ibu tiri yang bernama Sinta dan kakak tirinya yang bernama Aurel. Membuat sifat dan sikapnya yang lembut dan ceria berubah seketika menjadi tegas dan dingin.


Mereka selalu membuat Nadhira menjadi pembantu dirumah milik gadis itu sendiri tapi sudah direbut oleh Sinta dan ia memilikinya karena memegang surat tanah serta warisan asli milik ayah Nadhira.


"Heh! Bangun! Kerja sono, biar duitnya buat gua! Buruan bangun!" sentak Aurel membangunkan Nadhira dengan kasar seperti menendangnya dengan kaki ke kedua kaki gadis itu.


"Iya, ka.. aku udah bangun."


"Apanya udah! Lo aja belom melek, buruan! Kalau lo masih mau tidur, pergi sana dari rumah ini." usirnya dan Aurel pun keluar dari kamar usang milik Dhira.


Gadis itu hanya bisa menghela nafas.. "Semangat Nadhir, kamu pasti bisa. Kamu akan menjadi kebanggan mendiang ayah dan bundamu. Kamu harus kuat." lirihnya lalu melipat tikar yang selalu menjadi alas tidurnya.


Sejak ayahnya meninggal, kamar yang awalnya berisi kasur empuk dan beberapa barang berharga menjadi hilang begitu saja akibat Sinta, wanita yang merebut barang kecil dari Nadhira.


"Ayo kita mandi, setelah itu pergi kerja."


Selesai mandi Nadhira memasukkan beberapa baju kusutnya kedalam tas gendongan, ia berencana akan pergi dari rumah mendiang orang tuanya yang sudah diambil alih oleh Sinta.


Ia akan pergi jauh dari sini, dan tidak diganggu lagi. Ia berharap kekasih dari ibu tirinya tidak mengetahui rencananya untuk pergi. Karena itu akan membuatnya kesulitan untuk pergi kemana mana.


KHALID MALIQ GENTALA ALEXANDER. Pria yang baru saja bangun dari tidurnya langsung turun dari ranjang king sizenya kemudian pria itu menyugarkan rambut panjangnya kebelakang dengan jemari besarnya itu.


Pria berusia 26 tahun, sudah sangat mandiri karena ia tinggal sendiri disebuah rumah miliknya yang ia beli dari hasil kerja kerasnya.


Pria itu Khalid, putra sulung dari Aisyah dan Gentala. Khalid memiliki perusahaan teknik mesin yang berurusan dengan kendaraan seperti mobil, truk, bus, serta motor unik dan antik.


Layaknya bengkel besar jika itu benar. Nama perusahaan yang Khalid buat tak lain KhaMGA grup. Ia masuk kedalam kamar mandi membersihkan tubuhnya dan langsung memulai aktifitasnya.


Saat ia sedang mengenakan kemeja hitam, ponselnya berbunyi dan menampilkan dilayar yang tak lain sang ummi Aisyah.


"Halo, ummi? Assalamualaikum! Ada apa pagi pagi udah nelpon?"


"Kamu sedang siap-siap?"


"Iya ummi, kenapa gitu?"


"Nanti sore bisa pulang kerumah gak? Nanti Kazeem sama Aulian bakal jemput adik kamu Alesha dari asramanya."


"Oh udah tanggalnya ya mi?"


"Iya, bisa gak?"


"Insya allah bisa mi.. Nanti Abang hubungin kalau udah otw kerumah."

__ADS_1


"Ya udah itu aja, jangan lupa sarapan dan sholat tepat waktu oke? Assalamualaikum."


"Oke ummi, Waalaikumsalam."


Ponsel ia taruh kembali di meja dan melihat tanggal didinding, "oh pantes udah gak kerasa udah 5 tahun aja Lesha disana."


Setelah itu ia keluar dari kamarnya mengantongi ponsel dompet dan kunci mobil. Ia melangkah menuruni tangga menuju dapur yang ternyata sudah disiapkan oleh bibi ART yang hanya datang dipagi hari lalu pulang disiang hari.


"Maaf tuan, bibi hanya bisa memasak nasi goreng saja. Karena bahan bahan dikulkas sudah menipis."


"Iya bi, gapapa. Nanti khalid yang beli saja sekalian pulang kerumah ummi."


"Baik tuan."


"Sudah berapa kali Khalid bilang gak usah manggil tuan atau den segala, panggil nama aja. Bibi kan termasuk nenek dari rumah ummi yang dulu pernah ngasuh khalid sama adik adik dirumah granma."


"Baik nak khalid, bibi pamit kebelakang dulu ya."


"Iya, Khalid juga habis sarapan langsung berangkat ya bi. Jangan lupa kunci pintu."


"Baik nak."


--


"Selamat datang, silahkan menikmati makanan kami tuan, nona.."


Beberapa menit kemudian, "Hey, Nad, kau dipanggil untuk menghadap ke. pak Tio."


"Hem, kau yakin akan keluar dari resto ini?"


"Hem, aku sudah lelah untuk hidup ditekan dan dijadikan budak oleh mereka. Dan mereka dengan enaknya berfoya-foya dengan hasil kerjaku."


"Ya, mereka pantas untuk mendapatkan hal kasar setelah kau pergi. Hati-hati dan berbahagialah."


"Thanks Rara."


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


"Siang pak."


"Siang, silahkan duduk."


"Nadhira, kamu pasti tau kan kenapa kamu dipanggil?"


"Iya saya tau pak. Soal pengunduran diri saya?"

__ADS_1


"Ya, tapi mohon maaf Nad, saya tidak bisa menerima unduran diri kamu."


"Kenapa pak?"


"Kakak kamu, berutang dengan saya, dia mengatakan kamu akan bekerja dengan saya sampai utangnya lunas."


Deg!


"Saya gak punya kaka. Dia bukan kakak saya." ujarnya dingin membuat pak Tio mengerjapkan kedua matanya, tanda tidak percaya dengan sikap Nadhira yang berubah secepat ini. "Jika anda menolak saya keluar, kenapa anda tidak menolak permintaan wanita itu apa karena dia simpanan anda jadi anda seenaknya mengikuti perkataannya. Bagaimana jika nyonya tau tentang hubungan anda dengannya?"


"Ba-bagaimana kau tau?"


"Saya tidak bodoh pak, hanya saja saya hanya melakukan hal yang malas dilakukan, jika anda menolak saya untuk tidak keluar dari resto anda, saya akan memberi tau tentang hubungan anda kepada nyonya, anda tau sendiri sifat dan sikap nyonya bagaimana lebih dari saya."


"Memang kau memiliki bukti?"


"Tentu saja, kan saya sudah berkata saya memiliki bukti, yang akan menjatuhkan anda dengan wanita itu secara bersamaan. Pilih yang mana, membiarkan saya keluar dan utang yang wanita itu dia sendiri yang bayar, atau saya tetap bekerja disini tapi bukti semua hubungan anda dengan wanita itu diketahui oleh nyonya?" tawar Nadhira dengan sikap dingin dan tegasnya.


"Baiklah, kau bisa keluar dari resto saya, tanpa pasangon?"


"Baik saya kan memberi tau kepada nyonya."


"Hentikan, saya akan mengirimkan uang pasangon kerekening."


"Rekening siapa? Saya tidak punya rekening, langsung saja berikan apa tidak bisa?"


"Baik," pak Tio mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang beberapa ratus ribu dan meletakkannya di meja. "Sesuai gajimu 3,5 juta tidak kurang tidak lebih."


"Baik, terima kasih atas semuanya, pak Tio. Saya permisi."


Nadhira mengantongi uangnya bukan kedalam saku celana atau saku kemejanya, melainkan kedalam bh yang ia pakai agar tidak ada yang bisa mengambil atau mencurinya.


"Ah satu lagi, jangan pernah katakan kepada wanita itu jika aku keluar dari resto ini. Jika anda mengatakannya aku membongkar semuanya."


Brak!


"Sial! Gadis itu lebih licik daripada wanita itu."


"Baiklah Aurel, utangmu bayarlah dengan tubuh indahmu itu. Dan semua akan lunas. Dan aku puas."


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite.


See you! Thank you! Good bye!

__ADS_1


Don't forget to like this story.


Love Rora~


__ADS_2