AISYAH

AISYAH
KSPI 010


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa beri tanda like disetiap ceritaku.


Support aku juga!


--


“Khalid! Kapan kamu pulang nak?”


“Oh bunda? Tadi pagi banget khalid baru pulang, kangen masakan ummi Aisyah hehe.” Ujar pria itu dengan cengiran manisnya.


“Kamu ini, lalu kapan calon menantu ummi datang?”


“Ah, kalau itu mungkin ummi harus menunggunya lebih lama lagi. Dia kabur soalnya.”


“Kok bisa kabur?”


“Entah, dan dia juga disembunyikan oleh keponakan ummi itu.”


“Azkarnandi?”


Khalid mengangguk, “iya siapa lagi sepupu ummi yang namanya Azkar?”


“Kenapa dia menyembunyikan calon menantu ummi? Panggil dia, ummi mau bicara.”


“Oke.”


Ummi melangkah keluar kamar putranya dan dikejutkan dengan kehadiran Azkar, anak abangnya yang sedang dibicarakan olehnya. “Halo ummi?”


“Sini dulu ikut ummi bentar.”


Azkar mengernyit, “ada apa mi?”


“Duduk dulu.” Ujar ummi mengajak keponakannya masuk kedalam ruangan santainya. “Kamu beneran menyembunyikan calon menantu ummi?”


“Hah? Siapa? Siapa yang menyembunyikan siapa?”


“Itu loh, gadis yang dibantu sama Khalid.”


“Ah, Nadhira? Dia buka aku sembunyiin mi, Cuma dia yang menyembunyikan dirinya terlebih dahulu sebelum ditemukan oleh Khalid.”


“Kenapa dia malah pergi?”


“Mungkin ada yang harus ia kerjakan mi. tenang aja dia pasti akan muncul kembali.” Ummi menghela nafasnya, “apa kamu punya fotonya?”


“Ada, ummi mau?”


“Mau.”


Azkar mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan selembar foto yang berisi satu keluarga. Salah satunya gadis itu sendiri. “Dia Nadhira?”


“Iya ummi, dia Nadhira nama panjangnya lupa siapa gitu kalau gak salah. Nadhira Kanza Aulia. Ah itu nama panjangnya.”


“Nadhira Kanza Aulia, indah namanya seperti senyumannya,."


"Namun, hidupnya tidak seindah itu ummi. Saat aku mencari tahu, ternyata orang tuanya sudah meninggal, tapi sebelum itu ayahnya menikah lebih dulu setelah kehilangan istrinya, nikah kembali bersama wanita bernama Sinta yang memiliki anak perempuan bernama Aurel."


“Lalu apa lagi?”


“Si sinta ini, yang tak lain ibu tirinya mau ngerebut harta warisan yang dimiliki oleh ibunya Nadhira, tapi sayangnya dia gak tau dimana tempatnya begitu pula ayahnya Nadhira.”


“Setelah ayahnya meninggal, Sinta langsung bawa pria yang tak lain pacarnya katanya kedalam rumahnya, Nadhira gadis berhijab itu Sudah malas dan lelah mengurusi kedua orang tidak tau diri itu langsung membawa semua harta peninggalan bundanya dan bertemulah Khalid dan diriku yang membantunya membantu menjualkan rumah tersebut.”


“Maka dari itu ia kabur setelah mendapatkan tempat baru begitu?”


“Iya, seperti itu kurang lebih ummi.”

__ADS_1


“Ya ampun jahatnya mereka. Setelah rumah itu dijual mereka diusir dong?” Azkar mengangguk, karena tidak mungkin ia mengatakan bahwa mereka dijual dan dijadikan budak.


Bisa bisa dia dibabat oleh ummi Aisyah belum lagi dengan ceramahannya yang Panjang kali lebar tanpa ada tanda titik komanya.


“Ya sudah kalau begitu, kamu bisa keluar. Makasih ya sudah meluangkan waktumu.”


“Sama sama ummi, santai saja sama Azkar mah. Azkar izin kekamar Khalid yang ummi.”


“Hem.”


Azkar melangkah pelan menuju kamar sepupunya namun ditengah jalan ia bertemu dengan sepupu manisnya yang tak lain Alesha Zahra. Sepupu cantiknya itu semakin dewasa semakin terlihat auranya. “Ka Azkar?”


“Hai?”


“Dari mana?”


“Ruangan ummi,”


“Mau kemana?”


“Kamar Khalid.”


“Yaudah kalau gitu, lesya ke kamar dulu ya. Mau ganti baju.”


“Emang habis ngapain?”


“Habis kerja kelompok sama yang lain. Dah ka.”


“Dah..”


“Huh,.. coba saja dia bukan sepupuku, sudah ku gebet kali. Lesya lesya, cantik banget sih jadi cewek.”


“Suka ya lo sama adikku?”


Bisik Khalid yang tiba tiba muncul didekat telinganya. Azkar terkejut, “kau mengagetkanku. Kenapa tiba -tiba?”


“Ah maaf lupa,”


“Lalu mana foto yang ku minta?”


“Ah itu..” Azkar bingung harus berkata apa karena foto itu sudah ia berikan kepada sang ummi. “Maaf banget nih, sepertinya kau tidak bisa memilikinya.”


“Kenapa memangnya?”


“Ummi Aisyah mengambilnya, dia memintaku untuk memberikannya kepadanya.”


“Ah.. kau ini! Apa tidak ada lagi?”


“Tidak. Hanya itu saja yang tersisa sebelum laptopku meledak.”


“Berarti memang ada orang IT disampingnya begitu?”


Azkar mengangguk, “bukankah kemarin kau mengatakan bahwa nomernya masih aktif?”


“Ya, namun setelah itu tidak bisa dihubungi kembali.”


“Lalu apa yang akan kau lakukan jika sudah bertemu dengannya? Tidak mungkin kau hanya menahannya untuk tidak pergi dari hidupmu bukan?”


“Aku ingin melamarnya.”


“Benarkah?”


“Hem.”


“Kau ingin kisahmu disingkat begitu saja?”


“Tentu, aku tidak ingin Panjang seperti kisah ummi dan abiku.”

__ADS_1


“Kau ini, simple sekali.”


“Tentu, aku manusia anti ribet, dan pasangan ku sepertinya sama sepertiku anti ribet.”


“Ya, baiklah, kau tunggu saja sampai dia datang didepanmu. Jangan sampai kau mencari gadis baru saat dia ada.”


“Tidak akan. Aku selalu berkomitmen dengan pilihanku sendiri.”


“Good.”


Ahchuu! Ahchuu!


“Ekhem. Maaf, silahkan dilanjutkan.” Ujar Nadhira setelah bersin, ia merasa tidak sedang flu namun kenapa hidungnya sangat gatal?


“Jadi bagaimana menurut anda nona dengan design yang kami buat? Apa mengesankan atau biasa saja?”


“Menurutku ini sudah bagus tapi bisakah kalian memberikan penutup botol itu dengan simple jangan berbelit seperti itu, jika sedotannya seperti itu kapan air itu masuk kedalam tegukkan kita? Kita sudah kehabisan nafas dengan menyedot air itu dengan spiral sedotan.”


“Cukup di simplekan saja. Ya.”


“Baik nona.”


“Botol itu sangat menarik, namun sepertinya hanya kepada anak anak diluar sana. Bukan untuk para orang dewasa jadi buat botol tersebut dengan tatapan menarik untuk semua umur.”


“Baik tuan.”


“Baik, hari ini cukup sekian dan Terima kasih untuk tuan Gentala. Lalu tuan Galaksi. Begitupula dengan kalian semua. Terima kasih kerja keras kalian, semangat kembali! Saya permisi.” Pamit Nadhira kemudian menunduk sopan kepada semua orang yang berada disana ia kembali menuju ruang kerjanya karena ia ingin meregangkan tubuhnya.


Baru saja ia ingin melakukan peregangan tersebut, pintunya sudah diketuk oleh ka Dami. “Maaf mengganggumu, ada yang ingin bertemu denganmu?”


“Siapa?”


“Tuan Gentala nona.”


“Suruh masuk, jangan lupa tawarkan minuman atau cemilan.”


“Baik nona. Silahkan masuk tuan.”


“Selamat sore, nona Nadhira? Maaf saya mengganggu waktumu.” Gadis itu menggelengkan kepalanya. “ah tidak, tolong jangan panggil diriku nona,. Panggil nama saja cukup. Dan anda juga tidak menggangguku kok.”


“Kalau begitu apa saya boleh memanggilmu nak Dhira?”


“Tentu saja. Apa aku juga boleh memanggil anda dengan sebutan paman?”


“Silahkan, tidak ada yang keberatan, malah saya ingin sekali kamu memanggil saya baba.”


“Baba?”


“Iya, seperti panggilan papa atau ayah.”


“Bolehkah? Apa tidak sopan?” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya gadis ini merindukan sosok ayah dihidupnya. “Tentu saja boleh, tidak sopan apa nya kau seperti putriku apalagi dirimu seperti seumuran dengan putriku.”


“Terima kasih, baba. Karena baba sudah menganggapku sebagai putrimu.”


“Haha, jangan menangis. Baba kemari bukan ingin membuatmu menangis.”


“Ah maaf, aku cukup terharu. Lalu ada apa baba tala kemari?”


“Aku ingin bertanya, apa kamu mempunya kekasih?” Nadhira mengernyit bingung lalu menggeleng, “saya belum mempunyainya memang ada apa?”


“Hah.. baba memiliki seorang putra namun putra baba ini disuruh nikah bilangnya nanti-nanti. Karena ia mengatakan sudah memiliki sosok gadis namun gadis itu kabur.”


“Loh kabur kemana?”


“Dia kabur, setelah mencairkan harta warisan orang tuanya, kabur kemana putra baba tidak mengetahuinya.”


‘Loh, kok persis seperti ceritaku?’ batin Nadhira yang terdiam setelah baba bercerita.

__ADS_1


--


__ADS_2