AISYAH

AISYAH
KSPI 021


__ADS_3

Happy Reading!


Jangan lupa beri tanda like ya.


Support aku juga.


Nadhira melangkah mendekati ummi dan abi yang sedang mesra disebuah outlet disampingnya Khalid yang hanya bisa menatap malas sang abinya.


"Ummi, dhira sama a'alid mau ke outlet SE dulu. Ummi mau ikut atau nyusul aja?" tanya Nadhira meminta saran kepada calon ibu mertuanya.


"Tentu, ummi akan ikut. Setelah abi selesai membayar belanjaan kita."


"Oke, biar kami berdua menunggu ummi didepan ya. Jangan keseringan mesra, iri khalid."


"Sabar nak, tinggal hitungan hari. Kamu akan disegerakan kok niat sakralnya."


"25 hari masih lama mi."


"Udah ayo, abi udah bayar semuanya. Mau kemana lagi wahai kaum Hawa?"


"Kami ingin ke outlet SE wahai kaum adam. Ayo nak, tinggalkan saja dua pria berbeda usia ini untuk berdiri dibelakang kita."


"Iya ummi. Lets go!!"


"Lets go!!! 가보자구!!¹"


 ---


H-2.


Khalid dan Nadhira dilarang untuk bertemu atau keluar rumah. Karena mereka sedang dipingit jika orang jawa berkata.


Mereka hanya ingin menyembunyikan calon para pengantin agar tidak keluar rumah untuk menghindari apa yang tak diinginkan atau tak diharapkan oleh mereka semua.


Jadi Khalid terpaksa bekerja melalui laptopnya yang juga harus disita namun karena ini kepentingan kerja, ia pun duduk diruangan perpustakaan milik keluarganya dijaga oleh sang adik tersayang Alesha yang juga sedang bekerja.


"Dek, Dek Lesya? Dekk!!"


"Apa abang? Apa ?? Gak lihat Lesya lagi ngapain?"


"Ya maaf, abang cuma mau nanya. Kamu bisa gak ngechat calon kakak ipar mu?""


"Memangnya laptop abang kenapa kok gak lewat disitu aja?"


"Gak dibolehin sama ummi, apalagi onty Hana."


"Ribet ya mau nikah aja. Tapi ada bagusnya kalau baru ketemu pas pernikahan malam pertamanya pasti menggebu gebu yakan?"


"Tau aja kamu, anak kecil tau apa soal malam pertama?"


"Tau aja, Lesya kan walaupun mondok tetep suka baca novel percintaan yang kebanyakan selalu ada MP nya dibeberapa bab."


"Kamu baca novel dewasa Lesya?"


Gadis itu hanya meliriknya lalu mengangguk pelan. "Ya kadang kadang kalau sempet ya baca."


"Dasar bandel, udah buruan bilangin dia. Abang kangen, mau dengerin suaranya sebentar."

__ADS_1


"Eleh, tunggu bentar." Lesha mengotak atik ponselnya namun nomer yang dituju sedang tidak aktif. "Gak aktif bang nomernya."


"Kok? Coba lagi." Lesha menurut namun udah berkali kali nomer itu sedang tidak aktif. "Gak aktif bang, udah ah Lesya mau lanjutin kerjaanya. Jangan ganggu ya abangkuh.."


Sedangkan Khalid hanya bisa menggaruk belakang kepalanya dengan kasar, "kamu sebenarnya kemana sih yang? Kangen tau gak sih.."


Berbeda dengan Khalid yang sedang frustasi, Nadhira, gadis itu sengaja mematikan wifi serta menghidupkan aerplane mode yang membuatnya tetap tidak bisa dihubungi.


Ia sedang mempercantik diri bersama Wendy, Arsyi serta Dami. Ia di lulur serta wajahnya dipakukan masker tak lupa dengan kedua matanya yang ditutup ole potongan tipis timun oleh ketiga gadis itu.


"mmhhmm.."


"diam mulutnya jangan gerak gerak. Habis ini kita mandiin pakai air susu, madu dan mawar." omel Wendy.


"Iya nanti kita mandiin kaka, terus kita gosók punggung kaka, siapa tau kita dapet daki."


"hmm."


"Nona, ponsel anda sudah dimatikan?" tanya Dami yang diangguki oleh Nadhiranamun langsung diomeli oleh Wendy, "ih jangan ngangguk! Maskernya nanti pecah.. Diam, dan Kalem oke.."


"hm."


Dua jam kemudian, Nadhira sudah glowing, kulitnya semakin cerah serta lembap. Ia tersenyum bersyukur, memiliki teman dan keluarga seperti tiga gadis tersebut.


"Wihhh cakep udeh cakepp.. Oh iya nanti setelah nikah kaka tinggal dimari atau rumah baru?"


"Belum tau, belum diobrolin lagi. Tapi kayaknya aku mau dirumah keluarganya aja deh. Mau pedekate sama anggota keluarganya yang lain."


 


Nadhira mulai menyiapkan keperluannya, ada kemungkinan dia tinggal dihotel untuk beberapa hari, dan pulang kerumah keluarga suaminya.


"Hahh... sehari lagi.. Semangatt Nadhira! Pasti kamu bisa."


Jantung Nadhira berdetak lebih kencang dari biasanya dan dia merasa gugup. "Uhhh astaghfirullohaladzim, Ya allah lancarkan acara sakral kami berdua yaallah.." gumamnya lalu iya memejamkan kedua matanya tanda ia sudah terlelap.


Sedangkan Khalid dipaksa untuk maskeran dengan bahan bahan yang tidak ia ketahui yang pastinya para sepupunya sedang berkumpul didalam kamarnya.


"Pake apa aja sih baunya kok kek nasi basi."


"Udah gak usah banyak protes. Diam aja, tidur juga boleh. Kita kita yang nyuci muka kamu ntar." ujar abang ipar dari teteh sepupunya yang sedang mengipasi masker diwajahnya.


"Yaudah khalid tidur ya. Awas aja ninggalin, jangan lupa cuci muka khalid biar gak kaku pas bangun."


"Iye bawel lo ah."


Khalidpun tertidur, setelah itu para sepupunya memulai membasuh wajah Khalid menggunakan handuk basah.


Sedikit demi sedikit wajah Khalid terlihat cerah dan bersih, kemudian adiknya memberikan toner atau serum untuk wajah abangnya agar dipagi hari semakin glowing."


"Cantiknya abangku. Selamat tidur abang." gumam Alesha diikuti yang lain sembari keluar dari kamar calon pengantin pria.


Kebesokkan pagi jam 3. Nadhira sudah disibukkan dengan persiapan demi persiapan. "Ayolah, izinkan aku makan. Laper nih.."


"Yaudah kakak boleh makan, solat tapi sebelum itu mandilah agar terlihat segar."


"Oke, aku sholat tahajud dulu bentar."

__ADS_1


"Biar kakak masakin kamu ya." ujar Wendy yang langsung diangguki oleh Nadhira. Begitupula Arsyi mengikuti Wendy diikuti oleh dua perias.


Selesai makan, sholat, akhirnya Nadhira anteng duduk didepan meja rias.Ia sudah melihat bahwa wajahnya sudah full of make up.


Dengan gaun yang ia inginkan. Berwarna Sage dari gaun, hijab, mahkota, bunga, serta sepatu yang ia gunakan berwarna hijau.




Dirumah yang berbeda, Khalid sedang berlatih menghafalkan kalimat ijab kabul. Ditemani dengan kembarannya serta adiknya yang tak lain Lian.


Kazeem hanya bisa tersenyum melihat abangnya yang sebentar lagi akan menjadi pasangan serta suami idaman untuk calon kakak ipar nya.


"Aku penasaran, seperti apa wajah calon kakak iparku." ujar Lian yang memang belum mengetahui siapa Nadhira itu.


"Kau akan mengetahuinya lian. Dan apakah kamu sudah memiliki kekasih?"


Lian menggeleng, "tentu saja belum. Aku tidak ingin memiliki kekasih sebelum ka Lesha memiliki pengawal penggantiku." ujarnya dengan serius.


"ck biasa saja raut wajahmu."


Tok! tok! tok!


"Masuk!"


"Abang apa kau sudah selesai?" tanya Lesha kepada abang Alid. "Sudah kenapa?"


"Ayo kita berangkat, kata ummi kita harus lebih dulu datangnya dari pada pengantin perempuan."jelasnya yang langsung diangguki oleh Khalid.


"Oke, tunggu dek. Bagaimana penampilan abang? Apa terlihat keren?"


"Ganteng! Luar biasa ganteng. Abangku memang tampan jika mengenakan pakaian formal."


"Lalu jika tidak mengenakan formal, abang tidak tampan?"


"Tidak, abang terlihat buluk. Hahaha." ujar Lesha sebelum diamuk gadis itu lebih dulu kabur. Sedangkan Khalid hanya bisa menghela nafas. Beda dengan Kedua sodara laki lakinya yang sedang senang menertawainya.


"Diam Kazy! Wajahmu sama dengan ku berarti Lesha juga menyindir dirimu."


"Oh tentu tidak, Khalid, kau kan tau aku tidak pernah bergaya santai sepertimu yang selalu menggunakan celana robek robek seperti kau terjatuh dari langit kemudian terkena ranting dipohon."


"Ck. Sudahlah. Apa kalian belum selesai? Ummi dan Baba sudah menunggu ayo kita keluar."


Khalid dan Kazeem mengikuti Aulian yang sudah berjalan menuju anak tangga. yang dimana mereka bisa melihat ummi mereka sedang berdiri didepan pintu dengan wajah sebal.


"Kalian itu gimana sih? Udah jam segini masih aja bergosip. Udah buruan masuk. Ummi takutnya Nadhira sudah sampai di lokasi."


"Tenanglah sayang, Nadhira baru saja selesai berhias. Baba tadi dihubungi oleh asistennya Mario."


"Baguslah.."


ucap ummi dengan lega, sembari mengelus dadanya yang terasa ringan dari sebelumnya.


 


--

__ADS_1


__ADS_2