AISYAH

AISYAH
(61) AISYAH


__ADS_3

***Happy Reading Semuanya! ***


Jangan lupa dengan jejak kalian diceritaku ini ya.


terima Kasih!--


“Oke Cut!”


“Wah akhirnya kelar juga syuting, aku masih gak nyangka loh para pemain bisa begitu professional sampai kita kelar syuting diawal jadwal apalagi besok sudah hari terakhir puasa, padahal banyak loh para pemain yang selalu salah karena laper atau kurang fokus dan ini adalah rekor paling tinggi para pemain salahnya hanya satu ada dua kali.” Uajr para staff yang benar benar kagum dengan kemampuan acting para artis.


“Iya, apalagi Aisyah, ia adalah artis baru yang sangat mendalami perannya menjadi gadis yang jatuh cinta kepada kakak iparnya sendiri.”


“Gila sih, aku salut sama mereka semua, yang kita kirakan jadwal syuting akan berakhir di bulan depan dan ternyata bisa berakhir secepat ini? Wow, aku terkesima.”


Para staf mengangguk puas dengan ending yang berada didrama itu, biasanya mereka akan berakhir syuting dua bulan atau lebih tapi karena mereka semua mengejar target jadi akhir syuting kelar di bulan kedua awal.


“Kalian sungguh memuaskan dan hebat, tidak ada kesalahan yang sampai ulang berkali-kali. Bagaimana jika kita makan besar? Merayakan hari terakhir kita syuting bersama.”


“Boleh tuh, aku akan datang nanti om.”


“kami pun.”


“Em, maaf nih, aisyah gak bisa ikut karena sudah ada janjian sama bunda harus tepat waktu pulangnya.” Ujar aisyah kepada yang lain, dan kebanyakan dari mereka menatapnya dengan raut sedih. “Maaf ya, kali ini aku gak bisa ikut, gapapa kan om?”


“Oh ya, sayang sekali, tapi baiklah silahkan pulang pasti bundamu sudah menunggu.” Gadis itu mengangguk lalu berpamitan oleh semua orang dan berkata pulang lebih dulu. “Aisyah! Tunggu!”


“Aisyah!” panggil seseorang dilorong gedung hiburan. Gadis itu membalikkan badannya lalu tersenyum, “ada apa ka?”


“Ini, aku boleh minta nomor mu?” Aisyah mengangguk lalu mengambil ponsel milik Geovano Muhammad. Kemudian gadis itu mengetik nomornya lalu di simpan, “ini udah ka.”


“Oh oke, terima kasih. Kau akan pulang?” gadis itu mengangguk, “ya, karena sudah ditunggu oleh bunda.”


“Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan.”


“Baik, aku duluan ka, assalamualaikum!”


“Waalaikumsalam, heh akhirnya ku dapatkan nomormu, setelah nomormu akan kudapatkan dirimu menjadi milikku, Aisyah.” Gumamnya tanpa didengar oleh siapapun karena dia berdiri ditempat sepi menatap punggung mungil Aisyah yang menghilang dibelokkan.


Aisyah menunggu jemputanya, kali ini bukan sang sopir atau ka Azzam melainkan mobil jeep berwarna maroon berhenti tepat didepannya lalu keluarlah seorang pria membuatnya membulatkan mata, “mas Tala?”


“Hai? Aku gak terlambat jemput kamu kan?” tanya pria itu yang dibalas dengan gelengan oleh gadis itu, “ngga, karena aku baru keluar. Kok kamu yang jemput mas?”


“Aku suka deh panggilan kamu ke aku, mas, rasanya udah gak sabar untuk ngikat kamu dengan status sebenarnya.” Ujar Tala tanpa menjawab pertanyaan gadisnya itu. “Apa sih. Jangan ngeledek deh aku belum kebiasaan manggil kamu dengan mas.”


“Iya eh, humairahku.”


“Eh?”


“Masuk yuk besok pagi mungkin kita harus sholat eid, lagi pula kalau lama lama nanti dilihat orang kamu ngomel lagi.” Ujar Tala mempersilahkan gadisnya masuk kedalam mobil dan dia langsung mengelilingi mobil lalu masuk kedalam mobil. Tanpa mereka sadari ada beberapa kamera memotret keduanya lebih tepatnya kearah gadis itu.

__ADS_1


“Wah kita dapat berita eklusif nih.” Ujar paparazzi itu, yang langsung diangguki oleh partnernya. “Kau benar, dan aku penasaran siapa pria itu? Dia bukan kedua abang gadis itu maupun manager ataupun asistennya. Bisa dipastikan bahwa pria itu adalah pria masa depan gadis kesayangan kita.”


“Hah.. umurnya masih muda dan dia alim, pastinya lebih memilih untuk menunjang ke status yang lebih serius. Jangan bilang?”


‘menikah?’


“Huaaa!! Aku tidak kuat untuk patah hati!”


“Akhh hatiku retak.”


“Ayo kita pulang sebelum menangis di semalaman.” Ujarnya dengan bangkit dari duduknya lalu melangkah dengan lesu diikuti oleh temannya dengan cemberut. “pria itu sangat beruntung.”


“Ya, sangat sangat beruntung.”


Kebesokkan siangnya setelah pulang dari sholat eid. Aisyah sudah siap untuk acara konverensi pers drama Love starts with hate. Yang di mainkan oleh Renata, Geovano, Aisyah, dan Kakek Bisma. “Ayo kita masuk, sudah siap semuanya?” tanya Om Gara yang melihat kegugupan Aisyah calon istri keponakannya.


“Bismillah siap.”


“Tenanglah, om sudah mengatakan untuk meminimkan flash kamera,”


“Makasih om hehe.” Ujar Aisyah membuat yang lain tersenyum, lalu om Gara melangkah lebih dulu diikuti oleh Kakek Bisma, Aisyah, Renata dan Geo yang berjalan di belakangnya. “Selamat pagi semuanya! Apa kabar?”


“Pagi juga om Gara, kami semua baik. Silahkan duduk dibangku masing-masing.” Ujar MC yang akan membantu mereka berlima. Sekaligus membantu untuk melancarkan acara ini.


“Baik, silahkan para kakak-kakak yang hadir disini, bertanya lah tentang drama mereka. Setelah mereka sudah selesai berbicara ya..”


“Siapa pria yang menjemputmu, Aisyah?” Gadis itu langsung menatap pria yang bertanya membuat dirinya mengernyitkan dahi, “maksudnya?”


“Pria semalam yang menjemputmu dari gedung hiburan? Apa dia seseorang yang harus dirahasiakan? Atau seseorang yang memang special dihatimu?” Gadis itu langsung tau apa maksud dari kelanjutan pria itu.


Aisyah mengangguk paham kemudian ia menatap kakek Bisma dan om Gara secara bergantian, keduanya mengangguk lalu tersenyum menatap pria itu dengan tatapan manisnya, “em, sejujurnya ini masih harus di rahasiakan tapi karena kecerobohan kami sepertinya sudah tidak bisa dirahasiakan lagi ya?”


Tatapan tatapan penasaran terlihat di wajah para kakak wartawan begitupula dengan Renata dan Geovano yang juga penasaran apa yang ditanya oleh wartawan tersebut. “Sebenarnya, kebenarannya adalah bulan depan insyaallah aku dan dia akan menyelenggarakan pernikahan kami berdua. Untuk siapa prianya, aku akan selalu merahasiakannya karena aku tidak mau para wanita diluar sana mengganggu atau melihat apa yang sudah menjadi milikku.”


“Wahh!!”


Banyak yang menyerbu Aisyah dengan pertanyaan-pertanyaan yang lumayan membuatnya sedikit pusing, beda dengan Geovano yang merasakan patah hati sebelum berjuang. Ternyata gadis yang ia cinta pada pandangan pertamanya itu sudah memiliki sosok pendamping.


“Kapan dan tanggal berapa kalian akan menikah?”


“Hem bulan depan tanggalnya diperkirakan 26 atau 27? Hem masih kita bicarakan antara dua keluarga.”


“Mengapa kamu memilih untuk menikah diusia muda?”


“Em buat apa untuk pacarana sebelum menikah? Dia, pria dewasa dan aku juga sudah bisa berpikir dewasa, jadi untuk apa mengulur waktu jika kita sudah siap mengapa tidak disegerakan?”


“Kami juga ingin menghindari dari beberapa gossip yang akan menjatuhkan kedua dari kami.” Lanjutnya yang langsung disetujui oleh yang lain, sampai dirinya diberi ucapan selamat untuk pernikahan mereka dan doa untuk kelancaran keduanya.


“Terima kasih atas doanya, semoga doanya berbalik kalian semua.” Ujarnya dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


“Apa ada pesan untuk calon suami?”


“Hem, ada. Apa boleh?”


“Silahkan.”


Aisyah menatap kamera didepannya lalu tertawa malu, “ah maaf, em mas? Maaf nih aku telah ketahuan oleh mereka tentang hubungan kita selanjutnya. Mungkin kita harus bersembunyi di tempat yang tidak diketahui oleh yang lain hehe. Em, mereka mendoakan kita agar acara pernikahannya lancer dan berlangsung seperti yang kita harapkan, dan aku akan memberi tahu bahwa aku sudah jatuh terjatuh-jatuhnya ke dekapanmu. Aku harap mas tidak menyiakan aku ya.. hehe.”


“Wahh manisnya, aku iri. Baik kita akhiri hari ini. Terima kasih para teman-teman yang sudah hadir disini. Selamat siang semuanya!”


“Terima kasih atas kerja samanya, dan sampai jumpa di drama kami.” Ujar Aisyah dengan semangat diikuti oleh Renata dan Geo.


Kemudian mereka berlima keluar dari ruangan namun tetap saja para wartawan belum puas mengambil gambar mereka sampai mengejar mereka sampai ada yang jatuh dan terinjak, dan mereka dikagetkan oleh teriakan Aisyah yang sudah tidak memiliki kesabaran lagi.


“BERHENTI!!” seketika sunyi, lalu membuat mereka mematung dan membelahkan kerumunan agar mempermudah aisyah mendekati seseorang yang terjatuh dengan tragis kemudian membantunya untuk berdiri. “Kalian ini masih punya otak kan untuk berfikir? Kalian belajar etika kan saat kecil? Apa kalian tidak bisa untuk berjalan pelan hem? Lihatlah kawan kalian jatuh dan tidak tau dirinya kalian menendang dan melangkahinya?”


“Kakak tidak apa? Apakah ada yang luka?”


“Em, sedikit lecet, makasih Aisyah.” Ujar wartawan perempuan itu dengan senyuman serta ringisan. “Ayo kita obati dulu luka kakak, walaupun ringan tapi bisa menjadi luka besar jika dibiarkan. Dan untuk kalian aku harap hanya sekali ini jangan lagi kalian berperilaku beringas seperti ini. Awas aja aku mengawasi kalian.” Ujarnya dengan dingin kepada yang lain membuat semua orang menelan saliva dan terdiam kemudian mengangguk kaku. “Kami akan berhati-hati, maafkan kami Aisyah.”


Gadis itu menoleh kearah kakak wartawan yang bernama Hanna. “Minta maaflah kepada ka Hanna, dia yang jadi korban disini bukan aku.”


“Maafkan kami semua hanna. Kami akan berhati-hati.”


“Ah iya tidak apa apa.”


“Bagus, kalau begitu kalian sudahkan dapat foto yang kalian inginkan, aku akan pergi lebih dulu dengan ka Hanna, permisi.”


“Ya, silahkan, hati-hati Aisyah."


Sepeninggalan Aisyah dengan Hanna, diikuti oleh empat orang yang sedari tadi hanya diam mematung melihat tingkah laku Aisyah yang sedikit membuat bulu kuduk mereka berdiri dan sifatnya hampir sama dengan kedua abangnya yang terkenal dingin itu.


“Aisyah sangat terlihat berwibawa, dia baik dan penolong namun dibalik sifat ramahnya ia sangat seram jika marah.”


“Dia sudah kelewat batas dari kesabarannya, pantas saja pepatah banyak berkata jangan ganggu orang yang terkenal diam karena sekali marah ia akan sangat menyeramkan.”


“Benar, aku hampir mengompol melihat tatapan tajamnya tadi.”


“Dan aku merasa video Aisyah akan buming sebentar lagi.”


“Kitalah yang membumingkannya, ayo kita balik bekerja.”


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite.


See You! Bye! And Thanks!

__ADS_1


__ADS_2