
Happy Reading Semuanya!
jangan lupa beri tanda like untuk ceritaku ya.
Support terus akunya.
--
Tala duduk dikursi kebesaraannya sembari membaca berkas-berkas menumpuk dari samping kanannya jika sudah selesai tanda tangan ia menaruhnya disamping kirinya. Baru setengah yang ia kerjakan, ketukan pintu ruangannya terdengar.
Tok! Tok! Tok!
“MASUK!!”
Pintu terbuka tidak terlalu lebar tak lama tiga kepala mungil menongol kemudian tak lama kepala mungil yang lumayan besar menyundul. “Baba? Sibuk?” celoteh gadis kecil lalu menoleh kearah kirinya menatap sang abang. “Baba sibuk, jadi diam ya.” Ujar Kazeem kepada adik kecilnya.
“Hahaha, baba tidak sibuk Lesya, baba sedang menulis.”
“Itu sama saja sibuk sayang, ayo masuk ummi pegal berdiri terus dibalik pintu ini.” Rengek Aisyah kepada tiga anaknya yang kekeh masih berdiri didepan pintu ruang kerja suaminya. Sedangkan Tala sudah berjalan mendekati ketiga anaknya yang masih belum sadar akan kehadirannya.
Sedangkan Aisyah sudah tersenyum, melihat kedatangan suaminya yang sedang menatap lembut. “Baba! Kaget Lesya.. kok baba udah duduk didepan lesya sih?” tanya polos Lesya sedangkan Kazeem yang pegal berdiri melangkah menuju sofa dan goleran disana. “Hem.. enaknya.”
“Abang Kazy! Jangan tiduran, kan habis makan.”
“Udah turun ummi, sedari diperjalanan.” Balasnya yang dibalas hela nafas oleh umminya. Khalid dan Lesya ikutan naik sofa dan duduk dengan nyaman mereka. Sedangkan Tala langsung mengambil alih Aulian, putra kecilnya kedalam pelukannya dari tangan Aisyah.
“Udah selesai syuting acaranya?”
“Udah, dan itu lumayan melelahkan untukku yang sudah lama tidak beraktifitas ini.”
“Kalau lelah, bilang kepadaku. Jangan dipaksakan dan jika ingin keluar dari dunia itu langsung hubungi abangmu
tapi sebelum itu ingat, cerita terlebih dahulu kepadaku yang tak lain suamimu ini.”
“Baiklah, isyah paham. Lalu bagaimana dengan urusan mas? Udah selesai?”
“Setengah lagi, ada apa?”
“Lesya ingin main ke do-fun.”
“Hari ini?”
Aisyah mengangguk, “mungkin dia merasa bosan dengan kegiatan umminya tadi,” tala tertawa, “benarkah?”
“Hem begitulah. Untung sekali ketiga anak kita tidak ada yang tertarik masuk kedunia artis.”
__ADS_1
“Jangan sampai. Mas tidak ingin mereka masuk kedunia artis yang kedepannya tidak tau akan seperti apa.”
“Cukup kamu saja.” Lanjutnya sembari menatap mata sang istri dengan dalam, tanpa mereka sadari kedua kepala
mereka hamper saja mendekat jika saja tidak mendengar suara dari Khalid. “Ummi dan Baba sedang apa?”
“Ha? Apa?” panik Aisyah begitupula dengan Tala yang langsung berdeham lalu melangkah duduk dikursi kebesarannya melihat sang putrinya yang ikut tidur memeluk Kazeem. Sedangkan Khalid yang fokus memainkan game yang berada diponsel sang ummi-pun sesekali melirik kedua orang tuanya tadi.
“Tidak ada apa apa, abang sedang bermain apa?”
“Ini mi, mainannya menyamai tiga benda lalu kita juga ngumpulin berlian nanti dituker jadi duit sama gamenya. Aku punya tempat tabungan namanya RANA terus masuk deh kesitu.”
“Serius emang dapet berapa?”
“Kalau ngumpulin berlian sebanyak-banyaknya, kita bisa nuker duit sampai sejuta mi. tapi gak tau apa itu benar atau bohongan. Kayaknya Cuma bisa nuker duit yang kecilnya aja seperti 75 perak atau 100 perak.” Jelasnya yang langsung diangguki oleh Aisyah.
“Baiklah, semoga berhasil.”
Sedangkan Tala masih sibuk dengan berkas-berkasnnya sampai tidak menyadari bahwa orang kesayangannya pada tertidur, tepar di sofa empuknya itu. Sampai Dean masuk dengan sekertaris bernama Cindy dengan hormat. “Siang pak, hari ini ada jadwal bertemu dengan perusahaan Diara corp. jam 2 siang ini.”
“Batalkan, hari ini saya ingin mengabulkan permintaan putri kecil saya. Lalu Dean, tolong kamu pesankan tiket do-fun untuk 6 orang empat anak kecil, 2 orang dewasa.”
“Baik tuan.”
Sedangkan Cindy hanya bisa menuruti perkataan atasannya. Dan mereka berdua pun keluar tanpa menoleh kanan kiri karena atasan mereka sangat tidak suka melihat orang yang ia sayang ditatap seperti ingin menelanjanginya. Begitu.
“Eh mas? Udah selesai?”
“Jadi kesana? Do-fun?”
“Tanya aja sama Lesya, isyahkan Cuma ikutan aja.”
“Oke, tolong bangunkan Khalid kita yang.” Aisyah mengangguk sedangkan Tala membangunkan Kazeem dan Lesya secara berbarengan. “Ayo bangun nak, jadi main ke do-fun tidak?”
“Jadi.. tapi ngantuk..” gumam Lesya, Tala mengulum senyuman. “berarti batal dong? Kan Lesya ngantuk.”
“JADI!! LESYA MAU MAIN!! JADIINNN!!!” pekik Lesya mengagetkan kedua abangnya begitu pula Aulian, bayi berusia setahun terbangun lalu menangis kaget karena pekikkan kakaknya.
“HUAAAA Mii!! Mi!!! Get!! Get!!” (kaget maksudnya)
“Uh cup! Cup! Cup! Liannya ummi jangan nangis, kaget ya? Kakak mekiknya kenceng banget ya. Sstttss dahh tenang-tenanglah.” Ujar Aisyah sembari menenangkan putra kecilnya sedangkan Lesay merasa bersalah kepada Lian, adiknya. Langsung memeluk babanya. “maafin lesya ba. Lesya refleks teriak.”
“Tidak apa, udah yuk kita cuci muka. Abang ayo bangun.”
“Kazeem boleh tidak ikut ba? Ngantuk banget.”
__ADS_1
“Sayang dong tiketnya.” Lesya menoleh kearah abangnya, “loh, abang Kazy kenapa gak mau ikut? Kan tadi udah setuju.”
“Ngantuk sya.” Gadis kecil itu cemberut menekuk wajahnya kedua matanya memerah bersiap untuk menangis. Tala hanya bisa menghela nafas, “bang, sekali ini saja. Zem, kasihan, lihat adik
manismu ini sebentar lagi banjir.”
Khalid yang sudah bangun hanya diam mengumpulkan nyawanya agar tidak pusing dan menatap kembarannya yang hanya bisa diam, “sudahlah zem, iyakan saja. Habis itu kamu bisa sepuasnya tidur.”
“Baiklah, abang ikut, jadi jangan nangis.”
“Benarkah? Makasih abang Zy!” ujarnya lalu memeluk erat abang kalemnya.
“Bang Khalid ngga?” ujarnya dengan nada cemburu.
“Makasih juga bang Khalid.” Lesay turun dari duduknya dan memeluk abang sulungnya itu tak kalah erat. Sedangkan babanya, hanya bisa menggeleng kepala tingkah dan perubahan raut putrinya cukup cepat. Seperti memang sedang merencanakannya jika ia menangis kedua abangnya akan luluh begitupun dengannya jika istrinya menangis ia akan luluh dan ia yang salah bukan istrinya.
“Adek Lian gak dipeluk nih sama kakak?” tanya Aisyah yang berada digendongannya. “Tentu saja dengan dek lian, Lesya akan memeluk juga ummi.” Ujarnya sembari melangkah pelan dan duduk disamping umminya setelah itu memeluk adiknya yang didudukkan dipaha umminya.
“Sayang adek Lian, cepat besalnya ya dek bial bisa main sama kaka Lesya.”
Cup!
“Sudah yuk kita berangkat sekarang juga.”
“Baik baba.”
Keluarga kecil Tala pun langsung bertujuan ke do-fun, tempat hiburan anak anak dan para remaja. Sedangkan aisyah meriksa kembali barang bawaan seperti baju ganti, popok serta susu untuk keempat anaknya.
Ditempat lain ada sebuah ruangan yang bercat abu abu dan ditempeli sebuah foto lukisan cukup besar, sengaja ia
simpan dan akan diberikan kepada seseorang namun sayang orang itu sudah meninggalkannya dan hidup bersama pria lain.
“Kenapa kamu meninggalkanku? Aku baru saja ingin mendekatimu dan melangkah lebih serius lagi tapi ada apa denganmu yang cepat sekali menikah diusia muda?”
“Aku sangat mencintaimu, Aisyah.”
--
Next...
Vote, Comment, Like, and Favorite!
See you! Thank you! Bye!
Don't Forget to like this story!
__ADS_1
Love Rora~