AISYAH

AISYAH
KSPI 013


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa beri tanda like ya.


Support aku juga.


 


--


“Kabar kakak sangat buruk mengingat gadis yang kakak cintai tidak ada kabarnya, oke kakak akan datang


karena kakak sangat merindukan dirimu, gadis kecil.” Gumam Nadhira diatas kasurnya. Ia baru saja selesai merapihkan dirinya dari keringat yang ia bawa dari kantornya.


“Aku rindu, apa yang harus aku katakana kepadanya? Apa aku harus menyatakan cinta dan perasaan terdalam ku kepada kakak?”


“Ah aku tidak tau harus berbuat apa, Can't wait for Friday!”


“UHHHHH!”


Bruk! Bruk!


Kedua kaki milik Nadhira membanting diatas Kasur lalu ia berguling-guling sampai tidak menyadari bahwa posisi tubuhnya sudah berada dipinggir Kasur miliknya.


Brak!


Aw!


Sshhh!


“Sakit..”


Nadhira bangkit dari jatuhnya lalu menepuk kedua pantatnya dengan lembut, “kenapa kamu menjadi seperti ini Dhira! Apa kau sudah sangat merindukannya? Lalu mengapa kamu pergi darinya Nadhira! Kamu bodoh! Dasar gadis bodoh!” rutuknya sambil mengacak rambut rambutnya.


“Ah bodolah. Mending tidur.” Baru saja ia ingin memejamkan kedua matanya, bayangan pria itu sudah menjumpai di otaknya. “AHHHH AKU TIDAK BISA TIDUR!!!” teriaknya didalam selimut untung saja dirumah ini ia sedang sendirian tidak ada yang lain yang terkadang menginap.


“Aku harus tidur. Uh ini sudah pukul 2 belum bisa tidur juga argh! Bagaimana ini besok ada rapat.”


“Menyebalkan.”


--


Dipagi hari jam 7 pagi kedua mata Nadhira menghitam dan itu sangat menyeramkan. “Kau memang harus membatalkan rapatnya.” Ujar ka Dami yang sudah tiba dirumahnya. “Kakak sudah datang?”


“Hem.”


“Bersama siapa?”


“Mario. Dia menunggumu di ruang makan. Kau izin saja.”


“Baiklah. Aku ingin mencuci muka terlebih dahulu.”


Nadhira tiba di meja makan dan ditatap langsung oleh Mario. “Kenapa dengan matamu?”


“Aku tidak bisa tidur.”


“Soal apa?”

__ADS_1


“Aku akan bertemu dengannya di hari jumat, tapi membayangkannya cukup membuatku tidak bisa bersabar.”


“Dasar kau ini, buat apa kau pergi jika begitu mencintainya?” decak Mario yang langsung digelengi oleh Dami membuat Dhira yang mendengar ucapan Mario merasa menyesal antara tidak dan iya.


“Aku memang harus pergi dari kediamannya tidak seharusnya seorang gadis berhijab sepertiku tinggal seatap dengan seorang pria yang bukan muhrimnya. Itu adalah nasihat terakhir dari ibuku.”


“Jadi kau mengingat pernyataan ibumu yang terakhir dibenakmu?”


“Hem, maka dari itu aku lebih memilih pergi darinya. Bukan berarti aku pergi dari hidupnya aku hanya singgah ketempat lain untuk berteduh.”


“Apa kau akan kembali padanya?”


“Pasti, aku saja belum menyatakan perasaanku bagaimana bisa aku meninggalkannya?” sewotnya lalu menyuapkan kembali sesendok nasi goreng udang buatan Mario. “Jadi kau tidak bisa datang kekantor?”


“Tolong gantikan aku, aku ingin perawatan dari sekarang.”


“Jumat masih dua hari lagi loh..”


“Terserah aku, aku kan bosnya.”


“Dasar.”


Mario bangun dari duduknya, diikuti oleh Dami yang membersihkan piring kotor untuk dicuci olehnya. “Ya sudah, kau istirahat saja, jangan terlalu penasaran kita tidak tau kedepannya seperti apa, Dami, aku menunggumu di mobil ya.”


Dami mengangguk, “ya, sebentar lagi aku selesai.”


“Santai saja.” Mario menepuk kepala Dhira yang sedang berdiri sembari memegang secangkir berisi hot chocolate topingnya yang diberi marshmellow.


“Aku pergi lebih dulu.”


“Hati hati ka.”


“Kakak! Jangan membuatku semakin berharap.”


Dami tertawa lalu meninggalkan tepukan pipi kanan Dhira dengan pelan, “istirahatlah, kakak pergi dulu ya.”


“Hem, hati hati dijalan.”


Nadhira menutup pintunya lalu menguncinya, setelah itu ia memilih mengintip dibelakang hordeng melihat mobil ka Mario telah meninggalkan rumahnya sedikit merinding tapi bukan karena itu ia melihat ada seorang yang bersembunyi dibelakang pohon dengan menatap rumahnya.


Tatapan orang itu seperti orang yang ia kenali. Kemudian ia berlari kearah kamarnya mengambil macbooknya dengan segera. Ia menjelajahi kedua tangannya diatas keyboard dan mencari siapa yang menatap rumahnya.


Dan dapat!


Tidak perlu sampai 3 jam ia sudah bisa dapat siapa yang mematai-matainya, ternyata orang itu tak lain Aurel, saudara tirinya yang sudah terbebas dari jeratan budak oleh seorang mafia klien Azkar.


“Kenapa dia bisa bebas? Apa ia kabur?”


Kembali ia menggerakkan tangannya dan mencari alasan perempuan itu berada didepan rumahnya. “Jadi dia benar kabur dari jeratan Mafia itu?”


“Apa aku harus memberi tahu bahwa tawanannya kabur kemari? Tapi jika seperti itu aku akan diganggu juga oleh mereka. Hubungi Azkar saja lebih baik.”


“Halo?”


“Halo, siapa ini?”


“Apa ini nomer abang Azkar?”

__ADS_1


“Iya benar, saya sendiri kau siapa?”


“Aku Nadhira, ingin memberi tahu kenapa Aurel ada di depan kediamanku ya?”


“Tunggu sebentar, kalau boleh tau dimana kediamanmu?”


“Akan ku kirimkan lokasinya. Tolong urus dia segera karena aku merasa terganggu dengan kehadirannya.”


“Baik. Kami segera kesana, terima kasih atas informasinya, kami baru saja mendapat bahwa Aurel telah membunuh Sinta dan Alex yang menggila karena ingin menyetubuhi dirinya namun ia langsung diambil oleh seorang Mafia yang ingin mempunyai tawanan kekerasannya.”


“Ah begitu, aku sudah mengirim lokasiku, segeralah nanti keburu dia pergi dari sini.”


“Kami on the way.”


“Apa aku harus jadi umpan?”


“Tidak perlu, jangan melukai dirimu, karena aku akan dimarahi oleh seseorang. Aku tutup sambungannya, terima kasih Dhira.”


“Sama sama bang Azkar.”


Nadhira menghela nafas lalu mengintip kembali dan melihat ternyata orang itu masih berada ditempatnya. “Dia membunuh ibunya dengan tangannya sendiri, betapa menyeramkannya.”


Ditempat Azkar, dia yang awalnya sedang berbincang dengan kliennya yang kehilangan tawanannya langsung bahagia, “kami tau dimana dia sebenarnya, ayo kita kesana.”


“Kau mendapatkan informasinya?”


“Ya, tawanan yang kau miliki ini dari seseorang yang hidupnya terganggu akibat kehadirannya bersama dua orang yang sudah mati itu.”


“Kalau begitu ayo kita berangkat segera. Dia harus mendapatkan hukuman dariku.”


“Kalau bisa bawa dia ketempat terpencil di negara yang tidak dia ketahui.”


“Ide bagus.”


Nadhira menunggu lumayan lama, akhirnya Azkar datang bersama rombongan Mafia tersebut. “Syukurlah mereka cepat datang. Apa wanita itu tertangkap?”


Dengan cepat ia mengenaka jilbabnya dan cardigan kemudian keluar dari kediamannya setelah tau orang mematainya sudah ditangkap. “Abang Azkar, apa benar dia Aurel?”


Azkar menoleh menatap Nadhira, yang berubah menjadi wanita pekerja. “Ya, benar, dia Aurel. Ia ingin melukaimu setelah mematai rumahmu namun sia-sia karena kau sudah lebih dulu mengetahui keberadaannya. Dan kau apa kabar?”


“Alhamdulillah baik, abang bagaimana?”


“Baik juga, tidak sebaik Khalid. Dia menggila setelah kepergianmu.”


“Haha kami sudah janji untuk bertemu dua hari kedepan.”


“Serius?”


“Iya, ternyata dia masih memiliki nomor ponselku.”


“Tentu saja, nama panggilan di kontaknya aja bukan namamu.”


“Lalu apa?”


“Coba saja mengeceknya. Kau pasti akan tersipu malu melihatnya. Ya sudah abang pergi dulu. Kau istirahatlah  matamu menghitam, tidak mungkin kan kau bertemu dengannya dengan mata panda seperti itu?”


“Tidaklah, hati hati bang! Makasih juga sudah menyingkirkan mereka dari hidupku.”

__ADS_1


“Hem. Bye!”


__ADS_2