AISYAH

AISYAH
(41) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading!


Dipagi hari yang sangat cerah, kedua orang tua Aisyah sedang berduduk santai di ruang tamu. Tadi subuh uwa dan keluarga serta cucunya. Sudah kembali pulang kerumah masing-masing dan rumah Aisyah sekarang lengang dan sepi, tidak ada lagi suara tertawa anak bayi atau tangisan bayi. “Pagi ayah! Pagi Bunda!”


“Pagi nak, tadi malam tidur nyenyak?”


“Alhamdulillah nyenyak yah,”


“Oh iya tadi ada wajahmu diberita, sebelum tidur bernyanyi dulu dan membuat semua orang menyukai suaramu nak.”


“Hehe maaf bun, yah, isyah jadi tidak menjaga suara isyah.”


“Tidak apa, itu kan hanya sekedar hobi tapi jangan terlalu sering menunjukkannya, karena suara putri ayah ini cukup candu membuat semua kaum pria menyukainya. Kaum perempuan saja ada yang belok untuk menyukai perempuan lain bagaimana dengan pria?”


“Iya ayah, isyah paham, oh iya bunda dan ayah tadi uwa dan yang lain sarapan apa?”


“Oh mereka sarapan nasi goreng, dan untuk Bima, dan uwa memakan roti panggang rasa stroberi agar tidak ngantuk dijalanan.”


Aisyah mengangguk paham baru saja ia ingin melangkah kedapur langsung urung, “abang abang tampan isyah kemana bun?”


“Abang Fariz kerja kekantor karena nanti siang ada event di mall. Lalu bang Izak dia kerja di sebuah perusahaan dia sudah diterima di perusahaan besar namanya apa yah? Bunda lupa.”


“RAR Group. Namanya.”


Aisyah mengangguk, “ya udah isyah sarapan dulu ya bun.”


“nasi goreng abis nak, kamu bikin masakan lain aja buat porsimu.”


“Oke bun.”


Dilain tempat, disebuah ruangan bernuansa abu-abu dipenuhi dengan banyaknya orang yang berdiri dihadapan seorang pria muda yang sedang duduk manis di kursi besarnya, “kalian sudah menekan kepada orang yang berkomentar jahat itu?”


“Sudah tuan, saya sudah menekan beberapa orang itu sampai mereka tidak lagi berkomentar jahat diakun artis kita dan mereka juga disibukkan dengan kehidupannya yang perlahan-lahan menuju kehancuran.”


“Bagus, lalu apa kalian sudah mencari wanita ular yang sudah mencorengkan nama baik keluargaku?”


“Sudah tuan, dia selama ini kabur dan bersembunyi di sebuah gedung terbengkalai dipinggir kota, dan ia juga tinggal bersama ketua preman yang memang haus akan nafsu.”

__ADS_1


“Jadi wanita itu kabur dari polisi dan lebih memilih hidup bersama preman itu?” tanyanya lagi, diangguki oleh bawahannya bernama Budi, “ya tuan dia lebih memilih tinggal bersama preman itu.”


Pria itu tertawa jahat membuat semua yang berada diruangan itu merinding, dengan tataoan tajam pria itu menatap satu persatu bawahannya, “tangkap wanita itu dan tekankan dia agar tidak mengganggu kebahagiaan orang-orang yang kusayang. Pergilah.”


“BAIK TUAN!”


“kami permisi tuan.”


Hahh…


Tinggallah pria yang dipanggil tuan dan satu pria muda yang kemungkinan masih berusia 19 tahun menatap pria itu dalam diam. “Bagaimana apa sudah disiapkan kontrak untuk merekrut artis Aisyah Putri Nada itu?”


“Sudah tuan, tapi mengapa anda..”


“Tidak perlu dilanjutkan, sekarang apa yang kau dapatkan dari pria misterius itu?”


“Pria yang kita cari ini bernama Gentala, dia mantan ketua mafia dan sekarang ketua dalam kelompok mafia itu bernama Bastian dan asistennya Adam. Sedangkan Gentala ini sedang hiatus selama lima bulan untuk belajar agama islam.”


“Mengapa pria itu keluar dari dunia mafia?”


“Diam jangan diteruskan, biarkan para pembaca penasaran dengan kehadiranku.”


“Tapi secara tidak langsung para pembaca sudah tau siapa anda tuan.” Batinnya, “Kemudian apa yang akan ia lakukan selama hiatus ini?”


“Kemungkinan akan melamar pujaan hatinya tuan.”


Pria itu membulatkan kedua matanya seperti ingin keluar bola matanya itu, “benarkah? Siapa yang kau dapati?” pria muda itu membaca dan menelan ludah dengan susah, “Artis bernama Aisyah Putri Nada, tuan.” Lirihnya.


“APAA?!”


BRAK!


Uhukk!


Uhukk!


“Hei ada apa denganmu nak? Apa kau keselak tulang ikan? Tapi mom tidak memasak ikan untukmu,”

__ADS_1


“Tidak apa mom, tidak sengaja aku tertelan ludahku sendiri.”


Pria paruh baya menggelengkan kepalanya, “kemungkinan ada yang membicarakanmu nak, siapa yang kau usik hem?”


Putranya mengernyitkan keningnya dan memutar otak, “sepertinya tidak ada yang ku usik selain..”


“Selain?”


“Aisyah?”


“Kemungkinan kau mengusik kerabat Aisyah? Ku dengar gadis itu selalu di kawali oleh dua abangnya mungkin kau membuat kedua abangnya terusik.”


“Yaitu bisa saja nak, kau mengincar adik mereka kemungkinan para abang gadis itu mencari tau tentangmu.”


“mana mungkin mereka bisa mencari data pribadiku mom.”


Tring!


Tring!


Getaran ponsel mengalihkan pandangan ketiganya, membuat pria itu mengangkat telponnya dan mendengar ucapan dari penelpon. “Ya sudah, terima kasih sudah memberitahu.”


“Ada apa Gen?”


“Ada seseorang yang menerobos data pribadiku dad, mom. Dan kau benar sepertinya abang dari gadis itu bukan orang biasa.”


“Tuhkan apa kata dad. Kamu sih tidak mempercayai perkataan orang tuamu.” Gentala menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba gatal. “Maaf dad, mom.” Ringisnya.


“Siapa pria itu? Apa dia memiliki kuasa yang tidak diketahui oleh yang lain? Apa gadisku juga tidak mengetahui siapa abangnya?”


--


Next?


Vote, Comment, Like, and Favorite!


Dont forget to support me guys!

__ADS_1


__ADS_2