
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa beri tanda like.
Support aku juga ya.
--
“Ada apa? Kamu seperti sedang berpikir sesuatu?” Apa karena ucapanku? Haha kau memang pantas menjadi menantuku nak.’ Batin Gentala diumurnya ia masih gagah walau tidak muda lagi.
“Ah tidak, tidak apa apa. Aku hanya terpikir seseorang.”
“Apa itu sosok istimewah?” Nadhira mengulum senyuman, “bisa dibilang seperti itu tapi aku ragu apa dia masih sendiri atau sudah memiliki gadis lain yang seumuran dengannya.”
“Jadi kau takut kehilangan dia?”
“Bukan takut, melainkan seperti merasa tidak pantas atau bisa dibilang juga aku tidak percaya diri untuk berdiri disampingnya.”
“tenang jika pria itu sudah dimiliki gadis lain, kamu bisa menjadi menantu baba.”
“Eh? Bukankah putra baba sudah memiliki kekasih?”
“Tidak bisa dibilang kekasih, tidak bisa dibilang teman. Lebih tepatnya orang asing namun mesra. Itulah mereka. Apa lagi mereka pernah tinggal seatap.”
“Wah.. itu harus cepat di nikahkan ba.”
“Iya, memang harus namun, gadis ini kabur. Sebelum putraku melamarnya.”
“Apa dia tidak mengatakan sesuatu?”
“Dia ingin sukses sebelum berdampingan dengan putraku. Kenapa tidak sukses disamping putraku saja? Kan usaha bisa dimana saja bukan begitu?”
“Mungkin maksudnya jika ia disamping putra baba ia merasa dibayari atau ia merasa merepotkan jika selalu berada disamping putra baba. Aku juga akan merasa seperti itu. Karena aku ingin berusaha dengan tenagaku seperti aku tidak memiliki siapa siapa menjadi memiliki sosok yang akan menjadi sandaranku, kelak.”
Tanpa Nadhira sadari, bahwa Gentala merekam percakapan keduanya didalam ponselnya lalu menyimpannya dibalik jasnya. Tak lama minuman dan cemilan untuk baba Gentala telah datang. Baba meminumnya habis, lalu mengambil kue bolu buah untuk mengenyangkan perutnya.
“Hem kue ini sangat enak, beli dimana?”
“Em, itu beli di kafe aku ba. Itu resep yang ku buat.”
“Benarkah? Wah kamu sudah sukses ternyata nak. Kamu memiliki Café lalu membangun perusahaan yang mengeluarkan tumblr minuman dan makanan. Memang pas sekali.”
“Hahaha terima kasih atas pujianya ba. Habiskanlah.”
“Apa baba bisa membawanya?”
“Tentu saja. Ka Dami, tolong bawa semua kue yang dari café ku untuk dibawa pulang oleh baba Tala.”
“Baik nona. Ditunggu sebentar ya tuan.”
“Ya, santai saja.”
Setengah jam Gentala dan Nadhira berbicara, keduanya sudah akrab selayaknya anak dan ayah. “Ah sudah jam segini ternyata, baba pulang terlebih dahulu ya nak. Mungkin ummi sedang menunggu saat ini.”
“Ah iya, salam buat ummi y aba. Hati hati dijalan.”
“Ya, assalamu’alaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumsalam, kuenya jangan lupa ba.”
“Oh iya, hamper saja dilupakan.”
Gentala pergi setelah membawa bingkisan dari kantor Nadhira dengan perasaan bahagia, ia bangga kepada dirinya sendiri karena bisa menemui calon menantunya. Mungkin istrinya akan senang dengan kisah yang ia bawa.
“Nona sepertinya sudah akrab dengan tuan Gentala ya?”
“Ya, dia sudah seperti ayah bagiku. Dan dia juga mirip dengan seseorang yang sudah lama tidak ku temui.”
“Apa sosok lama itu pria yang tak lain suami masa depan anda nona?”
“Doakan saja seperti itu.”
“Lalu kapan anda akan menemuinya?”
“Setelah ini semua selesai. Apa pria itu sudah bebas dari hukumannya?”
“Maksud anda Alex?”
“Hem, dia ternyata sahabat ayahku namun entah kenapa dia membunuh ayahku melalui Sinta.”
“Bukankah ayah nona karena suatu penyakit? Lalu kecelakaan?”
“Bukan, ayah meninggal tidak sesimple itu. Aku ingin mencari semua bukti itu. Ah tolong minta bantuan kepada Devngel X untuk mencari semua asal usul sekaligus perbuatan dari Alex. Lalu kirimkan kepadaku.”
“Baik nona, saya akan segera meminta bantuan kepada mereka.”
“Suruh Mr. W bertemu denganku. Aku ingin membicarakan rahasia kepadanya.”
“Baik.”
“Saya permisi nona.”
Nadhira mengangguk, kemudian ia bangun dari sofa berjalan menuju meja kerjanya setelah itu ia membuka salah satu laci yang terkunci oleh gembok. Kuncinya yang tak lain berada dikalungnya. Laci itu berisi uang, ponsel, serta data data penting miliknya dari sang bunda.
Gadis itu meraih ponsel berwarna hitam bercasing maroon. Ia menekan tombol power dan untungnya baterynya masih banyak.
Ia menatap layar tersebut yang sudah retak akibat bantingan darinya.
Nadhira membuka pesan lama yang bernama Pria Penyelamat. Ia menekan lama sampai muncul tanda ponsel, pesan dan pengaturan.
Dengan ragu ia memencet tanda pesan. Ia mengetik sesuatu yang membuat jantungnya bergetar cepat.
“Hai, apa kakak masih sendiri? Aku ingin bertemu, di café xx setelah adzan ashar dihari jum’at minggu depan, bagaimana? Kakak bisa?” Send.
Gadis itu menghela nafas lalu menekan dadanya yang tidak bisa tenang. “Kau melakukan yang hebat.”
Sebuah mobil telah melaju menuju rumah ternyamannya dengan gerbang tinggi yang terbuka langsung oleh remote control dan sang sopir membukakan pintu penumpang untuk tuannya. “silahkan tuan besar.”
“Terima kasih Jack. Istirahatlah.”
“Baik tuan.”
Baru saja ia menaiki anak tangga, pintu depan sudah lebih dahulu terbuka. “Baba! Sudah sampai ternyata? Baru saja Lesya mengirim pesan nitip beliin susu.”
“Memang dirumah habis?”
__ADS_1
“Susu Matcha milik Lesya habis, sedangkan banana milk masih ada tapi adek gak mau berbagi sama Lesya.”
“Yaudah belinya besok saja, ini sudah sore tidak baik anak gadis keluar dari rumah mana mau maghrib.”
Lesya langsung manyun karena tidak dapat susu yang inginkan. “Les, kan ummi udah bilang minum susu milik abang kamu aja dulu rasa Strawberry. Masih penuh itu.”
“Apanya yang masih penuh ummi, susunya tinggal kotaknya doang itu.” Ujarnya dengan wajah kesal. Setelah itu ia berlari masuk kedalam rumahnya dengan wajah murungnya.
Ummi dan Baba hanya bisa menghela nafas, “makin kesini anak gadis kita semakin merajuk ya mi.”
“Hem, begitulah siklus mood-yan seorang gadis.”
“Mari masuk, baba ingin memberi tahu sesuatu kepada Khalid, dia ada disini kan?”
“Ada kok, dia berada dikamarnya, baba mau mandi dulu?”
“Iya ini gerah banget, rasanya mau pakai kemeja aja gak perlu pakai jas seformal ini.”
“Namanya juga perkantoran ba, salah sendiri kerjanya dikantor coba kalau di restoran pasti baba pakai kaos pun jadi.”
“Iyad eh iya, baba kalah.”
“Gak ada yang kalah maupun menang, pokoknya langsung kekamar aja ba, ummi udah sediakan pakaian rumahnya tinggal dipakai.”
“Jazakillahu khoiroh humairahku.”
“Amin, habibiku.”
Gentala melangkah ke lantai atas bersamaan dengan keluarnya anak keduanya bernama Kazeem dengan pakaian olahraganya. “Jam segini udah olahraga saja zy?”
“Iya ba, soalnya kalau dihari libur gak sempet apalagi dipagi harinya.”
“Kamu sih pilihnya jadi dokter.”
“Semua pekerjaan juga pasti begitu ba, coba lihat uncle Raiz atau uncle Fariz.”
“Iya deh, lalu dimana Khalid?”
“Kamarnya mungkin.”
Kamar Khalid, pria muda itu sedang fokus dengan komiknya, ia menggunakan penyumpal telinga yang terdengar suara music yang cukup kencang namun tidak membuat dirinya budek.
Sampai ponselnya berbunyi ia langsung menghentikan kegiatannya dan melotot sempurna kedua matanya. Satu pesan dari gadis yang ia tunggu sejak dulu.
Selama beberapa tahun ini ia menunggu pesan dari gadis itu tak terasa hari ini ia merasakan hal yang penuh kebahagiaan dihidupnya.
“Hai, apa kakak masih sendiri? Aku ingin bertemu, di café xx setelah adzan ashar dihari jum’at minggu depan, bagaimana? Kakak bisa?”
Isi pesannya seperti itu membuatnya langsung membalasnya tanpa bas abasi. “Kabar kakak sangat buruk mengingat gadis yang kakak cintai tidak ada kabarnya, oke kakak akan datang karena kakak sangat merindukan dirimu, gadis kecil.” Send.
Khalid melepaskan komiknya lalu melompat lompat dengan kegembiraan yang meledak. Lalu terhenti saat melihat
sang baba didepan pintu kamarnya. Yang awalnya tertutup menjadi terbuka oleh ulah sang baba.
“Sedang apa kamu melompat seperti kangguru?”
“Baba kapan pulang?”
__ADS_1
“Barusan, ah iya. Baba ingin mengatakan sesuatu kepadamu tapi nanti setelah baba mandi. Kita akan berkumpul di ruang keluarga ya, anakku.”
Gentala pergi begitu saja meninggalkan Khalid yang menatapnya dengan bingung, “ada apa dengan baba hari ini? Mengapa baba terlihat sangat licik? Mencurigakan. Sangat mencurigakan.” Gumamnya lalu menutup pintu kamarnya dan kembali berlompat-lompat seperti awalnya.