
Happy Reading All!
Jangan lupa kasih tanda suka atau tanda jempol untuk ceritaku.
Dipart ini dipart sebelumnya mau pun sesudah.
Terima kasih!
--
Di sebuah taman belakang, dua sepasang kekasih otewe halal sedang duduk bersebelahan walaupun ada jarak diantara keduanya. Aisyah dan Gentala diberi waktu untuk pendekatan yang jauh dari yang sebelum mereka lakukan sebelumnya. “Bagaimana perasaanmu?”
“Perasaan apa?” tanya Aisyah dengan menoleh menatap pria disampingnya yang juga menatap wajahnya dengan tatapan lembut. “Perasaan dilamarku?”
“Gugup, dan sedikit merinding hem.. karena tiba tiba dilamar namun aku terharu juga karena kamu menerima persyaratan dari keluargaku.”
“Apa kamu sudah berpikiran kalau aku datang ingin melamarmu bukan sekedar silahturahmi?” aisyah mengangguk, “ya itu sudah termasuk kedalam firasatku. Karena kamu tiba-tiba mengatakan ingin mengenalkan diriku kepada keluargamu begitu sebaliknya dan pikiranku tidak jauh jika itu ingin melamar bukan hanya sekedar mengenal saja.”
“Kamu pintar sekali menebaknya.”
“Jadi? Tanggal berapa kamu inginkan acara pernikahan?” tanya Tala membuat gadis itu sedikit berfikir, “em, mungkin setelah bulan puasa aja kali ya? Sebulan setelah ini? Atau dua bulan dari ini.”
“Dua bulan dari sekarang, bagaimana? Kita ambil tanggal ditengah saja. Kita hanya mengurusi soal gaun dan cincin serta souvenir saja. Selain itu mungkin keluarga kita yang akan mengurusnya.” Aisyah mengangguk setuju, “oke, seperti itu saja.”
“Baiklah, kalau begitu mari kita masuk yang lain sudah menunggu.” Ajak tala niatnya ia ingin menggandeng tangan mungil itu namun ia urungkan karena ia ingat mereka belum halal.
“Bagaimana? Kapan kalian akan segera menikah?” tanya daddy Peter kepada dua pasangan ini. “Kita sudah sepakat, pernikahan dua bulang dari sekarang tanggalnya ditengah terserah kapan dan kita ingin mengurusi gaun, cincin dan souvenir saja sedangkan tentang hal yang lain keluarga yang mengurusnya.” Jelas Tala membuat semua para orang tua mengangguk setuju.
“Baik karena kita sudah membicarakan soal pernikahan bagaimana jika kita sekarang makan siang? Sudah lewat siangnya ini jadi mari kita makan sore.” Ajak uwa perempuan. Diangguki oleh yang lain sedangkan Aisyah masih diajak berkenalan oleh Tala kepada para saudaranya.
“Kakak Aisyah aku boleh minta foto bareng ngga?” tanya adik kecil Tala bernama Galen. Aisyah mengangguk, “tentu saja. Tapi sebelum itu bagaimana jika kita makan dulu? Perut kakak sudah minta diisi.” Ujar aisyah membuat bocah laki itu mengangguk setuju dan baru mau merangkul calon kakak iparnya langsung tersingkirkan saat ada dua kakak kembarnya. “Kakak!”
__ADS_1
“Belum muhrim kamu, biar kakak yang perantara kamu dan kak Aisyah.” Ujar Suiren membuat Galen mendengus kesal. Tala tertawa lalu merangkul adik bungsunya, “tenang saja, abang juga seperti itu tadi.”
“Makan yang banyak ya anak-anak manis.. Ini ayam carbonara cheese sama ayam saus asam manis buatan Aisyah. Dia sekarang lagi hobi buat ayam goreng ala korea gitu yang bervariasi banyak.” Jelas bunda membuat gadis itu menunduk malu, “selamat makan semuanya, semoga suka ya.”
“Wahh kakak pintar masak seperti yang digosipkan oleh netijen ya ka.”
“Netijen hanya melebih-lebihkan saja, aku baru mencoba memasak kok.” Rendah aisyah membuat keluarga Gentala tersenyum karena sifat lemah lembut dan tidak sombongnya gadis itu benar-benar nyata.
“Aisyah ini enak banget, kamu pecinta carbonara ya?” Aisyah mengangguk, “sangat, dia sangat menyukai carbonara sampai apapun dijadikan carbonara olehnya.” Saut bang Izak membalas pertanyaan sepupu Gentala bernama Ciara. “Sampai bosen dong bang?”
“Hem, tapi karena enak jadi gak nolak.”
“Alasan, bilang aja suka.” Celetuk bima membuat Izak mendelik kearah papa mud aitu. “udah diam aja, suapin keponakan gua dengan bener.” Ketusnya membuat yang lain tertawa pelan.
Ciara, gadis berusia 26 tahun itu hanya bisa menatap terpana dengan wajah Bima, sepupu Aisyah yang sebentar lagi akan menduda itu. “Nama anak abang siapa?”
“Gak usah panggil abang, nama aja langsung Bima. Dan ini putriku bernama Nikamy usia mau dua tahun.”
“Tapi, kalau boleh tau ibunya kemana? Apa kakak ini?” tanya Ciara dengan menunjuk kearah ka Bina yang duduk disamping ka Bima. “Oh tentu bukan, saya kakak perempuannya sedangkan dia adik saya. Istrinya gak ikut kemari karena ada janji lain.”
Ciara mengangguk paham lalu ia melihat raut wajah keluarga Aisyah kurang mengenakkan saat dirinya bertanya keberadaan istri dari pria satu anak ini. “Ah maaf kalau begitu.”
“Udah cia, duduk manis dan diam. Suasana jadi tidak enak.” Bisik ayahnya, paman 1, adik sulung dari daddy peter, bernama Aldrich Abraham Alexander. Cia langsung meringsut mundur dan duduk manis agar tidak terlalu mempermalukan keluargaAlexander. Ia menahan diri untuk tidak mengejar-ngejar pria calon duda itu 'eh astaghfirullah maafkan hambamu ya allah. Dosa aku berdoa memisahkan mereka.’
Selesai makan siang di waktu sore mereka semua telah kembali berkumpul diruang keluarga Abdullah sampai suara salam terdengar dan membuat ka Mara yang membukanya dan betapa terkejutnya Aisyah saat mendapati orang tersebut. “Om Gara? Mengapa om bisa?”
“Tentu saja, om adalah kakak dari mom Aluna, ibunya calon suamimu.”
“Benarkah? Wah dunia sesempit daun katuk.”
“Silahkan duduk, apa anda sudah makan?” tanya sopan ka Bina membuat om Gara tersenyum lalu menganggukkan kepala, “sudah kok, panggil saya om saja.”
__ADS_1
“Baik kalau begitu om.”
“Ka bina, bang Reza nelpon nih.” Ujar Mara dengan menyodorkan benda pipih kearah gadis dewasa itu. “Oh oke, permisi semuanya. Halo?” Bina berlalu begitu saja meninggalkan yang lain asik sibuk dengan masing-masing sampai tidak menyadari bahwa pasangan muda yang sebentar lagi halal itu telah menghilang begitupun dengan keberadaan Ciara yang mengikuti langkah arah perginya Bima, ayah satu anak itu.
“Mau kemana dia?” bisiknya tanpa bisa ada yang mendengar sampai langkah pria itu berhenti dan mematung saat melihat sosok yang sedang berpelukan dengan seorang pria dengan mesra. “Mila! Ternyata janjian bertemu dengan teman maksudnya dengan pria ini, selingkuhanmu?” tanya dingin Bima setelah berada diantara dua manusia itu.
Dua sosok itu terkejut dengan kedatangan Bima yang secara tiba-tiba. “ma-mas? Kenapa?”
“Kenapa kau tanya? Kau lupa rumah tanteku ada disini, dan kau seenak jidatnya berpelukan dengan pria lain selain suamimu sendiri dan meninggalkan putrinya? Tega sekali kau.”
“Mas ini tidak seperti yang kau kira.”
“Apa yang ku kira? Aku melihatmu sedang berpelukan dengan pria lain di mata kepalaku sendiri, apa lagi jika kau bukan selingkuh dengan pria ini?”
“Mas, kau salah.”
“Baik, seperti yang kau inginkan, kita akan segera bercerai. Aku akan memberimu kertas pengadilan dan ku harap kau keluar dari rumahku dan pulanglah kerumah orang tuamu, akan ku jelaskan semuanya kemereka bagaimana sikap dan perilakumu kepadaku dan cucu mereka sendiri.”
Mila menggelengkan kepalanya tanda tidak mau, “ngga mas, aku gak mau berpisah denganmu. Aku mohon jangan pisahkan aku dengan Nika.”
“Bukankah ini adalah harapanmu? Aku hanya perlu tanda tanganmu saja setelah itu kau tidak perlu datang karena aku juga tidak akan datang ke acara pengadilan pisah itu. Selamat berbahagia.” Ujar Bima meninggalkan istrinya bersama pria lain yang sedang memeluk wanita itu.
Ciara mematung dibelakang bima dan saat pria itu berbalikkan badan ia langsung bertubrukkan matanya dan membuat gadis itu tidak tau apa yang harus ia lakukan. “Pulanglah.” Gumam Bima membuat Ciara mengangguk kaku.
--
Next..
Vote, Comment, Like and Favorite!
SEE U! BYE! THANK U!
__ADS_1