AISYAH

AISYAH
(59) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa kasih tanda suka diceritaku ya!


Happy Happy Yap! Yap!


--


Sudah terlewat lima hari Aisyah dan Gentala tidak bertemu maupun memberi kabar. Dan bulan puasa sudah masuk dari tiga hari yang lalu. Sekarang Aisyah sedang tengah syuting bersama kakek Bisma, ia duduk disamping kakek dan membaca naskah dialog.


“Kek, masih ingat ka Bina tidak?”


“Hem? Tunggu Bina, gadis yang ngintilin kakek dulu bukan sih? Apa kabar dengannya.”


“Hehe, baru lima hari yang lalu aku ngobrol sama dia dan kakek tau apa yang dia sebut?”


“Om tampan?” Aisyah mengangguk, “ya dia sepertinya masih suka sama kakek, tapi kalau beneran jadi dia bukan kakakku lagi melainkan nenek dan tante dari ayah? Uh bayangin aja aku geli hehe.”


“Hahaha, ya sudah tidak usah dibayangin.”


Bina? Gadis itu apa kabar? Kenapa jantungku berdegup kencang? Seperti anak muda saja, dasar kau Bisma. Ingat status dan umurmu. Kau tidak cocok bersamanya, enyahlah kau perasaan.Batin kakek Bisma sembari menggelengkan kepala.


Untung saja Aisyah tidak melihatnya karena gadis itu sudah dipanggil oleh om Gara untuk ngambil bagiannya.


Tag #1


In Stage.


Natasya Wiranto, adik bungsu setelah Natalie Wiranto. Kedua orang tua mereka sudah meninggal akibat kecelakaan yang terjadi dan keduanya telah tinggal bersamasang kakek yang bernama Pratama Wiranto.


Natasya berdiri disebuah toko roti yang sudah menjadi langganan mendiang orang tuanya dan pernah mommynya bercerita bahwa toko roti ini adalah saksi tempat yang menjadikan mom dan dad bersatu dan menikah.


Dan ia juga berharap bahwa jodohnya ia dapatkan dari sini, sampai ia tidak sengaja menubruk seseorang dan beberapa barang dari tasnya berhamburan ke lantai. “Maaf, maafkan aku yang tidak fokus.”


“Tidak apa, saya juga maaf karena tidak melihatmu disamping.” Natasya mengangguk lalu memunguti barang-barangnya dibantu oleh orang itu sampai kedua mata mereka bertubrukkan dan saling bertatapan sampai lima menit mereka baru sadar dan meraba dada.


“Maaf, dan terima kasih sudah membantu.”

__ADS_1


“Sama-sama, em hati hati.”


“Ya, permisi.”


Natasya mengejar beberapa temannya yang sudah menunggu dirinya didepan toko dan ketiganya masuk kedalam mobil jemputan teman lakinya sampai Natasya menatap kembali kedalam toko roti dengan meraba dadanya dengan tangan, ‘apa ini? Mengapa jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya? Tidak mungkin aku jatuh cinta kepada pria itu bukan?’


Sedangkan pria yang masih diam didalam toko roti hanya berpikir, “apa masa lalu ayah akan terulang? Ah semoga saja tidak, aku doakan gadis itu jodohku, semoga saja.”


“Assalamualaikum! Kakek! Natasya pulang..”


“Wa’alaikumsalam! Sini nak, kita kedatangan tamu.” Ujar kakek Tama membuat Natasya menghampirinya lalu menyalami tamu dan kakeknya didalam ruangan itu. “Kenalin ini Natasya adik dari Natalie, cucu kesayanganku yang sangat manja. Dan Nata kenalin mereka adalah teman dan sahabat orang tuamu sejak SMU, Alian dan Ronald Sanjaya.”


“Salam kenal om, tante, aku Natasya Wiranto.” Ujarnya dengan senyuman manisnya membuat semua orang ikutan tersenyum, “salam kenal juga sayang, panggil tante bunda dan om ayah saja oke?”


“Okelah kalau begitu bunda, hihi..”


“Em, Nata boleh kekamar gak bun, yah?”


“Boleh silahkan rapihkan dirimu terlebih dahulu.”


“Baiklah, kalau begitu aku permisi bun, yah, kek.”


“Iya kakek!”


Sepeninggalan Natasya, bunda Alian dan ayah Ronald saling melirik satu sama lain, “dad, kalau boleh tau umur Natasya berapa?” tanya Ronald kepada ayah dari sahabatnya.


“Kenapa? Kalian mau menjodohkan putramu dengan cucu kesayanganku itu?” tebak kakek yang diangguki oleh keduanya. “Em, kalau diperbolehkan oleh dad.”


“Natasya umurnya masih sangat muda, 20 tahun baru saja setahun lalu lulus dari SMAnya, kalau kalian ingin menjodohkan sama cucuku satu lagi saja namanya Natalie umurnya sudah 25 tahun lebih dewasa dan ia pasti sudah siap menjadi seorang istri.”


Perasaan Alian seperti terhempas begitu saja melihat penolakan jodohan putranya dengan gadis berusia 20 tahun itu, padahal ia sudah berharap bahwa Natasya akan menjadi menantunya. “Aku tanya dulu putraku deh, tapi dad apa tidak bisa Natasya saja? Putraku lebih suka dengan gadis berusia seperti itu.” Ujar Alian dengan mengatas namakan putranya.


Kakek Tama menggelengkan kepala, “tetap tidak, jika ingin kalian harus menunggunya sampai lima tahun kedepan.”


“Ah itu sangat lama,” saut Ronald diberikan delikkan oleh istrinya, “tidak apa jika kita harus menunggu lima tahun yang terpenting gadis manis itu menjadi menantuku dad.”


“Mengapa kamu sangat obsesi dengan cucuku?”

__ADS_1


“Dia manis, terlihat keibuannya dan dia sangat mirip dengan Safira. Maka dari itu aku ingin dia menjadi menantuku kelak, bolehkan ayah?”


“Tidak, tetap tidak. Tolong jangan ambil cucu kesayanganku. Aku belum kuat untuk ditinggalkan olehnya.” Lirihnya membuat sepasang suami istri itu langsung mengalah. “baiklah dad kami tidak akan mengambil cucu kesayanganmu itu.”


“Terima kasih.”


“Kakek! Bunda! Ayah! Makanan sudah siap, waktunya makan yuk makan bareng yuk.”


“Kamu masak sendiri nak?”


“Iya, tapi dibantu oleh bibi juga sih, sini bun aku masak ayam balado kesukaanku. Dan aku juga membuat sayur bening dan beberapa sayur lainnya kuharap bunda dan ayah suka dengan masakkanku.”


“Pasti sangat suka, makananmu mungkin paling enak di lidah kami.”


‘ampun nak, kamu memang calon mantu paling idaman tapi apalah daya bunda tidak bisa memaksa kakekmu.’


CUT!


Oke!


Good Job! Everyone!


Clap!


Clap!


Clap!


“Terima kasih atas kerja samanya.”


“Terima kasih atas kerja samanya.”


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite!

__ADS_1


See You! Bye! Thanks All!


__ADS_2