AISYAH

AISYAH
(42) AISYAH


__ADS_3

Happy Happy Yap! Yap!


Happy Reading to Virus Happy!


Aisyah sedang merapihkan rumahnya, sudah dua bulan berlalu dan job untuk dirinya semakin banyak namun ia lebih memilih untuk istirahat dan menyibukkan dirinya bersenang-senang dengan keluarganya apalagi semenjak kedua abangnya yang bekerja full kadang pulang malam, kadang pagi dan kadang tidak pernah pulang dengan alasan menginap dirumah teman.


“Ayah, hari ini kita akan kemana?”


“Ke undangan, isyah mau ikut kan?”


“Kondangan siapa? Dimana? Jam berapa berangkatnya?”


“Kondangannya Dea, kakaknya Aska. Dia akhirnya menikah dengan pria yang menghamilinya siapa yang kemarin abangmu bilang. Bim bim apa bun?” tanya ayah kepada bunda yang baru saja melangkah masuk kedalam rumah setelah keluar menyirami tanaman.


“bibimbap yah, ngomong makanan bunda mau beli makanan korea dimana ya nak? Isyah tau gak?” tanya bunda yang diluar dari pembicaraan. Ayah menghela nafas, aisyah mengulum senyuman, “isyah ada restoran koreanya bun, deket rumah nanti mau sekalian gak pulang dari kondangan?”


Bunda mengangguk semangat. “Mau, mau, ingetin ya habis pulang kondangan oh bunda juga udah siapin gaun untuk kamu di gantung belakang pintu kamar. Kita berangkat jam 10 ini kan masih jam 7, mumpung ayahmu ada dirumah biasanyakan ayahmu selalu menghabiskan waktu main tennis, main bola, main ayam dan main kucing.”


“Iya bunda, isyah nurut.”


“Bun, ayahkan tadi nanya nama pria yang menikah sama dea siapa?”


“Bimo ayah, bimo. B-I-M-O bimo.” Eja bunda kepada sang ayah. “Iya bimo, udah gitu aja gak usah dieja gitu kali bun, ayah bukan anak kecil.”


“Habisnya masih muda udah lupa.” Gerutu bunda, “ayah masih muda? Perasaan ayah udah mau 60 -an umurnya.”


“Bagi bunda dan Angkatan yang lain ayahmu masih muda karena banyak teman bunda dan ayah yang umurnya udah 70 keatas.”


“Eh iya ayah sama bunda mudaan bunda ya?”


“Iya, umur bunda sama ayahmu itu beda 6 tahun, ayah 58 tahun dan bunda 52 tahun." Aisyah memeluk bunda dengan erat, “semoga isyah dapat suami seperti ayah beda 6 tahun diatas isyah dan sayang sama keluarganya tak lupa setia dan tulus hanya terhadap Aisyah dan keluarga isyah.” Aminn ya allah.


“Aminn ya rab.”


“Bunda merasa kamu akan menikah secepatnya aisyah. Seperti ada seseorang yang akan datang untuk melamarmu nak.” Ujar bunda dengan mengelus kepala putrinya dengan lembut. Ayah hanya menatap senang kepada dua perempuan yang ada didalam hidupnya selain adik adiknya.


“Ayah berharap suamimu mencintaimu sampai kau tua nak.”

__ADS_1


“Amin ayah, dan apakah ayah siap untuk isyah tinggalkan?”


“Siap tidak siap, harus siap. Kodratnya memang begitu seorang anak perempuan akan meninggalkan kedua orang tuanya setelah menikah dan ikut tinggal bersama suami, namun jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin namun jika tidak mendapatkan saran datanglah kepada kami yang masih orang tua kalian.” Ujar ayah yang seakan putrinya ini sudah diambil orang. Aisyah mengangguk dan terharu lalu memeluk ayahnya dengan erat.


“Ayah, besokkan hari ulang tahun bang Izak pasti akan dirayakan bukan? Aku minta izin untuk bernyanyi hadiah untuk abang bolehkan aku nyanyi didepan semua orang?”


Ayah tersenyum, “boleh nak. Ayah izinkan.”


“Jazakallahu khoiroh ayah, love you ayah bunda!”


“Love you more, sweety.”


Pukul Sembilan, Aisyah sudah rapih dengan gaun muslimahnya yang tadi disiapkan oleh bundanya dan ternyata gaunnya dengan bunda sama hanya berbeda warnanya saja ia menggunakan lilac sedangkan bunda berwarna maroon sama dengan baju ayah.


“Apa sudah siap nak?”


“Isyah sudah rapih bun.” Ujarnya sembari berdiri saat melihat sang bunda masuk kedalam kamarnya dengan tiba-tiba, “cantiknya anak bunda, ayo turun ayah sudah menunggu didalam mobil. Jangan lupa menggunakan maskernya ada dikantong gaunnya.”


“Baik bunda.”


Hari cukup terik, membuat mobil yang ber-ac masih terasa panas karena matahari. “Anak ayah yang cantik diam saja, lagi apa sih dibelakang?” tanya ayah yang langsung membuat bunda menoleh dan menatap Aisyah yang sedang memejamkan matanya, “putri kita lagi tidur yah, mungkin masih lelah habis begadang dia nulis cerita sampai jam satu pagi.”


“Masih lanjut buat cerita dia?”


Bunda mengangguk, “iya, doakan saja ceritanya dijadikan film.”


“Aminn, ayah selalu berdoa ketiga anak kita sukses ya bun, tidak seperti ayah yang kuliah saja nanggung.”


“Ayah bukan nanggung, hanya tidak mengambil ijazah atau berkas kuliah lainnya saat itu.”


“Iya, habisnya bapak dan ibu tidak punya uang untuk membiayai iuran kuliah.”


“Bunda dulu sebelum nikah sama ayah, mau lanjutin ke S1 tapi saat itu uang menipis hanya tersisa untuk makan sehari-hari saja.”


“Oh saat itu papa sudah pensiun ya dari kerjanya?”


“Hem, dan lagi papa punya penyakit.”

__ADS_1


Sedangkan Aisyah kembali membuka kedua matanya akibat guncangan mobil melewati polisi tidur. Dan melihat sekelilingnya yang sudah berada dekat di tujuan. “Udah mau sampai ya bun?”


“Udah bangun nak?”


“Hem.” Ujarnya dengan mengangguk kemudian merapihkan hijabnya dan riasannya. “Ini sebentar lagi sampai, jangan tertidur lagi.”


“Gedung apa ini? Kok sama semua yah?”


“Gedung balai pertemuan komando, kita sudah sampai di tempat kondangan. Kalau mau tau yang lebih cari saja di kong gugle.” Ujar ayah kemudian memarkirkan mobilnya di tempat yang sejuk.


Kemudian mereka keluar dari mobil setelah merapihkan riasan dan penampilannya, tak lupa dengan parfum yang sangat ia sukai wanginya, vanilla rose.


Ketiganya melangkah dengan santai, aisyah dan bunda melangkkah dengan anggun akibat sepatu wedges yang sedikit tinggi menginjak jalanan yang sedikit berbatuan. Saat masuk ketiganya disambut dengan udara ac yang dingin semerbak kemudian melangkah menuju karpet merah kearah pelaminan.


Aisyah mengerdarkan pandangannya dan mendapati Aska yang tengah berdiri didekat para keluarganya, dan ada teman kecilnya yang lain yang cukup isyah lupakan namanya siapa. “Mumpung lagi sepi kita sapa dulu pengantin dan keluarganya baru kita makan.”


“Ikut saja yah.” Balas bunda diangguki oleh Aisyah dan gadis itu mengikuti langkah bunda dan ayahnya yang berada dibelakang kemudian menyalimi kedua tangan orang tua Aska dan ka Dea. “Selamat ya atas pernikahannya Dea, maaf Fariz tidak bisa datang karena sibuk bekerja.” Ujar bunda kepada mami Aska, “ah tidak apa, kami maklumi, wah Aisyah kamu datang juga nak?”


“Iya tante, selamat ya atas nikahan ka Dea.”


“Terima kasih atas selamatnya, kamu makan yang banyak ya.”


“Siap tante, nanti isyah makan satu persatu gerobak didalam gedung ini hehe.”


Mami Aska tertawa kemudian memeluk gadis itu untuk kesekian kalinya setelah itu Aisyah melangkah menuju pengantin wajah ke Dea sungguh kurang mengenakkan begitu pula pengantin pria yang menatap datar dan melirik sekilas kepada wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


“Selamat ya ka, semoga langgeng sampe tua.”


Gea melirik kearah belakang berharap ada seseorang yang ia cari. “Amin, terima kasih doanya. Kamu Cuma bertiga?” Aisyah mengangguk, “udah ya ka aku mau makan hehe.” Ujarnya mengalihkan pembicaraan dan bersalaman dengan kedua mertua ka Dea dengan sopan.


--


Next..


Vote, Comment, Like, and Favorite.


***HAPPY HAPPY YAP YAP! HAPPY VIRUS IS HERE! yang udah nonton drakor Shting stars pasti tau hehe.*

__ADS_1


__ADS_2