AISYAH

AISYAH
(77) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa beri tanda buat ceritaku ya.


--


Saat ini didalam mobil menuju supermarket, Aisyah fokus dengan gambar USG kedua bayinya sesekali tangan kirinya mengelus perutnya dengan perlahan. “Sehat-sehat ya kalian didalam perut ummi. Sayang kalian.”


Tala yang disamping ikutan mengelus perut tidak terlalu datar milik istrinya itu sesekali ia menunduk untuk mengecupnya. “Kalian pasti jagoan baba. Sayang kalian.”


“Loh kok nebak? Siapa tau mereka princess kita mas.”


“Tidak tau, mungkin ini feeling seorang ayah baru. Dan sepertinya feeling mas sangat benar.”


“Begitukah?” tala mengangguk yakin, “lalu kita akan kemana?”


“Kita ke supermarket dulu ya, beli susu hamil, makanan, buah-buahan, dan sebagainya.”


“Yes, berarti es krim boleh dong?” Tala melirik istrinya sekilas lalu fokus kembali menatap depan, “lagi ngidam ummi?”


“He’em, aku pernah baca tentang buku kehamilan, kalau makan es krim itu bakal bikin bayi kita gemuk-gemuk. Jadi aku mau coba itu. (Beneran loh ini, teman aku yang udah punya bayi, saat mengandung dia makan es krim setiap moodnya bagus. Lahir -lahir anaknya langsung bongsor banget. Dan itu sangat menggemaskan.)”


“Ya sudah kita akan beli es krim juga tapi hanya beberapa saja ya? Jangan terlalu banyak, karena tidak baik untuk kondisi hamilmu yang masih muda. Coba cari apa boleh mengkonsumsi es krim saat hamil?” tanya Tala yang langsung dituruti oleh Aisyah.


“katanya boleh mengkonsumsi es krim saat hamil muda tapi gak boleh berlebihan, tapi mereka menyarankan dibandingkan es krim, yogurt beku dapat menjadi pilihan alternatif yang lebih sehat karena kandungan kalori, karbohidrat dan lemak yang lebih rendah.”


“Ya udah nanti kita beli yogurt juga.”


“Oke. Ummi nurut baba aja.” Balasnya dengan senyuman manisnya membuat Tala menyubit pipi kanannya dengan gemas namun pelan. “Kita sudah sampai ayo turun.”


“Hem, oh iya kita langsung pulang kerumah mom?”


“Iya, kita tinggal dirumah mom dulu karena mas masih harus mengerjakan beberapa urusan kerjaan bersama dad karena aku tidak masuk ke kantor.”


“Apa setelah itu kita bisa pulang kerumah bunda dan ayah?”


“Ya, kita akan kesana. Jadi tenang saja.”


Enam bulan kemudian…


Hari ini adalah hari tujuh bulanan Aisyah dirumah bunda dan ayahnya. Sudah banyak bulan yang dilewati, banyak juga kisah lucu dimana Tala harus mengambil beberapa buah yang dipinta Aisyah berakhir bentol-bentol diseluruh tubuhnya.


Dan saat ini ia menggunakan baju terusan dengan perut yang sudah melebar karena diisi dua bayi dalam perutnya. Juga, di ketahui jenis kelamin jagoan seperti firasat sang ayahnya, Gentala.


“Kamu cantik ummi, ya ampun baba jadi tidak suka kamu keluar dari kamar ini.”


“Baba, benar benar penggombal, bukannya aku semakin gemuk di kehamilanku yang ke tujuh lewat seminggu ini?” tanyanya dengan bibir cemberut dan itu semakin terlihat menggemaskan bagi Tala.


Kedua tangan tala menarik tubuh mungil dan imut Aisyah kedalam dekapannya, “tentu tidak, kamu sangat menggemaskan sayang. Walaupun tubuhmu berubah cintaku tidak akan berubah sampai hari tua nanti.”


“Benarkah?”


“Tentu, jadi jangan mempermasalahkan bentuk tubuhmu atau segala hal tentangmu. Kamu cantik apa adanya. Itu yang aku sukai darimu, Aisyah.”


Cup!


Tok!

__ADS_1


*Tok! *


Tok!


“Aisyah? Bunda boleh masuk tidak?”


“Masuk aja bunda..”


“Bunda masuk ya,.. loh ada Tala juga disini? Dikira bunda kamu udah turun kebawah.”


“Belum bunda lagi ada yang merajuk. Biasa soal tubuhnya.” Bunda Maura tersenyum, “sudah tidak perlu dipikirkan soal tubuh kamu Aisyah, nanti saat si kembar lahir tubuhmu akan kembali normal seperti gadis.”


“Oh iya bunda kemari hanya ingin memberikan sesuatu untukmu. Awalnya bunda kira kamu akan melahirkan anak pertama perempuan tapi tidak apa ini simpan saja untuk kehamilan kedua kamu ya nak.” Tutur bunda sembari memberikan sesuatu ke telapak tangan kanan kiri Aisyah.


Aisyah melihat benda yang diberikan oleh bundanya, “ini?”


“Iya, itu adalah gelang yang dulu kamu beli saat masih kecil dari seorang nenek dipinggir jalan. Kamu menyukai hiasan di gelang itu sampai terpikir berkata seperti ini, 'bunda jika suatu hari nanti aku menikah, aku ingin putriku


mengenakan gelang ini yang sama seperti gelang yang saat ini ku kenakan.' Itulah yang kamu ucapkan diumur yang 6 tahun.” Cerita bunda membuat Aisyah mengingat kenangan dulu.


“Itu setelah kejadian kelam itu bukan bun?” Maura mengangguk, dan mengelus pipi kiri putrinya dengan lembut lalu beralih kepada menantunya. “Tolong jaga putri bunda dengan seluruh nyawamu ya Tala. Dia adalah putri bunda yang sangat bunda sayangi, jagai, dan di layani bagaikan tuan putri. Jika kamu membuatnya menangis bunda akan merasa kecewa sekali kepadamu.”


“Bunda tenang saja, Tala akan berusaha semampu mungkin agar tidak melakukan kesalahan fatal sampai membuat bunda atau sekeluarga merasa kecewa. “


“Tenang saja bunda, jika mas Tala melakukan kesalahan Aisyah akan memotong miliknya dengan gergaji tumpul agar merasakan rasa sakit hati yang kurasakan.”


“Dan semoga itu tidak akan terjadi, aduh sayang ngilu membayangkannya.” Rengek Tala didepan bunda mertuanya tanpa malu menutup bagian tengah selangkangnya dengan kedua tangannya.


“Aduh bunda juga ngilu, udah yuk kita turun sudah banyak tamu yang datang.” Ringis bunda.


“Ya sudah yuk turun, Aisyah juga sudah siap dengan pakaian. Sudah rapih ini juga.”


“Aduh ada yang terbakar hatinya ya? Isyah seksyi ya mas?” godanya.


“Syeksi sekali, sampai mas mau mengurungmu agar tidak ada yang menatapmu dengan tatapan memuja atau tatapan lapar.”


“Kamu tenang saja Tala, soal pria itu semua sudah diurus oleh kedua abangnya. Apalagi dia juga sudah memiliki pengawal yang menyayangi istrimu sebagai keluarganya. Pasti tidak ada yang berani mendekatinya.”


“Baguslah kalau begitu, aku tidak suka bumil syeksiku ini ditatap dengan tatapan lapar seperti saat pernikahan abang Fariz.”


“Iya tenang saja.”


Ehem! “Bunda dan mas berbicara seakan tidak menanggapi kehadiranku, hem aku ngambek.”


“Jangan dong sayang, kalau kamu ngambek mas meluk siapa dong?”


“Guling.” Aisyah melengos begitu saja dan menuruni tangga dengan sendiri membuat Tala dan bundanya sedikit panik. Tapi tidak lagi saat Bang Fariz sudah menggandeng lengan adiknya dengan erat. “Gen, mengapa kau membiarkan tuan putri Abdullah menuruni tangga sendirian? Bagaimana jika ia celaka.”


“Ya jangan di ucapkan kata celakanya dong bang! Perkataan itu doa tau. Udah ah kalian semua bikin isyah kesal saja.” Ujar Aisyah entah mengapa moodnya berubah menjadi sensitive melihat bunda dan tala berbicara mengacuhkannya. “ada apa denganku? Jangan bilang aku cemburu melihat bunda berbicara dengan mas Tala? Itu tidak mungkin bunda adalah malaikatku sedangkan mas Tala priaku. Ah aku harus mengurangi membaca novel tentang ibu kandung menikung kekasih anaknya. Ah itu menjeratkanku.”


“Aisyah! Kamu kenapa? Kok melamun?”


Tanya ayah, membuat Aisyah tersadar dari lamunannya. “Ayah,.. isyah sedang badmood entah kenapa melihat bunda mengacuhkanku bersama mas Tala aku cemburu.”


“Masya Allah, putri bunda masa cemburu sama bunda, iya deh bunda gak bicara lagi sama suamimu.” Balas bunda yang mendengar rengekkan putrinya kepada suaminya.


“Mas hanya padamu kok sayang.”

__ADS_1


“Udah yuk, acara udah mau mulai. Aisyah duduk di sofa saja disamping suamimu, biar bunda agak menjauh dari suamimu.”


Aisyah merasa menyesal karena cemburu dengan bunda, “maafkan isyah bun, entah kenapa isyah cemburu aja lihat mas Tala sama bunda.”


“Iya bunda mengerti kamu nak, dulu waktu mengandung kamu, bunda juga begitu tapi yang cemburu bukan bunda melainkan ayahmu. Dulu bunda lagi berbicara dengan sepupu bunda dan ayah langsung ngambek berhari-hari, padahal dia saudara bunda loh.”


“Tapi sepupu kan bukan mahramnya bunda, ya pantas saja ayah cemburu.”


“Betul banget, apalagi ngeliat orang yang kita cintai asik tertawa dengan pria lain dan menghiraukan pasangannya. Itu nyesek tau.” Saut ayah yang merasa dibela oleh putrinya. Aisyah mengangguk, “nyesek banget rasanya mau nangis..” kedua mata aisyah sudah berkaca-kaca membuat Tala mengelusnya dan memeluknya dengan erat, “tenang, mas tidak berpaling kok, kamu paling cantik dari semua wanita didunia ini.”


“Jadi mom terduakan nih? Cantikan Aisyah dibandingkan mom hem?”


“Mom.”


“Sakura yang ketiga dong?”


“Suiren yang keempat dong?”


“Berarti bunda yang kelima dong ya?”


“Aduh mom pliss, hari ini aja.” Aisyah yang mendengarnya semakin cemberut, “jadi aku cantik nomer satu Cuma hari ini saja? Kok jahat banget sih.”


“Ngga gitu yang, aduh kamu yang nomer satu dihati dan pikiran mas kok.”


“Terus mom nomer berapa? Perasaan sebelum ada Aisyah mom yang pertama deh dimulutmu.”


“Mas kok jadi buaya darat sih? Yang bener yang mana?”


Gentala semakin pusing karena ditanyakan dengan pertanyaan yang sama belum lagi wajah merajuk istrinya semakin dirinya frustasi. Tak lama ia mendengarkan suara tawa merdu dan terdengar manis ditelinganya.


Suara siapa lagi jika bukan milik Aisyah, istrinya.


“Kamu lucu kalau lagi frustasi, makin sayang.”


“Udah-udah, ini kapan mau dimulai kalau para wanita masih berbicara dan menggoda satu pria?”


“Mom, sini duduk disamping dad.”


“Bunda juga sini samping ayah.”


Serempak pria tua calon kakek cemburu melihat tawa kekasihnya dan meledeki pria semacam Gentala. “Ya ampun dad masa cemburu dengan putranya sendiri sih?”


“Kenapa cemburu juga dengan menantunya?”


“Tidak, ayah hanya ingin bunda tidak tertawa lebar seperti tadi karena ayah cemburu dengan para pria mata keranjang sebelah sana.” Bisiknya membuat bunda menggelengkan kepala.


Acarapun dimulai setelah yang lain sudah diam duduk ditempat masing-masing, sejak membaca doa, tangan Aisyah tidak pernah henti untuk mengelus lembut perut tujuh bulanannya ini. “Bismillah kalian lahir menjadi anak soleh, jagoan ummi, sehat tanpa kekurangan apapun, pintar, dan ramah senyum kepada siapa saja ya nak. Jangan sama seperti baba kalian yang dingin tapi hatinya hello kitty hehe.” Candanya membuat suaminya menatapnya delik.


“Aku gak begitu yang.” Bisiknya.


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite!


See you! Thank you! Bye!

__ADS_1


LOVE Rora~


__ADS_2