AISYAH

AISYAH
(51) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading semuanya!


Aku harap kalian suka dengan ceritaku jangan lupa memberiku kata support dan tanda sukanya ya.


--


“Permisi tuan ini pesanan anda.” Ujar pelayan dengan senyuman manisnya karena didepannya dua pria tampan yang satunya ia ingat dia adalah pria yang selalu menjadi pengawal dari artis pendatang baru yang bernama Aisyah Putri Nada. Dan pria inilah abang dari artis tersebut.


“Terima kasih. Jika sudah bisa tinggalkan kami, nona?” tanya bang Izak dengan sopan membuat pelayan itu mengangguk tak lupa dengan dua pipinya yang memerah. “Baik tuan, maafkan saya. Permisi.”


“Jadi, apa yang ingin kau katakan kepadaku?”


“Aku ingin melamar adikmu.”


“Lalu?”


“Aku minta restu darimu, abangmu, dan orang tuamu. Aku akan datang kerumah kalian secepatnya.”


“Mengapa kau ingin bersama dengan adikku? Bukankah banyak sekali diluar sana yang mengincarmu apalagi kau seorang mantan pemimpin Mafia?”


Gentala menyeringai, “aku tau, kau tau segala hal tentangku, dan aku tau kau bukan hanya orang pengangguran atau freelancer. Jadi aku harap kau bisa merahasiakan tentang ini sampai aku berkata jujur dengan adik manismu.”


“Kau yakin akan membahagiakannya? Menjaganya? Menghormatinya? Dan tidak membuatnya bersedih?”


“Aku yakin dengan seluruh jiwa dan nyawaku.”

__ADS_1


“Jika kau ingkar?”


“Kau bisa membunuhku dengan tanganmu atau orang lain. Karena jika kau hanya membuangku aku tidak yakin bisa hidup tanpa adikmu.”


Izak mengangguk -anggukkan kepalanya pelan lalu berdeham, “baiklah aku restui kau dengan adikku tapi kau masih harus meminta restu kepada keluargaku yang lain, seperti keempat kakak sepupunya, dua uwa-nya dan beberapa bibi dan pamannya. Kau yakin bisa?”


“Jika itu perlu aku akan melakukannya.” Tegasnya membuat Izak tersenyum manis tanpa tau dalam hatinya ia hanya ingin mempermalukan pria itu didepan semua keluarganya. ‘sepertinya dia termakan jebakanku hehehe.’


“Baik kalau begitu kita sudahi pembicaraan ini, karena aku ingin memberi informasi kepada keluargaku yang lain. Sampai jumpa dirumah, Tala!” ujarnya membuat Genta mengangguk dan sedikit merinding melihat senyuman dari calon kakak iparnya.


“Mengapa bulu kudukku berdiri? Apa aku takut dengannya seperti takut hantu? Aish!”


Raizak Abdullah, pria berusia 26 tahun ini tersenyum lebar dengan Langkah lebar memasuki rumah keluarganya sampai seluruh keluarganya menatapnya. Hari ini dengan undangan dirinya para sepupu datang kerumah beserta dengan uwa laki dan perempuan.


“Hei izak! Apa yang membuatmu bahagia?” tanya teteh Fitri sembari menggendong putranya yang masih berusia 2 tahun itu. Sedangkan sang suami hanya diam memangku putri mereka yang sedang menyemil kue kering buatan bunda.


“Jangan sampai dia tau, aku ingin kalian bekerja sama untuk menjaili calon suami Aisyah.”


“Hah? Serius? Aisyah bakalan di lamar?” Izak mengangguk, “aku tadi bertemu dengannya dan aku mengatakan dia harus mendapatkan restu kalian semua untuk mendapat Aisyah dan aku ingin kalian sedikit menjailinya bukan berarti memberatkannya oke, nanti kalian jelaskan kepada Bina karena aku tidak ingin aisyah mengetahui sifat jahil ku.” Jelasnya sambil menyubit keponakannya dengan gemas sampai menangis.


Sebelum mamanya anak itu memarahinya ia langsung berlari masuk kedalam kamarnya. “RAIZAK!!”


“HUAAAAA!!”


“Hahaha.”

__ADS_1


“Huh capek lari, mandi ah habis itu sholat setelah itu makan deh.” Gumam Izak sampai dia lupa mengunci pintu kamarnya, sampai Bima masuk tanpa salam dan duduk disofa kamar sepupunya ia merenung memusingkan kisah pernikahannya yang semakin renggang.


“Aku harus bagaimana? Apa minta bantuan dari Izak saja kali ya?” gumamnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar setelah itu menghela nafas.


Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Izak yang sedang bertelanjang dada namun memakain celana pendek abu abu menutupi pinggang dan lutut bawahnya. Melihat sepupunya berada dikamar langsung beritighfar. “Astaghfirullah alazim ya allah. Kau mengagetkanku bima. Sedang apa kau disini?”


“Zak, bantu aku.” Ucapnnya melas membuat izak mau tak mau duduk di pinggir kasurnya dan menatap pria yang sudah menjadi ayah dalam umurnya yang masih muda itu. “apa yang kau ingin ku bantu? Sidang perceraian? Atau menyingkirkan pria itu?”


“Lebih baik kami berpisah walaupun Allah membencinya.”


“Jika itu keinginanmu, aku akan membantu nanti ku ambil surat perceraiannya dan kau tinggal menerima keputusan hukum.”


“Terima kasih.”


“Lalu hak asuh?”


“Aku harus mendapatkannya, aku tidak percaya jika putriku jatuh ketangan pria lain. Apalagi ibunya seperti itu.”


“Baik aku akan mengusahakan dan membantumu mendapatkan hak asuh keponakan gemoyku itu.” Izak menepuk bahu pria itu dengan pelan, “tenang saja akan ku urus semuanya. Kau terima jadi saja.” Bima mengangguk. Lalu bersyukur karena memiliki sepupu yang baik dan mau membantunya.


‘alhamdulillah, hamba sangat terima kasih kepadamu karena sudah memberikan sepupu atau keluarga yang sangat baik dan saling membantu seperti ini. Aku akan berusaha membahagiakan putriku tanpa seorang ibu. Bantu hamba ya ALLAH.’


--


Next..

__ADS_1


Vote, Comment, Like, and Favorite.


SEE U!


__ADS_2