
Happy Reading Semuany!
Jangan lupa berikan tanda kedalam ceritaku ini ya..
--
Hari ini terakhir dari waktu persidangan perceraian antara Bima dengan sang istri bernama Milani, lalu perebutan hak asuh telah jatuh kepada Bima sang ayah kandung dari putri kandung bernama Nikamy Putri Bima.
Dua keluarga besar dari penggugat dan digugat telah datang berkumpul, mereka tidak tau jika pernikahan anak anak mereka akan berakhir seperti ini. Keluarga dari Milani sungguh merasa kecewa terhadap putrinya itu, sudah mendapatkan suami yang baik memperlakukannya dengan hormat namun malah dibalas dengan penghianatan.
“Dengan ini saya mengatakan kalian telah resmi bercerai dengan hak asuh jatuh ketangan tuan Bima dan penggugat akan memberikan kompensasi untuk nyonya Mila sebesar 10 juta untuk kehidupannya mulai depan.”
“Sidangan hari ini selesai.”
Tok!
Tok!
Tok!
Hakim sudah memutuskan dan Bima sudah terbebas dengan hubungan toxicnya berama wanita, ibu dari anaknya Milani. Bima menatapnya dengan datar, “terima kasih untuk 7 tahun berakhir ini. Kau sudah menjadi ibu dan istri yang baik untuk Nika dan untukku. Hari ini kupersilahkan kamu bebas memilih kehidupan yang kamu inginkan. Ah satu lagi aku mengizinkanmu untuk menemui Nikamy selama seminggu ini karena aku akan membawanya pergi dari sini sejauh mungkin.”
“Terima kasih mas, sudah memperbolehkanku untuk bertemu dengan putriku.”
“Ya.”
“Maafkan saya bu, saya mengembalikan putri ibu dan bapak secara baik baik seperti sebelumnya saya memintanya dengan baik baik juga.” Ujar Bima kepada mantan mertuanya yang langsung dibalas pelukan dan tepukkan di punggungnya, ibu Mila menangis, “maafkan putri ibu ya, nak. Maafkan dia.”
“Saya sudah memaafkannya bu, jadi saya hanya berharap ibu dan bapak sehat-sehat terus, jika perlu bantuan jangan canggung untuk menelpon bima.”
“Iya, ibu dan bapak sekali lagi minta maaf ya.”
“Iya, kalau begitu saya permisi dulu, Assalamualaikum!” pamit Bima setelah mengecup punggung tangan mantan mertuanya dengan lembut.
“Waalaikumsalam.”
Banyak yang menyayangkan tentang perceraiannya dalam hubungan pernikahan Bima dan Mila. Namun takdir berkehendak lain untuk kedua orang itu. Bima sudah duduk santai didalam mobilnya, disampingnya ada ibunda tercinta.
“Nika lagi sama siapa umi?”
“Sama Mara. Tenang aja Nika juga di jaga sama Bina, anteng kok kalau dibeliin boneka lucu sama ontynya.”
“Umi, apa pilihan bima tepat?”
“Sangat tepat nak, berpisah adalah pilihan tepat dari pada kamu memendam perasaanya dan itu akan menyakitimu dan Nika saat dia sudah besar nanti.”
“Iya? Bunda, apa bener bang Bima udah resmi bercerai dengan mba Mila?” tanya Aisyah diponselnya, “terus siapa yang menangin hak asuh Nika?”
“Oh bang Bima, syukur deh kalau begitu. Ya udah iya, isyah gak tau kapan pulang mungkin setelah bulan madu. Iya, nanti isyah kabari, ya udah assalamu’alaikum bun.”
“Udah?” tanya Tala yang saat ini sedang rebahan diatas ranjang mereka dengan bertelanjang dada serta celana pendek miliknya selutut. “Udah, persidangan dimenangi oleh bang Bima. Katanya bang Bima seminggu kedepan bakalan pindah ke kota M. karena kerjaannya sedang ada disana.”
__ADS_1
“Terus putrinya ikut?”
“Ikut, karena yang pindah bukan bang Bima aja, tapi uwa laki dan uwa perempuan juga ikut.” Jelasnya yang langsung diangguk paham oleh Tala. “lalu bagaimana soal hiatus kamu? Udah bilang ke bang izak?”
“Udah, katanya nanti dibicarakan dan diinformasikan di konferensi pers yang ngasih tau ka Azzam dan kakak pengurus jadwalku.”
“Ya sudah kita diam dirumah saja, mas akan work from home aja, nemenin kamu.”
“Gak papa emangnya?” Tala menggelengkan kepala, “Tidak ada yang marah paling nanti dad dan mom akan bertanya kenapa aku tidak kekantor.”
“Lalu jika ada rapat penting bagaimana?”
“Kalau itu aku tetap datang, kan rapat hanya sehari tidak beberapa hari sampai membuatku lembur bukan?”
“Terserah mas saja deh, aku sebagai istri hanya diam, menurut kemauanmu saja.” Tala mengacak rambut istrinya dengan gemas, “kesayangan mas hehe.”
“Tunggu bentar aku mau kekamar mandi dulu ya mas.”
“Hem.”
Aisyah melangkah pelan menuju kekamarnya sesampai didalam ia menutupnya dengan rapat kemudian melangkah cepat menuju kamar mandi dan memuntahkan sesuatu didalam perutnya.
Huek! Huek! Huek!
Uhuk!
Uhuk!
“Ada apa denganku? Kenapa aku selalu muntah setiap habis makan nasi? Apa aku masuk angin? Masa iya? Perasan dulu gak begini deh.” Gumamnya mencoba bertanya-tanya ada apa dengan tubuhnya.
Setelah itu ia berkumur-kumur dan keluar dari kamar mandi mengambil segelas air minum, dan menegaknya sekaligus. “Hah.. kok mau rujak ya? Sepertinya enak deh makan rujak, minta beliin mas Tala ah.”
Aisyah menuju lantai bawah dimana suaminya berada, “mas?”
“Ada apa syah?”
“Isyah mau minta beliin rujak dong, online aja. Rofood.”
“Kok tiba-tiba?”
“Gak tau aku kayak lagi ngidam.” Ujarnya tanpa menyadari perkataannya sendiri. Begitu pula dengan Tala yang hanya membalasnya dengan kernyitan didahinya. “Ngidam?” Aisyah mengangguk. “Heem, mau sesuatu aku tuh sejak kemarin.”
“Kok gak minta aja ke mas, kemarin?”
“Gak tau lupa, maunya sekarang beliin mas. Lagi mau ngecap-ngecap pedas asam manis nih.. ditambah dengan asinnya hemm udah gak kebayang hehe.”
“Oke mas beliin tapi pesannya sedang aja pedasnya sama dipesen yang manisnya oke?”
“Oke.”
Sudah dua minggu waktu berlalu semenjak soal ngidam rujaknya Aisyah dan saat ini Aisyah berada dirumah mom dan dad yang tak lain dirumah keluarga besar Alexander. Dia sedang mengemil strawberry cheese cake buatan mommy-nya.
__ADS_1
“Bagaimana mau tambah lagi?” tanya mom kepada Aisyah yang sudah meminta nambah dua kali kue bikinannya. “Ngga mom, isyah udah kenyang tapi..”
“Tapi kenapa?”
“Aisyah rada bingung mom, tubuh aisyah gampang capek dan suka mual kira-kira kenapa ya mom?”
Mom terkejut, “jangan bilang kamu lagi hamil nak?”
“Hamil? Siapa yang hamil mom?” tanya Tala memasuki ruang dapur. “Eh, mas udah pulang? Kok cepet banget?”
“Mas sakit kepala tapi pulang kerumah udah ngga lagi, heran deh suka gitu. Oh iya tadi mas dengan omongan mom dan kamu, hamil? Siapa yang hamil?”
“Coba kamu bawa istrimu ke rumah sakit, dicek kandungan segera. Siapa tau makan banyak Aisyah, mualnya, lalu cepat lelahnya itu udah berisi bayi diperutmu.”
“Benarkah sayang? Yaudah kita langsung ke rumah sakit dulu, eh bentar kita kekamar dulu, kamu ganti baju ya, masa iya ke rumah sakit pakai daster gak lucu ah.” Ucap Tala secara beruntun membuat Aisyah menurut mengiyakannya sedangkan mom hanya menggeleng kepala dan tersenyum, “ada ada saja anak itu.”
Sesampai dirumah sakit, dokter memberitahu bahwa Aisyah sedang mengandung berusia 6 minggu yang bisa dihitung satu bulan. Dan mereka juga diberitahukan bahwa anak mereka ada dua bulatan seperti saat ini.
“Silahkan dilihat tuan, nona. Ini bayi kalian ada dua. Mereka kembar, apa kalian ingin mendengarkan suara detak jantung mereka?” tanya dokter Anita. Yang langsung dibalas anggukan semangat oleh kedua calon orang tua tersebut.
“Mari kita dengar suara babynya ya..”
Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!
“Suaranya merdu sekali ya allah, alhamdulillah.”
“Apa mereka sehat dok?”
“Sangat sehat tuan, mereka akan tumbuh kembang cepat jika istri anda mengkonsumsi makanan bergizi dan bernutrisi. Jangan terlalu lelah, lalu boleh sekali kali jalan pelan dipagi hari disaat matahari terbit ya mom?”
“Jangan mom, panggil aku ummi.”
“Baiklah ummi, oh iya satu lagi sering seringa jak mereka ngobrol atau bermain sambil dielus perutnya ya.”
“Baik dok, lalu apa boleh saya melakukan hubungan intim?”
Dokter Anita menggeleng pelan, “jangan dulu ya tuan, baby kalian masih rentan takutnya ada sesuatu terjadi itu akan mengakibatkan buruk kepada calon ummi dan anak kalian.”
“Baiklah saya akan menahan diri.”
“Baik, kita sudah selesai, untuk ummi bangun dari tidurnya perlahan-lahan ya kalau bisa dibiasakan untuk memiring terlebih dahulu kemudian duduk dan setelah itu berdiri secara perlahan karena yang ummi bawa bukan hanya satu nyawa melainkan dua nyawa.”
Kemudian dokter memberikan resep vitamin dan anti mual dan lelah agar tubuh Aisyah kembali fit dan berenergi.
--
Next..
Vote, Comment, Like, and Favorite!
See you! Thank you! Bye!
__ADS_1
Love Rora~