AISYAH

AISYAH
KSPI 022


__ADS_3

Happy Reading!


Jangan lupa beri tanda like ya.


Support aku juga.


Pukul 08.30, Khalid sudah tiba di sebuah taman yang dihias menjadi indah. Sudah banyak keluarga yang datang menghadiri, begitupula dengan beberapa teman Khalid.


Khalid masih berdiri belum ingin duduk karena masih gugup serta gemetar.


"Tuan Khalid gugup?"


"Ah iya pak. Takut salah." balas Khalid kepada pak penghulu. Yang berdiri disampingnya. "Istighfar lalu berdoa seperti ini."


"Dengar baik baik."


"Allahumma alhimni rusdi wa'aidzni min syarinafsi."


"Baca secara perlahan, lalu tarik nafas dan hembuskan secara perlahan. Itu akan membantu dirimu tuan. Jangan takut, hadapilah. Masa seorang pria takut salah."


"Terima kasih ajarannya pak. Bismillahirahmanirahim.." khalid mulai bergumam setelah membaca basmalah ia langsung berdoa agar tidak gugup.


15 Menit Khalid sudah mulai terbiasa. Dan Nadhira, calon istrinya juga sudah tiba namun tidak langsung menuju meja akad. Sang pengantin wanita mesti menunggu didalam ruangan terlebih dahulu.


"Khalid ayo kita mulai. Apa kamu masih gugup nak?" tanya Baba yang langsung digelengi oleh Khalid. "Sudah tidak ba, lalu dimana nenek dan kakek?"


"Nenek didalam bersama calon istrimu, sedangkan kakekmu tuh sedang menyicip nyicip makanan. Huh baru datang sudah lapar."


"Hey ba, gitu gitu juga ayah mertuamu. Tolonglah sedikit menghormati beliau."


"Baba hormat kok ke ayah."


Ciut


"Aw!"


"Hormat apanya, ayah mau duduk aja diusir."ujarayah mertua yang sudah berambut putih karena faktor u.


"Ayah bukannya mengusir hanya saja Tala mengingatkan bahwa kursi itu milik istriku."


"Ah alasan saja. Sudahlah cucuku kamu langsung duduk dikursi meja akad. Kita segerakan acara ini."


"Baik kek."


Setelah Khalid duduk Baba pun ikut turun di belakang putranya, sedangkan yang menjadi saksi pernikahan putranya yang tak lain adalah abang iparnya Izak, karena bang Faris belum bisa datang karena masih berada dirumah mertuanya yang dibandung.


Sedangkan saksi untuk Nadhira yang tak lain adalah Mario. Asisten sekaligus abang angkatnya.


"Sudah siap para saksi?"


"Siap!"


"Lalu tuan Khalid, apa sudah siap memulai?"


"Bismillah saya siap, pak."


"Baik, mari saya mulai sebelum itu kita berdoa terlebih dahulu."


"Mari tuan Khalid kita berjabat tangan. Bismillahirahmanirahim.. Saudara Khalid Maliq Gentala Alexander?"


Khalid mengangguk, "Saya pak!" ucapnya tegas.

__ADS_1


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Nadhira Kanza Aulia binti Maulana, dengan mas kawin berupa, seperangkat alat sholat, satu rumah serta uang tunai sebanyak 1 Millyar rupiah dibayar tunai!"


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nadhira Aulia Kanza binti Maulana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"SAHH!!!"


"Alhamdulillahirabbil alamin. Selamat untuk anda tuan Khalid. Saya doakan Sakinah Mawadah Warahma, Langgeng sampai akhir hayat memisahkan kalian ya."


"Aminn.. Terima kasih atas doanya pak."


Pak penghulu mengangguk, lalu mengambil micnya. "Mari kita persilahkan pengantin wanita untuk memasuki taman acara.." ujarnya menggelegar membuat beberapa orang WO menggelarkan karpet putih diatas rumput.


Tak lama Nadhira datang didampingi oleh nenek Khalid serta Ummi Aisyah. Dibelakangnya ada Alesha serta beberapa teman Nadhira.


Khalid menoleh kearah gadis yang kini sudah menjadi istrinya. Akhirnya yang diinginkan dan diharapkan olehnya terjadi juga.


Gadis itu akhirnya menjadi miliknya untuk selamanya. Gadis yang ia tolongi. Menjadi istrinya.


"Masya Allah cantiknya istriku." gumamnya yang masih bisa didengar oleh beberapa orang yang duduk disatu meja olehnya.


"Iya saya tau istri anda cantik tuan. Tapi bisakah anda menyeka air liur anda yang mengalir kebawah?" celetuk pak penghulu membuat semuanya tertawa sedangkan Nadhira dan Khalid tertunduk malu.


"Silahkan duduk nona Nadhira."


Nadhira mengangguk, sesekali Alesha membantu gaun kakak iparnya untuk tidak terlalu ribet. "Makasih dek."


"Sama sama ka." senyum Alesha tanpa tau ada yang sedang menatapnya dengan intens.


Kemudian pak penghulu menyuruh Khalid memakaikan cincin dijemari manis tangan kanan Nadhira.


"Mari silahkan tuan Khalid mendoakan sekaligus mengecup dahi istrinya. Setelah itu nona Nadhira yang mengecup punggung tangan kanan sang suami." ujar pak penghulu yang langsung dituruti oleh Khalid begitupun Nadhira.


"Aduh pak penghulu kok motel dan hotel dibawa segala." gumam opa, ayah ummi Aisyah.


"Baik pak, terima kasih."


"Sama sama. Silahkan kalian berfoto ria. Saya boleh minta izin makan duluan kan?"


"Oh tentu saja, silahkan pak." ujar Kakek yang selalu bersemangat jika itu mengenai makanan.


Sedangkan Khalid dan Nadhira langsung ditarik oleh temannya untuk berfoto dibelakangnya bertulisan nama keduanya.


"Akhirnya sold out juga nih si bang khalid." ujar teman khalid.


"Bang selamat ya, akhirnya terkabul juga doanya."


"Wah adam! Makasih udah mau datang ya. Dan terima kasih juga udah mau dengerin curhatan abang."


"Sama sama bang."


"Oh iye lid. Adek lo yang ciwi mana? Kok gak keliatan?"


"Ngapain lo nyari nyari adek owe? Jangan deketin dia udah owe jodohin."


"Ck. Kenalan doang elah."


"Ka, ayo kita keliling." ujar Nadhira yang sedari tadi hanya tersenyum manis disamping suaminya.


"Eh iya hayuk. Pamit ye, bentar."

__ADS_1


"Lama juga gak papa bos."


Nadhira mengajak suaminya untuk berkumpul bersama teman temannya sekaligus saudara yang sudah ia angkat menjadi keluarganya.


"Wih ka Nadhir udah Sold. Bang khalid jagain ya, hormatin juga sayangi serta cintai ka Nadhira ya. Jangan disakitin kalau udah bosen bilang, dan balikkin kekite kite." ujar Arsyi dengan logat betawinya.


"Iye, tenang aje. Abang gak akan bosen kok. Istri abang kan geulis begini masa iye ditinggal."


"Ih kakak kalau mau ngomong betawi, betawi aja jangan segala dicampur sama bahasa sunda. Aneh dengernya."


"Iya hahah. kalian tenang aja, abang gak akan nyakitin, atau bosen sama Nadhira. Abang bakal sayang, cinta, menjaga, dan menghormatinya seperti abang memperlakukan kepada ummi, nenek serta adik abang."


"Bagus itu, dari lagi kalau abang nyakitin ka Nadhira kita semua sebagai keluarganya bakalan ngeroyok abang sampe sekarat seminggu koma dirumah sakit."


"Heh arsyi! Ngomongnya ihh serem banget. Jangan sampai lah ka Khalid nyakitin aku. Aku gak rela."


"Iya iya, Arsyikan cuman ngasih tau. Yaudah iya Arsyi tarik semua omongan Arsyi ke bang Khalid." ujarnya setelah melihat ekspresi tatapan tajam dari beberapa kakaknya.


"Bagus, itu baru gadis pintar."


"Jadi sejak kemarin Arsyi gak pinter gitu?" Sewotnya kearah Wendy.


"Baru sadar, situ gak pinter?"


"Ish nyebelin, ka wendy mahhh!" teriaknya kesal. Dan semakin kesal saat rambutnya diacak gemas oleh Mario, pria yang sudah menjadi tunangannya.


"Sayangggg, jangan diberantakin. Aku kan udah buat setengah jam ampe tangan pegel ini.." rengeknya membuat semuanya gemas. Mario yang gemas langsung mengecup gadis kecil itu didepan publik.


Cup!


"Manisnya."


Semua orang terkesiap dengan aksi Mario yang sangat berani itu. "Astaghfirullah Mario! Kamu kenapa nyium gadis kecil ummi didepan banyak orang?"


Plak!


Plak!


"Nakal banget sih.. Aduh gadis ummi jadi malu ya sayang?" heboh ummi setelah memukul lengan Mario dengan keras, membuat pria muda itu meringis pelan dan ditertawai oleh yang lain.


ck.


ck.


ck.


"Dasar anak muda jaman sekarang berani berani ya? Ayah dulu gak begitukan bunda?" tanya ayah.


"Apaan gak begitu. Orang saat ayah lamar bunda, ayah nyium bunda dengan rakus sampai diomelin papa buat dipercepat nikahnya."


"Aduh bunda kenapa dikeluarin aib ayah sih?"


"Ayah duluan yang ngeluarin topik."


"Ish kan ayah malu bun."


Tingkah orangtua Ummi Aisyah benar benar tidak pernah berubah. Walaupun sudah faktor U, keduanya masih harmonis dan saling menyayangi satu sama lain malah bertambahnya hari membuat keduanya semakin mencintai satu sama lain.


"I love you bunda."


"I love you juga Ayah."

__ADS_1


bisik keduanya tanpa bisa didengar oleh orang lain hanya berdua serta Allah diatas sana yang bisa mendengarkan mereka.


--


__ADS_2