
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa beri tanda diceritaku ya.
--
Selesai mengadakan tujuh bulanan, aisyah memilih jalan-jalan keluar rumah dengan baju yang sudah berganti menggunaka sweater milik suaminya serta rok prisketnya membuat tampilannya berubah yang awalnya ramping berisi menjadi gemuk berisi.
“Kamu lucu, kita mau jalan kemana kali ini baby?”
“Ke depan yuk mas, aku mau beli susu hamil habis yang rasa strawberry.”
“Oke ayo, kita jalan cus..”
Aisyah menggandeng lengan kanan suaminya, mereka berjalan dengan langkah pelan karena menyesuaikan laju jalan Aisyah yang membawa dua nyawa didalam perutnya. Ia saja membawa sisa makanan didalam perutnya sudah begah bagaimana sang istri yang mengandung sekaligus dua?
Rasanya wow!
“Gimana rasanya mengandung?” tanya Tala dengan nada lembut, ia juga merangkul Pundak istrinya dengan lembut. “Bahagia. Sangat bahagia, walaupun sedikit aneh awalnya karena ada sesuatu yang hidup didalam perutku, tapi rasanya menyenangkan.”
“Apalagi pas pertama kali dia bergerak kesana kemari didalam perutku, awalnya mulas tapi lama kelamaan geli seperti ada yang menggelitik.” Ujarnya tidak mereka sadari bahwa keduanya sudah sampai di minimarket. “Ummi bawa tas belanjanya kan?”
“Bawa kok ba, oh iya tadi bunda nitip beliin kue kering crakers ingetin ya mas, aku suka lupa soalnya.” Tala mengangguk lalu membukakan pintu minimarket agar istrinya lebih dulu masuk baru dia.
“Silahkan nona muda Alexander.” Bisik Tala membuat Aisyah melebarkan senyumannya didalam masker.
“Terima kasih tuan muda Alexander.”
Malam harinya, keduanya masih berbaring dikasur empuk milik Aisyah didalam rumah bunda. Kasur milik Aisyah cukup lebar maka muat berdua, jika tidak keduanya akan bersempit-sempitan ditambah perut melebar Aisyah yang makan tempat.
“Mas?”
Saat ini aisyah bersandar didada bidang suaminya sedangkan sang suami diam sembari membaca buku tentang kehamilan, ia harus menjadi suami siap siaga membantu sang istri mengurus bayi mereka setelah lahir. Tidak mungkin dia akan membiarkan sang istri merawat bayi mereka dengan sendiri, buat bersama susah senang bersama.
“Hem?”
“Kira-kira mas udah siapin nama buat baby?”
“Hem udah, mas udah siapin. Tapi nunggu sampai hari aqiqah baru mas sebarin.”
“Lama banget? Kasih tau aisyah ya saat lahiran. Ya?”
__ADS_1
Tala hanya membalas tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “rahasia dong sayang, mas pengen nama mereka jadi kejutan buat kamu dan keluarga besar kita.”
“Terus kita semua harus manggil baby sebutan apa?”
“Baby double K.”
“Oh jadi Namanya diawali dengan huruf ‘K’?” gumam Aisyah yang langsung memikirkan nama yang diberikan suaminya. “Jangan bilang mas bakal ngasih nama anak pertama kita…” ia lanjuti dengan berbisik agar tidak ada yang didengar oleh para pembaca.
Kedua mata Tala membulat tidak lupa dengan buku yang ia baca terlepas. “Kok tau? Kamu cenayang?”
Puk!
“Enak aja, hanya menebak saja. Dan ternyata benar, Namanya bagus aku suka. Oke kita panggil baby double K nanti setelah lahir.” Tala duduk tegak dan menghadap kesamping tubuh istrinya, “mas mau nanya sesuatu sama kamu?”
“Tanya soal apa?”
“Kerjaan kamu, kira kira kamu akan hiatus berapa lama?”
“Em, isyah pikir mungkin saat baby double K punya adik? Aku mau fokus ngurus anak anak kita tanpa kesibukkan lain. Hanya fokus kamu dan anak anak kita. Itu aja, nanti kalau mereka sudah bisa melakukan kegiatan sendiri baru aku akan melanjutkan pekerjaanku.”
“Kamu yakin? Gak ragu?”
“Kan udah kemarin malam. Masa iya mau lagi?”
“Hem, mau banget tapi aku takut ngelukain kamu dan baby.”
“Pelan pelan aja yuk? Aku juga.” Mendapatkan lampu hijau dari sang istri langsung berbinar matanya dan bersemangat, “ingatkan aku jika aku terburu-buru.”
Aisyah mengangguk lalu keduanya saling bermesra ria. Pagi hari Tala memeluk tubuh Aisyah dari belakang karena jika dari depan tidak memungkin apa lagi perut sang istri sudah sangat membesar seperti itu.
“Yang, ummi baby double K. Ayo bangun udah adzan subuh nih..”
“Hem… tunggu 5 menit lagi mas. Masih ngantuk aku.”
“Oke 5 menit, mas selesai mandi kamu bangun ya.”
“Mandinya barengan dong…”
“Ayo makanya bangun yuk.” Ajak Tala sembari pelan menarik pundak istrinya lembut. Dengan sekali gerakkan Tala sudah menggendong Aisyah gaya bridal. “duduk dulu ya disini. Mas siapin air hangatnya dulu.”
Aisyah tersenyum melihat sang suami begitu memanjakannya, mau ia sedang mengandung maupun tidak, mungkin ini yang dinamakan menikah dengan pria yang matang maksudnya lebih tua dari kita. Apa ini yang dirasakan oleh banyak orang? (Apa aku akan mendapatkan jodoh seperti Gentala? Irinya, yuk yang jomblo gigit jari bersamaan.)
__ADS_1
Tala membuka baju tidur istrinya begitu pula dengan dia, kemudian keduanya duduk didalam bathup yang sudah diisi dengan air panas, sebelumnya kamar mandi milik Aisyah ini tidak ada bak besar seperti ini hanya air pancur saja namun sejak menikah dengan Gentala, suaminya langsung membongkar kamar mandinya agar lebih luas dan bisa ditempatkan sebuah bathup didalamnya.
“Enakkan aromanya? Gak bikin mual.”
Aisyah mengangguk, “hem, aroma kesukaanku vanilla campur stroberi iya kan? Apa ada campuran lainnya?”
“Lemon, mas yang buat campuran itu sendiri buat menghilang rasa mualmu saat mengandung dibulan ke 3.”
“Makasih udah mau direpotkan olehku.”
“Tenang saja, mas akan selalu berada disampingmu sampai kit atua nanti. Mas senang bisa direpotkan oleh mu.”
Dikecupnya pelipis Aisyah sampai mereka berbincang cukup lama dan merasakan airnya sudah dingin langsung keluar dari kamar mandi.
“Ayo kita keluar, airnya dah dingin.”
“Kan nanti dipeluk sama mas.”
“Dasar udah pintar berbicara manis kamu ya.” Colek Aisyah dari Tala yang gemas dengan tingkah menggemaskannya itu.
“Bisa dong, siapa dulu gurunya. Kan mas sendiri.” Ujarnya setelah mengenakan baju rapih keduanya keluar dari kamar dan melangkah menuruni tangga dengan langkah perlahan. Sampai mereka melihat bunda, ayah dan kedua abang Aisyah sudah menunggu dimeja makan.
“Pagi semuanya? Maaf ya isyah lama turunnya.”
“Pagi juga tuan putri Abdullah, sini duduk disamping ayah.” Ujar ayah sembari menarik kursi membantu putrinya duduk karena akan sangat sulit Aisyah duduk dengan perut yang sudah sangat besar itu layaknya usia 9 bulan.
Tala ikut membantu mendorong kursi istrinya sesudah itu ia duduk disamping istrinya dengan menyiapkan sarapan nasi satu piring jika tidak Aisyah akan muntah kembali seperti kebiasaannya.
“Mau telur mas.”
“Oke tapi jangan yang setengah mateng ya? Yang ini aja oke?” ujar Tala sembari mengambil telur dadar disamping telur mata sapi yang setengah matang. Sebenarnya itu telor kesukaan Aisyah sebelum menikah namun entah kenapa setelah menikah melihatnya saja sudah enek bagaimana memakannya? Rasanya ilang nafsu makan.
--
Next..
Vote, Comment, Like, and Favorite!
See you! Thank you! Bye!
LOVE Rora~
__ADS_1