AISYAH

AISYAH
(80) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa beri tanda didalam ceritaku ya.


Support aku juga ya.


--


Selesai menanam tanaman stroberi di halaman belakang Aisyah, Rendy diperbolehkan untuk rebahan sebentar di kamar tamu, sedangkan ka Azzam sudah pulang terlebih dahulu karena ditelpon oleh seseorang tentang pekerjaan.


Hani dan Aisyah masih berbincang diruang tamu dengan asik sampai mereka tidak sadar waktu sudah menunjuk pukul 10 malam, dan Rendy juga sudah bangun dari tidurnya, lalu pamit pulang sebelum itu ia juga sudah berterima kasih karena diperbolehkan untuk istirahat sebentar.


Setelah tamu mereka pulang, Aisyah menatap sebentar perkebunan stroberinya itu lalu melangkah masuk kedalam rumah dituntun pelan oleh Tala yang selalu sabar menemaninya. Malah pria itu sangat senang bisa direpotkan oleh istri tercintanya.


“Kata dokter, lahiran kapan?”


“perkiraannya saat aku sudah masuki 37 atau 40 minggu tapi kita tidak tau kapan baby K ingin keluar.”


“Lalu perut kamu sudah berapa minggu?”


“Udah mau memasuki minggu 36 sih.” Tala mengelus perut Aisyah dengan lembut terkadang mengajaknya berbicara sampai si kembar menendang atau bergerak kesana sini. “Maaf ya, mas tadi gak bisa nemenin kamu ke dokter.”


“Gapapa, kan itu rapat penting buat kantor dan karyawan. Masa iya, mas harus bolos terus.”


“Mas gak bolos ya, itu ijin namanya.”


Aisyah mengangguk, sesekali ia meringis karena baby double K tidak akan bisa diam jika sedang dielus manja oleh ayahnya. “Sakit ya ummi? Untuk Baby Double K kalian jangan nendang begitu, kasian ummi jadi kesakitan, pelan dan tenang saja ya jangan ditendang, kasih tau aja dengan gerakan kalian dari dalam sana, ke baba.”


Sreg!


Baby K pun mengikuti perkataan babanya dengan kekanan kekiri. Sesuai dengan perintah dari Baba Tala. “Wah kalian sudah pintar ya.. sehat-sehat ya didalam, malam ini baba sama ummi mau istirahat seperti malam-malam sebelumnya.”


Cup!


“Selamat tidur baby Double K.”


Minggu ke-37, hari tegangnya Tala saat melihat sang istri melemas didepannya, istri kesakitan sambil memegang perut bawahnya. “Mas, aku mau lahiran sepertinya.”lirihnya membuat Tala yang tidak tau harus apa langsung menggendong Aisyah dan meraih tas segala keperluan kelahiran.


Saat ini Tala sedang mengelus perut Aisyah dengan lembut menunggu pembukaan yang sempurna, Aisyah juga sudah tenang karena diberi anjuran oleh dokter untuk memikirkan hal yang baik dan hal yang menyenangkan. “Uhh sakit mas.. sshhh.”


“Bentar aku panggil dokter dulu ya. Tunggu sebentar. Jangan meram.” Aisyah mengangguk dan menggigit handuk yang berada dimulutnya itu. Tala memberikannya agar bibir istrinya tidak terluka.


Tak lama Tala masuk diikuti dokter dan dua suster, sedangkan para keluarga menunggu diluar ruang bersalin. “Udah sempurna pembukaannya, ummi Aisyah, kalau saya suruh mengejan, lakukan ya, tapi jika tidak jangan mengejan ataupun dorong.”


“Baik dok,.”

__ADS_1


“Lakukan sekarang dok.” Pinta Tala dengan keringat membanjir wajahnya. Tak lama Aisyah mengejan seperti permintaan dokter, dan keluarlah bayi pertama mereka. Aisyah bernafas lega walaupun belum selesai.


“Sehat ya tuan, tanpa ada kekurangan atau kelebihan, beratnya juga sempurna ya tuan. Biar saya bersihkan terlebih dahulu ya.”


Uhh..


“Sakit lagi..”


“Wah si adek juga mau nyusul abangnya nih ummi, ayo mi, dorong adik bantu adik keluar.”


Ughhh!!


Hahh…


Hahh..


Uhhh…


Suara tangisanpun langsung terdengar kembali, adik pun langsung lahir dengan selamat tanpa kekurangan atau kelebihan. Beratnya juga hampir sama dengan abangnya. “Terima kasih sayang, atas kekuatannya untuk melahirkan darah daging kita, aku dan kamu.” Cup!


“Baik, silahkan tuan mengadzaninya setelah itu kami akan mengurus ibu dan kedua anak anda.”


Setelah mengadzani kedua anaknya, ia keluar dari ruang persalinan dan memeluk mom Aluna dengan erat. “Maafin Tala kalau ada kesalahan didalam hidup sepanjang 25 tahun ini mom.”


“Sudah dimaafkan, tanpa kamu tau nak. Bagaimana? Baby double K sehat? Lancar?”


“Lalu apa yang bisa dibedakan dari abang dan adiknya?”


“Abangnya punya tanda lahir di pipinya, sedangkan sang adik memiliki tanda lahir didagunya. Itu yang dibedakan.”


“Alhamdulillah akhirnya kita punya cucu bun.”


“Iya, alhamdulillah banget.”


“Terus namanya sudah disiapin?” tanya dad, diangguki Tala, “tapi namanya aku beritahu setelah aqiqahan. Aku mau jadi rahasia aja dulu hehe.”


“Dasar kamu ini, yaudah gapapa lebih baik kita tunggu sebentar.”


Beberapa menit menunggu, brankar aisyah telah didorong menuju kamar rawat inap yang disiapkan oleh dad Peter serta ayah Syah. VIP biar muat banyak oleh semua keluarga.


Tala selalu berada disamping istrinya dengan menggenggam tangan kanannya erat. “Kamu berhasil yang.”


“Hem, makasih udah disampingku mas.”


“Sama-sama, sekarang kita panggil pakai panggilan kesayangan kita ya, biar Khalid dan Kazeem mendengarnya.” Bisik Tala tanpa didengar oleh yang lain selain Aisyah. Wanita itu mengangguk dengan pelan karena tubuhnya masih terasa lemas.

__ADS_1


“Wahhh babynya lucu lucu, ihh.. gemesnya.. Namanya siapa ka?” tanya Sakura yang langsung disauti oleh mom Aluna. “Belum diberi tahu masih rahasia katanya.”


“Kok gitu?”


“Biar diacara Aqiqah aja kalian semua tau.”


“Ih gak sabar buat gendong.” Ujar Suiren yang langsung ditatap tajam, “kamu gak boleh gendong, kakak takut bayi double K kenapa-kenapa.”


“Ih masa sama adiknya sendiri gak percaya sih? Jahat, ngambek ah sama kakak, dad ka Tala jahat.” Ngadunya dengan raut ketekuk.


“Udah sini diam saja sama dad, dad aja belum gendong baby.”


Tak lama kedua bayi Tala dan Aisyah terbangun namun tidak menangis, mereka menguap lucu dan menatap semua orang sekelilingnya. Mereka baru bisa membedakan kedua baby itu melalui matanya. Si abang K bermata abu-abu sama seperti baba Tala. Sedangkan sang adik K bermata coklat terang sama seperti ummi Aisyah.


“Masya Allah, indahnya ciptaanmu ya Allah.” Gumam Bunda saat melihat kedua cucunya yang sudah bangun dengan mulutnya bergerak kesana kemari mencari asupannya. “Aisyah, baby K lapar nih.. Ayo susui terlebih dahulu babynya. Untuk para lelaki selain Tala keluarlah, kalian cari makanan gih. Kami para wanita kelaparan.”


“Baiklah ayo kita keluar, tinggalkan Tala bersama para wanita.”


Selesai para laki keluar, Bunda menyuruh Tala untuk membantu Aisyah menegakkan tubuhnya. Dengan bantal. “Sini bantu menantu mom menyusui, kalian taruh babynya didepan dada, karena nanti dia akan mencari benda yang menjadi asupannya.”


“Hanya seperti itu?”


Pak!


“Hanya? Mom belum menjelaskannya tau, kamu harus lihat dan menggendong bayi dengan benar, salah sedikit bisa fatal.” Omel mom kepada putranya yang sudah ia pukuli oleh tangannya sendiri ke punggung Tala.


“Ya maaf, kan Tala gak tau.” Ringisnya karena merasa panas dipunggung.


“Maka dari itu yang sopan, mom belum melanjutkan kamu sudah memutuskannya.”


“Sini bunda ajarin, kamu harus menggendong bayi dengan benar, pertama kali kalian harus mengangkat bayi dengan posisi satu tangan dikepala dan tangan lain dibagian pantat. Secara perlahan kalian tempatkan kepala bayi di lekuk tangan, sehingga sebagian tubuh bayi berada disepanjang tangan kalian seperti ini.” Jelas bunda Panjang lebar sembari mempraktekanya didepan menantu dan putrinya.


“Letakkan tangan kamu yang lain dibagian bawah tubuh bayi untuk menopangnya. Posisi ini bisa membuat kamu memeluk bayi dengan baik, dan bayi juga bisa mendengarkan detak jantung sang ibu.” Lanjutnya membuat kedua orang yang baru menjadi orang tua itu mendengarnya dengan baik.


“Lalu kalau mereka menangis?”


“Beri goyangan seperti mengayunkan bayi dalam gendongannya agar dia cepat tenang dan kembali tertidur.” Saut mom diangguki Aisyah maupun Tala. Sedangkan kedua adik Tala hanya bisa terdiam dan menatap keempat orang dewasa itu sesekali ia menatap layar ponselnya lalu tersenyum senang. Entah apa yang membuat kedua gadis itu bahagia.


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite!


See you! Thank you! Bye!

__ADS_1


LOVE Rora~


__ADS_2