
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa beri tanda like ya.
Support juga.
--
Dipagi hari, Nadhira sudah diantar oleh ummi pulang kerumah tanpa pamitan kepada Khalid, karena pria itu masih
terlelap tidur, karena tidur terlalu larut malam begitupun dengan para saudaranya. Hanya Lian dan Lesya yang bangun pagi karena ingin pergi kekampus dan kekantor.
“Ini rumahmu nak?” tanya ummi yang langsung diangguki oleh nadhira, “iya ummi, ayo masuk mi. Dhira ingin berganti pakaian terlebih dahulu.”
“Jangan terlalu rapih sayang, cari pakaian yang simple saja ya.”
“Oke ummi, ummi mau minum?”
“Tidak perlu nak, ummi masih kembung minum jus buatan baba tadi.”
Nadhira mengangguk lalu masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian, ah tidak sebelum itu ia ingin mandi terlebih dahulu.
Karena pagi tadi ia hanya menyikat giginya tidak memandikan badannya. Selesai mandi ia langsung mencari baju simplenya. Dan ia lebih memilih mengenakan kulot warna plum lalu kaos corak bunga kecil yang berwarna mauve kemudian dikontraskan dengan jilbab segi tiga berwarna hitam.
“Sudah simple. Tinggal menggunakan sunscream dan lipbalm. Selesai deh.” Gumamnya. Kemudian meraih botol parfum wangi bayi menyerbu ruangan kamarnya. Nadhira menuruni anak tangga, “ummi, dhira udah siap.”
“Ayo, kita langsung jalan, ummi udah bilang ke sahabat ummi. Beliau sudah menunggu kehadiran kita berdua.”
“Hanya kita berdua saja mi?”
“Baba dan Khalid nyusul nanti.” Nadhira mengangguk, lalu menggandeng lengan ummi setelah itu keduanya masuk kedalam mobil yang sudah ditunggu supir ummi Aisyah yang tak lain pak Dalli.
Nadhira masuk terakhir saat ummi sudah duduk tenang dikursi sampingnya, “kita langsung ke butik mi?” ummi Aisyah mengangguk, “tentu saja, tapi tenang aja setelah ini kita ke mall untuk mencari barang seserahan untukmu serta maharnya.”
“Seserahan itu isinya seperti apa?” tanya polosnya membuat ummi menjelaskannya dengan sabar, “seserahan isinya bebas seperti kebutuhanmu sehari hari, misalkan dhira ingin membeli skincare serta bodycarenya. Terus gaun, tas, serta sepatu. Kemudian ada juga perhiasan serta make up. Dan terakhirnya seperangkat alat sholat serta baju koko. Kamu juga bisa menambahkan sesuatu yang kamu inginkan.”
“Pakaian santai couple?”
“Itu juga beli saja, nanti kita akan membeli banyak kotak seserahan agar kamu bisa memiliki banyak barang dari Khalid. Karena kita beli barang seserahan menggunakan kartu limited Khalid.” Jelas ummi yang langsung diangguki oleh gadis itu. Ia hanya diam dan nurut. Sampai mobil mereka telah tiba di depan butik sederhana namun harganya tidak sesederhana yang terlihat.
“Sayang! Ayo sini pilih gaunnya, kamu mau model seperti apa?”
“Aku ingin yang warna muda dan soft tidak sengejreng ini ummi.”
“Jadi kamu benar benar memiliki calon menantu syah? Gila gak percaya aku, sejak dulu kamu taukan putriku jatuh cinta sama Kazeem.”
“Eits! Kata siapa Nadhira menikah dengan Kazeem? Orang gadis ini akan menikah dengan putra sulungku sedangkan putra kedua ku masih ingin berdiam diri serta mencari jodohnya sendiri tanpa dihubungkan dengan masa lalu.”
“Oh syukurlah, jika gadis cantik ini bersama kazeem aku akan menyuruh putriku merebutnya.”
“Mengapa jiwa pelakormu keluar? Jahat sekali.”
__ADS_1
“Biarin, aku ingin menjadi orang jahat dalam hidupku agar tidak ada yang meyakitiku secara diam.” Ujar wanita paruh itu yang ternyata, beliau adalah seorang janda anak dua. Sang suami ah tidak lebih tepatnya mantan suaminya itu telah berselingkuh dengan wanita lain disaat ia sedang mengurusi anak keduanya yang berumur 5 tahun.
“Tapi memangnya putrimu yang tomboy itu menyukai putraku?”
“Ah itu dia, gadisku itu benar-benar menyukai pria lain katanya.”
“Siapa?”
“MAMIIII!!! AKU PULANG!!”
“Berisik! Mami lagi ada tamu ini.”
Nadhira menoleh kearah teriakan tersebut dan mematung, betapa terkejutnya ia melihat gadis yang sangat tak asing baginya. “Loh? Ka Dami?”
Sedangkan gadis itu hanya berdiri kaku, lalu menunduk sedikit. “Halo nona, selamat siang?”
“Tunggu kakak sedang apa disini?”
“Aku..”
“Tunggu-tunggu, kalian berdua saling mengenal satu sama lain?” tanya mami Ka Dami. Yang menatap Nadhira lalu menatap kepada dami secara bergantian.
“Mami! Mami tidak berkata kata kasar bukan? Dia itu atasanku, atasan dari dua anak mami. Aku harap mami tidak membahas tentangku yang tidak tidak.” Ujar Dami dengan nada kesalnya kepada maminya yang selalu berkata tak mengenakkan didengar oleh banyak orang yang mendengar.
“Aku atasan dari kakakmu juga ka? Siapa?”
“Ilyas, dia kakak kandungku dan dia juga menjadi semangat dalam hidupku.”
“Gadis manis, kamu mengetahui nama panggilan kecil putriku?”
“Iya nyonya, saya mengetahuinya karena bang Ilyas selalu menceritakan bahwa memiliki adik perempuan yang dua
tahun dibawahnya namun sifat dan sikap sangat buruk namun ku lihat kakak tidak terlalu buruk. Hanya saja kakak terlalu bar-bar jika sudah berada diluar kantor, berbeda jika dikantor, kakak terlihat anggun namun dingin, perhatian namun acuh.”
“Kau mengenali Iliya dengan benar, mohon maafkan ucapan mami ya nak. Kamu sekarang bisa memanggil tante dengan sebutan Mami ya sayang.”
Nadhira mengangguk sopan, lalu Aisyah menggelengkan kepala begitupula dengan Dami yang hanya menghela nafas kasar tidak percaya dengan sifat serta sikap maminya.
“Pusingnya.”
"Kenapa kamu yang pusing? Seharusnya mami, karena mami merasa kamu diumur segini itu sudah menikah dan memiliki anak serta cucu untuk mami, tapi ini apa? Diumurmu yang sudah mau kepala 3 ini masih saja bandel."
"Hidup hidupku mami, jadi tolong jangan berkata hal lain dan dirumah mami dilarang untuk mengatakan kalian pernikahan."
"Kenapa memangnya?"
"Mami akan kami hukum dengan uang jajan dikurangi lalu butik ini akan aku menyuruh bibi untuk kembali memegangnya bagaimana?"
"Ah kalian tidak seru, mainnya mengancam."
"Mengapa kau selalu kalah sejak dulu?"
__ADS_1
"Itu tandanya mereka mencintaiku, mereka sangat perhatian kepadaku."
"Maka dari itu mereka berani mengancam."
“Ya ya, terserah kau saja. Oh iya apa kalian kemari hanya untuk mengomeliku? Pilihlah gaun yang kamu ingin kan
sayang.” Ujar lembut mami Dami. Yang langsung diangguki oleh Nadhira dan melihat setelan gaun yang berwarna hijau sampai ia jatuh cinta kepada satu gaun dari yang lain.
“Aku mau yang ini ummi, apa ada? Jika ada aku ingin mencobanya.” Unjuknya kearah satu gaun yang berada dimajalah tersebut. “Ada kok sayang, tolong dami suruh naya untuk membawa gaun ini.”
“Oke mami, tunggu sebentar ya nona, nyonya.” Ummi tersenyum lalu Nadhira mengangguk. “
Sambil menunggu, Nadhira melihat kembali majalahnya sampai ia melihat gaun pengantin yang sangat terbuka, “kenapa nak?” tanya ummi yang membuat gadis itu meberi unjuk gaun yang ia lihat. “mungkin jika aku tidak mengenakan hijab aku memilih gaun ini mi.”
“Cantik sekali, tapi mungkin saja Khalid tidak membiarkan gadisnya sekaligus calon istrinya mengenakan pakaian gaun terbuka seperti ini.”
Nadhira tertawa, “yang benar saja? Ah gaunnya sudah datang.”
“Mari nona, kami akan membantu anda mengenakannya.”
“Terima kasih atas bantuan kakak, lebih baik kakak istirahat saja.”
“Tidak nona, saya tidak lelah. Saya ingin disini melihat nona mengenakan gaun nikah.” Ujarnya dengan senyuman. Sedangkan para ibu-Ibu hanya menatap dua gadis itu berbicara dari jarak sedikit jauh. “Aku tidak menyangka, jika putriku sudah dewasa seperti itu jika diberhadapan dengan atasannya.”
“Dan aku juga tidak mengetahui jika putrimu sangat mengabdi kepada menantuku, Dian.”
“Ya, benar, aku tidak menyangka saja. Tapi aku sedikit penasaran dengan putraku yang dingin seperti kulkas itu.”
“Ummi, gaunnya sangat indah dan cocok sekali dengan tubuhku.” Ujar Nadhira sambil menunjukkannya serta memutar pelan memperlihatkan seluruh tubuhnya.
“Benarkah? Wah kamu sangat cantik sayang. Pantas saja Khalid jatuh cinta kepadamu.”
“Tentu saja, aku kan gadis yang penuh perhatian kepada putra ummi. Sebelumnya dia sudah membantu serta menolongku dari jeratan istri mendiang ayahku lalu aku tinggal dengannya beberapa bulan dan itu membuatnya jatuh cinta.”
“Apalagi ada resep rahasia masakan yang membuat lidahnya terbuai oleh masakanku hehe.” Ujarnya dengan menceritakan kilas baliknya kepada calon mertuanya. “Benarkah? Wah ummi cukup tidak sabar untuk mendengarkan ceritamu nak.”
“Sudah cukup, mami ingin bertanya apa ada yang kurang sesuatu dari gaun itu nak?”
Nadhria menggeleng kepala, “tidak ada mami, ini sangat sempurna ditubuhku.”
“Tubuhmu memang sangat indah nona, walaupun selalu ditutupi oleh baju kebesaran.” Ujar ka Dami yang langsung diangguki oleh Nadhira.
“Aku tidak sabar.”
Gumamnya dan membayangkan semua hal untuk kedepannya.
--
__ADS_1