AISYAH

AISYAH
(63) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading semuanya!


Jangan lupa kasih tanda like untukku.


Ah kasih support ya semoga aku bisa lanjutin part selanjutnya.


“Uhh malunya..”


Aisyah, gadis itu sedang berguling-guling ke kanan kiri diatas kasurnya tak lupa dengan gulingnya yang ia peluk dengan erat sesekali menyembunyikan wajahnya dan tertawa sendiri. Sampai dirinya tidak menyadari jika abangnya sudah berdiri didekat pintu kamarnya dengan kedua tangannya berada didekapannya. Berkali-kali dia menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik.


“Sedang apa kamu?”


“Abang!” pekik isyah lalu duduk dari posisinya menatap abang Izak melangkah mendekatinya, “se-salting gitu? Apa kamu sebahagia begitu dengannya?”


“Em, jujur, isyah udah punya rasa sama dia, karena sifatnya dan perilakunya yang membuatku nyaman, apa salah menyukai pria yang akan menjadi suamiku bang?” bang Izak menggeleng kepala, “tidak salah, namun kamu masih harus menjaga batasan karena kalian belum muhrim.


“Iya, isyah ngerti kok.”


“Em, abang mau tanya, jika kamu mengetahui masa lalunya apa kamu akan marah?”


“Masa lalu? Siapa? Jangan bilang mas Tala?”


“Hem, tentang dia, siapa lagi memangnya?”


“Aku gak tau, tapi mungkin aku akan mencoba menerimanya, mungkin itu adalah salah satu yang harus kuterima jika ingin pria itu menjadi suamiku kelak. Dan seperti yang sering bunda dan ayah katakan, dalam hubungan rumah tangga harus saling terbuka dan menerima kekurangan dan kelebihan dari seseorang karena itu juga menjadi kunci dari sebuah hubungan suami istri. Jadi isyah akan selalu menerimanya kekurangannya maupun kelebihannya begitu sebaliknya.”


Abang Izak mendengarnya sedikit lega lalu mengacak rambut adiknya dengan gemas. “Adik abang sudah dewasa ya? Sudah tidak manja lagi hem?”


“Tentu, karena aku memang sudah beranjak dewasa berumur 23 tahun bukan lagi memikirkan untuk bermain.” Ujarnya membuat abangnya semakin bangga memiliki adik kecil yang dewasa itu. “Baiklah, tidurlah. Jangan terlalu malam tidurnya, sebentar lagi kalian akan menikah dalam hitungan hari?”


“Memangnya berapa hari?” tanyanya sambil meraih ponselnya dan membuka kalender menghitung hari pernikahannya. “Oh cepat sekali waktu, 42 hari lagi ya? Berarti satu bulan dua belas hari?”


“Yaps! Istirahatlah.”


“Abang! Jika jodoh abang sudah datang, apa abang akan segera mengikuti jejak aisyah dengan menikah?”


“Tidak, abang akan mengenalnya lebih dalam terlebih dahulu jika sudah yakin abang akan melamarnya, mengapa begitu?”


“Aku ingin mencoba memperkenalkan abang dengan kakak cantik yang ku kenal beberapa hari yang lalu.”


“Oh begitu? Ya sudah, abaikan saja pembicaraan jodoh abang. Tidurlah.”


“Hem, selamat malam bang.”


“Malam juga adik kecil.”

__ADS_1


Sedangkan disebuah ruangan gelap, ada seorang pria dengan rokoknya ditangan kanan tak lupa dengan wanita disamping kirinya yang begelayut manja, “jadi? Dia sudah tobat?”


“Hem, iya bos. Dan dikabar bahwa dia akan segera menikah.”


“Jadi anak kecil itu sudah balik kedunia? Lalu siapa yang melanjutkannya?”


“Anak buahnya bos, katanya dia sudah tidak ingin lagi masuk kedunia gelap dan lebih memilih dunia terang yang ditemani oleh beberapa orang tersayangnya termasuk calon istrinya bos.”


“Baiklah kalau begitu kau boleh pergi, dan ingat jangan menggangguku.”


“Baik bos, saya permisi.”


“Sudah selesai sayang?” tanya wanita itu dengan nada manjanya, membuat pria disampingnya langsung mengangkat tubuh wanita itu keatas pangkuannya, “sudah, dan aku akan memakanmu sekarang.”


Uhh..


--


“Bagaimana?”


“Seperti biasa tuan, ayah anda masih berkesinambungan didunia kegelapannya tuan, tidak lupa dengan wanita panggilan.”


“Hah.. dasar pria tua bangka itu, sudah tua bukannya mencari pahala malah mencari dosa.”


“Tuan besar berubah seperti itu setelah ibu anda meninggal bukan begitu?”


“Sepertinya begitu tuan.”


Pria itu menggarukkan kepalanya yang tiba-tiba gatal mendatanginya, “apa Gentala mengetahuinya?”


“Tuan muda belum mengetahuinya tuan, setelah keluar dari dunia gelap ia sudah tidak pernah lagi menghubungi anak buahnya selain itu urusan penting.”


“Baiklah, sudah cukup. Keluarlah. Lanjutkan pekerjaanmu.”


“Baik, permisi tuan.”


Ditempat ruangan gelap, suara nikmat berganti menjadi suara teriakan dan kesakitan. Pria itu mengarahkan sebuah senjata tajam yang sangat runcing kearah wanita yang sudah ia gunakan tadi tak lupa dengan senyuman yang mengerikan.


“Kumohon, jangan bunuh aku..”


“Kau tau? Apa yang sudah membuatku menjadi gila seperti ini?” tanyanya kepada wanita itu yang dibalas gelengan. “tentu saja kau tidak tau, karena keluargamu yang mengetahuinya, jika kau sudah mati ganggulah keluargamu yang bernama Geryano Wilsonrich. Kau kenal dia bukan?”


“Tentu saja kau mengenalinya, orang dia adalah ayah tersayangmu. Dan kau tau apa yang sudah ia lakukan terhadapku? Dia menculik istriku, menyentuhnya, dan menidurinya setelah itu ia membunuhnya dengan sadis dan itu tepat dihadapanku yang baru saja datang. Dan aku bersumpah akan menghabisinya serta keluarganya apalagi keturunan berjenis wanita. Aku akan membabatnya sampai ke ubun-ubun. Dan sekarang giliranmu setelah kedua kakakmu yang sudah meninggalkan dunia ini.”


“hiks.. ku mohon..”

__ADS_1


Srak!


“AAAAA!!!”


“Darah wanita sepertimu, tidak enak.”


“Darah istriku lebih enak, tapi sayang istriku sudah pergi lebih dulu. Sayang kau lihat? Aku hancur setelah apa yang pria itu lakukan kepadamu.” gumamnya dengan air mata menggenang, jika mengingat wanita tercintanya ia sangat sedih, "kamu tenang saja aku akan membalas dendammu kepada mereka." geramnya.


Keesokkan harinya, pria itu menatap pemandangan di dalam ruangannya dengan pakaian setengah terbuka. Ia membiarkan mayat wanita itu tergeletak begitu saja di atas lantai depan kamar mandinya.


Tak lama anak buahnya datang, dengan tatapan biasa sudah tidak terkejut dirinya melihat wanita telanjang tergeletak lemah dilantai. Tidak ada lagi tanda pernafasan, “singkirkan mayatnya, lakukan seperti biasa, di pitakan dan taruh didalam kamarnya seperti yang kalian lakukan saat menculiknya.”


“Baik tuan, apa surat akan ditaruh diatasnya seperti biasa tuan?”


“Tidak usah, kau berikan saja perkataan nikmat dengan tulisan orang lain, karena pria itu sudah mencurigai lokasi kita.”


“Baik tuan, ah satu lagi tuan, apa anda akan menghadiri pernikahan cucu anda?”


“Tentu saja, aku akan datang, karena aku penasaran dengan calon menantu cucuku. Bagaimana bisa dia membuat cucu kesayanganku jatuh hati?”


“Saya dengar, cucu calon menantu anda seorang artis baru tuan. Dan dikabarkan gadis itu adalah cucu dari mendiang tuan Abdullah, teman anda tuan.”


Pria itu langsung menatap bawahannya dengan tatapan takjub, “benarkah? Apa kau tidak salah?”


“Benar tuan, putra dan adik tuan Abdullah juga masih ada dan baru kemarin mereka bertemu.”


“Wahh, ternyata kemauan Abdul benar benar dikabulkan. Tidak jadi anaknya, jadilah cucunya yang akan berdampingan dengan cucuku? Baiklah, kosongkan jadwalku dalam sebulan pernikahan cucuku.”


“Baik tuan.”


“Pergilah.”


“Permisi tuan.” Ujarnya setelah selesai mengepel dan memberikan aroma lantai bekas darah mayat tersebut. Meninggalkan sang tuan yang sudah duduk santai dengan senyuman serta tangannya yang memegang bingkai foto berisi dua pria saling merangkul.


“Aku akan kembali bertemu putramu dan adikmu itu, siapa namanya? Bisma? Dan putramu Syahputra? Hem, dunia benar-benar sempit.”


“Doakan diriku disana Dul, doakan diriku secepatnya menyelesaikan balasan dendam ini. Dan salamkan rasa cinta untuk istriku tercinta.” Gumamnya dengan menatap langit biru dihiasi awan putih.


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite.


See you semuanya!

__ADS_1


Love Rora.


__ADS_2