
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa beri tanda like ya!
Support juga.
Seperti apa yang babanya ucapkan, setelah mandi mereka akan berbicara diruangan keluarga, begitupula semua anggota yang penasaran apa yang ingin babanya lakukan.
“Baba memiliki hadiah untukmu khalid.”
“Apa itu?”
“Ba, kok abang alid doang yang punya.”
“Sstts diem.” Ujar Kazeem kepada adik perempuannya, Lesya cemberut dan merangkul lengan sang ummi dengan erat. “Apa hadiahnya ba?”
“Kau pasti akan menyukainya, baba sangat yakin.” Ujar baba dengan senyuman melebar membuat Khalid sedikit merinding masalahnya, wajah sang baba ini lumayan lebar dan jika ujung bibir tersenyum itu akan menyentuh mata seperti senyuman momo.
Sangat menyeramkan.
“Baba senyumannya menyeramkan seperti momo.”
“Hus, Lian jangan seperti itu.” Baba langsung menatap datar putra ketiganya. Kemudian ia mengambil ponselnya lalu menggerakkan jemarinya diatas layar lalu mengklik sesuatu sebelum itu menekan tombol volume untuk mengeraskan suaranya.
“Dengarkan ini.”
Suara gadis pun terdengar membuat Khalid berkerut lalu membulatkan kedua matanya kearah baba. “Baba, baba bertemu dengannya?”
Baba tersenyum tipis, “tentu, dia sudah menjadi anak baba.”
“Baba, jangan anggap dia anak, tolong anggap dia menantu baba!" Bentaknya
“Menantu dan anak sama sama anak bagi baba! Sudahlah, kamu diberi hadiah bukannya berterima kasih malah membentak.”
“Ah iya-iya, Alid berterima kasih dengan baba. Tanpa suara itu khalid tidak ada apa apanya. Ba bolehkan?”
“Tidak.”
Muka khalid memelas, “berikan baba. Ayah mengapa kau seperti ini kepadaku? Ada apa ayah?”
“Jangan melakukan perkataan seperti Mandra, khalid. Zaman kamu dengan beliau sedah berbeda."
"Tidak apa ummi, kan anak sekolah doel masih ditayangkan di tv.”
“Iya, berarti masih zaman kita ye gak bang?” tanya Lian meminta persetujuan yang langsung diangguki oleh Kazy dan Alid.
“Baiklah, baba kirimkan, jadikan ringtone sekalian.”
“Ide bagus.”
Khalid bangun dari duduknya lalu melangkah masuk kelantai dua untuk mengambil ponselnya, “Baba jangan lupa langsung kirim kepadaku!” teriaknya. “KHALID KAU TIDAK PERLU BERTERIAK!”
“Ini bukan hutan baba, ayo kita makan sudah jam tujuh, waktu cepat sekali. Siapa yang belum solat?”
“Ah lesya lagi halangan ummi, kemarin kan baru beli jamu kunyit asam di bude.”
Ummi mengangguk, “jangan lupa minum lagi setelah makan biar tidak terlalu sakit perutnya.” Gadis itu mengangguk, “baik ummi.”
__ADS_1
Lian terdiam menatap umminya dalam diam, ummi Aisyah menyadari tatapan putranya langsung menatapnya, “Ada apa?”
“Ummi, Lian boleh tidak membawa teman untuk menginap disini.”
“Siapa temannya?”
“Aran. Dia teman baruku setelah ia pindah ke sekolah Lian.”
Ummi mengangguk lalu mengelus bahu putranya, “ajak saja dia sekarang, sekalian ummi ingin tau seperti apa teman dekatmu nak.”
“Aran anak baik ummi, Cuma dia sedikit dingin karena masalah keluarga yang Lian sedikit tahu.”
“Ada masalah keluarga dia?”
Lian mengangguk, “orang tuanya meninggal saat ia masih kecil, lalu harta kekayaan orang tuanya yang seharusnya dimiliki oleh dia dengan sang adik malah diambil rakus oleh keluarga bibi dan pamannya. Membuat dia harus bekerja keras. Ummi kan pernah dengar apa yang lian ceritakan kepada ka Lesya kalau Aran kerja di bengkel dan direstoran milik ka Lesya.” Tuturnya.
Ummi Aisyah mengangguk, tak lama Baba Gentala datang dengan cemilan yang ia sukai buatan tangan istrinya. “Ajak dia untuk tinggal disini, biarkan dia tinggal disini bersama adiknya.”
“Adiknya cowo apa cewe?”
“Cowo ba, dia umur 16 tahun masih SMA, sedangkan aran sama umurnya denganku masih 22 tahun.”
“Ya sudah ajak mereka untuk tinggal disini, biar baba membuatnya menjadi kuat dan bisa mengambil seluruh harta warisan peninggalan kedua orang tuanya. Mulai dari kamu Lian, kamu akan belajar bersama dengannya mengurusi bisnis milik baba yang tidak diambil oleh abang Kazy.”
“Loh, kok Lian keikutan?”
“Kan nanti kamu yang menggantikan baba, baba akan istirahat untuk mengenang masa tua bersama ummi-mu, jadi jangan diganggu gugat. Cepat hubungi Aran dengan adiknya, namanya siapa?”
“Aran?”
“Adiknya oh adiknya, namanya Aron.”
“Aran dan Aron, gampang diingat. Apa mereka tampan?” tanya Lesya tiba tiba mengejutkan Lian. “Kakak! Kau mengejutkanku.”
“Jawab saja apa mereka tampan?”
“Jika tampan apa yang ingin kakak lakukan?”
“Tentu saja mengajak mereka menjadi modelku, hehe.”
“Lesya, katanya mau istirahat kok tidak jadi malah berpakaian rapih seperti itu?” tanya ummi membuat Lesya menyengir menatap sang bidadari. “Lesya menunggu bang Azkar mi, dia tadi kemari kok tiba tiba menghilang. Ya sudah lesya minta sesuatu ditengah jalan.”
“Sudah menelponnya?”
“Sudah ba, mereka otw kemari.”
“Baba beneran ngajak mereka tinggal disini?” Gentala mengangguk, “dari pada mereka tinggal diluar dalam keadaan seperti itu lebih baik memberi mereka tinggal yang nyaman agar bisa hidup lebih baik lagi.”
“Lian awalnya juga udah ngajak Cuma masih ragu.”
“Tidak perlu merasa ragu jika ingin membantu seseorang nak, kamu harus tegas dan sigap memilih apa pilihanmu tepat atau tidak agar orang yang kita bantu tidak merasa keraguan juga atau lebih tepatnya ia akan merasa ‘sepertinya mereka hanya kasihan kepadaku.’ Jangan seperti itu mengerti?”
Lian mengangguk begitu pun dengan Lesya. “Mengerti baba!” serempaknya sampai pintu bel berbunyi tanda tamu telah hadir.
Lesya bangkit terlebih dahulu diikuti oleh Lian dibelakangnya, gadis itu membuka pintu dengan wajah semangat namun berubah karena bukan orang yang ia tunggu. “Apa benar ini rumah Aulian?”
Lesya mengangguk, sambil menatap kedua pemuda didepannya, satu menggunakan seragam SMA sedangkan satu lagi menggunakan baju santai yang berantakan penuh dengan oli. “Kalian temannya Lian?”
__ADS_1
“Iya ka.”
“OH! Aran! Aron! Mari masuk! Kakak kenapa tidak membiarkan mereka masuk.”
“Ah maaf, aku kira.”
“Sudahlah lupakan, ayo kita masuk Aran, ummi dan babaku sudah menunggu kehadiran kalian berdua. Ayo Aron jangan melamun terus.”
“Hei aku hanya tidak tau kalau mereka temanmu, LIAN!”
“BERISIK KAK!”
Tuk Tuk Tuk!
“Ah! Kakak kau mengagetkanku lagi!!”
Hahahaha
“Sedang apa kamu disini? Menunggu pesanan?”
“Iya, mana pesananku?”
“Kau membuatku malu, Les, apa apaan ini kau menyuruhku membelikan pembalut yang tidak bersayap berbungkus oren dan berakhir meminta susu matcha dan martabak?”
“Saat aku halangan ditengah malam aku selalu merasa lapar ka, jadi lakukanlah sekali kali untuk adikmu ini.”
“Aish! Dasar bocah.” Ujar Azkar lalu mengacak pucuk kepala Lesya yang ditutupi dengan hijab birunya.
“Aku sudah dewasa kakak!” kesalnya dengan menyingkirkan tangan kanan Azkar dari kepalanya. “Menyebalkan, tapi terima kasih untuk ini. Hehe.”
Keduanya pun masuk kedalam rumah dengan Langkah yang berbeda, Lesya menuju kamarnya, sedangkan Azkar menuju tempat dimana yang lain berada. “Halo! Assalamualaikum! Selamat malam?”
“Oh malam, Azkar kamu sudah makan nak?”
“Sudah ummi, tenang saja Azkar makan dimana dan kapanpun aku berada.”
“Dihutan juga kau pasti bisa makan ya ka?”
“Hem.”
“Makanannya batu dan tanah ya?”
Bugh!
Aw!
“Rasakan.”
“Sudah sudah, Lian, ajak Aran dan Aron ke kamarnya ya, sudah kazy rapihkan.”
“Loh sejak kapan?”
“Ummi menyuruhnya melalui pesan singkat.”
“Terbaik!”
--
__ADS_1