
Happy Reading ALL!
Have a nice day!
GoodLuck!
--
Sesudah mencari gaun dan pakaian pengantin pria, saatnya mereka mencari cincin dan disini mereka terpisah karena para wanita setengah paruh masih ingin berbicara santai dikantor bu Ratna, sedangkan Gentala dan Aisyah mencari cincin disebuah outlet yang berada di gedung Mall terbesar di Indonesia.
“Kamu ingin yang mana? Pilihlah sesuai dengan keinginanmu dan kenyamananmu.” Ujar Tala sembari menatap wajah manis disampingnya tanpa mengalihkan pandangan kearah yang lain. “Apa boleh?” tanya aisyah dengan ragu, karena ia bisa tau bahwa perhiasan disini sungguh sangat mahal dan ini yang membuatnya sedikit ragu.
“Pilihlah, tenang saja aku yang bayar karena ini untukmu, hanya untukmu aku rela mengeluarkan semua hartaku.” Gadis itu menatapnya dengan tatapan haru, senang dan bangga. “entah kenapa aku bangga mendapatimu menjadi calonku. Apa aku terlihat matrealistis?”
“Tidak kau hanya realistis.” Balas cepat Gentala tanpa tau banyak yang memperhatikan keduanya dengan tatapan meleleh. “irinya aku..”
“Jiwa jomblo meronta-ronta melihat ini.”
“Apa masih ada pria sepertinya? Aku ingin berada diposisi gadis itu.”
“Baiklah aku akan memilihnya, semoga pas ditanganku.”
“Beli juga, kalung, gelang dan beberapa perhiasan lainnya untuk dijadikan mahar untukmu.”
“Aku,.. sepertinya kamu saja aku tidak bisa memilihnya itu menjadi bebanku nanti.” Tala mengangguk mengerti pendapat gadis itu, “baiklah, aku yang pilih. Kamu cari cincinya. Aku kesana dulu ya.” Ujarnya sembari menepuk pelan kepala gadisnya dan berlalu begitu saja.
“Hem iya.”
“Mba, aku mau cari cincin couple aja sekalian buat akad.”
“Baik ka, cincin couple ada disebelah sini, kaka bisa pilih yang menurut kaka sukai.”
“Aku pilih yang ini ka, dengan ukuranku ya.”
“Baik ditunggu sebentar ya ka, cincin prianya juga diukur sekalian ka.”
“Tunggu sebentar aku ke sana dulu.”
“Baik ka.”
Sesampai disamping Gentala, aisyah menatap tak percaya melihat apa yang ada didepannya. “Mas.. aku udah pilih cincinnya kamu ukurin dulu cincinnya disana.”
__ADS_1
“Oh oke, bentar ya mba, saya belum selesai pilih.”
“Baik tuan, saya tunggu.”
“Mas, kamu beneran beli perhiasan sebanyak itu?”
“Ya, dan itu untukmu, jadi jangan terlalu merasa terbebani oke? Relax aja.”
Aisyah diam disamping calon suaminya yang sedang diukur jarinya oleh pegawai pria yang pria tadi pinta. Karena dia tidak ingin tangan wanita lain memegangnya sebelum gadis pujaannya yang menyentuhnya. “Sudah tuan,”
“Baik langsung dimasukkan dalam tagihan saja, ayo yang, kita kesana lagi.”
“Saya ambil yang ini mba, tolong masukkan kedalam tagihan jangan lupa dimasukkan kedalam kotak yang sudah saya pilih tadi dan untuk cincin couple pilihan calon istri saya dipisahkan ya.”
“Baik tuan, silahkan tunggu dibagian kasir barang anda akan segera tiba.”
Aisyah lebih memilih keluar dari toko perhiasan itu dan melihat pemandangan bawah dimana orang orang berkeliling mencari kesenangan dari pada ia berdiri disamping pria itu dengan mendengarkan harga total perhiasan yang bisa saja membuatnya semaput.
“Kok diluar? Ayo kita makan, kamu belum makan sejak siang tadi ini sudah mau ashar.”
“Hem, kita makan dimana?”
“Maunya dimana?”
“Bagaimana jika kita makan di pinggir jalan ada makanan yang sangat ingin ku makan.”
“Mas!”
Ciitttt!
“Jangan bengong, itu kelewat.” Ujar Aisyah mengejutkan Tala yang melamun tanpa melihat jalanan. “maaf sayang, maaf aku tidak fokus.”
“Hati-hati jika tidak fokus biar aku saja yang menyetir.”
“Tidak, kamu gak boleh menyetir, belok kanan kan?” aisyah mengangguk lalu menghela nafas, sedari tadi ia juga takut berteriak atau menyentak pria itu karena bahaya sedang berada ditengah jalan namun apa yang harus ia lakukan selain berteriak? Menyadarkan pria itu dengan cubitan tidak mungkin.
“Jangan cemberut, mas salah.. sepertinya kita memang harus jarang bertemu karena bahaya. Sepertinya kita membutuhkan kata Pingit seperti adat jawa luar sana.”
“Hem, sepertinya begitu, dan ini juga untuk keselamatan kita sendiri.”
“Ya. Kalau begitu dari sekarang kita jangan keluar rumah bagaimana?”
“Setuju aja aku.”
__ADS_1
Sepanjang hari mereka disibukkan dengan keperluan pernikahan mereka setelah mendapatkan souvenir yang mereka inginkan, Tala langsung mengantar calon istrinya untuk pulang kerumah karena takut hal yang tak diinginkan terjadi.
“Jangan lupa untuk membayar sholat maghribnya ya.. kalau bisa langsung mandi dan sholat maghrib dan isya.” Ujar Tala membuat aisyah tersenyum karena bersyukur mendapatkan suami masa depannya yang mengingatkan ibadah.
“Kamu juga mas, kalau begitu aku masuk kedalam dulu. Dan hati hati dijalan jangan banyak melamun.” Tala mengangguk, “hem, assalamualaikum! Salam buat semua keluarga.” Aisyah mengangguk. “ya hati-hati.”
Tin!
Tin!
“Padahal aku sedang melamunkan dirinya, bagaimana dengan bulan depan ya? Akh tidak sabar aku untuk menunggu waktu kebersamaan kami.”
“Tala jangan melamun, kau bisa membahayakan dirimu sendiri, jika kau melamun kau akan celaka dan gadismu akan menjadi milik pria lain.”
“Hell! Aku tidak mau itu terjadi. Ayo kita pelan pelan mengendarai mobilnya ya. Aku tidak akan menghancurkanmu, annaya.” Ujarnya kepada sang mobil tidak lupa untuk di elus di stir mobil.
Sesampai di dalam kamar, aisyah langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang seharian sangat lengket ini. Selesai mandi ia dikejutkan dengan kehadiran teteh, ka Bina dan ka Mara didalam kamarnya yang sedang duduk santai diatas karpet tebalnya.
“Ya ampun kalian mengejutkanku.”
“Kami akan tidur disini, kecuali dia yang akan tidur dengan akang tersayangnya.”
“Ka bina ngeledek mulu, nanti pas diledekin marah ga adil banget hatinya.” Ujar ka Mara membuat Bina memeletkan lidahnya kearah adiknya itu. “Terserah aku dong..”
“Udah gak usah debat, gimana tadi nyari cincinnya? Dapet?”
“Dapet kok, dan cantik banget ditanganku, ica udah gak sabar buat make ditangan kiri eh ditangan kanan atau kiri sih?”
“Udah gak usah dipikirin, besok ada jadwal gak?”
“Ada, syuting bareng om Gara dan kakek Bisma. Ka bina ingetkan sama kakek Bisma yang dulu ka bina deketin terus menerus sampai lupa dengan status kalau kakek bisma adalah kakeknya ka bina juga.”
“Oh om tampan!”
“Dia bukan om, ka.. dia kakek KA-KEK! Jadi jangan macam macam, masa iya ka bina mau nikah sama kakek bisma nanti ka bina bukan jadi kakak ica lagi melainkan nenek ica mau?”
“Ngga lah, kayak gak ada pria lain aja.” Elaknya.
“Habisnya ngincer pria tampan mulu.” Cibir Mara membuat ka Bina menatapnya kesal. “Berisik.”
--
Next..
__ADS_1
Vote, Comment, Like, and Favorite.
SEE U! BYE! THANK U!