AISYAH

AISYAH
(86) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading semuanya!


Jangan lupa beri tanda diceritaku ya.


Support aku juga.


--


“Aisyah! Kamu dimana?” teriak bang Izak ditengah hutan yang berada dipinggir jalan. Ia berhenti melangkah dan menengok kanan kiri agar mendengar suara adiknya namun bukan itu yang ia dengar.


“Ssshh..” suara desisan membuat bang Izak sedikit demi sedikit melangkah mendekati suara tersebut. Betapa terkejutnya, bahwa yang berdesis adalah sang adik.


“Aisyah? Kamu kenapa?”


“kakiku sakit bang. Kecengklak.”


“Ayo abang gendong, ngomong-ngomong dimana kamu dapat senjata?”


“Dari kakek damian. Aku memilih peluru yang diisi obat bius aja kok. Hanya pingsan tidak membunuh.”


“Baiklah ayo, yang lain sedang mengkhawatirkanmu.”


“Siapa pelakunya?”


“Aku sudah merekamnya kok. Abang juga pasti terekam oleh kamera ini.” Ujar Aisyah yang sudah berada digendongannya. “Memangnya kamera apa sampai tidak terlihat?”


“Kamera kecil yang menempel dikancing bajuku hehe.”


“Dasar,..”


“Abang aku lelah, aisyah boleh tidur tidak?”


“Tidurlah, nanti Tala datang bangun ya?” tanya bang Izak yang langsung panik tidak ada jawaban dari sang adik apalagi tangan yang merangkul lehernya melemas begitu saja.


Dengan cepat ia berlari keluar hutan dan memanggil Tala untuk segera bawa adiknya ke rumah sakit. Sedangkan kakek Damian yang berada dirumah mertua cucunya langsung meminta maaf karena dia, anak mereka ikut kena imbas.


“Maka dari itu, saya kemari ingin mengatakan pamit, karena saya akan menyerahkan diri saya kepada polisi untuk mengakui kejahatan saya kepada mereka semua.”


“Apa paman tidak takut jika hukuman penjaramu seumur hidup atau bisa jadi hukuman mati?”

__ADS_1


“Takut pasti ada, tapi merasa bersalah selalu mengikuti jika saya tidak mengatakan jujur. Kalau putraku datang, bilang saya sudah menyerahkan diri dan ingin merenungkan kesalahan dan dosa saya.”


Bunda dan ayah yang mendengarnya hanya bisa diam dan menatap sedih. “Hati-hati. Dan kami maafkan hanya itu yang bisa kami katakana kepada paman.” Kakek Damian mengangguk lalu melangkah siap keluar rumah dan menyetir mobilnya menuju kantor polisi dimana Samuel berada.


“Siang pak, saya ingin mengaku kesalahan saya. Perkenalkan saya Mafia yang terkenal didaerah barat bernama Damian Alexander. Saya kemari ingin menyerahkan diri karena sudah melakukan pembunuhan dan penyekapan terhadap keturunan wanita didalam keluarga Greyano Wilsonrich akibat dendam karena istri tercinta saya dibunuh dan diperkosa didepan mata kepala saya sendiri.”


Dirumah sakit, Aisyah langsung digotong keatas brankar lalu diperiksa dengan secepatnya oleh beberapa dokter yang terkejut dengan kondisi baju serta wajah Aisyah. “Bukankah ini artis itu?” tanya suster yang langsung diangguki oleh dokternya. “Ayo kita segera obati, kalian periksa apa ada luka serius ditubuhnya?”


“Dokter, kaki pasien sepertinya patah. Agak membengkok.”


“Dokter perutnya memar.”


“Dokter… Dokter…”


Sedangkan para pria hanya bisa menunggu kepastian dari sang dokter yang sedang memeriksa Aisyah. Mereka cukup panik saat melihat keadaan Aisyah yang pingsan digendongan Izak. Tala menyuruh Bastian untuk melihat rekaman yang berada di kamera kecil milik Aisyah yang berada dikancing yang sudah berada ditangan Izak.


“Periksa segera bas.”


“Siap.”


Untung saja Bastian memiliki alat-alat yang kecil untuk kamera yang kecil. “Tal, ini rekamannya.”


“Pria tua itu dan Chelsea? Lalu siapa yang sedang dibicarakan oleh Aisyah?”


“Ada apa?”


“Tuan Damian. Tuan besar telah menyerahkan diri dikantor polisi tempat tuan Samuel.”


“APA?!”


“Bagaimana bisa?”


Sssttt… “Tolong jangan berisik di rumah sakit.” Ujar suster yang menjaga di dekat mereka. “Ah ya maafkan kami.”


“Saya tidak tau, tadi niat saya ingin menyampaikan bahwa Aisyah telah selamat namun yang mengangkat ponselnya bukan tuan besar Damian melainkan polisi disana.”


“Baiklah, kalau begitu aku dan kau, menuju kantor polisi. Lalu kau Bas, kirim rekaman itu agar aku dengan anggota lainnya mengeluarkan surat penangkapan untuk mereka bertiga.” Ujar Samuel kepada As serta Bastian.


“Tolong sampaikan salamku untuk kakek ya sam.”

__ADS_1


“Kau tenang saja, tunggu istrimu jangan meninggalkannya.”


“Baiklah.”


“Ah jangan lupa hubungi keluarga kalian, apalagi bunda dan ayah yang khawatir dengan keadaan Aisyah. Aku permisi.”


“Hati-hati sam.”


Tala kembali duduk diam, dengan kedua kaki yang ikut bergoyang dengan resah. “Aduh kapan dokter itu keluar dari ruang pemeriksaan?”


“Sabar sedikitlah, yang khawatir bukan kau saja, kami juga.” Ujar bang Izak diangguki Fariz.


Zzrrkk.. pintu geser otomatis dari ruang pemeriksa terbuka. Muncullah dokter diikuti satu suster dibelakangnya. “Keluarga pasien?”


“Ya kami semua, bagaimana keadaan istri saya?”


“Adik saya bagaimana?” tanya serempak bang Izak dan Gentala membuat dokter itu mengangguk, “Pasien syukurnya hanya kelelahan karena dehidrasi dan pasien tidak ada luka dalam atau apapun itu ditubuhnya. Cuma pergelangan kakinya sedikit tergeser bagian kanan dan perut pasien memar namun itu sudah kami obati sekaligus wajah bengkak diakibatkan karena tamparan keras di salah satu pipi sampai ujung bibir berdarah. Namun selebihnya semuanya tidak ada luka keras atau luka dalam.”


“Lalu apa adik kami sudah sadar?”


“Belum, dia sedang dalam keadaan obat bius namun kami hanya memberikan dosis ringan. Dan kami akan memindahkan pasien setelah kalian sudah mengurus administrasi.”


“Kami akan, tapi tolong tempatkan istri saya di ruangan VIP yad ok.”


“Baik, kalau begitu saya permisi.”


“Bang, Tala mau bayar dulu ya. Tolong nanti beritahu VIP nomer berapa.”


“Oke, sana buruan gih sok.” Ujar bang Fariz membuat yang lain tertawa. “Kenapa kalian tertawa? Ada yang lucu gitu?”


“Lucu dialekmu bang haha.” Tawa mereka terhenti sampai Aisyah keluar dengan didorong oleh dokter tadi dan beberapa suster lainnya. Mereka pun mengikuti langkah kemana Aisyah dibawa. Setelah mengurus administrasi Gentala langsung bertujuan ke minimarket dibasemen rumah sakit.


“Bagaimana? Apa isyah udah bangun?” tanya Tala saat masuk kedalam ruangan yang sudah diberi tahu oleh temannya. Bang Fariz menggelengkan kepala, “belum, kata dokter kita tunggu sampai malam saja, aisyah dalam pengaruh bius.”


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite.

__ADS_1


See you! Thank you! Bye!


Love Rora~


__ADS_2