
Happy Reading!
Kebesokkan paginya, aisyah berjanji dengan kedua orang tuanya untuk melaksanakan lari pagi setelah solat subuh, awalnya dirinya saja tetapi menjadi satu keluarga lari ke tempat kuliah yang terkenal di kotanya UA. Universitas Annyeong. Yang berdirikan oleh orang korea yang membuat banyak anak remaja minat untuk belajar
Bahasa korea dan tentang yang lainnya.
Awalnya dulu aisyah mau masuk kesana namun ternyata harga masuknya sangat wow fantastic baby dance seperti lagu Boy Grup Bangbang.
Harga sebulannya saja itu hampir sama membeli mobil avinza yang baru bukan yang bekas. Bagaimana selama setahun? Tekor yang ada dompet ayah. Belum masuk sudah habis.
“Ayo ayah, lari lagi jangan lambat. Ayah kan masih keren tidak terlihat bapak-bapak, bundapun begitu, ayo. Nanti setelah lari kita makan deh isyah yang traktir.” Bisiknya namun masih terdengar oleh kedua abangnya yang langsung merangkul orang tuanya, “wih traktir ama bontot, ayo bun yah kita tinggalkan isyah.” Ajak bang Izak diikuti bang Fariz membuat Aisyah kesal namun tetap mengikuti lari keempat orang tersayangnya.
Selama satu jam mereka berlari mengelilingi universitas itu dan berakhir di penjualan pedagang kaki lima yang selalu mejeng di depan UA ini. “Huh,, lumayan badan jadi seger, semoga malam gak pegel ya bun.”
“Iya bener, hahaha kita doang yang jarang olahraga ya nak.”
“Heem,” angguk isyah dan gadis itu dirangkul oleh abang Izak, “makanya olahraga setiap abang ajak jangan malas oke?”
“Insya allah.”
“Loh itu mba Ingrit bukan sih? Mantan bang Fariz?” unjuk Isyah membuat Fariz menoleh kearah belakang dan menatap adiknya kembali dan mengangguk, “iya, dia sama suaminya.”
“Hoh, lagi mengandung ternyata, abang kapan nikah? Isyah mau punya keponakan dari abang deh.” Pintanya yang langsung dibalas senyuman saja, “doain saja nak, jodoh gak ada yang tau.” Balas bunda yang diangguki setuju oleh kedua abangnya.
“Ya udah isyah pesen makan dulu bunda ayah mau apa?” Ayah melihat pedagang dikelilingnya, “ayah ketoprak pedes yah nak, bunda apa?”
“Bunda bubur aja sayang, ayah ketopraknya jangan pedes, sedeng aja pagi pagi minta yang pedes mau mules?” omel bunda membuat ayah diam dan mengangguk pasrah. Aisyah mengangguk lalu menatap kedua abangnya yang langsung ikut berdiri dengannya, “abang ke tukang toprak dah, kalian ke bubur aja.” Ujar bang Fariz yang diangguki kedua adiknya. “Oke.”
“Eh bentar bang, isyah kesitu dulu ya. Pesenin ya sambelnya ujung aja taroh dipinggir.”
__ADS_1
“Oke."
Aisyah melangkah menuju pedagang telor gulung dan cimol kentang, “bang mau dong telor gulungnya.”
“Berapa neng?”
“Beli 6 gulung, terus cimol kentangnya 5 ribu ya bang, bumbunya campur tapi yang telor pake saus sambel aja.”
“Oke siap neng, tunggu bentar ya.” Aisyah mengangguk lalu menatap sang abang penjual membuat telor dirinya. Sampai tidak menyadari ada seseorang disampingnya sampai suara berat mengejutkannya, “bang beli cimol kentang 10 ribu ya, campur bumbunya.”
“Baik bang, tunggu bentar ya si enengnya dulu.”
“Iya.” Ujar pria itu sampai menoleh menatap Aisyah yang sedang menatapnya juga. “aisyah?”
“Bang Tala? Apa kabar bang?” sapa gadis itu. “Alhamdulillah baik, kamu kabarnya baik?”
“Alhamdulillah, abang disini sendiri?”
“Sama keluarga, habis lari pagi bareng ujung-ujungnya makan.”
“Oh, oh iya abang boleh datang kerumah kamu gak?”
“Buat apa?”
“Silahturahim, abang mau kenalin kamu sama keluarga abang. Begitupun abang sebaliknya, mau tidak?”
Aisyah diam, menatap pria didepannya baru saja ia ingin membalasnya bang penjual langsung memotongnya, “neng, ini telornya sama cimol kentangnya totalnya 17 ribu ya neng. Satu gulung dua ribu.” Aisyah mengangguk, “iya bang ini kembaliannya ambil aja. Dan bang tala isyah pergi dulu ya. Kalau mau datang aja kerumah, abang pasti tau rumahku bukan?”
Genta mengangguk dan tersenyum dibalik maskernya, “tau, yaudah tunggu abang hubungin kamu.” Gadis itu mengangguk lalu pamit setelah itu berlalu, sampai Genta, pria itu lamunannya buyar akibat suara bang penjual, “mau ngelamar ya bang?”
__ADS_1
“Hehe, iya, doain ya bang.”
“Pasti semoga lancar sampai hari H-nya ya bang.”
“Amin, dan abang lancar ya dapetin rezekinya.”
“Amin makasih bang. Ini cimol kentangnya.” Genta membayarnya dan berlalu disana, sedangkan keluarga Aisyah masih menunggu gadis itu sampai bang Izak menunjuk dimana adiknya berada, “tuh bun, jodohnya Aisyah udah datang.”
“Mana?”
“Itu lagi deketin putri kecil bunda dan ayah.” Ujar izak membuat yang lain menatap Aisyah dimana sampai bunda mengatakan, “sepertinya dia sangat suka dengan putri kita yah. Jadi ayah harus kuat menerimanya ya. Putri kita akan diboyong sama suaminya kelak.”
“Uh, ayah tak tau harus apa nanti.”
“Aisyah datang udah jangan dilihatin.” Ujar bang Fariz. Membuat yang lain fokus mengaduk makanannyanya, “loh belum makan? Dikira udah.”
“Beli apa kamu nak?”
“Hehe, isyah kangen jajanan sd, telur gulung sama cimol kentang.”
“Ya sudah buruan makannya, bunda udah aduk punya kamu nak itu sambelnya bunda sisain lumayan kalau gak pedes aduk lagi aja.”
“Oke bunda.”
--
Next..
Vote, Comment, Like, and Favorite!
__ADS_1
Follow me, i want to be your friends!
"SEE YOU! BYE BYE!"