
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa beri tanda diceritaku.
Support aku juga ya..
--
Hari-hari Aisyah seperti biasa, bangun pagi, subuh berjama’ah, menyiapkan sarapan, menyiapkan pakaian kantor suami lalu bersantai ria. Kandungan Aisyah sudah menghampiri bulan ke 9 dan Aisyah lebih memilih tinggal dirumah yang dihadiahi oleh sang suami saat menikah.
Ia ditemani oleh bi inem yang tak lain salah satu pelayan rumah mom Aluna. Sengaja dibawa kemari untuk menemani dirinya yang tengah mengandung. Kadang pula ia keluar dari rumah menuju depan rumah yang tak lain kafe yang sudah mulai beroperasi dan banyak anak muda yang berkunjung.
Kue favorite di kafenya adalah strawberry cheese cake, tapi dihari tertentu fruit cake yang lebih top dari yang lain. Cuaca sudah mulai gelap, matahari sedikit demi sedikit akan segera terbenam tapi sang suami belum kunjung terlihat. Perasaan sudah khawatir, dimana suaminya yang selalu pulang cepat itu? Mengapa tidak bisa dihubungi pula.
Sampai kekhawatirannya hilang akan kehadiran mobil hitam yang diikuti oleh mobil van yang sangat ia kenali. Gentala turun dari mobilnya diikuti oleh sosok yang keluar dari Van, Aisyah tersenyum lebar saat sosok itu membawa sesuatu ditangannya.
“Apa kabar Aisyah? Maaf ya aku gak pernah jenguk kamu terakhir kali kita ketemu.” Ujar sosok itu yang dibalas pelukan oleh Aisyah sendiri. “Kangen kamu, kamu udah sehat bener? Tapi kok bisa datang sama Ka Azzam? Dan juga kenapa ada ka Samuel disini?”
“Kita gak disuruh masuk terlebih dahulu nih?”
“Aduh maaf lupa, ayo masuk. Tapi kalau boleh tau kamu bawa apa Han?”
“Soal makanan aja gercep, ini aku beliin kamu jajanan sd yang sering kita beli saat SMK, oh iya ada cimol sama kentang goreng yang dibumbui oleh berbagai micin. Jangan banyak-banyak tapi, nanti baby double K jadi anak generasi micin.”
“Hahaha, gak banyak kok paling cuma tiga bungkus.”
“Itu banyak Isyah!”
Kemudian, isyah meminta tolong kepada bi Inem membuat minuman untuk para tamunya. Lalu ia menuju kamarnya saat melihat sang suami sudah masuk kedalam kamar untuk mandi. Ia juga menyiapkan baju santai dan sajadah serta sarungnya.
“Ayo diminum dulu, kalian sholat disini ya sekalian makan malam disini. Aku udah kangen suasana ramai apalagi dengerin suara kamu, Han. Aku kangen kamu curhat.”
“Dan kamu selalu jadi pendengarku hehe.”
“Ceritain dong gimana bisa kamu bareng sama ka Azzam? Setahu aku ka Azzam kerja dikantor abangku.”
“Kita gak sengaja ketemu kok, pas banget aku sama ka Sam kekantor suamimu untuk membicarakan tentang penjahat itu ditengah jalan kita berpapasan dengan ka Azzam yang baru aja mau masuk mobil.”
Aisyah mengernyit, “kok aku lihatin kamu deket banget sama ka Sam, jangan bilang kalian?”
“Mereka akan segera menikah sayang.”
Cup!
Tala mengecup pelipis Aisyah setelah mengatakan itu, aisyah membulatkan kedua matanya, “kok bisa? Gak maksudnya bukannya kamu pacaran sama cowok jahanam itu? Yang selalu buat kamu bodoh dengan memberikan kesempatan seperti menawar untuk berkali-kali.”
“Aku putus sama dia, karena dia selingkuh.”
“Sama siapa?”
“Kamu ingat gak? Teman kecilku yang bernama Raya, aku heran deh dia selalu merebut kekasihku setiap ada kesempatan.”
“Kamu aja heran apalagi aku, jangan sampai dia ngerebut calon suamimu, ka Sam.”
“Ih, jangan sampai deh. Tapi aku denger dia sedang hamil makanya ia mencari banyaknya pria agar bisa dinikahkan.”
__ADS_1
“Maka dari itu sembunyikan ka Sam kan visualnya lebih jauh tinggi dari mantan-mantan kamu itu pasti dia bakal ambil kesempitan dalam kesempatan itu.”
“Terbalik bumil, mengambil kesempatan dalam kesempitan itu baru bener.” Ralat gemes Hani kepada Aisyah, membuat si bumil menggeleng kepala, “sama ajalah yang penting kesempatan kesempitannya ada.”
“Ck dasar. Apa aku harus ubah gaya ka Sam?”
“Rubah aja seperti aku dulu sama mas Tala, waktu pergi keluar mas Tala harus pakai wig keriting serta kaca mata dan kumisnya, aku gak mau wajah tampan suami aku dilihat oleh wanita ganjen diluar sana. Sampai sekarang pun masih ya kan mas?”
“Iya sayang.”
“Boleh deh nanti kita coba ya a’.” Samuel hanya bisa mengangguk dengan senyumannya. Jika tidak begitu mungkin kekasih kecilnya akan merajuk. Sedangkan ka Azzam hanya diam mendengarkan pembicaraan para wanita dengan mengemil kue kering buatan Aisyah.
“Ka Azzam diam aja, kenapa? Lagi mikirin jodoh ya?”
“Tau aja, lagi bingung kapan jodohku datang.”
“Berusaha dong, deketin gadis kalau gak berusaha gak ada hasilnya.” Saut Tala.
“Tau, masa iya mikir lama tapi gak ada aksinya.” Dibalas Sam. Belum Azzam balas percakapannya sudah ada teriakan dari pintu depan sampai orang itu mengganggu pelanggan kafe.
“Hey hooo!! Bukain dong! Siganteng mau masuk nihh..” teriak sosok itu yang membuat Hani dan Aisyah saling melirik, “sumpah sahabat siapa sih itu?”
“Bi,… tolong bukain dong si Rendy lagi kesusahan kali bawa barang banyak.” Pinta Aisyah yang langsung dituruti oleh bi Inem. Sedangkan yang lain menatap Aisyah dengan bingung, “kamu nyuruh apa ke temen kamu itu?”
“Nanti lihat aja apa yang dia bawa.” Balas Aisyah, yang dibarengi dengan tawa kecil. Sampai muncullah Rendy yang terhalang dengan beberapa box sampai depan mukanya. “Isyah, ini taruh mana?”
“Taruh di tempat kamu aja,”
“Huh..”
Bruk!
Bruk!
“Yah jatoh, aduh pecah gak ya.. doain dong biar gak pecah.” Ujar Rendy membuat Hani mendekat melihat apa saja yang dibawa oleh Rendy,”kamu susah-susah amat, kenapa gak lewat belakang aja?”
“Ada satpam tadi, gak dibolehin masuk katanya kudu ada kartu ya Aisyah gak ngasih yowes dari depan.”
“Aduh maaf Ren, aku lupa.”
“Emang ya sedih banget jadi orang ganteng kek Rendy ini sering dilupain saking lupanya gak pernah di ajak buat ngumpul heran deh.”
“Gak usah heran, kau bawa apa sih ren, banyak amat kotak kotak?”
“Ayo tebak, simsalabim jadi apa prok prok! Ayo kita lihat jadi apa?” canda garing Rendy. Dibalas toyoran oleh Hani, “receh lo. Tapi maaf ya kami gak punya uang kecil.”
“Uang gede juga gapapa kok, atau si aa ganteng boleh dipeluk sama eke.”
“Ih lo belokk?” Rendy mengangguk, “iya nih, karena disuruh tontonan yaoi ama temen.”
“Terus udah ngelakukan itu?”
“Belom lah, jangan sampai zina mata itu.”
“Sok-sokan ngomong zina-zina, lo dari kemarin ******* sama apid udah jina itu.”
__ADS_1
“Ehem! Ngomongnya jangan gitu dong.”
“Eh iya, lupa ada si aa Sam.” Ujar hani dengan cengiran lebar. “Maaf, salahin Rendy tuh dia bikin aku ngeluarin kalimat kasar itu.”
“Loh, kok jadi salahin eke sih, Hani Buddy Sweety jahat sama abang Rendy.”
“IUHHH…” jijik Hani lalu memperagakan orang muntah didepan Rendy.
Huek!
“Udah ah, ini buka dulu mil. Atau mau dibukain gak?”
“Bukain tolong, perutku udah gak bisa dibawa jalan.”
“Oke, bi, boleh minjem cutter gak?”
“Oh bentar den.” Bi inem membawa cutter lalu membantu pria muda itu, “kamu beli apa sih besar banget ini.”
“TADAAHHH tanaman Stroberi untuk bumil sahabatku Aisyah telah datang!!”
“Wahh makasih banyak ongkle Rendy, nanti bantu tanam di halaman belakang ya ongkle.”
“Siap! Tapi jangan lupa bayarannya, paling makan banyak masakan buatan kamu ya.”
“Oke. Sekarang ya tanamnya, nanti makin banyak kasian kalau berdempetan,”
Rendy mengangguk, “tapi sebelum itu boleh numpang makan gak? Laper plus haus nih perut.” Ujarnya dengan mengelus perut buncitnya yang langsung dicubit oleh Hani yang langsung ditarik oleh Samuel yang gak suka lihat kedekatan kekasihnya dengan sahabat gesreknya itu.
“Jangan deket-deket.”
“Iya gak deket, kita hanya berjauhan tangan biasanya kan kita gandingan tangan ya gak honey?”
“Apa sih Ren! Jangan jadi menggelikan deh.”
“Tau ren harga diri kamu berapa?”
“Harga diriku 1 M, aa ganteng mau beli aku jadi boneka?” tawar Rendy kepada Samuel yang dibalas gidikkan ngeri dan ditertawai oleh yang lain apalagi hani yang tertawa kencang sekali melihat ekspresi kekasih besarnya itu.
“Rendy! Udah kasian jangan di godain mulu, mending godain ka Azzam aja dia jomblo disini.” Ujar hani membuat Azzam membulatkan kedua matanya, “gak jangan kakak, kakak udah ada pegangan.”
“Siapa?
“Nala dia dirumah.” Aisyah langsung menahan tawanya, ia tau siapa Nala dan apa hubungannya dengan Azzam. Rendy mukanya menjadi masam karena ditolak oleh dua pria ganteng yang sudah menusuk kedalam hatinya.
“Kalian jahat! Aku lapar! Bibi makanan dah mateng belum aku mau makan dong.” Bi inem mengangguk. “Udah kok den, makan aja.”
--
Next...
Vote, Comment, Like, and Favorite!
See you! Thank you! Bye!
LOVE Rora~
__ADS_1