
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa beri tanda didalam ceritaku ya.
--
Hari ini Aisyah sudah diperbolehkan untuk pulang, banyak penggemar yang menunggu dirinya didepan lobby rumah sakit namun sayangnya, Aisyah keluar melalui jalanan VIP yang sudah dijaga sepenuhnya oleh pengawal dari kedua abangnya dan suaminya.
“Kamu sudah siap?”
“Udah, disana pasti banyak penggemarku ya mas?”
“Hem, tidak terlalu banyak karena yang masuk ke basement VIP sudah dibatasi apalagi setelah kejadian kemarin.”
“Mas,..” panggil Aisyah dengan lembut, yang langsung dibalas oleh suaminya dengan senyuman manisnya, “ada apa sayang? Kamu butuh sesuatu?”
“Aku mau ijin, aku mau ngambil cuti terlebih dahulu mungkin aku bakal hiatus sampai setahun atau dua tahun atau bisa lebih. Karena sepertinya setelah kejadian ini aku lebih baik bersembunyi saja bukan?”
“Hem, jika itu menurutmu, mas akan menurut. Karena kamu yang melakukan hal itu. Mas hanya mendukungmu agar tetap semangat dan tetap tersenyum. Tapi jangan ke pria senyumnya mas akan cemburu.”
“Hahaha, iya mas. Nanti aku mau kasih tau ke abang Izak biar dia bisa membantu mengurusi hiatusku didunia hiburan.”
“Iya, minta dia saja, atau kepada om Gara? Atau kakek Bisma?” Aisyah menggeleng, “tidak perlu, bang izak sudah cukup sepertinya.”
“Baiklah, sepulang nanti kita akan mengatakan pendapatmu, kita akan menginap dirumah bunda dan ayah karena mom dan dad masih berada diluar kota. Mereka mengatakan maaf karena tidak bisa menemanimu di rumah sakit.”
“Ah tidak apa, katakan kepada mom aku sudah sehat kok.”
“Ayo kita keluar dari gedung rumah sakit ini, bau obat sudah tidak tahan aku.”
“haha, jadi mas tidak suka dengan bau obat? Sama dong aku juga, awalnya aku pertama kali waktu kecil datang kerumah sakit langsung muntah menghirup aroma campuran obat.”
“Benarkah?”
“Hem, saat itu aku berusia 5 tahun atau 6 tahun ya? Ada kejadian dimana aku hamper jatuh ke jurang namun diselamatkan oleh kakek Bisma yang ternyata adalah paman dari ayahku. Yang dulu juga sempat jatuh cinta kepada bunda hehe, cinta segitiga antara paman dan keponakan maka dari itu ayah selalu posesif kepada bunda setiap ada kakek Bisma.”
“Jadi begitu ceritanya? Wah, akhirnya penasaran para pembaca terjawab sudah.”
“Hehe.”
Lalu keduanya sebelum pergi dari rumah sakit mengunjungi ruangan Hani yang ternyata gadis itu sedang tertidur, Aisyah hanya bisa menitip salam kepada Samuel yang sedang menjaga sahabatnya itu saat kedua orang tuanya sedang pulang kerumah.
__ADS_1
“Kalau begitu, aku pamit ya kak, jangan lupa beri tahu kepada Hani aku pulang terlebih dahulu maaf tidak bisa pamit langsung.”
“tenang saja, kakak akan menyampaikannya. Lagi pula dia akan pulang lusa hari.”
Aisyah mengangguk lalu menuju kearah lift diikuti sampingnya oleh Tala, suaminya itu membawa tas yang berisi pakaian dan beberapa peralatan milik Aisyah. Setelah keduanya sampai di lantai VIP, aisyah langsung disambut oleh beberapa kameraman yang untung saja tidak menyalakan flashlightnya dan beberapa penggemar yang ingin memberikan kado untuk dukungan support kepada Aisyah.
“AISYAHHH!!!” Aisyah tersenyum walaupun wajahnya tertutup oleh masker, “hai? Apa kabar semuanya?”
“Ah aisyah, apa kau baik-baik saja? Apa sudah sembuh?”
“Hem, aku baik-baik saja. Dan ya seperti yang kalian aku sudah sembuh.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk saat ini?”
“Em, kalau tentang pekerjaan mungkin aku akan beristirahat sejenak semacam Hiatus mungkin, jadi tunggu aku karena membutuhkan istirahat. Di tunggu saja pemberitahuan yang secara langsung melalui abangku atau asistenku.”
“Yah.. apa kamu tidak akan melakukan syuting lagi disebuah drama atau di sebuah film?”
Aisyah menggeleng kepala, “aku tidak tau, mungkin tidak dan mungkin iya. Ditunggu saja informasi selanjutnya. Aku pergi dulu ya? Assalamualaikum!”
“Wa’alaikumsalam! Aisyah! Tolong terima kado dari kami.”
“Wah, terima kasih, padahal tidak perlu kalian bawa kado, cukup doa saja untukku sudah cukup.”
“Terima kasih, aku pulang dulu ya? Kalian jangan lupa istirahat juga.”
“Oke.”
Didalam mobil, Aisyah langsung bersandar kebahu suaminya yang juga ikut menyandarkan kepalanya kepada kepala istrinya, “aku tidak tau bahwa mereka begitu menyukaiku.”
“Aku tidak sadar bahwa istriku sangat terkenal.”
“Aku tidak tau, bahwa suamiku mantan ketua mafia.”
“Eh? Kamu sejak kapan tau?”
“Tentu saja sebelum aku menerimamu sebagai calon suamiku. Aku ingin bertanya, mau sampai kapan kamu menyembunyikan soal masa lalumu kepadaku?”
“Em, aku sedang mencari waktu yang tepat, namun sepertinya sudah keduluan olehmu ya?”
Aisyah menghela nafas dengan kasar. “Ceritakan sesingkat mungkin bagaimana bisa kamu masuk ke sebuah dunia gelap?”
__ADS_1
“Aku diajak oleh kakek Damian hanya karena aku senang menatap sebuah pistol yang selalu tergantung di saku celananya. Pertama kali aku memegangnya saat umur 8 tahun dan itu membuat kakekku bersenang karena mendapatkan pewaris dalam dunia gelapnya.”
“Sampai aku sudah remaja, aku baru tau apa niat kakek mengajakku.”
“Balas dendam?”
“Hem, ya, seperti yang kamu lihat kemarin.”
“Lalu kapan mas keluar dari dunia gelap itu?” Gentala sedikit memutar kilas balik diotaknya, “Mungkin saat pertama kali kita bertemu? Saat itu aku sedang bimbang ingin keluar atau tidak dan bertemu denganmu membuatku membulatkan niatku untuk keluar, kamu mau tau apa alasannya?”
Aisyah mengangguk, “karena aku ingin memiliki keluarga kecil yang tidak diganggu oleh dunia gelapku, aku mau hidup damai seperti yang dilakukan oleh ayahku, aku mau mencintai wanita yang akan menjadi istriku dan teman hidupku. Jadi aku bertekat ingin punya kehidupan biasa saja tidak membahayakan nyawa orang tersayangku.”
“Uh, isyah tersentuh mendengarnya. Kalau begitu aku harus berkata ini kepadamu mas, selamat datang dirumah.”
“Aku pulang.” Balas Tala lalu diiringi oleh tawa keduanya.
Sepulang kerumah milik keluarga kecil Tala, ia sengaja memilih pulang kerumahnya dari pada kerumah orang tua mereka. Karena mereka butuh privasi yang sudah lama tidak melakukan waktu santai bersama ini.
Saat ini Aisyah dan Tala sedang duduk santai diruang keluarganya dengan menonton sebuah televisi yang menampilkan berita duka atas kepergiannya anak sulung gubernur kota B, “sedih ya, walaupun kita gak kenal sama mereka entah kenapa kita turut sedih dan merasa kehilangan ya mas.”
“Hem, apalagi anaknya terkenal baik, dan semoga keluarganya berlapang dada menerima kehilangan beliau untuk selamanya.”
“Hem, bagi kita sebagai warga hanya bisa mengatakan sabar dan berdoa untuk alm, semoga husnul khatimah.”
“Aminn.. Oh iya kamu mau bulan madu gak?”
“Kemana?”
“Kamu maunya kemana?” tanya Tala sambil menatap wajah sang istrinya yang sedang berfikir itu. “Kalau ke korea mau gak? Aku pernah gak sengaja melihat ada acara korea yang di pulau jeju itu semuanya tentang bulan madu pengantin baru. Aku mau coba deh tinggal disana.”
“Boleh deh, nanti biar aku suruh Dean buat ngurusin agar kita bisa kedapatan tempat tinggal dikorea, tapi kalau kita gak dapet masuk acara itu gapapa ya kita tinggal di hotel aja?”
“Gapapa, aku cuma memberitahu aja kok, yang penting kita ke korea.”
Keduanya kembali membicarakan hal-hal yang mereka senangi dan mereka tak sukai.
--
Next...
Vote, Comment, Like, and Favorite!
__ADS_1
See you! Thank you! Bye!
LOVE Rora~