AISYAH

AISYAH
(36) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading!


Aisyah membantu membawa barang belanjaannya sedangkan ka Bina melengos begitu saja menghindar membawa barang jajanan, memang ka Bina terkenal dengan gadis paling pemalas walaupun Aisyah juga termasuk orang pemalas namun ia masih mau mengerjakan kebersihan dalam rumahnya tidak dengan ka Bina, dia sangat jarang memegang sapu atau pel ditangannya.


Sepanjang jalan ketiga gadis ini dipenuhi dengan canda dan tawa mereka, dari lawakan ka Bina dan tawa unik ka Mara membuat Aisyah tertawa memegang perutnya menahan sakit, “aduh, sakit perut ica.”


Aisyah tidak menyadari bahwa saat ia memakan jajanan cimol membuka maskernya dan banyak orang yang memperhatikan dirinya sampai ada yang meneriakinya, “ITU AISYAH!!!!”


“Aduh! Mati aku.” Ujarnya lalu ia ditarik langsung oleh ka Bina dan ka Mara sampai beberapa anak remaja dan beberapa orang dewasa ikut mengejarnya juga sampai ketiga gadis itu bersembunyi di suatu tempat yang jarang di lewati atau di singgahi.


Sstttss… “mereka datang.”


Tap!


Tap!


Tap!


“Kemana larinya, uh padahal aku mau minta foto sama Aisyah.”


“Aku juga sama, tapi kemungkinan mereka kabur karena ada yang teriak keras sampai banyak yang ngincer dia.”


“Iya, apalagi tadi tidak ada dua abangnya melainkan dua gadis yang kemungkinan temannya atau saudaranya?”


“Kita mesti cari kemana lagi?”


Tak lama ada segerombolan pria berpakaian hitam dengan wajah sangarnya menghampiri mereka para remaja yang mengincar Aisyah. “Kalian sedang apa di wilayah kami?”

__ADS_1


“Eh, anu-itu.. kita, gak sengaja lewat.”


“Cari apa?”


“Abang-abang sekalian lihat gadis berhijab tidak? Tiga orang mereka datang kemari namun kami tidak menemukannya.” Ujar salah satu gadis remaja itu. “memang siapa kalian? Sampai mengejar ketiga gadis itu? Sudah sana pergi dari wilayah kami, atau kalian ingin bersenang-senang bersama kami?”


“Ogah!”


“Dah cabut, mereka gak disini.”


“Apa kita menakuti Aisyah?”


“Sepertinya begitu.”


Ketiga gadis yang sedang bersembunyi langsung bernafas lega dan kembali menegang saat pria bertubuh besar itu mengeluarkan suara. “Nona-nona, silahkan kalian keluar, sudah aman!”


“Bagaimana kami bisa mengetahuinya jika kalian bukan orang jahat?” tanya ka Bina dengan wajah beraninya. “Anda bisa mencari pria bernama Genta-“


“Hei, kau mengapa mengucapkan nama si tuan?”


“Ah maaf aku keceplosan.”


“Kalian bisa pergi dari sini, mereka sudah tidak ada lagi. Apa kalian ingin kami antar sampai rumah?” tanya salah satu teman Rio yang baru saja memeriksa seluruh jalanan. Ka Mara menggeleng pelan, dan tersenyum manis kearah Rio dan yang lain, “tidak perlu, terima kasih sudah membantu kami. Ah namaku Mara, kami permisi Assalamualaikum.” Ujar ka Mara yang langsung dibalas oleh semuanya dan Rio menatap Mara dengan tidak mengedip, “masya Allah cantiknya ciptaan Allah, apa dia jodohku?” gumam teman samping Rio yang bernama Gilang.


Dan bahu pria itu langsung di tepuk Rio agar sadar. “Memang gadis manis dan alim seperti dia mau denganmu?” tanya Rio yang langsung pergi meninggalkan lokasi tersebut, sedangkan Gilang mendengus, “siapa


tau jika aku menyebut dirinya dalam doa, siapa tau terjadi, siapa tadi Namanya? Mara? Nama yang indah dan cantik seperti orangnya.” Ujarnya dengan menyengir tidak jelas kemudian berbalik arah menyusuli teman -temannya.

__ADS_1


Sesampai dirumah, ketiga gadis itu sudah ditunggu oleh para pria dengan kedua tangannya yang bertekuk didepan dadanya, “kalian dari mana? Mengapa lama sekali hanya jajan?” tanya bang Fariz dengan tatapan tajam, kemudian bang Izak menunjuk pria berpakaian hitam wajah sangar, “lalu mereka siapa?”


“Santai dong, jangan marah-marah dulu.” Sewot ka Bina lalu melangkah masuk meninggalkan kedua adiknya yang sedang di interogasi. “Kita tadi emang lagi jajan tapi saat isyah makan gak sengaja masker kebuka dong terus ada yang lihat Aisyah kita pun lari.”


“mereka yang udah bantuin kami, bukan dua orang itu aja tapi ada lagi.”


Huhh..


“Dah gih, masuk, jangan membuat kami khawatir lagi terutama kamu, isyah. Jangan diulangi lagi jika mau jajan bilang abang biar abang yang temani.”


“Iya abang, isyah paham. Isyah masuk dulu ya.” Ujarnya lalu masuk kedalam rumah dengan membawa jajanannya untuk di taruh kedalam lemari penyimpan. Sedangkan ka Mara ia tinggalkan begitu saja.


“Bawa apa Ra?” tanya bang Bima sembari menggendong putri kecilnya. “Ini jajanan ka Bina dan Aisyah, mara masuk dulu ya bang.”


“Eh ada cemilan gak bagi dong?”


“Ada nih, mau yang mana?” unjuknya dengan membuka lebar tas belanjaanya.


“Minta dua ya.”


“Oke.”


--


Next..


Vote, Comment, Like, and Favorite!

__ADS_1


__ADS_2