AISYAH

AISYAH
(74) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa beri tanda diceritaku ini.


--


“KAMI BUTUH KEADILAN! KAMI SEBAGAI PEREMPUAN BUTUH PERLINDUNGAN! HARGA DIRI KAMI TELAH DIRENDAHKAN OLEH KAUM ADAM SEPERTI MEREKA!”


“HUKUM MEREKA SEPERTI KELAKUAN BEJAT MEREKA!”


“KAMI INGIN HIDUP TENANG! DAMAI DAN BAHAGIA! TANPA ADANYA PENJAHAT DIDUNIA INI!”


"TOLONG LINDUNGI IDOLA KAMI DARI PENJAHAT YANG MENGINCARNYA!"


"JANGAN SAKITI IDOLA KAMI, KAMI SANGAT MENJAGANYA MENGAPA ORANG LAIN MELUKAINYA?"


Masih banyak lagi orang orang demo didepan kantor polisi maupun kantor pengadilan dan kantor pemerintahan. Banyak dari mereka yang ingin menyelamatkan para gadis di bawah umur yang disuruh kerja paksa hanya karena tidak bisa membayar utang kedua orang tuanya.


“Pasti diluar sana sangat ramai ya?” tanya Aisyah yang masih tinggal dirawat di sebuah ruangan VIP yang sudah disiapkan oleh Frisky atas permintaan suaminya, Gentala.


“Jadi kapan, aku bisa pulang mas? Aku bosen disini.” Rengek Aisyah, Tala hanya diam duduk disamping ranjang pasien, Tala langsung memeluk istrinya dengan erat, “sabar, kata dokter sehari lagi. Bengkak dipipimu udah mengempes tapi luka ditubuh karena tali yang mengikat cukup kencang dan membuat warna kulitmu jadi berubah membiru.”


“Iya tapi isyah dah bosen, mas. Makanan disini hambar semua. Pengen makan bubur T*’**n di mall tau, yang Seafood emhh pasti enak deh ih rindu.”


“Haha yaudah nanti mas belikan, buat makan malam bagaimana? Tapi makan siangnya makan dari sini dulu ya?”


“Yaudah deh, dari pada buang-buang makanan.”


“Nah itu tau, udah sini mas suapin.”


“Oh iya, gimana Hani? Apa dia udah sadar?”


“Sudah, mungkin sedang dijaga oleh ibundanya.”


“Lalu kakek Damian bagaimana?”


“Sedang mengurus musuhnya, biarkan sajalah. Kamu fokus kesembuhan kamu terlebih dahulu.” Ujarnya setelah itu ia menyuapkan kembali bubur hambar kedalam mulut istrinya, Aisyah udah selesai makan lalu meminum air dsetelah itu meneguk obat yang disiapkan oleh suster.

__ADS_1


“Sudah sekarang waktunya tidur, udah sholat kan?”


“Lagi gak sholat aku tuh, udah hari ke 5.”


“Oh bentar lagi dong, sini mas mau peluk kesayangan mas dulu, udah dua hari mas sehari mas gak meluk kamu.”


“Sini, tidur siang bareng aku disini aja yuk.”


Tala pun langsung melepaskan sepatunya dan masuk kedalam selimut kemudian memeluk pinggang Aisyah menenggelamkan kepalanya didada istrinya. “Ayo kita tidur.” Keduanya pun tertidur tanpa ada orang lain yang masuk, sedangkan diruangan lain.


Hani sudah siuman sejak pagi tadi namun dirinya harus bedrest karena luka tusuk yang disebabkan oleh penjahat itu cukup dalam. Mamanya yang selalu menjaganya begitupun dengan papa tirinya serta adik tirinya.


Tak lama Samuel datang, “assalamu’alaikum, selamat siang?”


“Ah siang, sini masuk nak Sam. Kamu sudah makan?”


“Sudah tante, tante dan om sudah? Jika belum biar sam yang menjaga Hani disini.”


“Apa tidak apa?”


“Tentu tak apa tan, sekalian nanti saya ingin keruangan Aisyah.”


“Sudah terurus tan, mereka dendam kepada kakek Damian namun salah mengincar ia kira Aisyah istri muda dari Damian dan Hani sahabat istrinya padahal Aisyah istri dari cucunya.”


“Ah salah target toh, tapi serem juga ya mainnya si mafia.”


“Ya begitulah tan, Namanya juga penjahat.” Ujarnya yang langsung mengatakan didalam hati, “Tapi ada mafia yang baik kok tan, kek sahabatku.”


“Baiklah, om dan tante mau sholat dan makan dulu ya. Ah kemungkinan akan lama karena harus pulang terlebih dahulu apalagi jemput adiknya Hani.”


“Hati -hati tan, om. Gak usah khawatirin Hani, dia aman sama saya.”


“Ya terima kasih ya. Hani, mama pulang dulu ya.”


“Iya, hati hati ma, jangan ngebut pa. Bawa mama aku soalnya.”


“Iya, papa juga masih sayang nyawa.” Gumamnya yang langsung dibalas cubitan oleh mama Hani, “sayang nyawa mama juga gak?”

__ADS_1


“Sayang dong, kalau ngga gak mungkin papa nikah sama kamu, ma. Udah ayok kasian Hasan nungguin dirumah sendiri.”


“Hem.” Sepeninggalan kedua orang tua Hani, Samuel langsung melangkah mendekati gadis itu. “Kamu sudah sholat?”


“Aku sedang berhalangan.”


“Jika butuh sesuatu katakan kepadaku.” Hani mengangguk, “hem, makasih. Oh iya Aisyah bagaimana kabarnya?”


“Besok dia sudah bisa pulang, hanya disuruh bedrest saja oleh dokter. Sedangkan kamu, apa yang dokter katakan?”


“Dokter bilang lukaku cukup dalam namun masih bisa disembuhkan dan dijahit berapa jahitan ya kalau gak salah 7 jahitan dan aku juga dilarang untuk banyak gerakan.” Jelasnya yang langsung diangguki oleh Sam.


“Coba ceritakan, bagaimana bisa kamu bertemu dengan dua penjahat itu?”


Hani sedikit berpikir lalu, “awalnya aku hanya berangkat kerja seperti biasa, menggunakan motor dan melewati gang yang menjadi tempat jalan pintasku. Tapi tak sengaja aku melihat gadis yang dibunuh itu dengan wajah pucat. Ia hanya mengatakan maaf dan seluruh duniaku menjadi gelap. Sampai aku sadar sudah berada di gedung gereja yang sudah tidak layak digunakan.”


“Apa saja yang mereka lakukan kepadamu?”


Kedua mata Hani menggenang, gadis itu menangis saat mengingat kembali. “Mereka menusukku dipaha kanan, serta menampar dan memukulku dengan kejam. Tapi yang membuatku sedih, bagaimana gadis itu berupaya ingin menyelamatkanku berakhir di perkosa oleh anak buah pria tua itu sebelumnya pria tua itu mengambil keperawanannya terlebih dahulu baru yang lain menyicipinya.”


“Mereka menyiksanya habis setelah itu ditinggalkan begitu saja. Baru siang kemarin saat Aisyah datang gadis itu memberikan flashdisk kemudian sebuah beling kaca ke tanganku dan Aisyah setelah itu dia dibunuh karena akan banyak rahasia jika dia masih hidup. Tapi itu sia-sia karena semua rahasianya sudah didalam benda kecil itu.”


“Apa gadis itu sudah dimakamkan dengan layak? Bagaimana dengan kedua orang tuanya yang sudah menjualnya kepada pria tua itu? Apa mereka mendapatkan hukuman juga?” tanya beruntun Hani dengan air mata yang sudah jatuh kepipinya.


“tenanglah, gadis itu sudah dimakamkan dengan layak dan banyak yang mendoakannya karena secara tidak langsung dia sudah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan kalian. Dan untuk kedua orang tuanya dapat hukuman penjara selama 10 tahun. Dan pria tua itu mendapatkan hukuman mati atau penjara seumur hidup.”


Hani mengerjapkan kedua matanya namun tetap saja air matanya tidak ingin berhenti. “Maaf air mataku tidak mau berhenti.. Siksaan didepan hadapanku masih terbayang, aku takut.”


Samuel dengan refleks langsung memeluk dan memberikan ketenangan untuk gadis itu, bisa ia lihat bahwa Hani mendapatkan trauma yang cukup mendalam dalam kasus ini. “Tenang, kamu tidak sendiri. Kau tidak perlu takut, kami ada disampingmu, orang tuamu, Aisyah, Sahabatmu, dan aku. Aku akan selalu menemanimu, dan tidak akan membiarkan dirimu sendirian. Sekarang beristirahatlah. Aku akan selalu menjagamu.”


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite!


See you! Thank you! Bye!

__ADS_1


Love Rora~


__ADS_2